Rabu, 28 Mei 2014

Fan Fiction JKT48 (REPOST)

48JAM 48NAMA

Upacara penaikan bendera di hari senin pagi ini sama seperti senin pagi yang sudah-sudah. Berbaris rapih murid dari setiap kelas, upacara dimulai.. dari menaikan bendera merah putih diiringi nyanyian indonesia raya, menyanyikan hymne-hymne lainnya. Sampai tiba di titik yang akan membuat murid-murid merasa jenuh, yaitu pidato dari kepala sekolah di setiap upacara. Tapi pagi ini apa yang di sampaikan kepala sekolah berbeda dari dari pagi-pagi yang sudah berlalu.


Kepala sekolah yang usianya sudah hampir mendekati setengah abad itu memberikan pengumuman pada murid-murid di sekolah PUTRI JAKARTA yang terdiri dari 2tingkatan berbeda (SMP dan SMA)



 "Pagi ini kita menerima kabar yang tidak baik!"

murid-murid memperhatikan kepala sekolah mereka yang terlihat begitu serius sekaligus sedih di wajahnya.

 "salah satu teman sekelas, adik dan juga kakak kelas kalian, hari sabtu kemarin.." kepala sekolah berhenti sejenak sambil menunduk, semua murid perempuan penghuni sekolah itu melihat kepala sekolah mereka dengan tanya menyelimuti wajah "hari sabtu kemarin... dia mengalami kecelakaan mobil di jalan tol kota!" sontak murid-murid saling berbicara antar teman menebak siapa yang telah mengalami kecelakaan.



Tak lama mereka semua terdiam dan kembali melihat ke arah kepala sekolah yang kembali berbicara

 "kondisinya sekarang dinyatakan Koma! bapak minta sama kalian untuk mendoakan dia, agar dia bisa segera kembali dari komanya dan kembali menjalani aktifitasnya bersama kita!"



kepala sekolah memimpin doa, murid-murid menundukan kepalanya.



 "Tuhan, berikanlah kesembuhanmu pada murid kami, teman kami, kakak kelas kami, adik kelas kami. Berikanlah dia kekuatan untuk menghadapi apa yang Engkau berikan! Berikan lah pertolonganmu untuk Jessica Veranda yang kini sedang menghadapi rasa sakitnya!! Berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing, berdoa mulai..." beberapa menit lamanya mereka semua menunduk dalam doa.


Upacara selesai, murid-murid kembali ke kelasnya untuk memulai pelajaran. Sayup-sayup terdengar obrolan mereka mengenai Jessica Veranda, anak SMA kelas XI yang mengalami kecelakaan dan di kabarkan koma.



 "biasanya ya, kalo seseorang udah dinyatakan Koma! Kecil kemungkinan dia bisa kembali sembuh seperti dulu!" kata murid SMP yang matanya terlihat sayu

 "ia sih, kayak temennya kakek aku tuh, dia sakit apa gitu.. Terus dokter bilang dia koma dan ternyata dalam hitungan hari kakek itu meninggal!!"

sahut temannya yang memiliki tinggi badan paling tinggi (terlihat sangat mencolok)

 "ck, itumah emang si kakeknya aja yang udah tua! Jadi ya mau dia koma ataupun enggak, tetep aja bakalan cepet meninggalnya!!"

bantah teman lainnya yang terlihat gingsul di giginya saat dia bicara.

 "eh? Nabilah, bicaranya jangan kayak gitu! Entar kualat loh!!"

kata si murid SMP yang badannya tinggi pada si murid yang bergigi gingsul yang bernama Nabilah

 "um, tapi apa yang kamu (Nabilah) katakan soal si kakek yang umurnya udah tua dengan masalah komanya dia, menurut aku itu gak ada hubungannya sama sekali Nabilah! Aku juga ada tetangga umurnya masih muda sekitar 30th lah, dia sakit gitu terus dia koma dan 4hari setelahnya dia meninggal. Tanpa ada pesan terakhir!!"

kata si murid mata sayu dengan tangannya dia mainkan di dagu mengingat cerita orang tuanya.

