48JAM 48NAMA
Upacara penaikan bendera di hari senin pagi ini sama seperti senin pagi
yang sudah-sudah. Berbaris rapih murid dari setiap kelas, upacara
dimulai.. dari menaikan bendera merah putih diiringi nyanyian indonesia
raya, menyanyikan hymne-hymne lainnya. Sampai tiba di titik yang akan
membuat murid-murid merasa jenuh, yaitu pidato dari kepala sekolah di
setiap upacara. Tapi pagi ini apa yang di sampaikan kepala sekolah
berbeda dari dari pagi-pagi yang sudah berlalu.
"Pagi ini kita menerima kabar yang tidak baik!"
murid-murid memperhatikan kepala sekolah mereka yang terlihat begitu serius sekaligus sedih di wajahnya.
"salah satu teman sekelas, adik dan juga kakak kelas kalian, hari sabtu
kemarin.." kepala sekolah berhenti sejenak sambil menunduk, semua murid
perempuan penghuni sekolah itu melihat kepala sekolah mereka dengan
tanya menyelimuti wajah "hari sabtu kemarin... dia mengalami kecelakaan
mobil di jalan tol kota!" sontak murid-murid saling berbicara antar
teman menebak siapa yang telah mengalami kecelakaan.
Tak lama mereka semua terdiam dan kembali melihat ke arah kepala sekolah yang kembali berbicara
"kondisinya sekarang dinyatakan Koma! bapak minta sama kalian untuk
mendoakan dia, agar dia bisa segera kembali dari komanya dan kembali
menjalani aktifitasnya bersama kita!"
kepala sekolah memimpin doa, murid-murid menundukan kepalanya.
"Tuhan, berikanlah kesembuhanmu pada murid kami, teman kami, kakak
kelas kami, adik kelas kami. Berikanlah dia kekuatan untuk menghadapi
apa yang Engkau berikan! Berikan lah pertolonganmu untuk Jessica Veranda
yang kini sedang menghadapi rasa sakitnya!! Berdoa menurut agama dan
kepercayaan masing-masing, berdoa mulai..." beberapa menit lamanya
mereka semua menunduk dalam doa.
"biasanya ya, kalo seseorang udah dinyatakan Koma! Kecil kemungkinan
dia bisa kembali sembuh seperti dulu!" kata murid SMP yang matanya
terlihat sayu
"ia sih, kayak temennya kakek aku tuh, dia sakit apa gitu.. Terus
dokter bilang dia koma dan ternyata dalam hitungan hari kakek itu
meninggal!!"
sahut temannya yang memiliki tinggi badan paling tinggi (terlihat sangat mencolok)
"ck, itumah emang si kakeknya aja yang udah tua! Jadi ya mau dia koma ataupun enggak, tetep aja bakalan cepet meninggalnya!!"
bantah teman lainnya yang terlihat gingsul di giginya saat dia bicara.
"eh? Nabilah, bicaranya jangan kayak gitu! Entar kualat loh!!"
kata si murid SMP yang badannya tinggi pada si murid yang bergigi gingsul yang bernama Nabilah
"um, tapi apa yang kamu (Nabilah) katakan soal si kakek yang umurnya
udah tua dengan masalah komanya dia, menurut aku itu gak ada hubungannya
sama sekali Nabilah! Aku juga ada tetangga umurnya masih muda sekitar
30th lah, dia sakit gitu terus dia koma dan 4hari setelahnya dia
meninggal. Tanpa ada pesan terakhir!!"
kata si murid mata sayu dengan tangannya dia mainkan di dagu mengingat cerita orang tuanya.
"em~ ada satu lagi Nabilah, Ayana!" murid yang tinggi itu berhenti
sejenak mengingat ceritanya "temennya kakak aku, kecelakaan motor terus
di bawa ke rumah sakit dan dokter bilang dia koma terus cuma sehari
setelah pernyataan itu, dia meninggal Bil!" lanjutnya menceritakan.
Nabilah hanya mengerung mendengar cerita ke2 sahabatnya Gaby (yang tinggi badannya mencolok) dan Ayana (yang matanya sayu).
Mereka sampai di pintu kelas terus masuk lalu duduk di mejanya masing-masing, masih sambil bercerita.
"apa bener kalo seseorang udah di vonis koma, gak akan bisa hidup
lagi!? Hmm~" Nabilah memanyunkan bibirnya memikirkan apa yang Ayana dan
Gaby ceritakan "kalo beneran kayak gitu, berarti kak Ve bisa-bisa.---"
Nabilah terhenti "aduhh, kenapa aku jadi mikirin hal itu ya?!" Nabilah
mencoba menyingkirkan apa yang sedang dia pikirkan.
"kasian juga ya kak Ve, kalau sampai dia harus berakhir kayak gitu!!" ucap Gaby menerawang
"tapi, kayaknya sebagian besar anak-anak SMA pada seneng deh dapet
kabar itu (koma)" Ayana bicara, diikuti kerungan di wajah Nabilah dan
Gaby "ya! Jangan liatin aku kayak gitu kenapa?" kata Ayana sambil
memanyunkan bibirnya
"lagian.. kamu kalo bicara asal keluar kata aja! Kalau ada guru atau
staff dari sekolah yang denger gimana? urusannya bisa panjang!! bisa
berabe!!!" Nabilah setengah berbisik mengucapkan kalimatnya.
"meskipun kak Ve itu suka jahatin murid-murid di SMA dan kadang di sini
juga (SMP), tapi kan dia tetap bagian dari keluarga Putri JAKARTA.-"
"dan juga bagian dari pemilik sekolah ini!!" Nabilah memotong ucapan
Gaby.
***
"Nabilah" mama memanggil Nabilah yang sedang seru menonton kartun
"Naa..bilah!!" kedua kalinya mama memanggil,
Nabilah kalau sudah di suguhi tontonan berbau kartun mata dan telinganya
terkunci rapat pada apa yang di lihat dan di dengarnya. Dia sesekali
tertawa melihat adegan dan ucapan dalam kartun buatan Jepang itu.
"Nabilahhh!!!" ke3 kalinya mama memanggil dan Nabilah masih asik sendiri sampai... *Jleppp~~* televisi nya mati
"yaelah kak, lagi nanggung tuh! Aduhhh!!" gerutu Nabilah pada kakaknya
"dek, kamu gak denger apa? Dari tadi mama manggil kamu!" Nabilah masih melihat ke arah remote tv yang di pegang kakaknya
"manggil apa sih kak! Mama gak manggil aku kok!! Ia kan mah?" sambil
setengah berteriak ke arah dapur tempat mama nya tadi memanggil
"mama manggil kamu dari tadi sayang!" jawab mama dari arah dapur
membuat Nabilah membuka mulutnya kaget, Melody kakaknya Nabilah yang
melihat ekspresi adiknya itu langsung berseru
"kakak yang lagi di teras aja bisa denger!! Udah sana samperin dulu mama!!" perintah Kakaknya
"iaa.. maaf, Nabilah samperin mama sekarang, tapi remote nya siniin dulu!" pinta Nabilah manja
"gak ada remote, gak ada kartun!! Sudah sana!!!" Nabilah mendelik lalu berjalan gontai ke arah mama nya.
Sampai di dekat mamanya ternyata mama meminta tolong pada Nabilah untuk
menemani mama ke rumah sakit menjenguk temannya mama yang sedang di
rawat
"mah, kenapa gak kak Melody aja yang nemenin mama!"
ucap Nabilah setelah mendengar permintaan mama nya
"kakak kamu mau pergi, jadi gak bisa nemenin mama!~ Mama janji di rumah
sakit kita gak akan lama, terus pulangnya mama beliin kamu ice cream.
Ok!" kata mama dengan mengedipkan matanya pada anak bungsunya yang
penakut itu.
"kalo cuma ice cream mah, di mini market persimpangan juga ada mah!
Ngapain jauh-jauh ke rumah sakit!" dengan raut memelas Nabilah terus
mencari alasan agar dia tidak harus menemani mama nya ke rumah sakit.
Mama yang menyadari perlawanan Nabilah terus membujuk putrinya itu, meski mama tahu kalau Nabilah paling
anti dan takut dengan yang namanya rumah sakit tapi mama tetap kekeuh mengajak Nabilah pergi
"mama kan tahu Nabil gak suka rumah sakit mah, disana itu menakutkan!!
Iiihhh, apalagi kalo udah nyium bau obat-obatan terus liat yang
berdarah-darah... terusnya ya, kalo di tambah ngelewatin atau liat di
satu pintu yang tulisan nya 'KA..MAR MAA..YAT' iihhhhh, merinding mah!!"
dengan suara setengah berbisik pada mamanya Nabilah bicara, melihat tingkah Nabilah mama hanya tersenyum sambil menggeleng.
"Na..bi..lah.. hihihiiiihiiiiiiii!!" ~ "Aaa!" Nabilah hampir terjatuh
dari kursinya (masih di dapur) karena keisengan kakaknya yang berbisik
di telinganya di akhiri tawa jahil.
"Kak Melody mah!! Ah!!! Gak Lucu tau!!!" Nabilah memanyunkan bibirnya
"deuhhh, si cadel marah ni.. Hahahaaa" Melody mencubit gemas Nabilah
dengan mengucapkan kalimat lainnya "makanya, kalau penakut itu... jangan
suka nonton film horor! Entar ada yang ngikutin baru tahu!! Kekekee~"
Melody terus menggoda Nabilah
"Aaa~aahhh, tuh kan mah kak Melody sih gitu mainannya nakut-nakutin mulu!!"
"sudah-sudah! Kalian malah jadi pada main-main!!"
"ih, si mama... yang lagi main-main itu siapa? Orang kak Melody tuh yang lagi mainin aku!!"
"ya sudah, kakak... kamu jangan gitu lagi sama adik kamu.... yang
penakut ini" Melody tertawa mendengar kalimat penutup dari bibir
mamanya, Nabilah memainkan bibirnya mendengar ucapan mama.
"mama bercanda sayang, jangan manyun-manyun gitu ah bibirnya!" ucap
mama "ya udah, gini deh~ kamu temenin mama ke rumah sakit, nanti
pulangnya mama beliin kamu DVD anime yang kamu mau! Gimana?" saat
mendengar kata DVD anime Nabilah langsung sumringah dengan senyum di
sudut bibirnya
"eem, soal anime aja! Langsung senyum-senyum gitu!!" ledek Melody yang sedang menuangkan minum.
"Ok, Deal! Nabilah ganti baju dulu! Sekarang kan berangkatnya?" ujar
Nabilah sambil berlari ke arah kamarnya. Mama dan Melody tersenyum
melihat tingkah Nabilah yang bisa dengan cepat berganti ekspresi saat
mendengar kata DVD Anime yang di janjikan mama.
Sesampainya di rumah sakit, Nabilah menemani mama nya sebentar di dalam.
Sekedar untuk menyapa teman dari mama nya itu, lalu Nabilah keluar dan
menunggu di depan ruangan tempat teman mama nya di rawat (ruang tunggu).
Nabilah mengeluarkan game pocketnya sambil memainkan matanya melihat
lorong, ada beberapa orang yang sedang duduk di lorong ruang Tulip itu.
Mungkin sama dengan yang sedang Nabilah lakukan mereka sedang menjenguk
atau mungkin memang mereka keluarga pasien yang sedang menunggui
keluarganya.
Dengan wajah biasa tapi perasaan tak biasa, Nabilah mulai memainkan
pocket gamenya. 5menit Nabilah memainkan game dengan raut muka mengikuti
setiap apa yang dia dapat dari dalam game (saat kalah dia manyun, saat
menang dia kegirangan sendiri).
"permisi nak, boleh ibu duduk disini?" seorang ibu menunjuk ke bangku
sebelah kanan Nabilah, Nabilah melihat ke sampingnya lalu ke si ibu dan
menjawab "o, eh~ ibu, ibu duduknya sebelah sini aja bu, soalnya disini
kan ada yang lagi duduk!" jawab Nabilah sambil menunjuk ke sisi kananya
membuat si ibu mengerung heran, tapi kemudian si ibu berjalan ke sebelah
kiri Nabilah.
Setelah melihat si ibu itu duduk, Nabilah beralih lagi pada pocket
gamenya. Namun belum dia menekan tombol start karena tadi dia menekan
tombol pause saat si ibu meng interupsi, Nabilah kembali di interupsi
dengan sebuah pernyataan yang bercampur dengan pertanyaan.
"kamu tadi bilang sama si ibu itu, kalo ada orang disini!?" Nabilah
mengangguk tanpa melihat pada orang yang berbicara (Nabilah tahu orang
yang duduk di sebelah kanannya) yang Nabilah bilang 'ada yang lagi
duduk' "berarti kamu bisa liat aku dong!?" Nabilah kembali mengangguk
tanpa ada rasa aneh dengan pertanyaan yang sedang dia dengar.
"bukan cuma bisa lihat! Aku juga tahu kakak itu siapa?" dia (yang duduk
di samping Nabilah) mengkerutkan dahi mendengar ucapan Nabilah "kakak
itu kak Ve kan?" dengan santainya Nabilah mengatakan itu, ibu yang sudah
duduk di sebelah kiri Nabilah menatap Nabilah heran.
"hah, kamu bukan cuma bisa liat aku, tapi kamu juga tahu siapa aku!"
"ia! Aku tahu siapa kakak, lagian... di sekolah sih siapa yang gak tahu sama kak Ve! Ia kan?"
kata Nabilah, masih biasa saja.
"kamu gak takut sama aku?"
tanya gadis yang bernama Ve pada Nabilah
"emm~ sebenarnya sih aku takut kak! Apalagi di sekolah kakak itu kan terkenal paling 'kejam'"
"terus?" tanya gadis yang memiliki rambut panjang menjuntai kebawah
(Nabilah sudah memainkan kembali pocket game nya dari saat gadis itu
bertanya 'kamu bisa lihat aku?')
"terus ya... sekarang sih aku gak takut. Dan sepertinya bukan cuma aku
aja yang gak akan takut lagi sama kak Ve, soalnya kan kak Ve ngalamin
kecelekaan terus sekarang lagi-----" ucapannya terhenti, sekarang
Nabilah mulai bisa menyeimbangkan kan antara ucapan dan pikirannya. saat
mengucapkan kata kecelakaan, tangan Nabilah berhenti memainkan pocket
game. Nabilah ingat tentang Ve yang lagi koma.
sebelum melihat lagi ke arah gadis yang dari tadi ucapannya Nabilah
tanggapi, Nabilah meneguk ludahnya sendiri. Dengan perlahan dia melihat
kearah Ve, saat mata Nabilah terkunci di wajah Ve dan mata Ve mengunci
pandangan Nabilah, betapa terkejutnya Nabilah melihat wajah Ve yang
begitu pucat seperti orang yang sudah meninggal.
"Ha... Hant.... Hantuuuuuuuuuuu!!! Aaaaaaaaaa.... mamaaaaa, disini ada
HANTU!" Nabilah menunjukan jarinya ke wajah Ve lalu berlari memasuki
ruangan tempat mamanya masih menjenguk. Si ibu yang duduk di samping
Nabilah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Nabilah
yang tadi sibuk berbicara dengan mainannya lalu beberapa menit kemudian
dia berlari dengan meneriakan kata Hantu.
Nabilah tahu kalau Ve itu masih koma sampai saat ini, karena photo Ve
yang di pajang di mading SMP ataupun SMA masih melekat lengkap dengan
tulisan mohon doanya untuk kesembuhan Ve yang masih dalam kondisi koma.
Ve yang tadi sempat senang karena Nabilah bisa melihatnya dan juga
Nabilah tidak takut padanya sekarang hanya bisa menunduk setelah melihat
ekspresi Nabilah yang ketakutan dan dia juga sudah masuk ke salah satu
ruangan. "kenapa dia bisa melihat aku?" pikir arwah Ve "apa mungkin dia
bantuan yang diberikan
Tuhan buat aku? Yaa.. sepertinya anak itu memang bantuan Tuhan buat ku,
agar aku bisa kembali ke tubuhku yang ada di ruang ICU!!" tanpa berpikir
lagi Ve memasuki ruangan tempat Nabilah masuk.
"Nabilah? Ada apa sayang, kenapa kamu lari-lari seperti itu?" tanya mama penasaran, temannya pun ikut melihat.
"i~i...itu mah, itu di luar, di ruang tunggu, di bangku.. Di itu... Ada
itu...!" dengan tergagap dan belepotan Nabilah mencoba mengatakan pada
mama nya.
"ada apa sih sayang, kamu kenapa?" kembali mama bertanya, Nabilah masih
melihat-lihat ke arah luar dengan nafas yang naik-turun dan detak
jantung yang begitu kencang ditambah wajahnya yang pucat "Nabilah,
Nabilah... liat mama sayang? Ada apa sebenarnya? Apa yang ada di luar
yang membuat kamu ketakutan gitu?"
"itu mah, di luar itu ada---" suara Nabilah terhenti, dia melihat Ve
sedang menuju ke arahnya. Seketika dengan berhamburan Nabilah memeluk
mamanya "aku, gak pernah bicarain kakak di sekolah!" suara Nabilah dari
dalam pelukan mamanya "aku mau minta tolong sama kamu!" kata Ve mencoba
mencari wajah Nabilah "enggak, aku gak kenal sama kakak! Dan.. kakak
juga gak kenal kan sama aku!!"
"Nabilah sayang kamu ngomong apa sih?!" tanya mama, dia dan juga
temannya terlihat heran dan juga khawatir akan tingkah Nabilah.
"tapi cuma kamu yang bisa melihat aku, aku mohon tolonglah aku! Cuma kamu yang bisa bawa aku pulang" kata Ve ...
"Ranti (mamanya Nabilah), sebaiknya kamu bawa Nabilah pulang! Dia
sepertinya begitu ketakutan,-" saran temannya "enggak, aku gak mau!!"
kata Nabilah (maksudnya pada Ve), mama dan temannya menjadi semakin
cemas.
Setelah mendengar saran dari temannya dan melihat tingkah Nabilah yang
semakin ketakutan entah karena apa? mama pun membawa Nabilah untuk
pulang. Tapi Nabilah tetap dengan posisinya memeluk mama karena dia
masih melihat Ve ada di dekatnya.
Di dalam mobil, Nabilah memegang tangan kanan mama nya begitu kuat sampai mama nya merasa sakit
"aduh sayang, tangan mama sakit! Kamu kenapa sih? Hem!" mama mencoba melepaskan cengkraman Nabilah
"Nabilah takut mah, ada hantu di rumah sakit itu!!"
"hantu? Kamu jangan ngaco deh ah! Mana ada hantu sore-sore gini!!?"
kata mama dengan nada ledekan di akhir katanya
"a...ada mah--" Nabilah celingukan di dalam mobilnya sendiri "tadi itu
ada hantu, dia ngikutin aku sampai ke ruangan tempat temannya mama di
rawat!!" lanjut Nabilah, lalu dia menceritakan detailnya setelah dia
merasa kalau arwahnya Ve sudah tidak mengikutinya.
Sampai di rumah, mama tertawa lepas mendengar cerita Nabilah.
"mama kok malah ngetawain aku sih!! Gak ada yang lucu mah!!!" Nabilah menghentakan kaki kanannya
"yang lucu itu kamu sayang! Mana ada orang yang lagi koma arwahnya
malah ngikutin kamu dan minta tolong sama kamu!? Hahahaa... kamu itu
terlalu banyak nonton drama horor!" ucap mama sambil terus tertawa
"gak ada hubungannya sama drama, MAMA!" Nabilah menekankan kata 'mama' nya
"ada dong sayang, imajinasi kamu jadi terlalu berlebihan! Mana ada
hantu minta tolong sama manusia? Lagian kamu yakin kalau di dunia ini
ada hantu!? Kalau di sinetron, cerita, atau dongeng mama bisa anggap itu
ada. karena itu di ciptakan oleh pembuat ceritanya!!"
"hantu itu ada mah, kata yang bikin cerita ini gitu!!" kata Nabilah
dengan melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar karena kesal dengan
mama nya yang malah menertawakan dia yang sedang ketakutan.
perlahan rasa takutnya hilang walau tidak bisa di pungkiri masih ada sedikit rasa itu hinggap di hatinya.