 "em~ ada satu lagi Nabilah, Ayana!" murid yang tinggi itu berhenti sejenak mengingat ceritanya "temennya kakak aku, kecelakaan motor terus di bawa ke rumah sakit dan dokter bilang dia koma terus cuma sehari setelah pernyataan itu, dia meninggal Bil!" lanjutnya menceritakan.

Nabilah hanya mengerung mendengar cerita ke2 sahabatnya Gaby (yang tinggi badannya mencolok) dan Ayana (yang matanya sayu).



Mereka sampai di pintu kelas terus masuk lalu duduk di mejanya masing-masing, masih sambil bercerita.

 "apa bener kalo seseorang udah di vonis koma, gak akan bisa hidup lagi!? Hmm~" Nabilah memanyunkan bibirnya memikirkan apa yang Ayana dan Gaby ceritakan "kalo beneran kayak gitu, berarti kak Ve bisa-bisa.---" Nabilah terhenti "aduhh, kenapa aku jadi mikirin hal itu ya?!" Nabilah mencoba menyingkirkan apa yang sedang dia pikirkan.

 "kasian juga ya kak Ve, kalau sampai dia harus berakhir kayak gitu!!" ucap Gaby menerawang

 "tapi, kayaknya sebagian besar anak-anak SMA pada seneng deh dapet kabar itu (koma)" Ayana bicara, diikuti kerungan di wajah Nabilah dan Gaby "ya! Jangan liatin aku kayak gitu kenapa?" kata Ayana sambil memanyunkan bibirnya  

 "lagian.. kamu kalo bicara asal keluar kata aja! Kalau ada guru atau staff dari sekolah yang denger gimana? urusannya bisa panjang!! bisa berabe!!!" Nabilah setengah berbisik mengucapkan kalimatnya.

 "meskipun kak Ve itu suka jahatin murid-murid di SMA dan kadang di sini juga (SMP), tapi kan dia tetap bagian dari keluarga Putri JAKARTA.-" "dan juga bagian dari pemilik sekolah ini!!" Nabilah memotong ucapan Gaby.


Jessica Veranda atau lebih akrab di sapa Ve, memang terkenal di seantero sekolah sebagai queen witch yang suka jahatin murid-murid di sekolah, dengan dukungan dari teman-temannya dia suka sekali menjahili teman seangkatannya. Bahkan sempat beberapa kali senior dan juga juniornya jadi sasaran kecongkakan Ve. Dan karena dia anak dari pemilik sekolah dia jadi merasa kalau sekolah itu miliknya dan dia bisa dengan seenaknya melakukan hal apapun yang dia mau, yang dia suka.  





***

 "Nabilah" mama memanggil Nabilah yang sedang seru menonton kartun

 "Naa..bilah!!" kedua kalinya mama memanggil,

Nabilah kalau sudah di suguhi tontonan berbau kartun mata dan telinganya terkunci rapat pada apa yang di lihat dan di dengarnya. Dia sesekali tertawa melihat adegan dan ucapan dalam kartun buatan Jepang itu. 

 "Nabilahhh!!!" ke3 kalinya mama memanggil dan Nabilah masih asik sendiri sampai... *Jleppp~~* televisi nya mati

 "yaelah kak, lagi nanggung tuh! Aduhhh!!" gerutu Nabilah pada kakaknya

 "dek, kamu gak denger apa? Dari tadi mama manggil kamu!" Nabilah masih melihat ke arah remote tv yang di pegang kakaknya

 "manggil apa sih kak! Mama gak manggil aku kok!! Ia kan mah?" sambil setengah berteriak ke arah dapur tempat mama nya tadi memanggil