Saat Nabilah menutup pintu kamarnya dan berbalik untuk merebahkan diri
di atas tempat tidurnya, kembali dia kejutkan dengan hal yang membuatnya
di tertawakan oleh mama nya sendiri.
"Han...Hantu la...gi.... Aa--" saat Nabilah akan berteriak, Ve
menghentikannya "Stopp!!" Nabilah terhenti tapi mulutnya masih menganga
"aku gak akan nakut-nakutin kamu! Aku cuma mau--- Nabilah, Nabilah!!" Ve
terkejut melihat Nabilah terjatuh dan tidak sadarkan diri, Nabilah
pingsan dengan sebelumnya menatap Ve dengan rasa takutnya. "Nabilah
bangun Nabilah.. aduh, ni anak pake pingsan segala lagi! Nabilah bangun
dong!!"
"Nabilah, kamu kenapa say,-" mama begitu terkejut melihat Nabilah sudah
terkulai tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Mama segera memanggil
pembantunya, Nabilah di angkat dan di pindahkan ke atas tempat tidurnya.
Mama menyuruh bi ijem mengambil minyak angin untuk menyadarkan Nabilah.
"Aaa, Hantu..."
teriak Nabilah saat dia bisa membuka matanya
"Nabilah, ini mama nak!"
"pergi sana, aku gak kenal sama kakak! Pergiiii" Nabilah masih ketakutan
"Nabilah~ Nabilah" mama memegang tangan Nabilah yang sedang di tutupkan ke wajahnya "Nabilah sayang lihat, ini mama nak! Ini Mama!!" dengan menatap putrinya mama bicara lembut, Nabilah melihat jelas wajah mama nya lalu memeluk mama nya. "maafin mama ya, harusnya mama tidak memaksa kamu nemenin mama ke rumah sakit!" ucap mama sambil mengelus rambut Nabilah, Nabilah masih memeluk erat mama nya.
"Nabilah takut mah! Nabilah
gak kenal sama kak Ve, kenapa dia nge Hantuin Nabilah?!" suara ketakutan Nabilah dalam pelukan mamanya
"Ssuutt- gak ada kak Ve di kamar kamu! Disini gak ada hantu! Ini kamar kamu sayang!!" mama mencoba menenangkan Nabilah.
-Keesokan paginya-
Di meja makan. papa, mama dan juga Melody sudah bersiap. Nabilah turun dari kamarnya, wajahnya terlihat kusut karena ketakutannya. Dia berjalan dengan memainkan matanya melihat sudut J, sudut K, sudut T, sampai dia memiringkan kepalanya 48 derajat untuk melihat setiap sudut.
Papa, Mama dan Melody yang melihat itu merasa hawatir pada Nabilah. Dia terus celingukan sampai tiba di meja makan dan duduk dengan keluarganya
"pagi pah, mah~"
kalimat pertama Nabilah, matanya masih main-main. "pagi juga sayang- gimana tidurnya?" mama yang pertama menjawab, dengan tangannya mengambil piring milik Nabilah. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Nabilah tidak mendengar sapaan balik mama dan juga pertanyaan mama.
"dek,~" Melody menyimpan tangannya di atas tangan Nabilah membuat Nabilah kaget "ini kak Melo!" ucap Melody melihat reaksi Nabilah yang kaget
"eh~ em ia, hah- ada apa kak?" tanya Nabilah, kini matanya sudah ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
"ayo makan sarapan kamu, biar di sekolah kamu ada energi untuk mengikuti pelajaran!" papa bicara sambil melihat Nabilah, karena Melody tidak melanjutkan ucapannya. Papa, Mama, Melody dan Nabilah menyantap sarapannya dengan atmosfir keheningan melingkupi meja makan, karena yang biasanya meramaikan meja makan (Nabilah) terlihat diam dan dengan tenang *sepertinya* menikmati sarapannya.
Selama perjalanan menuju sekolah (Nabilah di antar papa nya) Nabilah tidak bicara apapun.
"gimana sekolah kamu?" tanya papa untuk mencairkan ketegangan di wajah Nabilah.
"hah? Oh~ ba-baik pah, semuanya lancar!" jawab Nabilah, papa mengangguk lalu kembali bertanya dengan pertanyaan yang membuat Nabilah sedikit merinding
"kata mama kamu? Kemarin di rumah sakit....? Terus di rumah juga....?" sengaja papa menanyakan tidak secara gamblang agar Nabilah tidak terlalu shock, Nabilah melihat papa nya kemudian menjawab "mama cerita semuanya sama papa?" dengan pertanyaan, papa kembali mengangguk dengan kedua matanya fokus ke jalan. "maafin Nabilah ya pah!" papa mengerutkan dahinya heran (Nabilah pikir papanya pasti akan marah karena dia bilang sama mama ada Hantu, dan jawaban mama tentang seringnya Nabilah nonton drama horor dan juga anime) "kenapa minta maaf? Papa cuma mau mastiin, kalau kamu baik-baik aja setelah kejadian kemarin!" kata papa seolah tahu yang dipikirkan anak bungsunya "emang benar kamu melihat ......... itu?" tanya papa kemudian, Nabilah mengangguk pelan lalu menceritakan ulang pada papa nya sampai kejadian di kamar.
"hmm, aneh memang! Tapi, kalau memang itu benar? Pasti ada sebab lain kenapa dia (Ve) mengikuti dan juga meminta tolong sama kamu, terus juga kenapa kamu bisa melihat dia!" Nabilah cukup kaget dengan jawaban yang di utarakan papanya, karena dia pikir papa akan mengatakan hal yang sama seperti yang mama katakan. "papa percaya sama cerita Nabilah?" papa menjawab ia "papa gak nganggep kalau Nabilah lagi berhalusinasi kan?" papa sekarang menjawab dengan menggeleng.
"kamu itu... seperti almarhum kakek kamu, sayang!" Nabilah mendengarkan apa yang akan di katakan papa nya. "kakek bisa melihat apa yang kamu sebut dengan 'Hantu'" Nabilah baru tahu cerita tentang kakeknya.
"maksud papa?" papa pun menceritakan detailnya pada Nabilah selama perjalanan menuju sekolahnya.
"jadi, maksud papa. Apa yang kakek miliki itu nurunnya ke aku?" papa mengangguk "tapi Nabilah gak mau pah! Hantunya kak Ve sih masih mending diliat karena dia cantik, meskipun kepucatannya itu bikin Nabilah takut. Nah kalo Nabilah ngeliat yang lain yang lebih pucat apalagi berdarah-darah... bisa-bisa Nabilah pingsan terus-terus an pah!!" Nabilah memanyunkan bibirnya
"tapi itu gift sayang, itu keistimewaan yang Tuhan kasih sama kamu!" "apanya yang istimewa sih pah, bisa ngeliat hantu kok istimewa! Hufft" keluh Nabilah. "lagian, kakek kok milih Nabilah sih pah yang ngewarisin Six Sence nya! Gak kak Melody aja gitu atau sepupu-sepupu Nabilah lainnya?" papa tersenyum "bukan kakek yang memilih kamu, tapi Tuhan yang memilih kamu. Dan kamu, harusnya kamu bangga karena kamu di beri sesuatu yang istimewa sama Tuhan. Kamu bisa menggunakan itu untuk menolong orang lain, sayang!" Jelas papa.
mobil yang membawa Nabilah sudah berhenti di depan gerbang sekolah, Nabilah mencium tangan papanya sambil bicara "bukan 'Orang' lain pah, tapi 'Hantu' lain!!" lalu Nabilah keluar dari mobilnya.
Nabilah terus diikuti Ve, di rumahnya, di jalan, bahkan sampai di sekolah. Sudah hari ke3 sejak arwah Ve itu mengikutinya terus-menerus dan selama itu pula Nabilah selalu teriak-teriak ketakutan terus menutup matanya saat di kelas berlari tak karuan menghindari Ve yang selalu bisa menemukannya hingga teman-teman sekolah mulai mencemaskan keadaan Nabilah. Apalagi Gaby dan Ayana yang sahabatnya Nabilah, mereka selalu mengulang pertanyaan tentang kenapa Nabilah seperti itu. Tapi dengan mengulang juga Nabilah menjawab 'tidak apa-apa' karena kalau Nabilah menceritakan yang sebenarnya nanti yang ada dia di tertawakan atau mungkin di anggap gila sama Gaby dan Ayana. Sementara itu, Mama dan Melody sekarang percaya dengan apa yang di bicarakan Nabilah karena papa sudah menceritakan kisah papanya (kakek Nabilah dan Melody) pada mereka, papa bercerita kalau kakek memiliki gift yaitu dia bisa merasakan kehadiran mahluk kasat mata dan juga melihatnya dengan jelas, awalnya kakek tidak menyadari hal itu sampai kakek duduk di bangku kuliah. Kakek baru menyadari kenapa selama ini kakek bisa sering melihat orang berjalan tanpa tangan kanannya di sekitaran stasiun kereta api, melihat yang sedang mencari-cari sesuatu di tumpukan sampah di sebelah stasiun kereta api, melihat perempuan menangis di kamar mandi sekolahnya, melihat yang sedang duduk dengan memainkan kakinya di atas pohon yang ada di tempat kuliahnya.
Dan tidak jarang mereka itu menghampiri kakek sambil bertanya dan juga meminta bantuan kakek. Sama seperti Nabilah kakek pun takut dengan apa yang di lihat keduanya matanya terlebih saat si arwah mengahampirinya untuk meminta tolong atau sekedar bertanya namun dengan seiring berjalannya waktu, kakek pun mulai terbiasa dengan pemandangan itu bahkan kakek bisa memberikan bantuan pada mereka yang sudah terpisah dunia dengan kakek.
Hari ke-4 Nabilah bangun dari tidurnya, dia mengintip dari balik selimutnya memainkan matanya mencari apakah sosok arwah nya Ve ada di kamarnya
"pyuhhh, sepertinya hari ini dia gak----" ~ "Pagiii, Nabilah!" ~ "Haa~aaa!!" Nabilah tersentak kaget saat mendengar suara Ve dari sebelahnya sampai Nabilah terjatuh dari tempat tidurnya sendiri
"auuww~ aduhh, sakit!!"
"kamu gak apa-apa Nabilah?" tanya arwah Ve, sambil melihat ke arah Nabilah
"He- jangan dekat-dekat!! Aduhhh," ucap Nabilah sambil berdiri "gak apa-apa? Hidup aku itu gak ada lagi 'gak apa-apa' setelah diikutin terus sama kakak!" jawab Nabilah sambil mengusap pingganggnya, Ve hanya bisa menunduk. "kenapa sih harus aku? Aduhh Tuhan.. Kenapa gak cari orang lain aja!! Aku gak mau gift kayak gini!!!" keluh Nabilah, sambil berjalan keluar kamar.
Hari ini, di hari ke 4. Nabilah memutuskan untuk bersikap sebiasa mungkin saat melihat arwah Ve yang terus mengikutinya. Hari ini Nabilah mengambil keputusan untuk bicara sama Ve dan mencari tahu apa yang diinginkan Ve, agar dia tidak terus mengikutinya.
"pagi kak!" Nabilah menyapa kakaknya yang ada di dapur dengan tangannya masih memegang pinggangya
"pagi juga~ kamu kenapa?" tanya Melody melihat adiknya yang cadel itu meringis
"aku jatuh dari tempat tidur kak!" jawab Nabilah "Hahahaa, kok bisa sih?" Melody sibuk membuat teh "biasa kak, karena dia tuh! Seneng banget ngagetin orang!!" Nabilah melirik Ve yang sudah ada di sampingnya, Melody berhenti mengocek teh nya "dia?" ucap Melody pelan sambil melihat Nabilah yang masih melirik ke arah sampingnya. Lalu melihat kesamping Nabilah yang tidak ada seorangpun.
"ia, Dia! Arwahnya kak Ve, kak! Dia masih ngikutin aku! Tau deh maunya apaan?!" ujar Nabilah karena mendengar ucapan Melody meskipun pelan
"aku kan udah bilang, aku mau minta tolong sama kamu!" Ucap Ve
"tuh kan kak, masa sekarang dia lagi-lagi bilang kalo dia mau minta tolong sama aku! Minta tolong apa coba?" Melody melebarkan matanya
"aku mau kamu bantuin aku untuk mengakui kesalahan yang udah pernah aku lakuin sama orang-orang yang pernah aku sakitin!"
"terus? Nanti Nabilah datang ke mereka lalu bilang ada permintaan maaf dari kakak, gitu?!" Melody kini menganga melihat dan mendengar adiknya bicara sendiri
"ia~ ia.. seperti itu! Kamu tinggal bilang sama mereka kalo aku minta maaf untuk semua yang pernah aku lakuin! Kalau mereka mau maafin aku, nantinya aku bisa kembali ke tubuh aku dan aku bisa hidup lagi!" jelas Ve
"apa untungnya buat aku?" tanya Nabilah (Melody masih belum buka suara, dia asik sendiri melihat Nabilah)
"ya-, nanti... um kalau aku udah bisa kembali ke tubuh aku... aku kasih apapun yang kamu mau deh!" jawab Ve, Nabilah memainkan jarinya di dagu (kali ini Nabilah sudah tidak takut pada Ve, sepertinya Nabilah sudah bisa berdamai dengan kemampuannya.)
"apa aja?" "ia, apa aja! Apapun!!" tegas Ve
"Ok, aku bantuin kakak! Masalah imbalannya.. Aku pikirin dulu!!" sambut Nabilah "berarti kita deal nih? Kamu mau bantuin kakak!?" "ia" jawab singkat Nabilah, Ve loncat-loncat kegirangan "yess~ hahahaa~ aku senang! Akhirnya..." ucap Ve, Nabilah hanya bisa mengerung melihat tingkah arwah satu ini.
Melody yang melihat ekspresi adiknya seperti itu memprediksi kalau dia sudah selesai ngobrolnya
"dek, kamu~ barusan itu... udah selesai ngobrolnya?" tanya Melody dengan tekanan biasa diikuti gimik wajah yang tidak biasa (rada takut). Nabilah lupa kalau di depannya ada kakaknya
"eh? Um..~ itu, i-ia kak.. Nabilah udah selesai, hehe" Nabilah mulai beranjak dari duduknya untuk ke kamar mandi "barusan dia minta tolong, dan... Nabilah menyetujuinya kak!"
"Huh? Berarti... kamu udah gak takut dong sama hantunya kak Ve?!" Nabilah mengedip-ngedipkan matanya lalu menjawab "takut pun gak ada gunanya kak, dia tetep aja ngikutin aku!" Nabilah terhenti sejenak "lagian~ kalo hantunya kayak kak Ve, sepertinya siapapun terutama cowok gak bakalan takut kak! Yang ada mereka malah rebutan buat deket sama hantu ini!! Hahahaa" kata Nabilah sambil bercanda. Ve ikut tersenyum mendengar pernyataan Nabilah "tapi, emang sih pas pertama lihat kak Ve... dia nyeremin kak! Liat wajahnya itu tuh.. Beuhh pucat banget kayak mayat hidup yang di film-film kak!" lanjut Nabilah membuat Ve yang tadi senyum kini menekuk mukanya. Dan Melody yang mendengar suara Nabilah yang tidak seperti dulu-dulu begitu ketakutan dia hanya bisa senyum seadanya untuk menanggapi.
"jadi kalian sekarang... berteman dong?" lanjut Melody ke pertanyaan kedua, Ve yang tidak terlihat oleh Melody mengangguk-angguk "apalagi ngangguk-ngangguk! Siapa juga yang mau temenan sama kak Ve!! Entar yang ada aku di musuhin sama satu sekolah!!" ujar Nabilah, "eh? Dia ngangguk-ngangguk? Maksud kamu Ve?!"
"ia siapa lagi kak!" kata Nabilah "udah ah, aku mau mandi.. hari ini ada pekerjaan berat menunggu untuk di selesaikan!! Biar si hantu tinggi ini gak ngikutin aku lagi!!" lanjut Nabilah sambil mendelik ke arah Ve.
"cerita apa ini sebenarnya? Apa emang ada orang yang bisa komunikasi sama hantu?" Melody mempertanyakan tulisan yang di buat si penulis.
teriak Nabilah saat dia bisa membuka matanya
"Nabilah, ini mama nak!"
"pergi sana, aku gak kenal sama kakak! Pergiiii" Nabilah masih ketakutan
"Nabilah~ Nabilah" mama memegang tangan Nabilah yang sedang di tutupkan ke wajahnya "Nabilah sayang lihat, ini mama nak! Ini Mama!!" dengan menatap putrinya mama bicara lembut, Nabilah melihat jelas wajah mama nya lalu memeluk mama nya. "maafin mama ya, harusnya mama tidak memaksa kamu nemenin mama ke rumah sakit!" ucap mama sambil mengelus rambut Nabilah, Nabilah masih memeluk erat mama nya.
"Nabilah takut mah! Nabilah
gak kenal sama kak Ve, kenapa dia nge Hantuin Nabilah?!" suara ketakutan Nabilah dalam pelukan mamanya
"Ssuutt- gak ada kak Ve di kamar kamu! Disini gak ada hantu! Ini kamar kamu sayang!!" mama mencoba menenangkan Nabilah.
-Keesokan paginya-
Di meja makan. papa, mama dan juga Melody sudah bersiap. Nabilah turun dari kamarnya, wajahnya terlihat kusut karena ketakutannya. Dia berjalan dengan memainkan matanya melihat sudut J, sudut K, sudut T, sampai dia memiringkan kepalanya 48 derajat untuk melihat setiap sudut.
Papa, Mama dan Melody yang melihat itu merasa hawatir pada Nabilah. Dia terus celingukan sampai tiba di meja makan dan duduk dengan keluarganya
"pagi pah, mah~"
kalimat pertama Nabilah, matanya masih main-main. "pagi juga sayang- gimana tidurnya?" mama yang pertama menjawab, dengan tangannya mengambil piring milik Nabilah. Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, Nabilah tidak mendengar sapaan balik mama dan juga pertanyaan mama.
"dek,~" Melody menyimpan tangannya di atas tangan Nabilah membuat Nabilah kaget "ini kak Melo!" ucap Melody melihat reaksi Nabilah yang kaget
"eh~ em ia, hah- ada apa kak?" tanya Nabilah, kini matanya sudah ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan.
"ayo makan sarapan kamu, biar di sekolah kamu ada energi untuk mengikuti pelajaran!" papa bicara sambil melihat Nabilah, karena Melody tidak melanjutkan ucapannya. Papa, Mama, Melody dan Nabilah menyantap sarapannya dengan atmosfir keheningan melingkupi meja makan, karena yang biasanya meramaikan meja makan (Nabilah) terlihat diam dan dengan tenang *sepertinya* menikmati sarapannya.
Selama perjalanan menuju sekolah (Nabilah di antar papa nya) Nabilah tidak bicara apapun.
"gimana sekolah kamu?" tanya papa untuk mencairkan ketegangan di wajah Nabilah.
"hah? Oh~ ba-baik pah, semuanya lancar!" jawab Nabilah, papa mengangguk lalu kembali bertanya dengan pertanyaan yang membuat Nabilah sedikit merinding
"kata mama kamu? Kemarin di rumah sakit....? Terus di rumah juga....?" sengaja papa menanyakan tidak secara gamblang agar Nabilah tidak terlalu shock, Nabilah melihat papa nya kemudian menjawab "mama cerita semuanya sama papa?" dengan pertanyaan, papa kembali mengangguk dengan kedua matanya fokus ke jalan. "maafin Nabilah ya pah!" papa mengerutkan dahinya heran (Nabilah pikir papanya pasti akan marah karena dia bilang sama mama ada Hantu, dan jawaban mama tentang seringnya Nabilah nonton drama horor dan juga anime) "kenapa minta maaf? Papa cuma mau mastiin, kalau kamu baik-baik aja setelah kejadian kemarin!" kata papa seolah tahu yang dipikirkan anak bungsunya "emang benar kamu melihat ......... itu?" tanya papa kemudian, Nabilah mengangguk pelan lalu menceritakan ulang pada papa nya sampai kejadian di kamar.
"hmm, aneh memang! Tapi, kalau memang itu benar? Pasti ada sebab lain kenapa dia (Ve) mengikuti dan juga meminta tolong sama kamu, terus juga kenapa kamu bisa melihat dia!" Nabilah cukup kaget dengan jawaban yang di utarakan papanya, karena dia pikir papa akan mengatakan hal yang sama seperti yang mama katakan. "papa percaya sama cerita Nabilah?" papa menjawab ia "papa gak nganggep kalau Nabilah lagi berhalusinasi kan?" papa sekarang menjawab dengan menggeleng.
"kamu itu... seperti almarhum kakek kamu, sayang!" Nabilah mendengarkan apa yang akan di katakan papa nya. "kakek bisa melihat apa yang kamu sebut dengan 'Hantu'" Nabilah baru tahu cerita tentang kakeknya.
"maksud papa?" papa pun menceritakan detailnya pada Nabilah selama perjalanan menuju sekolahnya.
"jadi, maksud papa. Apa yang kakek miliki itu nurunnya ke aku?" papa mengangguk "tapi Nabilah gak mau pah! Hantunya kak Ve sih masih mending diliat karena dia cantik, meskipun kepucatannya itu bikin Nabilah takut. Nah kalo Nabilah ngeliat yang lain yang lebih pucat apalagi berdarah-darah... bisa-bisa Nabilah pingsan terus-terus an pah!!" Nabilah memanyunkan bibirnya
"tapi itu gift sayang, itu keistimewaan yang Tuhan kasih sama kamu!" "apanya yang istimewa sih pah, bisa ngeliat hantu kok istimewa! Hufft" keluh Nabilah. "lagian, kakek kok milih Nabilah sih pah yang ngewarisin Six Sence nya! Gak kak Melody aja gitu atau sepupu-sepupu Nabilah lainnya?" papa tersenyum "bukan kakek yang memilih kamu, tapi Tuhan yang memilih kamu. Dan kamu, harusnya kamu bangga karena kamu di beri sesuatu yang istimewa sama Tuhan. Kamu bisa menggunakan itu untuk menolong orang lain, sayang!" Jelas papa.
mobil yang membawa Nabilah sudah berhenti di depan gerbang sekolah, Nabilah mencium tangan papanya sambil bicara "bukan 'Orang' lain pah, tapi 'Hantu' lain!!" lalu Nabilah keluar dari mobilnya.
Nabilah terus diikuti Ve, di rumahnya, di jalan, bahkan sampai di sekolah. Sudah hari ke3 sejak arwah Ve itu mengikutinya terus-menerus dan selama itu pula Nabilah selalu teriak-teriak ketakutan terus menutup matanya saat di kelas berlari tak karuan menghindari Ve yang selalu bisa menemukannya hingga teman-teman sekolah mulai mencemaskan keadaan Nabilah. Apalagi Gaby dan Ayana yang sahabatnya Nabilah, mereka selalu mengulang pertanyaan tentang kenapa Nabilah seperti itu. Tapi dengan mengulang juga Nabilah menjawab 'tidak apa-apa' karena kalau Nabilah menceritakan yang sebenarnya nanti yang ada dia di tertawakan atau mungkin di anggap gila sama Gaby dan Ayana. Sementara itu, Mama dan Melody sekarang percaya dengan apa yang di bicarakan Nabilah karena papa sudah menceritakan kisah papanya (kakek Nabilah dan Melody) pada mereka, papa bercerita kalau kakek memiliki gift yaitu dia bisa merasakan kehadiran mahluk kasat mata dan juga melihatnya dengan jelas, awalnya kakek tidak menyadari hal itu sampai kakek duduk di bangku kuliah. Kakek baru menyadari kenapa selama ini kakek bisa sering melihat orang berjalan tanpa tangan kanannya di sekitaran stasiun kereta api, melihat yang sedang mencari-cari sesuatu di tumpukan sampah di sebelah stasiun kereta api, melihat perempuan menangis di kamar mandi sekolahnya, melihat yang sedang duduk dengan memainkan kakinya di atas pohon yang ada di tempat kuliahnya.
Dan tidak jarang mereka itu menghampiri kakek sambil bertanya dan juga meminta bantuan kakek. Sama seperti Nabilah kakek pun takut dengan apa yang di lihat keduanya matanya terlebih saat si arwah mengahampirinya untuk meminta tolong atau sekedar bertanya namun dengan seiring berjalannya waktu, kakek pun mulai terbiasa dengan pemandangan itu bahkan kakek bisa memberikan bantuan pada mereka yang sudah terpisah dunia dengan kakek.
Hari ke-4 Nabilah bangun dari tidurnya, dia mengintip dari balik selimutnya memainkan matanya mencari apakah sosok arwah nya Ve ada di kamarnya
"pyuhhh, sepertinya hari ini dia gak----" ~ "Pagiii, Nabilah!" ~ "Haa~aaa!!" Nabilah tersentak kaget saat mendengar suara Ve dari sebelahnya sampai Nabilah terjatuh dari tempat tidurnya sendiri
"auuww~ aduhh, sakit!!"
"kamu gak apa-apa Nabilah?" tanya arwah Ve, sambil melihat ke arah Nabilah
"He- jangan dekat-dekat!! Aduhhh," ucap Nabilah sambil berdiri "gak apa-apa? Hidup aku itu gak ada lagi 'gak apa-apa' setelah diikutin terus sama kakak!" jawab Nabilah sambil mengusap pingganggnya, Ve hanya bisa menunduk. "kenapa sih harus aku? Aduhh Tuhan.. Kenapa gak cari orang lain aja!! Aku gak mau gift kayak gini!!!" keluh Nabilah, sambil berjalan keluar kamar.
Hari ini, di hari ke 4. Nabilah memutuskan untuk bersikap sebiasa mungkin saat melihat arwah Ve yang terus mengikutinya. Hari ini Nabilah mengambil keputusan untuk bicara sama Ve dan mencari tahu apa yang diinginkan Ve, agar dia tidak terus mengikutinya.
"pagi kak!" Nabilah menyapa kakaknya yang ada di dapur dengan tangannya masih memegang pinggangya
"pagi juga~ kamu kenapa?" tanya Melody melihat adiknya yang cadel itu meringis
"aku jatuh dari tempat tidur kak!" jawab Nabilah "Hahahaa, kok bisa sih?" Melody sibuk membuat teh "biasa kak, karena dia tuh! Seneng banget ngagetin orang!!" Nabilah melirik Ve yang sudah ada di sampingnya, Melody berhenti mengocek teh nya "dia?" ucap Melody pelan sambil melihat Nabilah yang masih melirik ke arah sampingnya. Lalu melihat kesamping Nabilah yang tidak ada seorangpun.
"ia, Dia! Arwahnya kak Ve, kak! Dia masih ngikutin aku! Tau deh maunya apaan?!" ujar Nabilah karena mendengar ucapan Melody meskipun pelan
"aku kan udah bilang, aku mau minta tolong sama kamu!" Ucap Ve
"tuh kan kak, masa sekarang dia lagi-lagi bilang kalo dia mau minta tolong sama aku! Minta tolong apa coba?" Melody melebarkan matanya
"aku mau kamu bantuin aku untuk mengakui kesalahan yang udah pernah aku lakuin sama orang-orang yang pernah aku sakitin!"
"terus? Nanti Nabilah datang ke mereka lalu bilang ada permintaan maaf dari kakak, gitu?!" Melody kini menganga melihat dan mendengar adiknya bicara sendiri
"ia~ ia.. seperti itu! Kamu tinggal bilang sama mereka kalo aku minta maaf untuk semua yang pernah aku lakuin! Kalau mereka mau maafin aku, nantinya aku bisa kembali ke tubuh aku dan aku bisa hidup lagi!" jelas Ve
"apa untungnya buat aku?" tanya Nabilah (Melody masih belum buka suara, dia asik sendiri melihat Nabilah)
"ya-, nanti... um kalau aku udah bisa kembali ke tubuh aku... aku kasih apapun yang kamu mau deh!" jawab Ve, Nabilah memainkan jarinya di dagu (kali ini Nabilah sudah tidak takut pada Ve, sepertinya Nabilah sudah bisa berdamai dengan kemampuannya.)
"apa aja?" "ia, apa aja! Apapun!!" tegas Ve
"Ok, aku bantuin kakak! Masalah imbalannya.. Aku pikirin dulu!!" sambut Nabilah "berarti kita deal nih? Kamu mau bantuin kakak!?" "ia" jawab singkat Nabilah, Ve loncat-loncat kegirangan "yess~ hahahaa~ aku senang! Akhirnya..." ucap Ve, Nabilah hanya bisa mengerung melihat tingkah arwah satu ini.
Melody yang melihat ekspresi adiknya seperti itu memprediksi kalau dia sudah selesai ngobrolnya
"dek, kamu~ barusan itu... udah selesai ngobrolnya?" tanya Melody dengan tekanan biasa diikuti gimik wajah yang tidak biasa (rada takut). Nabilah lupa kalau di depannya ada kakaknya
"eh? Um..~ itu, i-ia kak.. Nabilah udah selesai, hehe" Nabilah mulai beranjak dari duduknya untuk ke kamar mandi "barusan dia minta tolong, dan... Nabilah menyetujuinya kak!"
"Huh? Berarti... kamu udah gak takut dong sama hantunya kak Ve?!" Nabilah mengedip-ngedipkan matanya lalu menjawab "takut pun gak ada gunanya kak, dia tetep aja ngikutin aku!" Nabilah terhenti sejenak "lagian~ kalo hantunya kayak kak Ve, sepertinya siapapun terutama cowok gak bakalan takut kak! Yang ada mereka malah rebutan buat deket sama hantu ini!! Hahahaa" kata Nabilah sambil bercanda. Ve ikut tersenyum mendengar pernyataan Nabilah "tapi, emang sih pas pertama lihat kak Ve... dia nyeremin kak! Liat wajahnya itu tuh.. Beuhh pucat banget kayak mayat hidup yang di film-film kak!" lanjut Nabilah membuat Ve yang tadi senyum kini menekuk mukanya. Dan Melody yang mendengar suara Nabilah yang tidak seperti dulu-dulu begitu ketakutan dia hanya bisa senyum seadanya untuk menanggapi.
"jadi kalian sekarang... berteman dong?" lanjut Melody ke pertanyaan kedua, Ve yang tidak terlihat oleh Melody mengangguk-angguk "apalagi ngangguk-ngangguk! Siapa juga yang mau temenan sama kak Ve!! Entar yang ada aku di musuhin sama satu sekolah!!" ujar Nabilah, "eh? Dia ngangguk-ngangguk? Maksud kamu Ve?!"
"ia siapa lagi kak!" kata Nabilah "udah ah, aku mau mandi.. hari ini ada pekerjaan berat menunggu untuk di selesaikan!! Biar si hantu tinggi ini gak ngikutin aku lagi!!" lanjut Nabilah sambil mendelik ke arah Ve.
"cerita apa ini sebenarnya? Apa emang ada orang yang bisa komunikasi sama hantu?" Melody mempertanyakan tulisan yang di buat si penulis.
Nabilah sampai di sekolah, dia disambut 2sahabat baiknya (Gaby dan Ayana *sekedar mengingatkan*)
"pagi Bil.." sapa Ayana diikuti Gaby "pagi ini beda ya? Wajah kamu gak kayak kemarin-kemarin! rada cerah gimana... gitu! hehe" kata Gaby
"ia, lumayanlah! Nyoba sensasi baru hari ini!!"
jawab Nabilah sambil melihat Ve yang ada di belakang Ayana dan Gaby. Nabilah duduk~
"eh, Bil... aku denger dari murid-murid yang berseliweran disini" Nabilah memperhatikan Ayana yang entah akan bercerita apa "katanya, kondisinya kak Ve memburuk!" mendengar kata kak Ve, Nabilah celingukan mencari dimana arwah itu berada "dan... Sepertinya murid-murid di SMA banyak yang senang dengan kabar itu!! Terus ya, mereka bilang kalau kak Ve itu emang lebih baik kalau me,---" Nabilah segera membekap mulut Ayana agar berhenti bicara soal Ve. Karena Nabilah bisa melihat lagi Ve (dia kembali entah dari mana setelah mendengar Ayana mengucapkan namanya) Gaby yang melihat tingkah Nabilah hanya bisa bengong. Tangan Ayana mencoba menyingkirkan tangan kanan Nabilah yang membekapnya
"Nabilah~ kamu kenapa sih? *pyuhh~pyuhh~* pake ngebekap mulut aku segala!?" protes Ayana, Gaby lalu tertawa melihat ekspresi Ayana
"euhhh!! Achan.. Kan aku udah pernah bilang! Jangan bicarain yang enggak-enggak soal kak Ve!! Kalo ada yang denger bisa berabe!!!" ucap Nabilah mengemukakan alasan pembekapannya "terus, kamu gak mikir apa? Gimana kalo arwahnya kak Ve denger ucapan kamu? Hah?!"
"ya gak mungkinlah, Nabilah! Kak Ve kan lagi Koma, lagian.. yang ngucapin itu kan kakak-kakak kelas kita! Aku kan cuma menyampaikan apa yang aku dengar!!" kata Ayana sambil mengusap tengkuknya yang terasa merinding
"kenapa Chan? Kok ngusap-ngusap tengkut kayak gitu?"
tanya Gaby melihat Ayana
"em~ tau nih, kok aku tiba-tiba merinding ya?"
Ayana melihat-lihat sekelilingnya seolah mencari sesuatu
(Ve berdiri di dekat Ayana, wajahnya terlihat sedikit sedih saat mendengar cerita Ayana. Meskipun terpotong)
"merinding? Aku gak kok! Kamu ngerasain gak Bil?" Gaby beralih pada Nabilah (Nabilah masih melihat Ve) "Bil! Nabilah!!" panggil Gaby
"hah? Ia.. kenapa?"
"kamu kenapa? Kamu gak bakal teriak-teriak lagi kan? Atau jangan-jangan kamu mau nutupin lagi wajah kamu pake tangan?! Kayak dulu-dulu!! (beberapa hari lalu)" ujar Gaby
"eh? Ia gak lah, Gab! Aku udah bosan kayak gitu, mana memalukan lagi!!" jawab Nabilah sambil menerawang "eh Chan, mending mulai sekarang kamu gak usah deh dengerin apa kata senior-senior itu tentang kak Ve!" Ayana dan Gaby mengangkat kedua matanya "apalagi, kalo mereka udah... doain yang enggak-enggak soal kak Ve! Kan kasian kak Ve nya!!" Ayana dan Gaby semakin heran dengan Nabilah "nih ya aku kasih tau, seseorang ngelakuin sesuatu itu pasti ada sebabnya! Gak akan ada asap kalo gak ada api, gak akan ada akibat kalo gak ada sebab!! Mungkin~ kak Ve ngejahatin atau ngelakuin hal gak baik apapun seperti yang kita denger karena dia punya alasannya atau.. penyebab, jadi menyebalkannya kak Ve!" Nabilah mencoba menganalisa (sebenarnya dia merasa kasihan sama arwah Ve yang terlihat sedih)
"hmm, ia juga ya! Tapi kenapa senior-senior itu seneng banget kalo udah dapat berita gak baik tentang kak Ve! Kok mereka gak bisa mikir sejauh kamu berpikir ya Bil?!" Gaby yang pertama kali menanggapi Nabilah, Ayana masih diam tapi tetap menyimak.
"batas kesabaran nya udah tergeser sama kebenciannya kali?!" jawab Ayana kemudian dengan entengnya.
"maksud kamu, Chan? Mereka udah sangat benci sama ka Ve gitu?" Ayana mengangguk
"hmm, ya udalah! Ngapain juga ngebahas itu! Itu kan urusan mereka mau gak suka sama ka Ve, yang penting kita gak ikut-ikutan tingkah para senior itu! Apalagi ikut mendoakan yang enggak-enggak!!" Ayana dan Gaby mengangguk.
Ve melihat Nabilah, terlihat dari wajahnya dia bisa sedikit mengulaskan senyum saat mendengar Nabilah bicara seolah Nabilah tahu bagaimana ada di posisinya.
bell masuk berbunyi, semua murid terlihat tenang mengikuti setiap pelajaran yang diberikan setiap guru yang masuk dalam kelas mereka. Satu pelajaran~ dua pelajaran~ dua setengah pelajaran dan...... Terdengarlah bell istirahat.
Nabilah, Ayana dan Gaby mengeluarkan makanannya. Mereka bertiga mulai menyantapnya dengan di temani obrolan kecil
"eh, pulang sekolah nanti main yuk ke rumah aku?" ajak Ayana, Gaby mengangguk "wah, boleh tuh.. sekalian ngerjain essai yang tadi di kasih pak Ginting!"
"Nabilah, nanti setelah makan aku mau ngasih kamu nama-nama murid yang pernah aku sakitin! Kalo makanan kamu udah abis, kita ke taman ya?" kata Ve yang duduk di dekat Nabilah
"Gak, aku gak mau" jawab Nabilah (maksudnya pada Ve)
"yah~ kok kamu gak mau ikut sih Bil!" Ayana melihat Nabilah
"eh? Bukan-- bukan ke kamu Chan! Tapi,-" Nabilah terhenti sejenak lalu melirik Ve "maksud aku gak mau itu... gak mau bentar di rumah kamu nya! Ia~ itu maksud aku! Hehehe"
Ayana mengatakan Oh menyambut alasan Nabilah.
"jangan bilang gak mau dong Bil, kan kamu mau semuanya cepat selesai?!" Ve membujuk
"ya udah, nanti aja pulangnya!" jawab Nabilah (Kembali maksudnya pada Ve)
"ia, kita kan emang mau ke rumahnya Achan pulang sekolah Bil!" kata Gaby (Nabilah kembali bingung) 'aduh, ni hantu satu ribet amat sih!' bisik Nabilah dalam hati dengan tampang tak karuannya menyambut pernyataan Gaby.
-Setelah selesai makan, Nabilah beralasan pada Ayana dan Gaby untuk ke toilet (padahal Nabilah mau ke taman). Sesampainya di taman, Nabilah celingukan melihat kanan, kiri, depan, belakang, memastikan tidak ada seorang pun di taman itu. Biar dia bisa leluasa menanggapi keinginan Ve.
"Ok, cepetan~ mana nama-nama nya?" kata Nabilah dengan menyodoran tangan kanannya pada Ve
"aku sebutin nama-nama nya, kamu tulisin!" jawab Ve
"tadi katanya mau ngasih!" (Nabilah berpikir kalau Ve sudah membuat list nya)
"ia, maksud aku ngasih itu! Aku nyebutin nama-nama nya kamu tulisin buat aku!! Kan aku arwah, gak bisa pegang pegang ballpoint atau nulis di kertas!" Ve tertunduk
"hemmph (Nabilah menghela nafas) kenapa gak bilang saat di kelas! Aku kan gak bawa pulpen sama kertas!!"
"ya, abisnya.. kamu tadi nanggepin nya gitu sih.. jadinya kan aku,-" ~ "ah udah lupain, kelamanaa introducing entar keburu bell masuk bunyi!! Aku tulis di... (Nabilah berpikir) ah, di handphone aku aja!" Nabilah mengeluarkan HP nya, Ve tersenyum mendengar usulan Nabilah. Ve mulai menyebutkan nama korbannya satu-persatu, Nabilah sibuk menuliskannya dengan dari mulutnya terdengar ulangan nama si korban. 1nama,2nama,3nama,4nama....... .8nama
"bentar-bentar kak!" Nabilah mengintrupsi, dia menghitung ulang namanya.. "ini udah 8 nama kak? Gak kebanyakan nih?" lalu Nabilah bertanya, Ve menggeleng "itu belum ada setengah nya Nabilah!" ~ "Hah!? Belum ada setengahnya?!" Nabilah setengah berteriak, Ve mengangguk "aku udah mengingat-ingat dari kemarin, dan... jumlahnya itu~ 48 nama Bil!"