 "mama manggil kamu dari tadi sayang!" jawab mama dari arah dapur membuat Nabilah membuka mulutnya kaget, Melody kakaknya Nabilah yang melihat ekspresi adiknya itu langsung berseru

 "kakak yang lagi di teras aja bisa denger!! Udah sana samperin dulu mama!!" perintah Kakaknya

 "iaa.. maaf, Nabilah samperin mama sekarang, tapi remote nya siniin dulu!" pinta Nabilah manja

 "gak ada remote, gak ada kartun!! Sudah sana!!!" Nabilah mendelik lalu berjalan gontai ke arah mama nya.



Sampai di dekat mamanya ternyata mama meminta tolong pada Nabilah untuk menemani mama ke rumah sakit menjenguk temannya mama yang sedang di rawat

 "mah, kenapa gak kak Melody aja yang nemenin mama!"

ucap Nabilah setelah mendengar permintaan mama nya

 "kakak kamu mau pergi, jadi gak bisa nemenin mama!~ Mama janji di rumah sakit kita gak akan lama, terus pulangnya mama beliin kamu ice cream. Ok!" kata mama dengan mengedipkan matanya pada anak bungsunya yang penakut itu.

 "kalo cuma ice cream mah, di mini market persimpangan juga ada mah! Ngapain jauh-jauh ke rumah sakit!" dengan raut memelas Nabilah terus mencari alasan agar dia tidak harus menemani mama nya ke rumah sakit.



Mama yang menyadari perlawanan Nabilah terus membujuk putrinya itu, meski mama tahu kalau Nabilah paling  

anti dan takut dengan yang namanya rumah sakit tapi mama tetap kekeuh mengajak Nabilah pergi

 "mama kan tahu Nabil gak suka rumah sakit mah, disana itu menakutkan!! Iiihhh, apalagi kalo udah nyium bau obat-obatan terus liat yang berdarah-darah... terusnya ya, kalo di tambah ngelewatin atau liat di satu pintu yang tulisan nya 'KA..MAR MAA..YAT' iihhhhh, merinding mah!!"

dengan suara setengah berbisik pada mamanya Nabilah bicara, melihat tingkah Nabilah mama hanya tersenyum sambil menggeleng.

 "Na..bi..lah.. hihihiiiihiiiiiiii!!" ~ "Aaa!" Nabilah hampir terjatuh dari kursinya (masih di dapur) karena keisengan kakaknya yang berbisik di telinganya di akhiri tawa jahil.

 "Kak Melody mah!! Ah!!! Gak Lucu tau!!!" Nabilah memanyunkan bibirnya

 "deuhhh, si cadel marah ni.. Hahahaaa" Melody mencubit gemas Nabilah dengan mengucapkan kalimat lainnya "makanya, kalau penakut itu... jangan suka nonton film horor! Entar ada yang ngikutin baru tahu!! Kekekee~" Melody terus menggoda Nabilah

 "Aaa~aahhh, tuh kan mah kak Melody sih gitu mainannya nakut-nakutin mulu!!"

 "sudah-sudah! Kalian malah jadi pada main-main!!"

 "ih, si mama... yang lagi main-main itu siapa? Orang kak Melody tuh yang lagi mainin aku!!"

 "ya sudah, kakak... kamu jangan gitu lagi sama adik kamu.... yang penakut ini" Melody tertawa mendengar kalimat penutup dari bibir mamanya, Nabilah memainkan bibirnya mendengar ucapan mama.

 "mama bercanda sayang, jangan manyun-manyun gitu ah bibirnya!" ucap mama "ya udah, gini deh~ kamu temenin mama ke rumah sakit, nanti pulangnya mama beliin kamu DVD anime yang kamu mau! Gimana?" saat mendengar kata DVD anime Nabilah langsung sumringah dengan senyum di sudut bibirnya

 "eem, soal anime aja! Langsung senyum-senyum gitu!!" ledek Melody yang sedang menuangkan minum.