Nabilah kembali kaget mendengar si arwah yang punya wajah kalem itu bicara
"apa? 4...8 nama?" Nabilah meneguk ludahnya, Ve lagi-lagi mengangguk dengan ekspresi biasanya yang innocent. "itu semua... pernah kakak kerjain?" tanya Nabilah penasaran, Ve kembali lagi cuma mengangguk "sugoii, 48 nama! Itu orang semua yang kakak kerjain?!" kembali Nabilah bertanya
"ya~ ia lah itu orang, aku kan ngerjain mereka waktu masih jadi orang!" jawab Ve
"berarti sekarang kakak ngakuin dong, kalo kakak itu udah bukan orang! Hahahaa" Ve menekuk bibirnya melihat Nabilah menertawakan dirinya "maaf-maaf! canda kali... (Nabilah berhenti tertawa) Nabilah cuma gak habis pikir aja, Kak ve itu kan cantik, terus dari wajah terlihat kalem, kok bisa ngerjain orang sebanyak itu? Aku aja nih ya kak, yang suka ng troll temen-temen di kelas paling juga cuman 4 sampai 5 orang yang kena! Nah ini--" Nabilah berhenti dan melihat-lihat wajah Ve "cantik + kalem tapi korban troll nya~ 48!! Wihhh, wajah ama kelakuan gak sinkron (seimbang) kak! Hahahaa" kembali Nabilah menertawakan Ve.
Ve hanya bisa menghela nafas mendengar ocehan Nabilah (inginnya Ve menceritakan semuanya tapi, waktu yang terbatas membuat dia akhirnya memutuskan untuk tidak bicara apapun, kecuali menghentikan tawa Nabilah dan melanjutkan lagi menyebutkan nama-nama korban troll nya.
** Pulang sekolah. Nabilah, Gaby dan Ayana meluncur pulang ke rumahnya Ayana seperti yang sudah di rencanakan. Mereka bertiga naik mobil Ayana, sesampainya di rumah yang bernuansa modern dengan sentuhan jepang itu mereka bertiga langsung masuk ke kamar nya si empunya rumah.
"bentar ya, aku ambilin dulu minum!" Ayana bersiap pergi
"makanannya juga Achan, biar sekalian! Hehe.." kata Gaby dengan mengusap-usap perutnya,
"pokok nya yang bisa dimakan dengan baik plus diminum dengan baik juga! Kamu bawa aja, Ok sleppy " Nabilah menyeringai, Ayana menggerak-gerakan bola matanya lalu menjawab dengan enteng "Ok lah! Aku bawa semua, karena kalian udah mau main ke rumah aku! Hahaha"
Orang tua dan kakaknya Ayana sedang tidak di rumah, itu kenapa Ayana begitu senang mereka bisa menemani dirinya. Melihat cuaca di luar cukup mendung membuat Ayana merasa lega karena ada Nabilah dan Gaby (Ayana, Gaby dan Nabilah. Sama-sama penakut! Tapi sepertinya untuk Nabilah sudah tidak bisa lagi menjadi penakut karena dia dikasih gift).
Sementara Ayana mengambilkan suguhan untuk ke2 sahabatnya itu, Gaby asik dengan laptopnya Ayana. Dia tengkurep sambil memainkan laptop, mencari-cari tentang Oshi nya di Idol Group AKB48 (Mayuyu). Dari Artikel, Photo sampai Video, Gaby asik sendiri dengan earphone yang menutupi daun telinganya. Dan Nabilah, dia kembali membuka memo di handphone nya membaca lagi nama-nama yang di berikan Ve
"Kenapa, Nabilah?" tanya Ve yang duduk di sebelahnya (Nabilah duduk di bawah menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang)
"hmm, bagaimana Nabilah memulai ini kak?" Nabilah balik bertanya dengan matanya masih menscroll pad HP nya.
"um~ ia... kamu mulai dari yang mudah dulu lah, Bil!" Nabilah mendelik pada Ve 'gak ada jawaban lain apa ya? Ni arwah gimana sih, ini kan masalahnya!' pikir Nabilah.
"eh, kak.. Kalo cuma mau bilang 'mulai dari yang mudah dulu lah, Bil!' (menggunakan dialek Ve) itu mah anak PAUD juga tahu KAK!" Ve melihat Nabilah sambil mengedip-ngedipkan matanya (sepertinya sedang berpikir) "Nabilah juga tahu kak, kalo itu mah (mulai dari yang mudah) maksud Nabilah gimana cara mulai itu... Nabilah kan gak kenal sama mereka" Ve menyimak, Gaby yang sedang memakai earphone merasa seperti mendengar suara orang ngobrol "nah kalo tiba-tiba Nabilah datang ke mereka terus Nabilah bilang ada permintaan maaf dari kakak, apa kata mereka tentang aku kak? Hemm!"
"ia juga ya, hemmp" sambut Ve
"elah si kakak, cuma gitu doang jawabannya! Hisss!!" (Gaby memperhatikan Nabilah dari belakang)
"ia... kamu coba aja dulu lah Nabilah, siapa tahu mereka bakal ngerti!" kata Ve
"Kak Veranda Jessica! gimana mungkin mereka ngerti!! Secara kondisi kakak aja yang mereka tahu kan lagi koma" Nabilah greget pada Ve (Gaby mulai membuka earphonenya) (Ayana begitu lama ngambil makanan dan minuman doang) "terus aku.. kiclik-kiclik dateng ke mereka lalu ngomong 'maaf kak, aku dapet titipan pesan dari kak Ve, dia mau minta maaf atas apa yang pernah dia lakukan ke kakak. Dan kak Ve harap kakak mau maafin kak Ve karena kalau kakak gak maafin ntar kak Ve bakal The End!' gitu? Kak Ve mau Nabilah ngomong kayak gitu?!,--" ~ "ngomong apa Bil?" Gaby duduk di sebelah Nabilah, sampai Nabilah kaget. "Gaby! Sejak kapan kamu disini?" Nabilah memainkan tangannya, dia takut kalau Gaby mendengar percakapannya dengan arwah Ve.
"aku? Aku baru aja di deket kamu, tadi pas aku lagi browsing aku kayak denger suara orang ngobrol... pas aku perhatiin kamu lagi bicara! Kamu lagi bica...ra Bil?" Gaby mengusap-usap tengkuknya sambil lihat-lihat sekitar (cuaca di luar sangat mendung)
"hah? Itu~ mm~ aku (Nabilah mencoba mencari alasan) aku... ahhh~ ini loh Gab, aku tuh lagi coment di Facebook!(Biasanya Nabilah suka sambil ngomong kalo nulis comment di FB) Itu kali, makanya kamu kayak denger suara orang yang lagi ngobrol.. ha..ha!" Nabilah tertawa dengan nada memaksakan
"ia kali ya! Tapi, kok aku tadi sayup-sayup denger kamu ngucapin kak Ve sih?" - "ah, masa sih? Ha..Ha.. kamu salah denger kali Gab~ kamu barusan abis dengerin musik kan pake earphone?" Gaby mengangguk "mungkin karena itu pendengaran kamu jadi agak-agak gimana gitu~, terus karena tadi di sekolah kita kan ngomongin kak Ve, jadi aja kamu kayak denger aku bilang kak Ve! Ia kan?" Gaby mengangguk-angguk sambil berpikir.
"heeh! Alasan macam apa itu?" Ve meledek Nabilah, membuat Nabilah mendeliknya
"ia kali ya.. ya udah lah... aku mau balik lagi ke kompi!" Nabilah tersenyum menjawab Gaby meng ia kan agar Gaby kembali ke tempatnya
"aku batalin bantuin kakaknya!" bisik Nabilah
"yah, yah... jangan gitu dong Nabilah! Nanti kakak gimana?"
"bukan urusan aku! Wee" sempat-sempatnya Nabilah menjulurkan lidahnya ke arah Ve.
Belum Gaby tiduran lagi untuk melihat-lihat, Ayana datang dengan di kedua tangannya di penuhi cemilan dan di belakangnya ada seorang pembantu yang membantunya membawakan minuman. Gaby dan Nabilah segera menghampiri Ayana untuk mengambil makanan ringannya
"adduh, soal makanan aja pada cepet!" kata Ayana yang di tangannya sudah tidak lagi menggenggam makanan
"kayak gak tahu kita aja? Ia gak Gab?!" Gaby mengangguk-angguk dengan mulutnya sudah penuh dengan cemilan
"Gaby, pelan-pelan kali! Entar keselak baru tahu!!" ucap Ayana, Nabilah hanya tersenyum.
Mereka bertiga duduk di bawah (laptopnya di turunin), ke3 nya mulai mencari bahan untuk tugas essai yang di berikan guru kesenian di sekolah tadi siang. 1jam kurang-lebih mereka sudah dapat bahannya dan tugas pun sudah selesai, Gaby yang memegang kendali mouse laptop mulai mengetik di search engine tentang dorama yang di perankan AKB48. Nabilah dan Ayana mengikuti apa yang di lakukan Gaby, setelah menemukan linknya, Gaby mulai memutar dorama itu dan mereka bertiga pun larut dalam tontonan (diluar hujan masih belum turun tapi warna langitnya sangat menyeramkan). Ve ikut menonton dengan Nabilah, Ayana, dan Gaby. Sesekali Ve melihat tingkah mereka yang saling melempar komentar pada apa yang sedang mereka tonton, ada rasa iri menyergap di hatinya Ve ketika menyaksikan keakraban mereka.
'Nabilah sangat beruntung. punya sahabat yang benar-benar sahabat, punya keluarga yang benar-benar keluarga, sedangkan aku... semuanya benar-benar kosong! Sahabat, Keluarga, gak ada yang nyata! Hemm (Ve menghela nafas)'
(Nabilah sempat melihat sekilas ekspresi wajah Ve saat menghela nafas).
30menit lamanya Nabilah, Ayana dan Gaby menonton dorama. Mereka bertiga sibuk dengan komentarnya masing-masing yang kata Gaby 'aku suka pas bagian itu' sementara Ayana 'aku~ aku suka tuh pas bagian dia ngehajar penjahat-penjahat itu' sedangkan Nabilah 'aku lebih suka lihat adegan yang pas berantem cewek lawan cewek, beuhh itu baru berantem! Bukan cakar-cakar ran atau jambak-jambakan, kayak adegan di sinetron yang ada di tv-tv! Hahaa kerenn' dengan tangannya sibuk memperagakan. Setelah selesai membahas doramanya, tiba-tiba Nabilah mengetikan sesuatu di search engine
'Arwah' *klik............ brettt banyak pilihan artikel tentang apa yang di ketikan Nabilah* Ayana yang pertama kali melihat langsung bertanya pada Nabilah
"kamu ngapain Bil? Cari artikel dengan key word kayak gitu?!" wajahnya sedikit tegang mengingat suasana di luar begitu mendung. Gaby yang mendengar ucapan Ayana langsung melihat layar laptop, saat membaca key word nya Gaby langsung membelalakan matanya. Nabilah membuka sebuah artikel dan membacakan nya (dia tidak menanggapi pertanyaan Ayana)
'arwah itu roh orang yang sejatinya sudah meninggal!' Nabilah diam sejenak "tapi dia (Ve) kan belum meninggal? berarti... dia roh dong? Hmm~"
"si-siapa yang belum meninggal Bil?" tanya Gaby
"itu... Kak Ve!" jawab Nabilah enteng di sambut reaksi berat oleh Ayana dan Gaby.
"terus? Apa hubungannya dengan artikel yang sedang kamu baca?" kata Gaby "ia, kenapa dengan arwah, roh dan kak Ve yang sudah meninggal?" giliran Ayana.
Nabilah yang baru sadar akan apa yang di ucapkan segera menguasai dirinya dan melihat ke arah Gaby dan Ayana
"itu~ em aku cuman penasaran aja! Kalo orang yang lagi koma itu... kira-kira roh nya ngapain ya? Secara kan jasadnya gak berdaya!" Ayana dan Gaby saling menukar pandang, mendengar ucapan Nabilah
"kok tumben-tumbenan kamu ngebahas soal ginian? Mana ini nyangkut kak Ve lagi!" ujar Gaby "tau nih si Nabilah, udah ahh! Tutup search engine yang tentang itu (arwah) aku jadi merinding nih!" tambah Ayana.
"aku kan cuma penasaran! soalnya~ gini deh aku bikin 'jika' ya untuk ceritanya!" Ayana dan Gaby hanya bisa menyimak "jika arwah atau roh orang yang sedang koma bisa kalian lihat, kalian bakal ngelakuin apa?" ~ "aku udah pasti kabur duluan!" sahut Ayana "aku juga! Itu kan serem Bil, masa orang yang lagi koma rohnya bisa main sih?" Jawab Gaby.
saat mereka bertiga membahas tentang arwah dan roh (Ve tidak terlihat di kamar Ayana)
"kalo rohnya itu... roh kak Ve? Dan apa yang aku bilang barusan soal roh orang yang sedang koma bisa kalian lihat bahkan, dia minta tolong sama kalian. Itu benar (suara gemuruh) Gimana? Apa yang akan kalian lakuin?" Nabilah berbicara dengan nada berat dalam bisiknya, membuat Ayana dan Gaby merinding.
"pagi Bil.." sapa Ayana diikuti Gaby "pagi ini beda ya? Wajah kamu gak kayak kemarin-kemarin! rada cerah gimana... gitu! hehe" kata Gaby
"ia, lumayanlah! Nyoba sensasi baru hari ini!!"
jawab Nabilah sambil melihat Ve yang ada di belakang Ayana dan Gaby. Nabilah duduk~
"eh, Bil... aku denger dari murid-murid yang berseliweran disini" Nabilah memperhatikan Ayana yang entah akan bercerita apa "katanya, kondisinya kak Ve memburuk!" mendengar kata kak Ve, Nabilah celingukan mencari dimana arwah itu berada "dan... Sepertinya murid-murid di SMA banyak yang senang dengan kabar itu!! Terus ya, mereka bilang kalau kak Ve itu emang lebih baik kalau me,---" Nabilah segera membekap mulut Ayana agar berhenti bicara soal Ve. Karena Nabilah bisa melihat lagi Ve (dia kembali entah dari mana setelah mendengar Ayana mengucapkan namanya) Gaby yang melihat tingkah Nabilah hanya bisa bengong. Tangan Ayana mencoba menyingkirkan tangan kanan Nabilah yang membekapnya
"Nabilah~ kamu kenapa sih? *pyuhh~pyuhh~* pake ngebekap mulut aku segala!?" protes Ayana, Gaby lalu tertawa melihat ekspresi Ayana
"euhhh!! Achan.. Kan aku udah pernah bilang! Jangan bicarain yang enggak-enggak soal kak Ve!! Kalo ada yang denger bisa berabe!!!" ucap Nabilah mengemukakan alasan pembekapannya "terus, kamu gak mikir apa? Gimana kalo arwahnya kak Ve denger ucapan kamu? Hah?!"
"ya gak mungkinlah, Nabilah! Kak Ve kan lagi Koma, lagian.. yang ngucapin itu kan kakak-kakak kelas kita! Aku kan cuma menyampaikan apa yang aku dengar!!" kata Ayana sambil mengusap tengkuknya yang terasa merinding
"kenapa Chan? Kok ngusap-ngusap tengkut kayak gitu?"
tanya Gaby melihat Ayana
"em~ tau nih, kok aku tiba-tiba merinding ya?"
Ayana melihat-lihat sekelilingnya seolah mencari sesuatu
(Ve berdiri di dekat Ayana, wajahnya terlihat sedikit sedih saat mendengar cerita Ayana. Meskipun terpotong)
"merinding? Aku gak kok! Kamu ngerasain gak Bil?" Gaby beralih pada Nabilah (Nabilah masih melihat Ve) "Bil! Nabilah!!" panggil Gaby
"hah? Ia.. kenapa?"
"kamu kenapa? Kamu gak bakal teriak-teriak lagi kan? Atau jangan-jangan kamu mau nutupin lagi wajah kamu pake tangan?! Kayak dulu-dulu!! (beberapa hari lalu)" ujar Gaby
"eh? Ia gak lah, Gab! Aku udah bosan kayak gitu, mana memalukan lagi!!" jawab Nabilah sambil menerawang "eh Chan, mending mulai sekarang kamu gak usah deh dengerin apa kata senior-senior itu tentang kak Ve!" Ayana dan Gaby mengangkat kedua matanya "apalagi, kalo mereka udah... doain yang enggak-enggak soal kak Ve! Kan kasian kak Ve nya!!" Ayana dan Gaby semakin heran dengan Nabilah "nih ya aku kasih tau, seseorang ngelakuin sesuatu itu pasti ada sebabnya! Gak akan ada asap kalo gak ada api, gak akan ada akibat kalo gak ada sebab!! Mungkin~ kak Ve ngejahatin atau ngelakuin hal gak baik apapun seperti yang kita denger karena dia punya alasannya atau.. penyebab, jadi menyebalkannya kak Ve!" Nabilah mencoba menganalisa (sebenarnya dia merasa kasihan sama arwah Ve yang terlihat sedih)
"hmm, ia juga ya! Tapi kenapa senior-senior itu seneng banget kalo udah dapat berita gak baik tentang kak Ve! Kok mereka gak bisa mikir sejauh kamu berpikir ya Bil?!" Gaby yang pertama kali menanggapi Nabilah, Ayana masih diam tapi tetap menyimak.
"batas kesabaran nya udah tergeser sama kebenciannya kali?!" jawab Ayana kemudian dengan entengnya.
"maksud kamu, Chan? Mereka udah sangat benci sama ka Ve gitu?" Ayana mengangguk
"hmm, ya udalah! Ngapain juga ngebahas itu! Itu kan urusan mereka mau gak suka sama ka Ve, yang penting kita gak ikut-ikutan tingkah para senior itu! Apalagi ikut mendoakan yang enggak-enggak!!" Ayana dan Gaby mengangguk.
Ve melihat Nabilah, terlihat dari wajahnya dia bisa sedikit mengulaskan senyum saat mendengar Nabilah bicara seolah Nabilah tahu bagaimana ada di posisinya.
bell masuk berbunyi, semua murid terlihat tenang mengikuti setiap pelajaran yang diberikan setiap guru yang masuk dalam kelas mereka. Satu pelajaran~ dua pelajaran~ dua setengah pelajaran dan...... Terdengarlah bell istirahat.
Nabilah, Ayana dan Gaby mengeluarkan makanannya. Mereka bertiga mulai menyantapnya dengan di temani obrolan kecil
"eh, pulang sekolah nanti main yuk ke rumah aku?" ajak Ayana, Gaby mengangguk "wah, boleh tuh.. sekalian ngerjain essai yang tadi di kasih pak Ginting!"
"Nabilah, nanti setelah makan aku mau ngasih kamu nama-nama murid yang pernah aku sakitin! Kalo makanan kamu udah abis, kita ke taman ya?" kata Ve yang duduk di dekat Nabilah
"Gak, aku gak mau" jawab Nabilah (maksudnya pada Ve)
"yah~ kok kamu gak mau ikut sih Bil!" Ayana melihat Nabilah
"eh? Bukan-- bukan ke kamu Chan! Tapi,-" Nabilah terhenti sejenak lalu melirik Ve "maksud aku gak mau itu... gak mau bentar di rumah kamu nya! Ia~ itu maksud aku! Hehehe"
Ayana mengatakan Oh menyambut alasan Nabilah.
"jangan bilang gak mau dong Bil, kan kamu mau semuanya cepat selesai?!" Ve membujuk
"ya udah, nanti aja pulangnya!" jawab Nabilah (Kembali maksudnya pada Ve)
"ia, kita kan emang mau ke rumahnya Achan pulang sekolah Bil!" kata Gaby (Nabilah kembali bingung) 'aduh, ni hantu satu ribet amat sih!' bisik Nabilah dalam hati dengan tampang tak karuannya menyambut pernyataan Gaby.
-Setelah selesai makan, Nabilah beralasan pada Ayana dan Gaby untuk ke toilet (padahal Nabilah mau ke taman). Sesampainya di taman, Nabilah celingukan melihat kanan, kiri, depan, belakang, memastikan tidak ada seorang pun di taman itu. Biar dia bisa leluasa menanggapi keinginan Ve.