 "Ok, Deal! Nabilah ganti baju dulu! Sekarang kan berangkatnya?" ujar Nabilah sambil berlari ke arah kamarnya. Mama dan Melody tersenyum melihat tingkah Nabilah yang bisa dengan cepat berganti ekspresi saat mendengar kata DVD Anime yang di janjikan mama.



Sesampainya di rumah sakit, Nabilah menemani mama nya sebentar di dalam. Sekedar untuk menyapa teman dari mama nya itu, lalu Nabilah keluar dan menunggu di depan ruangan tempat teman mama nya di rawat (ruang tunggu). Nabilah mengeluarkan game pocketnya sambil memainkan matanya melihat lorong, ada beberapa orang yang sedang duduk di lorong ruang Tulip itu. Mungkin sama dengan yang sedang Nabilah lakukan mereka sedang menjenguk atau mungkin memang mereka keluarga pasien yang sedang menunggui keluarganya.

Dengan wajah biasa tapi perasaan tak biasa, Nabilah mulai memainkan pocket gamenya. 5menit Nabilah memainkan game dengan raut muka mengikuti setiap apa yang dia dapat dari dalam game (saat kalah dia manyun, saat menang dia kegirangan sendiri).



 "permisi nak, boleh ibu duduk disini?" seorang ibu menunjuk ke bangku sebelah kanan Nabilah, Nabilah melihat ke sampingnya lalu ke si ibu dan menjawab "o, eh~ ibu, ibu duduknya sebelah sini aja bu, soalnya disini kan ada yang lagi duduk!" jawab Nabilah sambil menunjuk ke sisi kananya membuat si ibu mengerung heran, tapi kemudian si ibu berjalan ke sebelah kiri Nabilah.

Setelah melihat si ibu itu duduk, Nabilah beralih lagi pada pocket gamenya. Namun belum dia menekan tombol start karena tadi dia menekan tombol pause saat si ibu meng interupsi, Nabilah kembali di interupsi dengan sebuah pernyataan yang bercampur dengan pertanyaan.

 "kamu tadi bilang sama si ibu itu, kalo ada orang disini!?" Nabilah mengangguk tanpa melihat pada orang yang berbicara (Nabilah tahu orang yang duduk di sebelah kanannya) yang Nabilah bilang 'ada yang lagi duduk' "berarti kamu bisa liat aku dong!?" Nabilah kembali mengangguk tanpa ada rasa aneh dengan pertanyaan yang sedang dia dengar.

 "bukan cuma bisa lihat! Aku juga tahu kakak itu siapa?" dia (yang duduk di samping Nabilah) mengkerutkan dahi mendengar ucapan Nabilah "kakak itu kak Ve kan?" dengan santainya Nabilah mengatakan itu, ibu yang sudah duduk di sebelah kiri Nabilah menatap Nabilah heran.

 "hah, kamu bukan cuma bisa liat aku, tapi kamu juga tahu siapa aku!"

 "ia! Aku tahu siapa kakak, lagian... di sekolah sih siapa yang gak tahu sama kak Ve! Ia kan?"

kata Nabilah, masih biasa saja. 

 "kamu gak takut sama aku?"

tanya gadis yang bernama Ve pada Nabilah

 "emm~ sebenarnya sih aku takut kak! Apalagi di sekolah kakak itu kan terkenal paling 'kejam'"

 "terus?" tanya gadis yang memiliki rambut panjang menjuntai kebawah (Nabilah sudah memainkan kembali pocket game nya dari saat gadis itu bertanya 'kamu bisa lihat aku?')