"Ok, cepetan~ mana nama-nama nya?" kata Nabilah dengan menyodoran tangan kanannya pada Ve
"aku sebutin nama-nama nya, kamu tulisin!" jawab Ve
"tadi katanya mau ngasih!" (Nabilah berpikir kalau Ve sudah membuat list nya)
"ia, maksud aku ngasih itu! Aku nyebutin nama-nama nya kamu tulisin buat aku!! Kan aku arwah, gak bisa pegang pegang ballpoint atau nulis di kertas!" Ve tertunduk
"hemmph (Nabilah menghela nafas) kenapa gak bilang saat di kelas! Aku kan gak bawa pulpen sama kertas!!"
"ya, abisnya.. kamu tadi nanggepin nya gitu sih.. jadinya kan aku,-" ~ "ah udah lupain, kelamanaa introducing entar keburu bell masuk bunyi!! Aku tulis di... (Nabilah berpikir) ah, di handphone aku aja!" Nabilah mengeluarkan HP nya, Ve tersenyum mendengar usulan Nabilah. Ve mulai menyebutkan nama korbannya satu-persatu, Nabilah sibuk menuliskannya dengan dari mulutnya terdengar ulangan nama si korban. 1nama,2nama,3nama,4nama.......
"bentar-bentar kak!" Nabilah mengintrupsi, dia menghitung ulang namanya.. "ini udah 8 nama kak? Gak kebanyakan nih?" lalu Nabilah bertanya, Ve menggeleng "itu belum ada setengah nya Nabilah!" ~ "Hah!? Belum ada setengahnya?!" Nabilah setengah berteriak, Ve mengangguk "aku udah mengingat-ingat dari kemarin, dan... jumlahnya itu~ 48 nama Bil!"
Nabilah kembali kaget mendengar si arwah yang punya wajah kalem itu bicara
"apa? 4...8 nama?" Nabilah meneguk ludahnya, Ve lagi-lagi mengangguk dengan ekspresi biasanya yang innocent. "itu semua... pernah kakak kerjain?" tanya Nabilah penasaran, Ve kembali lagi cuma mengangguk "sugoii, 48 nama! Itu orang semua yang kakak kerjain?!" kembali Nabilah bertanya
"ya~ ia lah itu orang, aku kan ngerjain mereka waktu masih jadi orang!" jawab Ve
"berarti sekarang kakak ngakuin dong, kalo kakak itu udah bukan orang! Hahahaa" Ve menekuk bibirnya melihat Nabilah menertawakan dirinya "maaf-maaf! canda kali... (Nabilah berhenti tertawa) Nabilah cuma gak habis pikir aja, Kak ve itu kan cantik, terus dari wajah terlihat kalem, kok bisa ngerjain orang sebanyak itu? Aku aja nih ya kak, yang suka ng troll temen-temen di kelas paling juga cuman 4 sampai 5 orang yang kena! Nah ini--" Nabilah berhenti dan melihat-lihat wajah Ve "cantik + kalem tapi korban troll nya~ 48!! Wihhh, wajah ama kelakuan gak sinkron (seimbang) kak! Hahahaa" kembali Nabilah menertawakan Ve.
Ve hanya bisa menghela nafas mendengar ocehan Nabilah (inginnya Ve menceritakan semuanya tapi, waktu yang terbatas membuat dia akhirnya memutuskan untuk tidak bicara apapun, kecuali menghentikan tawa Nabilah dan melanjutkan lagi menyebutkan nama-nama korban troll nya.
** Pulang sekolah. Nabilah, Gaby dan Ayana meluncur pulang ke rumahnya Ayana seperti yang sudah di rencanakan. Mereka bertiga naik mobil Ayana, sesampainya di rumah yang bernuansa modern dengan sentuhan jepang itu mereka bertiga langsung masuk ke kamar nya si empunya rumah.
"bentar ya, aku ambilin dulu minum!" Ayana bersiap pergi
"makanannya juga Achan, biar sekalian! Hehe.." kata Gaby dengan mengusap-usap perutnya,
"pokok nya yang bisa dimakan dengan baik plus diminum dengan baik juga! Kamu bawa aja, Ok sleppy " Nabilah menyeringai, Ayana menggerak-gerakan bola matanya lalu menjawab dengan enteng "Ok lah! Aku bawa semua, karena kalian udah mau main ke rumah aku! Hahaha"
Orang tua dan kakaknya Ayana sedang tidak di rumah, itu kenapa Ayana begitu senang mereka bisa menemani dirinya. Melihat cuaca di luar cukup mendung membuat Ayana merasa lega karena ada Nabilah dan Gaby (Ayana, Gaby dan Nabilah. Sama-sama penakut! Tapi sepertinya untuk Nabilah sudah tidak bisa lagi menjadi penakut karena dia dikasih gift).
Sementara Ayana mengambilkan suguhan untuk ke2 sahabatnya itu, Gaby asik dengan laptopnya Ayana. Dia tengkurep sambil memainkan laptop, mencari-cari tentang Oshi nya di Idol Group AKB48 (Mayuyu). Dari Artikel, Photo sampai Video, Gaby asik sendiri dengan earphone yang menutupi daun telinganya. Dan Nabilah, dia kembali membuka memo di handphone nya membaca lagi nama-nama yang di berikan Ve
"Kenapa, Nabilah?" tanya Ve yang duduk di sebelahnya (Nabilah duduk di bawah menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang)
"hmm, bagaimana Nabilah memulai ini kak?" Nabilah balik bertanya dengan matanya masih menscroll pad HP nya.
"um~ ia... kamu mulai dari yang mudah dulu lah, Bil!" Nabilah mendelik pada Ve 'gak ada jawaban lain apa ya? Ni arwah gimana sih, ini kan masalahnya!' pikir Nabilah.
"eh, kak.. Kalo cuma mau bilang 'mulai dari yang mudah dulu lah, Bil!' (menggunakan dialek Ve) itu mah anak PAUD juga tahu KAK!" Ve melihat Nabilah sambil mengedip-ngedipkan matanya (sepertinya sedang berpikir) "Nabilah juga tahu kak, kalo itu mah (mulai dari yang mudah) maksud Nabilah gimana cara mulai itu... Nabilah kan gak kenal sama mereka" Ve menyimak, Gaby yang sedang memakai earphone merasa seperti mendengar suara orang ngobrol "nah kalo tiba-tiba Nabilah datang ke mereka terus Nabilah bilang ada permintaan maaf dari kakak, apa kata mereka tentang aku kak? Hemm!"
"ia juga ya, hemmp" sambut Ve
"elah si kakak, cuma gitu doang jawabannya! Hisss!!" (Gaby memperhatikan Nabilah dari belakang)
"ia... kamu coba aja dulu lah Nabilah, siapa tahu mereka bakal ngerti!" kata Ve
"Kak Veranda Jessica! gimana mungkin mereka ngerti!! Secara kondisi kakak aja yang mereka tahu kan lagi koma" Nabilah greget pada Ve (Gaby mulai membuka earphonenya) (Ayana begitu lama ngambil makanan dan minuman doang) "terus aku.. kiclik-kiclik dateng ke mereka lalu ngomong 'maaf kak, aku dapet titipan pesan dari kak Ve, dia mau minta maaf atas apa yang pernah dia lakukan ke kakak. Dan kak Ve harap kakak mau maafin kak Ve karena kalau kakak gak maafin ntar kak Ve bakal The End!' gitu? Kak Ve mau Nabilah ngomong kayak gitu?!,--" ~ "ngomong apa Bil?" Gaby duduk di sebelah Nabilah, sampai Nabilah kaget. "Gaby! Sejak kapan kamu disini?" Nabilah memainkan tangannya, dia takut kalau Gaby mendengar percakapannya dengan arwah Ve.
"aku? Aku baru aja di deket kamu, tadi pas aku lagi browsing aku kayak denger suara orang ngobrol... pas aku perhatiin kamu lagi bicara! Kamu lagi bica...ra Bil?" Gaby mengusap-usap tengkuknya sambil lihat-lihat sekitar (cuaca di luar sangat mendung)
"hah? Itu~ mm~ aku (Nabilah mencoba mencari alasan) aku... ahhh~ ini loh Gab, aku tuh lagi coment di Facebook!(Biasanya Nabilah suka sambil ngomong kalo nulis comment di FB) Itu kali, makanya kamu kayak denger suara orang yang lagi ngobrol.. ha..ha!" Nabilah tertawa dengan nada memaksakan
"ia kali ya! Tapi, kok aku tadi sayup-sayup denger kamu ngucapin kak Ve sih?" - "ah, masa sih? Ha..Ha.. kamu salah denger kali Gab~ kamu barusan abis dengerin musik kan pake earphone?" Gaby mengangguk "mungkin karena itu pendengaran kamu jadi agak-agak gimana gitu~, terus karena tadi di sekolah kita kan ngomongin kak Ve, jadi aja kamu kayak denger aku bilang kak Ve! Ia kan?" Gaby mengangguk-angguk sambil berpikir.
"heeh! Alasan macam apa itu?" Ve meledek Nabilah, membuat Nabilah mendeliknya
"ia kali ya.. ya udah lah... aku mau balik lagi ke kompi!" Nabilah tersenyum menjawab Gaby meng ia kan agar Gaby kembali ke tempatnya
"aku batalin bantuin kakaknya!" bisik Nabilah
"yah, yah... jangan gitu dong Nabilah! Nanti kakak gimana?"
"bukan urusan aku! Wee" sempat-sempatnya Nabilah menjulurkan lidahnya ke arah Ve.
Belum Gaby tiduran lagi untuk melihat-lihat, Ayana datang dengan di kedua tangannya di penuhi cemilan dan di belakangnya ada seorang pembantu yang membantunya membawakan minuman. Gaby dan Nabilah segera menghampiri Ayana untuk mengambil makanan ringannya
"adduh, soal makanan aja pada cepet!" kata Ayana yang di tangannya sudah tidak lagi menggenggam makanan
"kayak gak tahu kita aja? Ia gak Gab?!" Gaby mengangguk-angguk dengan mulutnya sudah penuh dengan cemilan
"Gaby, pelan-pelan kali! Entar keselak baru tahu!!" ucap Ayana, Nabilah hanya tersenyum.
Mereka bertiga duduk di bawah (laptopnya di turunin), ke3 nya mulai mencari bahan untuk tugas essai yang di berikan guru kesenian di sekolah tadi siang. 1jam kurang-lebih mereka sudah dapat bahannya dan tugas pun sudah selesai, Gaby yang memegang kendali mouse laptop mulai mengetik di search engine tentang dorama yang di perankan AKB48. Nabilah dan Ayana mengikuti apa yang di lakukan Gaby, setelah menemukan linknya, Gaby mulai memutar dorama itu dan mereka bertiga pun larut dalam tontonan (diluar hujan masih belum turun tapi warna langitnya sangat menyeramkan). Ve ikut menonton dengan Nabilah, Ayana, dan Gaby. Sesekali Ve melihat tingkah mereka yang saling melempar komentar pada apa yang sedang mereka tonton, ada rasa iri menyergap di hatinya Ve ketika menyaksikan keakraban mereka.
'Nabilah sangat beruntung. punya sahabat yang benar-benar sahabat, punya keluarga yang benar-benar keluarga, sedangkan aku... semuanya benar-benar kosong! Sahabat, Keluarga, gak ada yang nyata! Hemm (Ve menghela nafas)'
(Nabilah sempat melihat sekilas ekspresi wajah Ve saat menghela nafas).
30menit lamanya Nabilah, Ayana dan Gaby menonton dorama. Mereka bertiga sibuk dengan komentarnya masing-masing yang kata Gaby 'aku suka pas bagian itu' sementara Ayana 'aku~ aku suka tuh pas bagian dia ngehajar penjahat-penjahat itu' sedangkan Nabilah 'aku lebih suka lihat adegan yang pas berantem cewek lawan cewek, beuhh itu baru berantem! Bukan cakar-cakar ran atau jambak-jambakan, kayak adegan di sinetron yang ada di tv-tv! Hahaa kerenn' dengan tangannya sibuk memperagakan. Setelah selesai membahas doramanya, tiba-tiba Nabilah mengetikan sesuatu di search engine
'Arwah' *klik............ brettt banyak pilihan artikel tentang apa yang di ketikan Nabilah* Ayana yang pertama kali melihat langsung bertanya pada Nabilah
"kamu ngapain Bil? Cari artikel dengan key word kayak gitu?!" wajahnya sedikit tegang mengingat suasana di luar begitu mendung. Gaby yang mendengar ucapan Ayana langsung melihat layar laptop, saat membaca key word nya Gaby langsung membelalakan matanya. Nabilah membuka sebuah artikel dan membacakan nya (dia tidak menanggapi pertanyaan Ayana)
'arwah itu roh orang yang sejatinya sudah meninggal!' Nabilah diam sejenak "tapi dia (Ve) kan belum meninggal? berarti... dia roh dong? Hmm~"
"si-siapa yang belum meninggal Bil?" tanya Gaby
"itu... Kak Ve!" jawab Nabilah enteng di sambut reaksi berat oleh Ayana dan Gaby.
"terus? Apa hubungannya dengan artikel yang sedang kamu baca?" kata Gaby "ia, kenapa dengan arwah, roh dan kak Ve yang sudah meninggal?" giliran Ayana.
Nabilah yang baru sadar akan apa yang di ucapkan segera menguasai dirinya dan melihat ke arah Gaby dan Ayana
"itu~ em aku cuman penasaran aja! Kalo orang yang lagi koma itu... kira-kira roh nya ngapain ya? Secara kan jasadnya gak berdaya!" Ayana dan Gaby saling menukar pandang, mendengar ucapan Nabilah
"kok tumben-tumbenan kamu ngebahas soal ginian? Mana ini nyangkut kak Ve lagi!" ujar Gaby "tau nih si Nabilah, udah ahh! Tutup search engine yang tentang itu (arwah) aku jadi merinding nih!" tambah Ayana.
"aku kan cuma penasaran! soalnya~ gini deh aku bikin 'jika' ya untuk ceritanya!" Ayana dan Gaby hanya bisa menyimak "jika arwah atau roh orang yang sedang koma bisa kalian lihat, kalian bakal ngelakuin apa?" ~ "aku udah pasti kabur duluan!" sahut Ayana "aku juga! Itu kan serem Bil, masa orang yang lagi koma rohnya bisa main sih?" Jawab Gaby.
saat mereka bertiga membahas tentang arwah dan roh (Ve tidak terlihat di kamar Ayana)
"kalo rohnya itu... roh kak Ve? Dan apa yang aku bilang barusan soal roh orang yang sedang koma bisa kalian lihat bahkan, dia minta tolong sama kalian. Itu benar (suara gemuruh) Gimana? Apa yang akan kalian lakuin?" Nabilah berbicara dengan nada berat dalam bisiknya, membuat Ayana dan Gaby merinding.
"Nabilah!
Bahasannya gak ada yang lain apa?" kata Ayana sambil mengusap-usap
tangan kanannya karena dingin, Gaby mengangguk pertanda setuju dengan
ucapan Ayana. Nabilah masih memainkan ekspresi wajahnya, lalu...
"Hahahahaaaaaaa..." suara tawa Nabilah pecah "lucu! Hahahaaa.. this is
so cute man! Lihatlah wajah kalian berdua? Wahahaaaaa..."
Ayana dan Gaby mengerung melihat tingkah Nabilah yang tertawa sendiri dengan objek tertawaannya mereka.
"aku cuma bercanda kali, lagian mana ada orang yang lagi koma rohnya bisa jalan-jalan! Apalagi sampai minta tolong!! Hahahahaaa" ucap Nabilah di sela tawa jahilnya
"gak lucu sumpah!" kata Gaby
"bener Gab, yang ada itu Jayus!! Si Nabilah becandanya nya gak lihat suasana!!! Kalo apa yang dia ucapkan jadi kenyataan gimana coba?" Nabilah berhenti tertawa "ya aku hadapin lah! Dari pada dihindari tapi gak terhindar-terhindar!!" jawab Nabilah dengan entengnya
"kayak yang berani aja? Sama-sama penakut juga!!" Gaby meledek Nabilah dengan nada setengah kesal karena bercandanya Nabilah tidak Lucu (diluar Hujan deras ditemani petir dan gemuruh, di kasih plus. kejadian hujannya hari Kamis, malam Jumat).
**-Keesokan Harinya-
Nabilah seperti biasa pergi ke sekolah dengan kali ini di antar oleh Melody, karena papa sedang di luar kota. (Ve ikut di mobil, dia duduk di seat belakang) Saat mobil sudah meluncur meninggalkan pekarangan rumah, Ve dan juga Melody bertanya secara berbarengan sampai membuat Nabilah bingung harus menjawab yang mana dulu.
"hemm, ok! Nabilah bingung, harus jawab yang mana dulu?"
(Ve tidak heran, tapi Melody heran)
"bingung? Kak Melody kan cuma nanya satu kali! Kok kamu bingung?" ~ "aduh, sekarang Nabilah lupa~ kak Melody kan gak bisa liat atau denger kak Ve ya!" Melody baru mengerti dengan yang di ucapkan Nabilah saat membawa nama Ve.
"aku jawab dulu pertanyaan kak Melody, setelah itu pertanyaannya kak Ve!" Ve mengangguk-angguk, Melody melihat-lihat ke seat belakang dari spion atas.
"kak Ve? Dia ada disini dek?" tanya Melody, Nabilah mengangguk
"dia selalu ada dimana Nabilah ada kak! Hmm~ arwah yang rese!" Ve mendelik Nabilah "sudahlah, skip~ mau di jawab gak pertanyaannya?" tanya Nabilah pada keduanya, Melody dan Ve mengangguk. "ceilee~ kompakan banget ngangguknya!" dengan tersenyum Nabilah berucap membuat Melody melihat kearahnya lalu ke belakang (sudah beberapa kali Melody melihat ke seat belakang, tapi dia tetap tidakdapat melihat apapun)
"selain arwahnya kak Ve... Nabilah belum pernah liat arwah lain kak! Kalo pun liat, Nabilah gak tahu bakal ngapain!! Apalagi kalo wajah mereka kayak di drama-drama~ hiiii, pingsan lagi aku nanti!!" Nabilah menjawab pertanyaan Melody
"huh? kok bisa? Kan kata papa, kalo kakek bisa lihat apapun yang ada di sekitarnya yang kasat mata! Which is, banyak dong yang kakek lihat dari gift nya itu!" panjang lebar Melody mengutarakan keheranannya (matanya fokus ke jalan), Nabilah mengangkat kedua bahunya "belum waktunya kali Nabilah lihat semua!" berhenti sejenak "lagian.. kakak kok kayaknya gak suka sih Nabilah gak liat arwah lainnya!!" komplen Nabilah melihat kearah Melody
"ia~ bukan gitu dek, kakak cuman heran aja! Soalnya ya... apa yang di ceritakan papa itu, kayaknya rame tuh... bisa lihat sesuatu yang orang lain gak bisa lihat!! Udah kayak di tipi-tipi hasil shooting!!!" Melody menghayal andai dirinya yang dapat gift
"nih kak, aku bakalan dengan sangat senang hati ngasih gift aku sama kakak, kalo kakak pikir bisa ngeliat sesuatu yang orang lain gak bisa liat itu RAME!!" ucap Nabilah dengan memberikan tekanan di kata 'rame' Melody tidak berbicara lagi dia hanya mengulaskan senyum mendengar adiknya bicara.
"Nabilah, pertanyaan kak Ve kapan di jawab?" giliran Ve yang komplen karena Nabilah belum menanggapinya
"elah~ protes lagi ni arwah (Melody mendengar Nabilah) tuh... protesnya sama kak Melody, karena dari tadi ngomong mulu!!" Melody melihat Nabilah dengan di wajahnya tersirat 'kenapa aku?'
"ya udah, kakak kamu kan udah gak bicara lagi. Sekarang kamu jawab dong pertanyaan ka Ve! Kamu mau kan, entar pulang sekolah kita ke rumah kakak dulu!" lanjut Ve, Nabilah berpikir sejenak lalu menjawab
"liat entar deh yah kak, kalo ada waktu.. Nabilah main dulu ke rumahnya kakak" (Melody hanya menyimak adiknya yang sedang bicara sendiri) "tapi kalo gak ada! Nabilah harus langsung pulang, soalnya mama bisa marah kalo Nabilah pulang telat tanpa alasan yang jelas! Ia kan kak Melo?" Nabilah mengakhiri jawaban untuk Ve dengan pertanyaan pada kakak nya
"hah? Ii~ia.. itu... itu udah peraturan yang ada di rumah kami!! He..heheu.." Melody menjawab dengan senyum tak karuan menyelimuti wajahnya yang cantik, karena dia tidak tahu untuk sosok yang mana dia menjawab.
"tuh~ denger sendiri kan? Kakak aku bilang apa?!" ~ "um~ ya udah sekarang kamu minta izin sama kak Melody biar nanti kak Melody yang izinin kamu ke mama!" usul Ve "kak Ve kekeuh banget sih mau aku main ke rumah kakak!" ujar Nabilah
"kamu... mau main ke rumah Ve?" Melody meng intrupsi,
"aku di ajak sama kak Ve pulang sekolah nanti Mampir dulu ke rumahnya kak Ve, gak tahu deh mau ngapain?!" (Melody hanya bisa mengucapkan Oooh)
"kak Ve ngajak kamu ke rumah itu... buat ngambil beberapa barang milik murid yang pernah kakak kerjain! Ya... itu kan pasti bisa berguna saat nanti kamu memulai misi kita!" jelas Ve, Nabilah menanggapi ucapan Ve dengan gimik dan nada Alay "Hei? Misi kita? Misi lu aja kali! Gue sih enggak!"
(Mulut Melody diam terkunci saat mendengarkan adiknya asik bicara sendiri. 'kembali aku bertanya pada penulis, Cerita apa ini sebenarnya?!!' kata Melody dengan menggeleng-gelengkan kepalanya).
Nabilah bisa biasa saja ngobrol sama Ve kalau dia sedang di dekat papa, mama atupun Melody yang memang sudah tahu tentang giftnya. Sedangkan kalau lagi di dekat teman-temannya ataupun sahabat-sahabatnya Nabilah lebih berhati-hati saat akan bicara atau menanggapi Ve (Sebenarnya Nabilah lebih banyak bicara ketimbang Ve yang sedang punya masalahnya, dan Ve hanya bisa menyimak dengan sesekali tertawa mendengar celotehan si cerewet yang penakut ini.)
Sampai di sekolah Nabilah hidup seperti biasa, menjalani aktifitas hariannya di sekolah yang berkapasitas menampung 480 orang pelajar dengan di bantu staff dan pengajar yang jumlahnya ada 48 lebih di SMP dan juga SMA. Nabilah di sambut Ayana dan Gaby; Nabilah mejahili teman-temannya; Nabilah yang tidak bisa diam saat pelajaran dimulai (aktif bertanya dan meng gerecoki guru saat sedang membahas materi). Sampai tiba di waktu istirahat untuk menghabiskan bekal makannya dan berbagi cerita dari berita J, gosip K, Video T... dan lain-lainnya. Hingga tak terasa bell kembali meraung menandakan semua murid untuk kembali ke aktifitasnya di kelas. 1jam~ 2jam~ 3jam~ 4jam dan... Tibalah keramaian dan kegaduhan murid-murid perempuan itu saat mereka keluar dari kelasnya menyambut ajakan bell pulang.
Ayana, Gaby dan Nabilah berpisah di depan gerbang sekolah; Ayana di jemput mama nya; Gaby di jemput kakaknya; dan tersisa Nabilah yang siap meluncur ke rumahnya Ve, setelah sebelumnya saat istirahat tadi menyetujui ajakan Ve, yang memaksa (biasanya Nabilah nebeng pulang sama Ayana).
"Waaaaaaa!! Ini rumah?!" Nabilah menganga dengan matanya dia pakai menjamah setiap sudut rumah yang begitu sangat amat besar dengan gaya masa kini dipadu dengan sentuhan masa lalu tapi begitu terlihat artistik dan fantastik. Gerbang yang terlihat kokoh dengan sentuhan warna dark gold menjulang tinggi hampir 4meter (gile... tu keluarga niat amat ya memencilkan diri <- opini penulis), halaman luas seperti di istana bogor (padahal penulis belum pernah liat istana bogor yang sempat di serbu air *banjir maksudnya*), di samping gerbang yang tinggi ada segaris gerbang yang bisa dipakai untuk keluar masuk manusia (2nd gate) yang di hadapannya ada pintu lain menuju sebuah bangunan yang memanjang kebelakang (pos satpam sekaligus mess nya) dengan dua orang duduk tegap didalam, berpakaian putih biru dengan topi bertuliskan 'SECURITY'
"ck, ck, ck.. luarnya aja kek gini! Gimana dalemnya ya? Haaaaa" Nabilah kembali cengo setelah mengutarakan ke kagumannya, Ve yang melihat ekspresi Nabilah hanya bisa tertawa kecil (Nabilah sangat lucu saat berekspresi cengo seperti itu)
"ya udah~ kalo mau tahu dalemnya kita masuk.. yuk!" ajak Ve
"e, e,, eh~ tunggu-tunggu! Kak Ve yang CanTik!! Emang Nabilah ini siapa? Bisa main masuk-masuk aja ke rumahnya kak Ve yang udah kayak istana ini? Heh!?" Nabilah menghentikan langkah Ve yang mulai berjalan
"kamu bilang aja, kamu temennya kakak! Entar juga tu security bakal bukain gerbangnya!" ucap Ve dengan sangat entengnya 'Adduh! Ni arwah kumat lagi loading nya!!' pikir Nabilah sambil menepuk jidat, Ve tidak menghiraukan ekspresi Nabilah dia masuk menembus gerbang dan mendekati 2security yang sedang menonton sinema televisi, Nabilah hanya bisa mengeluarkan ekspresi lemes karena melihat si arwah yang entah akan melakukan apa dan entah apa yang ada dipikirannya si arwah saat itu. Nabilah hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Ve lalu,, detik berikutnya Nabilah melebarkan matanya karena melihat Ve setengah berjongkok di belakang security dan sepertinya membisikan sesuatu di tengah-tengah ke 2 security yang sedang asik menonton ditemani gorengan itu.
Tak lama setelah Ve berbisik security itu melihat ke arah Nabilah yang masih berdiri melihat Ve. Ve yang ada di belakang security mengangkat kedua jempol tangannya sambil tersenyum lebar, seperti memberikan sebuah kode kalau security sudah bisa di jinakan (dipikir hewan kali ya? Di jinakan!) *penulis kehabisan kata-kata*
Security satu membuka 2nd gate, dan security 2 menghampiri Nabilah seraya berkata "silahkan non, langsung masuk saja! Kamarnya nona Jessica ada di lantai 2 pojok kanan yang pintunya berwarna biru langit!" Nabilah hanya bisa meng ia kan kata-kata si security yang tampangnya seperti habis di hipnotis.
Nabilah berjalan memasuki halaman 'istana' nya Ve
"kakak bisikan apa sama mereka? Sampai mereka bukain gerbangnya" tanya Nabilah penasaran
"hmm~ kasih tahu gak ya?" Nabilah mendelik diikuti kerutan di dahinya "haahaaa.. Lucuuuu!" Ve tertawa ke arah Nabilah, lalu melanjutkan lagi untuk menjawab "eem~ kak Ve itu bisikin.....,--- ntar aja deh kalo udah nyampe di kamar! Ok " Ve mengedipkan mata kanannya pada Nabilah "ishhh! Ck~ bodo amat deh!!" jawab Nabilah kesal, mereka berdua berjalan menuju rumah yang jarak dari depan (gerbang) sampai ke depan pintu rumah itu kira-kira 4meter.
Nabilah dan Ve sampai di depan pintu rumah, belum Nabilah memencet bell, pintu sudah terbuka dengan seorang wanita yang sudah beUmur (Tua) berdiri di depan pintu itu. pakaian nya terlihat sangat rapi
"kamu siapa?!" tanya wanita itu dengan ekspresi datarnya
"um~ aku-- Nama aku Nabilah! Aku... Aku" belum selesai Nabilah mengungkapkan alasannya, wanita itu tiba-tiba mengajak Nabilah untuk masuk. Nabilah cukup heran kali ini, karena dia tidak melihat Ve bergerak dari sampingnya untuk membisikan sesuatu seperti pada security di depan.
"masuklah, bibi antarkan kamu ke kamar nya nona Vera!" kali ini wanita itu tersenyum lembut pada Nabilah, lalu mengarahkan pandangannya pada sebelah kanan Nabilah masih dengan senyumnya. Nabilah hanya bisa senyum seadanya, dan Ve.. Air mukanya terlihat sedih saat melihat bibi itu.
si bibi yang wajahnya terlihat lelah dan sedih dalam balutan ke datarannya tidak banyak bicara saat mengantar Nabilah ke kamar Ve yang tadi dia sebut dengan nama 'Vera'.
"ini kamarnya non Vera!" bibi tersenyum "masuklah.." Nabilah membungkukan kepalanya sambil tersenyum, saat Nabilah akan melangkahkan kakinya memasuki pintu berwarna biru langit dia merasakan sentuhan di pundaknya. Nabilah menoleh "terima kasih ya nak, kamu mau bantu nona Vera!" suara si bibi terdengar serak. Nabilah tidak mengucapkan apapun, dia hanya bisa melebarkan kedua matanya lalu tersenyum. Si bibi membalas senyum Nabilah lalu pergi meninggalkan Nabilah.
"apa... dia bisa lihat kakak?" tanya Nabilah pada Ve, dengan masih melihat punggung bibi yang berjalan menjauhinya dan juga Ve. Karena tidak mendapat jawaban dari si arwah (Ve) Nabilah pun langsung mengalihkan pandangannya pada Ve dan... betapa terkejutnya Nabilah saat melihat Ve yang terlihat begitu sangat bersedih.
"kakak kenapa? Kok sedih?!" Nabilah terlihat iba (si cerewet bisa juga terbuai suasana). Ve hanya menggeleng, lalu mengisyaratkan pada Nabilah untuk masuk ke kamarnya.
saat di kamar, Kembali Nabilah menganga, melongo, bikin wajahnya terlihat sangat 'bodoh' karena sedang mengagumi sesuatu yang terlihat sangat WAaaW ketika dia berdiri di kamar Ve yang ukurannya 4x lebih besar dari kamar Nabilah di rumah (kamar Nabilah ukurannya besar, dan sekarang saat dia berdiri di kamar Ve....!? *bayangin aja sendiri*) Nabilah hanya bisa mengagumi setiap sudut dari kamar yang memiliki kamar mandi sendiri di dalamnya ini.
Ada sebuah tempat tidur berukuran King Size dengan bed cover berwarna biru, ada sebuah pintu slide dengan tertutup gorden tipis (sengaja di buka agar ada sinar yang masuk ke kamar yang sedang di tinggal oleh penghuninya ini) yang merupakan akses ke balkon depan dengan suguhan pemandangan sebuah gunung yang saaaaangat jauh di depan sana, sebuah Home Theatre lengkap dengan speaker yang begitu terlihat 'gagah', komputer dengan layar LCD 17" belum lagi adanya laptop pribadi yang tersimpan rapih di atas tempat tidur dengan di sebelahnya sebuah ipod dan ipad, sebuah meja belajar yang tidak jauh dari meja komputer, lemari dengan 8pintu, dan yang paling menarik perhatian Nabilah di kamar itu adalah adanya sebuah lemari dengan isinya deretan Novel dan Komik lemarinya sangat besar untuk bisa menampung novel dan komik yang jumlahnya tidak bisa di hitung dengan waktu hitungan menit.
"uuwaaaaa, lemari yang ini keren!" ujar Nabilah sudah berdiri di hadapan lemari "aku boleh lihat-lihat kak?" Ve mengangguk dengan senyumnya dan sedikit bicara "jangan cuma di lihat, dibaca aja biar kamu tahu isinya!" Nabilah kaget karena senang
"aku boleh baca koleksian kakak ini?" Nabilah begitu antusias, Ve mengangguk. Nabilah memainkan matanya membaca setiap judul Novel yang berjejer rapi sesuai abjad. Sementara Ve melihat-lihat kondisi kamarnya yang terlihat bersih dan rapih, Ve tahu siapa yang membereskan tempat sakralnya ini. Lagi-lagi wajah Ve menyiratkan kesedihan, kali ini saat kebetulan Nabilah melihat gambaran di wajah Ve dia langsung bertanya dan mengalihkan seluruh pandangannya pada Ve.
"dari tadi setelah kita ketemu sama si bibi, kak Ve jadi keliatan sedih gitu? Ada apa kak?" tanya Nabilah
"kak Ve kangen sama ini semua Nabilah! Kakak mau balik lagi, kakak siap berubah dan merubah kebiasaan buruk kakak di masa lalu" nadanya begitu terdengar penuh penyesalan "meskipun papa sama mama jarang merhatiin kak Ve! Kak Ve akan tetap bersikap baik dan tidak akan lagi berbuat macam-macam~ kak Ve mau kesempatan ke dua Nabilah, kakak siap menerima kesempatan kedua itu!" Nabilah yang tidak mengerti dengan apa yang di utarakan Ve hanya bisa merasa kasihan saat mendengar kata-kata 'meskipun papa dan mama jarang merhatiin' "dan bibi rumaya... kakak kangen sama bibi, kakak gak pernah bisa bersikap baik sama bibi! Tapi bibi selalu memperlakukan kakak dengan sangat istimewa, hanya dia yang perduli sama kakak!!" Ve tertunduk menceritakan kilasan masa lalunya "dari kak Ve bayi sampai kakak sebesar ini~ bibi yang selalu ada di samping kakak, dia bahkan lebih tahu gimana kakak ketimbang orang tua kakak sendiri!" Nabilah semakin kasihan sama arwah Ve yang begitu sangat terdengar kesepian di balik limpahan kemewahan yang dia miliki. (memang ya~ manusia itu... kalo kaya susah, kalo miskin susah juga! Hmm... hidup mah di tengah-tengah aja deh)
-Hening sesaat, menyelimuti Ve dan juga Nabilah-
"jadi... yang tadi itu bibi pengasuhnya kak Ve?" Ve melihat Nabilah "dia itu... bukan cuma sekedar pengasuh kakak, dia sudah seperti seorang ibu! Tapi kakak tidak pernah menganggapnya bahkan malah selalu menyusahkannya!! Apa yang bibi lakuin buat kakak selalu kakak gak pernah puas dan malah membentak dia dengan seenaknya!!! Kakak benar-benar menyesali semua kelakuan kakak di masa lalu, Nabilah!"
"kak Ve yang sabar ya... Tuhan pasti sedang mempersiapkan yang indah buat kakak!" Nabilah tersenyum begitu manis untuk menghibur Ve "yang kemarin-kemarin kakak kubur aja! yang besok-besok akan datang baru kakak bangunin! Semangat kak!!" Nabilah mengepalkan tangan kanannya "Ayo semangat, kayak Nabilah gini.. SE~MANGATtt!" kembali Nabilah mengepalkan tangan kanannya dan dia angkat setingginya. Ve pun akhirnya ikut dengan tingkah yang sedang Nabilah perlihatkan, ada sedikit perasaan lega yang Ve rasa setelah bercerita dengan Nabilah.
Setelah mereka berdua tertawa dalam kata semangat, Ve pun mulai menunjukan barang-barang milik teman-temannya yang pernah dia jahili. Ada buku pelajaran bernamakan Olive; ada kaos olahraga yang kata Ve itu milik Della; ada sebuah gantungan boneka bear yang di tangahnya ada inisial K; ada cukup banyak barang dengan macam-macam bentuknya dan juga nama pemilik yang di sebutkan Ve sampai ada sebuah kostum ala-ala jepang yang Ve simpan dalam sebuah kotak. Barang-barang nya masih utuh, tidak ada yang rusak atau cacat bekas di rusak. Nabilah hanya bisa menggeleng-geleng melihat barang-barang yang di tunjukan Ve
"sugoii~ kakak emang bully-er sejati dah! Ck,ck,ck.." ucapan Nabilah membuat kedua pipi Ve memerah karena malu. "lihat barang-barang ini..." Nabilah menunjukan tangannya "banyak kali!!.. tapi~ Nabilah heran kak? Barang sebanyak ini kok gak ada satupun yang rusak sih? Padahal kan ini barang hasil rampasan kakak saat nge bully!? Ia kan?" Ve mengangguk pelan lalu bercerita pada Nabilah
"ia, itu semua memang barang hasil bully! Kenapa gak ada yang rusak? Karena kakak gak pernah ngapa-ngapain barang-barang itu!" Nabilah heran dengan dari wajahnya tersirat 'hah? Kok bisa, terus.. buat apaan ni barang waktu itu diambil?' "hemm (Ve menghela nafas dalam-dalam) lagian... kakak ngelakuin semua itu (bully) cuma buat pelampiasan aja Nabilah!" Nabilah masih diam menyimak "kakak cuma mau papa sama mama merhatiin kakak! Itu kenapa kakak jadi anak yang bandel, suka ngerjain orang, jahatin temen-temen, em~ suka keluar malam-malam sampai pulang pagi buta... ya pokoknya ngelakuin semua yang bisa bikin perhatian papa sama mama tertuju sama kakak!!" Ve mengakhiri ceritanya dengan kembali menghela nafas, Nabilah merasa iba dengan cerita Ve tapi dia tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. "ah~ udahlah! gak usah terus bahas hal itu.. sekarang saatnya kamu pulang, ini udah sore Bil! Nanti orang rumah hawatir sama kamu, secara kamu kan anak yang langka! Limited Edition gitu,,, hahahaa" tutur Ve dengan diakhiri candaan
"hmm- baru aja Nabilah ngerasa tersentuh dengan ceritanya kakak.." Nabilah memainkan ekspresinya ke arah Ve "eh malah di hapus sama candaan Jayusnya (Nabilah menekuk bibirnya) pake bilang Nabilah Limited Edition lagi!! Dipikir Nabilah apaan?!!" Ve tertawa renyah mendengar protesan dari bibir Nabilah yang belepotan saat mengucapkan kata-kata yang ada huruf R nya.
Mereka berdua keluar dari kamar besar itu dengan ditemani godaan Ve pada Nabilah, yang di tangannya membawa sebuah dus berukuran cukup besar. Nabilah pamit pada bibi rumaya dan dengan cepat bibi menyuruh supir di rumah itu untuk mengantarkan Nabilah pulang. Nabilah mencoba menolak karena tidak enak, tapi bibi di dukung Ve terus mendesak Nabilah agar mau di antarkan sampai akhirnya Nabilah pun kalah oleh desakan keduanya. Nabilah pulang di antar sebuah sedan MEWAH, selama perjalanan Nabilah tidak banyak bicara karena tidak mau kalau supirnya Ve mengira macam-macam pada Nabilah (gila maksudnya).
Ayana dan Gaby mengerung melihat tingkah Nabilah yang tertawa sendiri dengan objek tertawaannya mereka.
"aku cuma bercanda kali, lagian mana ada orang yang lagi koma rohnya bisa jalan-jalan! Apalagi sampai minta tolong!! Hahahahaaa" ucap Nabilah di sela tawa jahilnya
"gak lucu sumpah!" kata Gaby
"bener Gab, yang ada itu Jayus!! Si Nabilah becandanya nya gak lihat suasana!!! Kalo apa yang dia ucapkan jadi kenyataan gimana coba?" Nabilah berhenti tertawa "ya aku hadapin lah! Dari pada dihindari tapi gak terhindar-terhindar!!" jawab Nabilah dengan entengnya
"kayak yang berani aja? Sama-sama penakut juga!!" Gaby meledek Nabilah dengan nada setengah kesal karena bercandanya Nabilah tidak Lucu (diluar Hujan deras ditemani petir dan gemuruh, di kasih plus. kejadian hujannya hari Kamis, malam Jumat).
**-Keesokan Harinya-
Nabilah seperti biasa pergi ke sekolah dengan kali ini di antar oleh Melody, karena papa sedang di luar kota. (Ve ikut di mobil, dia duduk di seat belakang) Saat mobil sudah meluncur meninggalkan pekarangan rumah, Ve dan juga Melody bertanya secara berbarengan sampai membuat Nabilah bingung harus menjawab yang mana dulu.