 "terus ya... sekarang sih aku gak takut. Dan sepertinya bukan cuma aku aja yang gak akan takut lagi sama kak Ve, soalnya kan kak Ve ngalamin kecelekaan terus sekarang lagi-----" ucapannya terhenti, sekarang Nabilah mulai bisa menyeimbangkan kan antara ucapan dan pikirannya. saat mengucapkan kata kecelakaan, tangan Nabilah berhenti memainkan pocket game. Nabilah ingat tentang Ve yang lagi koma.

sebelum melihat lagi ke arah gadis yang dari tadi ucapannya Nabilah tanggapi, Nabilah meneguk ludahnya sendiri. Dengan perlahan dia melihat kearah Ve, saat mata Nabilah terkunci di wajah Ve dan mata Ve mengunci pandangan Nabilah, betapa terkejutnya Nabilah melihat wajah Ve yang begitu pucat seperti orang yang sudah meninggal.

 "Ha... Hant.... Hantuuuuuuuuuuu!!! Aaaaaaaaaa.... mamaaaaa, disini ada HANTU!" Nabilah menunjukan jarinya ke wajah Ve lalu berlari memasuki ruangan tempat mamanya masih menjenguk. Si ibu yang duduk di samping Nabilah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Nabilah yang tadi sibuk berbicara dengan mainannya lalu beberapa menit kemudian dia berlari dengan meneriakan kata Hantu.



Nabilah tahu kalau Ve itu masih koma sampai saat ini, karena photo Ve yang di pajang di mading SMP ataupun SMA masih melekat lengkap dengan tulisan mohon doanya untuk kesembuhan Ve yang masih dalam kondisi koma. Ve yang tadi sempat senang karena Nabilah bisa melihatnya dan juga Nabilah tidak takut padanya sekarang hanya bisa menunduk setelah melihat ekspresi Nabilah yang ketakutan dan dia juga sudah masuk ke salah satu ruangan. "kenapa dia bisa melihat aku?" pikir arwah Ve "apa mungkin dia bantuan yang diberikan 

Tuhan buat aku? Yaa.. sepertinya anak itu memang bantuan Tuhan buat ku, agar aku bisa kembali ke tubuhku yang ada di ruang ICU!!" tanpa berpikir lagi Ve memasuki ruangan tempat Nabilah masuk.



 "Nabilah? Ada apa sayang, kenapa kamu lari-lari seperti itu?" tanya mama penasaran, temannya pun ikut melihat.

 "i~i...itu mah, itu di luar, di ruang tunggu, di bangku.. Di itu... Ada itu...!" dengan tergagap dan belepotan Nabilah mencoba mengatakan pada mama nya.

 "ada apa sih sayang, kamu kenapa?" kembali mama bertanya, Nabilah masih melihat-lihat ke arah luar dengan nafas yang naik-turun dan detak jantung yang begitu kencang ditambah wajahnya yang pucat "Nabilah, Nabilah... liat mama sayang? Ada apa sebenarnya? Apa yang ada di luar yang membuat kamu ketakutan gitu?"

 "itu mah, di luar itu ada---" suara Nabilah terhenti, dia melihat Ve sedang menuju ke arahnya. Seketika dengan berhamburan Nabilah memeluk mamanya "aku, gak pernah bicarain kakak di sekolah!" suara Nabilah dari dalam pelukan mamanya "aku mau minta tolong sama kamu!" kata Ve mencoba mencari wajah Nabilah "enggak, aku gak kenal sama kakak! Dan.. kakak juga gak kenal kan sama aku!!"

 "Nabilah sayang kamu ngomong apa sih?!" tanya mama, dia dan juga temannya terlihat heran dan juga khawatir akan tingkah Nabilah.

 "tapi cuma kamu yang bisa melihat aku, aku mohon tolonglah aku! Cuma kamu yang bisa bawa aku pulang" kata Ve ...

 "Ranti (mamanya Nabilah), sebaiknya kamu bawa Nabilah pulang! Dia sepertinya begitu ketakutan,-" saran temannya "enggak, aku gak mau!!" kata Nabilah (maksudnya pada Ve), mama dan temannya menjadi semakin cemas.