"hemm, ok! Nabilah bingung, harus jawab yang mana dulu?"
(Ve tidak heran, tapi Melody heran)
"bingung? Kak Melody kan cuma nanya satu kali! Kok kamu bingung?" ~ "aduh, sekarang Nabilah lupa~ kak Melody kan gak bisa liat atau denger kak Ve ya!" Melody baru mengerti dengan yang di ucapkan Nabilah saat membawa nama Ve.
"aku jawab dulu pertanyaan kak Melody, setelah itu pertanyaannya kak Ve!" Ve mengangguk-angguk, Melody melihat-lihat ke seat belakang dari spion atas.
"kak Ve? Dia ada disini dek?" tanya Melody, Nabilah mengangguk
"dia selalu ada dimana Nabilah ada kak! Hmm~ arwah yang rese!" Ve mendelik Nabilah "sudahlah, skip~ mau di jawab gak pertanyaannya?" tanya Nabilah pada keduanya, Melody dan Ve mengangguk. "ceilee~ kompakan banget ngangguknya!" dengan tersenyum Nabilah berucap membuat Melody melihat kearahnya lalu ke belakang (sudah beberapa kali Melody melihat ke seat belakang, tapi dia tetap tidakdapat melihat apapun)
"selain arwahnya kak Ve... Nabilah belum pernah liat arwah lain kak! Kalo pun liat, Nabilah gak tahu bakal ngapain!! Apalagi kalo wajah mereka kayak di drama-drama~ hiiii, pingsan lagi aku nanti!!" Nabilah menjawab pertanyaan Melody
"huh? kok bisa? Kan kata papa, kalo kakek bisa lihat apapun yang ada di sekitarnya yang kasat mata! Which is, banyak dong yang kakek lihat dari gift nya itu!" panjang lebar Melody mengutarakan keheranannya (matanya fokus ke jalan), Nabilah mengangkat kedua bahunya "belum waktunya kali Nabilah lihat semua!" berhenti sejenak "lagian.. kakak kok kayaknya gak suka sih Nabilah gak liat arwah lainnya!!" komplen Nabilah melihat kearah Melody
"ia~ bukan gitu dek, kakak cuman heran aja! Soalnya ya... apa yang di ceritakan papa itu, kayaknya rame tuh... bisa lihat sesuatu yang orang lain gak bisa lihat!! Udah kayak di tipi-tipi hasil shooting!!!" Melody menghayal andai dirinya yang dapat gift
"nih kak, aku bakalan dengan sangat senang hati ngasih gift aku sama kakak, kalo kakak pikir bisa ngeliat sesuatu yang orang lain gak bisa liat itu RAME!!" ucap Nabilah dengan memberikan tekanan di kata 'rame' Melody tidak berbicara lagi dia hanya mengulaskan senyum mendengar adiknya bicara.
"Nabilah, pertanyaan kak Ve kapan di jawab?" giliran Ve yang komplen karena Nabilah belum menanggapinya
"elah~ protes lagi ni arwah (Melody mendengar Nabilah) tuh... protesnya sama kak Melody, karena dari tadi ngomong mulu!!" Melody melihat Nabilah dengan di wajahnya tersirat 'kenapa aku?'
"ya udah, kakak kamu kan udah gak bicara lagi. Sekarang kamu jawab dong pertanyaan ka Ve! Kamu mau kan, entar pulang sekolah kita ke rumah kakak dulu!" lanjut Ve, Nabilah berpikir sejenak lalu menjawab
"liat entar deh yah kak, kalo ada waktu.. Nabilah main dulu ke rumahnya kakak" (Melody hanya menyimak adiknya yang sedang bicara sendiri) "tapi kalo gak ada! Nabilah harus langsung pulang, soalnya mama bisa marah kalo Nabilah pulang telat tanpa alasan yang jelas! Ia kan kak Melo?" Nabilah mengakhiri jawaban untuk Ve dengan pertanyaan pada kakak nya
"hah? Ii~ia.. itu... itu udah peraturan yang ada di rumah kami!! He..heheu.." Melody menjawab dengan senyum tak karuan menyelimuti wajahnya yang cantik, karena dia tidak tahu untuk sosok yang mana dia menjawab.
"tuh~ denger sendiri kan? Kakak aku bilang apa?!" ~ "um~ ya udah sekarang kamu minta izin sama kak Melody biar nanti kak Melody yang izinin kamu ke mama!" usul Ve "kak Ve kekeuh banget sih mau aku main ke rumah kakak!" ujar Nabilah
"kamu... mau main ke rumah Ve?" Melody meng intrupsi,
"aku di ajak sama kak Ve pulang sekolah nanti Mampir dulu ke rumahnya kak Ve, gak tahu deh mau ngapain?!" (Melody hanya bisa mengucapkan Oooh)
"kak Ve ngajak kamu ke rumah itu... buat ngambil beberapa barang milik murid yang pernah kakak kerjain! Ya... itu kan pasti bisa berguna saat nanti kamu memulai misi kita!" jelas Ve, Nabilah menanggapi ucapan Ve dengan gimik dan nada Alay "Hei? Misi kita? Misi lu aja kali! Gue sih enggak!"
(Mulut Melody diam terkunci saat mendengarkan adiknya asik bicara sendiri. 'kembali aku bertanya pada penulis, Cerita apa ini sebenarnya?!!' kata Melody dengan menggeleng-gelengkan kepalanya).
Nabilah bisa biasa saja ngobrol sama Ve kalau dia sedang di dekat papa, mama atupun Melody yang memang sudah tahu tentang giftnya. Sedangkan kalau lagi di dekat teman-temannya ataupun sahabat-sahabatnya Nabilah lebih berhati-hati saat akan bicara atau menanggapi Ve (Sebenarnya Nabilah lebih banyak bicara ketimbang Ve yang sedang punya masalahnya, dan Ve hanya bisa menyimak dengan sesekali tertawa mendengar celotehan si cerewet yang penakut ini.)
Sampai di sekolah Nabilah hidup seperti biasa, menjalani aktifitas hariannya di sekolah yang berkapasitas menampung 480 orang pelajar dengan di bantu staff dan pengajar yang jumlahnya ada 48 lebih di SMP dan juga SMA. Nabilah di sambut Ayana dan Gaby; Nabilah mejahili teman-temannya; Nabilah yang tidak bisa diam saat pelajaran dimulai (aktif bertanya dan meng gerecoki guru saat sedang membahas materi). Sampai tiba di waktu istirahat untuk menghabiskan bekal makannya dan berbagi cerita dari berita J, gosip K, Video T... dan lain-lainnya. Hingga tak terasa bell kembali meraung menandakan semua murid untuk kembali ke aktifitasnya di kelas. 1jam~ 2jam~ 3jam~ 4jam dan... Tibalah keramaian dan kegaduhan murid-murid perempuan itu saat mereka keluar dari kelasnya menyambut ajakan bell pulang.
Ayana, Gaby dan Nabilah berpisah di depan gerbang sekolah; Ayana di jemput mama nya; Gaby di jemput kakaknya; dan tersisa Nabilah yang siap meluncur ke rumahnya Ve, setelah sebelumnya saat istirahat tadi menyetujui ajakan Ve, yang memaksa (biasanya Nabilah nebeng pulang sama Ayana).
"Waaaaaaa!! Ini rumah?!" Nabilah menganga dengan matanya dia pakai menjamah setiap sudut rumah yang begitu sangat amat besar dengan gaya masa kini dipadu dengan sentuhan masa lalu tapi begitu terlihat artistik dan fantastik. Gerbang yang terlihat kokoh dengan sentuhan warna dark gold menjulang tinggi hampir 4meter (gile... tu keluarga niat amat ya memencilkan diri <- opini penulis), halaman luas seperti di istana bogor (padahal penulis belum pernah liat istana bogor yang sempat di serbu air *banjir maksudnya*), di samping gerbang yang tinggi ada segaris gerbang yang bisa dipakai untuk keluar masuk manusia (2nd gate) yang di hadapannya ada pintu lain menuju sebuah bangunan yang memanjang kebelakang (pos satpam sekaligus mess nya) dengan dua orang duduk tegap didalam, berpakaian putih biru dengan topi bertuliskan 'SECURITY'
"ck, ck, ck.. luarnya aja kek gini! Gimana dalemnya ya? Haaaaa" Nabilah kembali cengo setelah mengutarakan ke kagumannya, Ve yang melihat ekspresi Nabilah hanya bisa tertawa kecil (Nabilah sangat lucu saat berekspresi cengo seperti itu)
"ya udah~ kalo mau tahu dalemnya kita masuk.. yuk!" ajak Ve
"e, e,, eh~ tunggu-tunggu! Kak Ve yang CanTik!! Emang Nabilah ini siapa? Bisa main masuk-masuk aja ke rumahnya kak Ve yang udah kayak istana ini? Heh!?" Nabilah menghentikan langkah Ve yang mulai berjalan
"kamu bilang aja, kamu temennya kakak! Entar juga tu security bakal bukain gerbangnya!" ucap Ve dengan sangat entengnya 'Adduh! Ni arwah kumat lagi loading nya!!' pikir Nabilah sambil menepuk jidat, Ve tidak menghiraukan ekspresi Nabilah dia masuk menembus gerbang dan mendekati 2security yang sedang menonton sinema televisi, Nabilah hanya bisa mengeluarkan ekspresi lemes karena melihat si arwah yang entah akan melakukan apa dan entah apa yang ada dipikirannya si arwah saat itu. Nabilah hanya bisa memperhatikan gerak-gerik Ve lalu,, detik berikutnya Nabilah melebarkan matanya karena melihat Ve setengah berjongkok di belakang security dan sepertinya membisikan sesuatu di tengah-tengah ke 2 security yang sedang asik menonton ditemani gorengan itu.
Tak lama setelah Ve berbisik security itu melihat ke arah Nabilah yang masih berdiri melihat Ve. Ve yang ada di belakang security mengangkat kedua jempol tangannya sambil tersenyum lebar, seperti memberikan sebuah kode kalau security sudah bisa di jinakan (dipikir hewan kali ya? Di jinakan!) *penulis kehabisan kata-kata*
Security satu membuka 2nd gate, dan security 2 menghampiri Nabilah seraya berkata "silahkan non, langsung masuk saja! Kamarnya nona Jessica ada di lantai 2 pojok kanan yang pintunya berwarna biru langit!" Nabilah hanya bisa meng ia kan kata-kata si security yang tampangnya seperti habis di hipnotis.
Nabilah berjalan memasuki halaman 'istana' nya Ve
"kakak bisikan apa sama mereka? Sampai mereka bukain gerbangnya" tanya Nabilah penasaran
"hmm~ kasih tahu gak ya?" Nabilah mendelik diikuti kerutan di dahinya "haahaaa.. Lucuuuu!" Ve tertawa ke arah Nabilah, lalu melanjutkan lagi untuk menjawab "eem~ kak Ve itu bisikin.....,--- ntar aja deh kalo udah nyampe di kamar! Ok " Ve mengedipkan mata kanannya pada Nabilah "ishhh! Ck~ bodo amat deh!!" jawab Nabilah kesal, mereka berdua berjalan menuju rumah yang jarak dari depan (gerbang) sampai ke depan pintu rumah itu kira-kira 4meter.
Nabilah dan Ve sampai di depan pintu rumah, belum Nabilah memencet bell, pintu sudah terbuka dengan seorang wanita yang sudah beUmur (Tua) berdiri di depan pintu itu. pakaian nya terlihat sangat rapi
"kamu siapa?!" tanya wanita itu dengan ekspresi datarnya
"um~ aku-- Nama aku Nabilah! Aku... Aku" belum selesai Nabilah mengungkapkan alasannya, wanita itu tiba-tiba mengajak Nabilah untuk masuk. Nabilah cukup heran kali ini, karena dia tidak melihat Ve bergerak dari sampingnya untuk membisikan sesuatu seperti pada security di depan.
"masuklah, bibi antarkan kamu ke kamar nya nona Vera!" kali ini wanita itu tersenyum lembut pada Nabilah, lalu mengarahkan pandangannya pada sebelah kanan Nabilah masih dengan senyumnya. Nabilah hanya bisa senyum seadanya, dan Ve.. Air mukanya terlihat sedih saat melihat bibi itu.
si bibi yang wajahnya terlihat lelah dan sedih dalam balutan ke datarannya tidak banyak bicara saat mengantar Nabilah ke kamar Ve yang tadi dia sebut dengan nama 'Vera'.
"ini kamarnya non Vera!" bibi tersenyum "masuklah.." Nabilah membungkukan kepalanya sambil tersenyum, saat Nabilah akan melangkahkan kakinya memasuki pintu berwarna biru langit dia merasakan sentuhan di pundaknya. Nabilah menoleh "terima kasih ya nak, kamu mau bantu nona Vera!" suara si bibi terdengar serak. Nabilah tidak mengucapkan apapun, dia hanya bisa melebarkan kedua matanya lalu tersenyum. Si bibi membalas senyum Nabilah lalu pergi meninggalkan Nabilah.
"apa... dia bisa lihat kakak?" tanya Nabilah pada Ve, dengan masih melihat punggung bibi yang berjalan menjauhinya dan juga Ve. Karena tidak mendapat jawaban dari si arwah (Ve) Nabilah pun langsung mengalihkan pandangannya pada Ve dan... betapa terkejutnya Nabilah saat melihat Ve yang terlihat begitu sangat bersedih.
"kakak kenapa? Kok sedih?!" Nabilah terlihat iba (si cerewet bisa juga terbuai suasana). Ve hanya menggeleng, lalu mengisyaratkan pada Nabilah untuk masuk ke kamarnya.
saat di kamar, Kembali Nabilah menganga, melongo, bikin wajahnya terlihat sangat 'bodoh' karena sedang mengagumi sesuatu yang terlihat sangat WAaaW ketika dia berdiri di kamar Ve yang ukurannya 4x lebih besar dari kamar Nabilah di rumah (kamar Nabilah ukurannya besar, dan sekarang saat dia berdiri di kamar Ve....!? *bayangin aja sendiri*) Nabilah hanya bisa mengagumi setiap sudut dari kamar yang memiliki kamar mandi sendiri di dalamnya ini.
Ada sebuah tempat tidur berukuran King Size dengan bed cover berwarna biru, ada sebuah pintu slide dengan tertutup gorden tipis (sengaja di buka agar ada sinar yang masuk ke kamar yang sedang di tinggal oleh penghuninya ini) yang merupakan akses ke balkon depan dengan suguhan pemandangan sebuah gunung yang saaaaangat jauh di depan sana, sebuah Home Theatre lengkap dengan speaker yang begitu terlihat 'gagah', komputer dengan layar LCD 17" belum lagi adanya laptop pribadi yang tersimpan rapih di atas tempat tidur dengan di sebelahnya sebuah ipod dan ipad, sebuah meja belajar yang tidak jauh dari meja komputer, lemari dengan 8pintu, dan yang paling menarik perhatian Nabilah di kamar itu adalah adanya sebuah lemari dengan isinya deretan Novel dan Komik lemarinya sangat besar untuk bisa menampung novel dan komik yang jumlahnya tidak bisa di hitung dengan waktu hitungan menit.
"uuwaaaaa, lemari yang ini keren!" ujar Nabilah sudah berdiri di hadapan lemari "aku boleh lihat-lihat kak?" Ve mengangguk dengan senyumnya dan sedikit bicara "jangan cuma di lihat, dibaca aja biar kamu tahu isinya!" Nabilah kaget karena senang
"aku boleh baca koleksian kakak ini?" Nabilah begitu antusias, Ve mengangguk. Nabilah memainkan matanya membaca setiap judul Novel yang berjejer rapi sesuai abjad. Sementara Ve melihat-lihat kondisi kamarnya yang terlihat bersih dan rapih, Ve tahu siapa yang membereskan tempat sakralnya ini. Lagi-lagi wajah Ve menyiratkan kesedihan, kali ini saat kebetulan Nabilah melihat gambaran di wajah Ve dia langsung bertanya dan mengalihkan seluruh pandangannya pada Ve.
"dari tadi setelah kita ketemu sama si bibi, kak Ve jadi keliatan sedih gitu? Ada apa kak?" tanya Nabilah
"kak Ve kangen sama ini semua Nabilah! Kakak mau balik lagi, kakak siap berubah dan merubah kebiasaan buruk kakak di masa lalu" nadanya begitu terdengar penuh penyesalan "meskipun papa sama mama jarang merhatiin kak Ve! Kak Ve akan tetap bersikap baik dan tidak akan lagi berbuat macam-macam~ kak Ve mau kesempatan ke dua Nabilah, kakak siap menerima kesempatan kedua itu!" Nabilah yang tidak mengerti dengan apa yang di utarakan Ve hanya bisa merasa kasihan saat mendengar kata-kata 'meskipun papa dan mama jarang merhatiin' "dan bibi rumaya... kakak kangen sama bibi, kakak gak pernah bisa bersikap baik sama bibi! Tapi bibi selalu memperlakukan kakak dengan sangat istimewa, hanya dia yang perduli sama kakak!!" Ve tertunduk menceritakan kilasan masa lalunya "dari kak Ve bayi sampai kakak sebesar ini~ bibi yang selalu ada di samping kakak, dia bahkan lebih tahu gimana kakak ketimbang orang tua kakak sendiri!" Nabilah semakin kasihan sama arwah Ve yang begitu sangat terdengar kesepian di balik limpahan kemewahan yang dia miliki. (memang ya~ manusia itu... kalo kaya susah, kalo miskin susah juga! Hmm... hidup mah di tengah-tengah aja deh)
-Hening sesaat, menyelimuti Ve dan juga Nabilah-
"jadi... yang tadi itu bibi pengasuhnya kak Ve?" Ve melihat Nabilah "dia itu... bukan cuma sekedar pengasuh kakak, dia sudah seperti seorang ibu! Tapi kakak tidak pernah menganggapnya bahkan malah selalu menyusahkannya!! Apa yang bibi lakuin buat kakak selalu kakak gak pernah puas dan malah membentak dia dengan seenaknya!!! Kakak benar-benar menyesali semua kelakuan kakak di masa lalu, Nabilah!"
"kak Ve yang sabar ya... Tuhan pasti sedang mempersiapkan yang indah buat kakak!" Nabilah tersenyum begitu manis untuk menghibur Ve "yang kemarin-kemarin kakak kubur aja! yang besok-besok akan datang baru kakak bangunin! Semangat kak!!" Nabilah mengepalkan tangan kanannya "Ayo semangat, kayak Nabilah gini.. SE~MANGATtt!" kembali Nabilah mengepalkan tangan kanannya dan dia angkat setingginya. Ve pun akhirnya ikut dengan tingkah yang sedang Nabilah perlihatkan, ada sedikit perasaan lega yang Ve rasa setelah bercerita dengan Nabilah.
Setelah mereka berdua tertawa dalam kata semangat, Ve pun mulai menunjukan barang-barang milik teman-temannya yang pernah dia jahili. Ada buku pelajaran bernamakan Olive; ada kaos olahraga yang kata Ve itu milik Della; ada sebuah gantungan boneka bear yang di tangahnya ada inisial K; ada cukup banyak barang dengan macam-macam bentuknya dan juga nama pemilik yang di sebutkan Ve sampai ada sebuah kostum ala-ala jepang yang Ve simpan dalam sebuah kotak. Barang-barang nya masih utuh, tidak ada yang rusak atau cacat bekas di rusak. Nabilah hanya bisa menggeleng-geleng melihat barang-barang yang di tunjukan Ve
"sugoii~ kakak emang bully-er sejati dah! Ck,ck,ck.." ucapan Nabilah membuat kedua pipi Ve memerah karena malu. "lihat barang-barang ini..." Nabilah menunjukan tangannya "banyak kali!!.. tapi~ Nabilah heran kak? Barang sebanyak ini kok gak ada satupun yang rusak sih? Padahal kan ini barang hasil rampasan kakak saat nge bully!? Ia kan?" Ve mengangguk pelan lalu bercerita pada Nabilah
"ia, itu semua memang barang hasil bully! Kenapa gak ada yang rusak? Karena kakak gak pernah ngapa-ngapain barang-barang itu!" Nabilah heran dengan dari wajahnya tersirat 'hah? Kok bisa, terus.. buat apaan ni barang waktu itu diambil?' "hemm (Ve menghela nafas dalam-dalam) lagian... kakak ngelakuin semua itu (bully) cuma buat pelampiasan aja Nabilah!" Nabilah masih diam menyimak "kakak cuma mau papa sama mama merhatiin kakak! Itu kenapa kakak jadi anak yang bandel, suka ngerjain orang, jahatin temen-temen, em~ suka keluar malam-malam sampai pulang pagi buta... ya pokoknya ngelakuin semua yang bisa bikin perhatian papa sama mama tertuju sama kakak!!" Ve mengakhiri ceritanya dengan kembali menghela nafas, Nabilah merasa iba dengan cerita Ve tapi dia tidak tahu harus memberikan tanggapan apa. "ah~ udahlah! gak usah terus bahas hal itu.. sekarang saatnya kamu pulang, ini udah sore Bil! Nanti orang rumah hawatir sama kamu, secara kamu kan anak yang langka! Limited Edition gitu,,, hahahaa" tutur Ve dengan diakhiri candaan
"hmm- baru aja Nabilah ngerasa tersentuh dengan ceritanya kakak.." Nabilah memainkan ekspresinya ke arah Ve "eh malah di hapus sama candaan Jayusnya (Nabilah menekuk bibirnya) pake bilang Nabilah Limited Edition lagi!! Dipikir Nabilah apaan?!!" Ve tertawa renyah mendengar protesan dari bibir Nabilah yang belepotan saat mengucapkan kata-kata yang ada huruf R nya.
Mereka berdua keluar dari kamar besar itu dengan ditemani godaan Ve pada Nabilah, yang di tangannya membawa sebuah dus berukuran cukup besar. Nabilah pamit pada bibi rumaya dan dengan cepat bibi menyuruh supir di rumah itu untuk mengantarkan Nabilah pulang. Nabilah mencoba menolak karena tidak enak, tapi bibi di dukung Ve terus mendesak Nabilah agar mau di antarkan sampai akhirnya Nabilah pun kalah oleh desakan keduanya. Nabilah pulang di antar sebuah sedan MEWAH, selama perjalanan Nabilah tidak banyak bicara karena tidak mau kalau supirnya Ve mengira macam-macam pada Nabilah (gila maksudnya).
"NABILAHHHhhh!"
Ve berteriak di sebelah Nabilah yang masih tidur
"hem~"
"Nabilah bangun Nabilah, ada yang mau kak Ve sampein!"
"ntar... aja~ kalo aku udah,-" Nabilah bicara dengan nada masih setengah tidur setengah bangun "sekarang! kita gak banyak waktu lagi Bil!" Ve memotong ucapan Nabilah dan terdengar begitu serius "aduh Nabilah, kak Ve serius nih! Ada yang harus kamu tahu tentang kak Ve dan... misi kita untuk minta maaf!!" Nabilah masih tidur "ayolah Bil, ini menentukan hidup dan matinya kak Ve!" Nabilah masih tetap tidur, Ve tidak mendengar respon dari Nabilah
"Nabilah..."
".............."
karena tidak juga mendengar respon dari Nabilah, Ve memutuskan untuk bicara apa yang ingin dia sampaikan
"Nabilah, kak Ve akan beneran meninggal nih!" setengah sadar dan tidak Nabilah mendengar kata 'meninggal' "kak Ve belum mau meninggal Bil, masih banyak yang harus kakak perbaiki.." Ve mulai menangis *arwah nangis? Emang bisa?*
Nabilah membuka matanya dan cukup bersimpati dengan suara Ve "cuma kamu yang bisa bantuin kak Ve, Nabilah! Tolonglah kakak.. kakak beneran butuh bantuan kamu!!"
Nabilah pun mulai tersentuh dan memaksakan tubuhnya untuk bangun
"heeeeeH!~ kak Ve itu kenapa sih? Seneng banget gangguin hidup aku? AHH!~" Nabilah terkejut melihat wajahnya Ve, bukan karena dia takut, tapi dari wajah yang sekarang Nabilah lihat tidak seperti wajah-wajah biasanya yang Nabilah lihat (Ve terlihat hopeless, wajah kalem nya begitu di selimuti ketakutan dan kesedihan)
"maafin kak Ve, Nabilah! Kakak emang selalu jadi pengganggu!! Saat kak Ve masih bisa di lihat oleh orang-orang, kak Ve gangguin kehidupannya mereka. Dan sekarang.... kakak tidak terlihat lagi sama siapapun bahkan nyaris meninggal, kakak gangguin hidup kamu malah mau nyusahin kamu! Maafin kakak!!"
Nabilah melongo mendengar curahan si arwah yang sepertinya begitu menderita "kak Ve kok bicaranya gitu sih? Nabilah kan cuma bercanda kak?! Maafin Nabilah ya?" Nabilah tersenyum, dia sudah duduk diatas tempat tidurnya dan berhadapan dengan Ve.
"kamu gak perlu minta maaf, karena yang harusnya minta maaf itu kakak!" Nabilah begitu tersentuh dengan ucapan Ve.
Hening sesaat menyelimuti kamarnya Nabilah
"jadi? Ada apa kak? Kenapa kakak gangguin aku sepagi ini?" Nabilah membuyarkan kesunyian
"kita cuma punya waktu 48jam untuk menyelesaikan misi kita, Nabilah!" Ve mulai bercerita, Nabilah mengerung heran "kakak cuma punya waktu 48jam untuk dapatkan maaf dari mereka yang pernah kakak sakitin, maaf yang tulus dari mereka!,-" ~ "Hah? 48jam?! Gila apa ya? 48nama dalam waktu 48jam, pemberian maaf yang tulus!" Nabilah memotong Ve dengan begitu terlihat kaget, Ve mengangguk.
"itu gak mungkin kak! Lagian~ dari mana kita tahu kalo orang-orang itu dengan tulusnya mau maafin kakak!!" Nabilah kini terlihat hopeless "kemarin-kemarin kak Ve gak bilang apapun sama Nabilah tentang adanya waktu yang membatasi!! Ia kan?"
"kak Ve juga baru tahu kemarin Nabilah, kak Ve kemarin di ajak sama.... Kakak gak tahu dia siapa tapi dia bilang kalau kakak cuma punya waktu 48jam untuk mendapatkan maaf, kalalu lebih dari waktu itu... kakak akan meninggal dengan membawa setumpuk amarah orang lain yang mengantarkan kakak, kesana (akhirat maksudnya)!" Nabilah kembali mengerutkan kening. 'Dunia arwah begitu ribet! Pake ada rules segala lagi!!' pikir Nabilah, "cuma kamu harapan kak Ve satu-satunya Nabilah! Kamu yang bisa bantuin kakak!!" Ve menatap lekat Nabilah
"gak, bukan cuma Nabilah harapan kakak satu-satunya!" Ve memasang wajah heran "kak Ve masih punya Tuhan" *deg* Ve begitu tersentuh mendengar kata 'Tuhan' keluar dari mulutnya Nabilah. "Nabilah, dengan bantuan dari Tuhan akan membantu kak Ve seeeemaksimal mungkin! Biar kakak di kasih kesempatan ke dua untuk memperbaiki kehidupan kakak!" suara Nabilah begitu berapi-api di pagi yang langitnya masih terlihat gelap
"kamu memang anak yang baik Nabilah! Keluarga dan teman-teman di sekitar kamu pasti sangat bahagia dengan kehadiran kamu" Nabilah tersipu malu dengan pujian dari Ve..
"jadi? Kapan kita mulai 48jam kita kak?"
sekarang Nabilah begitu semangat
"nanti sore, saat matahari perlahan turun dengan di temani warna orange keperakan yang menyembur dari langit. Saat itu 48jam kakak di mulai!!"
Nabilah berpikir "jam 5 sore?" tanya Nabilah, Ve mengangguk. "yosh, aku mau mandi siap-siap ke sekolah dan mulai mendatangi mereka satu-persatu! Biar saat 48jam itu dimulai kita sudah dapat beberapa orang yang mau maafin kakak!! Benar kan?"
Ve tersenyum bahagia mendengar ucapan Nabilah, dia berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Nabilah. Sementara Nabilah berlari ke kamar mandi, Ve masih terduduk di atas tempat tidur Nabilah dan merenung.
Dia merasa, masih ada keberuntungan yang berpihak di sisinya dengan adanya bantuan dari Nabilah yang Tuhan kasih. padahal selama ini Ve sudah sangat lama tidak pernah menemui Tuhan atau menyebutkan nama Tuhan dalam kehidupannya, dia sibuk membenci Tuhan atas apa yang terjadi pada kehidupannya. Meski hidup dalam limpahan harta, Ve merasa semua itu tidak bisa memberikannya kebahagiaan. Semua harta itu hanya menyuguhkan keindahan semu yang tidak memberikan efek ketenangan hati. Ve punya 3sahabat tapi sampai sekarang dia tidak melihat ke3 nya ada datang menjenguk dia ke rumah sakit, Ve juga punya orang tua lengkap tapi mereka terlihat tidak begitu shock atau sedih melihat anak satu-satunya yang sedang berada di ambang pintu kehidupan dan kematian. Mereka masih saja sibuk dengan pekerjaan dan pertengkarannya.
Jam 05.15 Nabilah sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia keluar dari kamarnya, dan menuruni tangga di temani Ve. Nabilah mengampiri mamanya yang sedang sibuk di dapur
"pagi mah!" sapa Nabilah
"eh, anak mama.. tumben jam segini sudah rapi?"
mama cukup terkejut dengan Nabilah yang sudah rapi dan sepertinya siap berangkat.
"kalo lebih pagi kan rezekinya gak akan di patuk ayam mah, hehhee" jawab Nabilah sambil melihat-lihat apa yang sedang di siapkan mama dan bi ijem
"rejeki? Aduhhh anak mama ngomongnya udah kayak orang dewasa aja!!" Nabilah melemparkan senyumnya dengan mata masih main di hidangan pagi mama "rezeki orang dewasa itu uang, kalo rezeki untuk aku itu ilmu mah!" ujar Nabilah dengan tangannya kini bersiap mencomot makanan, tapi kemudian mama mengepaskan tangan Nabilah. "gak sopan! ini buat di makan sama-sama, masa kamu mau mendahului! Mana pake tangan, di nyomot-nyomot lagi" kata mama
"he..he.. maaf mah, gak di sengaja!" jawab Nabilah, Ve yang sedang di samping Nabilah ikut tersenyum melihat tingkah Nabilah yang masih seperti anak kecil (lah Nabilah kan emang masih kecil tapi..... SKIP)
Jam 6 lebih sedikit Nabilah sudah sampai di sekolah. Dia berangkat naik sepeda mininya, dengan alasan pada keluarganya kalau dia ada misi berat yang tidak bisa ditunda dan sangat mendesak, makanya Nabilah berangkat begitu pagi dari rumah (udah kayak mau ke medan perang aja). keluarga Nabilah sudah tahu perihal permintaan bantuan yang di ajukan si arwah pada Nabilah, namun mereka tidak ada yang tahu kalau misinya itu di kasih jangka waktu.
Nabilah berdiri di dekat mading pura-pura membaca, dia kini ada di gedung SMA. Sebelum-sebelumnya Nabilah belum pernah masuk ke gedung SMa tapi kali ini dengan penuh keberanian dan siap menanggung malu Nabilah masuk ke gedung berlantai 4itu. Ditasnya ada beberapa banyak barang milik orang-orang yang akan dia mintai permintaan maaf atas nama Ve.
'gile... kenapa aku bisa sampai senekad ini ya? Buat bantuin kak Ve! Padahal, kenal aja enggak!' Nabilah sibuk menggumam dalam hatinya (Ve ada di samping Nabilah seperti biasanya, Nabilah masih menghadap mading. Sementara Ve melihat-lihat ke arah murid-murid yang mulai berdatangan) 'apa kata Gaby dan Ayana nanti... kalau mereka tahu aku main di gedung SMA dan,-'
"Nabilah, Nabilah... Nisa sama Ghaida dateng tuh!"
Ve bicara tanpa melihat wajah Nabilah, karena sedang memasuki alam pikirannya Nabilah jadi tidak mendengar ucapan Nabilah
"NABILAH!" ~ "Ha!!" Nabilah kaget dengan teriakan dari Ve hingga membuat dia menjadi pusat perhatian beberapa murid yang baru datang "apa sih? Biasa aja manggilnya" gerutu Nabilah
"ia maaf~ abisnya kamu sih.. kak Ve ngomong gak di tanggepin!!"
"ya udah ada apa?" Nabilah sambil celingukan bicara dengan Ve
"itu tuh... ada terget kita yang udah dateng!"
saat mendengar ucapan Ve, Nabilah segera memainkan matanya
"mana?" tanya Nabilah, lalu Ve menunjukan tangannya.
Terlihat 2orang murid yang potongan rambutnya sama-sama pendek tapi lebih pendek yang tinggi badannya lebih tinggi.
"aduh gimana nih? Alah~ um... gimana Nabilah ngomongnya nih... aisshhh (Nabilah terlihat panik, karena gugup)"
"tarik nafas Bil!" Nabilah menuruti "buang nafas... semuanya!"
"eh? Mati dong Nabilah!? Heh, kak Ve_- lagi panik gini juga masih aja mainin!!" Ve tertawa renyah.
'Ok! Nabilah Ratna Ayu yang gak bisa nyebutin huruf R dengan jelas! Kamu pasti bisa!! Semangat lah, Semangat 48!!!' bisik Nabilah pada dirinya sendiri. Ve hanya bisa teresenyum melihat tingkah Nabilah yang seperti itu.
Nabilah pun berjalan untuk menghampiri 2murid yang beda tingkatan namun selalu barengan kalau pagi-pagi gini untuk masuk ke salah satu ruangan bertemu dengan teman-teman mereka lainnya membahas tentang Anime, manga, Cosplay, dan berita lainnya tentang kultur Jepang. Nabilah mengambil lagi nafasnya dan mengumpulkan keberaniannya, jalan~ jalan~ jalan~ semakin dekat dan... Nabilah berhenti di depan keduanya menghalangi jalan mereka, namun karena Nabilah tidak langsung bicara, kedua murid itu bergeser ke sebelah kiri untuk menghindari Nabilah (dikira ketidak sengajaan papasan), Nabilah yang melihat itu langsung mengikuti gerakan keduanya, mereka bergerak ke sebelah kanan Nabilah ikuti, mereka ke kiri Nabilah ikut, kiri-kanan beberapa kali sampai si murid yang rambutnya lebih pendek bicara "eh dek, (karena dia melihat Nabilah memakai seragam SMP) kamu diam di tempat. Aku sama temen aku bakal lewatin kamu! Ok!?" katanya sambil memerintah. Nabilah tidak menjawab, saat Ghaida (si murid berambut paling pendek) dan Nisa (si murid yang rambutnya sebahu) akan ngelewatin Nabilah, dengan refleks Nabilah kembali mengikuti gerakan mereka. hingga Nisa mengucapkan satu kata "baka!" pada Nabilah 'dia ngomong apaan ya?' tanya Nabilah tapi tidak dia sampaikan
"dia bilang BODOH, Bil!" bisik Ve karena melihat wajah Nabilah di naungi pertanyaan
"APA?" reflek Nabilah bicara dengan ekspresi kesal karena di sebut bodoh
"aaa~pa?" tanya Nisa
"apanya?" jawab Nabilah
"ya kamu bilang 'apa?' itu untuk apa?" kembali Nisa bicara,tapi tidak Nabilah respon karena dia masih merasa kesal "Ergh, anak SMP ni!! Ngeselin.." ujar Nisa yang di diamkan Nabilah
"eh? yang ngeselin itu kakak! Pake bilang aku bodoh lagi!! Dasar anak SMA! Belagu~" Nabilah tidak mau kalah.
Akhirnya Nabilah dan Nisa beradu mulut di hadapan Ghaida dan Ve (Ve menghela nafas lalu menjatuhkan kepalanya lemas; Ghaida segera menghentikan kedua anak yang tingginya tidak jauh beda itu karena murid SMA ataupun SMP yang mulai berdatangan dengan ramai lancarnya sedang melihat ke arah mereka)
"Nichan~ udah-udah... malu diliatin!!"
"Nabilah udah Bil, malu diliatin!"
Ve dan Ghaida mencoba memisahkan keduanya, Ghaida memegang pundak Nisa yang dia panggil Nichan, sedangkan Ve hanya bisa bicara tanpa bisa melakukan kontak fisik.
Nisa bisa berhenti dengan ocehannya pada Nabilah, dia menuruti apa kata Ghaida. Sementara Nabilah masih sibuk dengan kekesalannya pada Nisa dan dia bicara pada Ve untuk tidak menghentikan ocehannya pada Nisa "ah biarin kak, ni kakak satu belagu banget soalnya!" ~ "Jangan gitu dong Bil, kamu kan mau nyampein pesan aku sama dia!" ~ "bodo amat! Orang belagu kayak dia mah gak pantas kakak mintain maaf!!" (Ghaida dan Nisa menganga melihat sikap Nabilah yang sedang sibuk ngoceh sendiri) "gak gitu Bil, kamu nya aja yang terlalu WaW nanggepin Nisa! Dia gak bela,-" ~ "Kakak belain dia!? Aku gak akan sampein pesannya!!" Nabilah marah pada Ve, saat Ve akan kembali berbicara "ia tapi,-" Ve keburu melihat ekspresi Ghaida dan Nisa yang sedang mengerung
"Bil, Bil.."
"apa?" wajah Nabilah masih nyolot pada Ve
"itu Bil.." Ve masih mengarahkan wajahnya pada Ghaida dan Nisa
"apa sih? Gak Jelas bang,-" Nabilah bicara sambil mengikuti arah dari kedua bola matanya Ve, dan saat dia sampai di titik arah matanya Ve. Lidahnya berhenti merangkai kata karena Nabilah bisa sangat jelas melihat ke heranan di wajah Ghaida dan Nisa yang sedang melihat tingkahnya, karena tanggung sudah diliatin Nabilah pun akhirnya bicara masih dengan wajah nyolotnya
"Apa? Baru pertama kali liat orang ngomong sendiri?!"
kata Nabilah tanpa berpikir kalau mereka adalah targetnya
"eh anak SMP, udah ganggu gak jelas pagi-pagi.. Sekarang keliatan ngomong sendiri malah marah-marah kesini!! Dasar anak Aneh!!!" ujar Nisa diikuti Ghaida "udahlah Nichan, biarin aja! Udah tahu ni anak aneh masih aja di ladenin!! Yuk pergi yang lain udah pada nungguin!!!" (Ve hanya bisa menepuk jidatnya dengan kelakuan Nabilah)
"eh, anak SMA~ jaga ya kalo bicara, mentang-mentang ngomong sama junior bisa seenaknya! Pake ngatain Aneh segala lagi!!"
"eeh? Masih aja nyolot, udah kamu yang salah juga!" kembali Nisa menanggapi
"aduh Bil, udah dong! Gimana mau minta maafnya" Nabilah hanya melirik dengan sudut matanya mendengar ucapan Ve.
"Nii~iichan,, udah kak Ghaida bilang gak usah di tanggepin! Hayu masuk!!" Ghaida pun menyeret Nisa masuk ke gedung SMA.
Wajah Ve memperlihatkan kekecewaanya pada Nabilah, sedangkan Nabilah masih dengan rasa marahnya "ah! Ngeselin~ aku gak mau minta maaf sama kakak-kakak di gedung ini!" ucap Nabilah sambil menghentakan kaki kanannya dan pergi ke taman sekolah tanpa menghiraukan Ve. Ve tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti langkah Nabilah.
Ve berteriak di sebelah Nabilah yang masih tidur
"hem~"
"Nabilah bangun Nabilah, ada yang mau kak Ve sampein!"
"ntar... aja~ kalo aku udah,-" Nabilah bicara dengan nada masih setengah tidur setengah bangun "sekarang! kita gak banyak waktu lagi Bil!" Ve memotong ucapan Nabilah dan terdengar begitu serius "aduh Nabilah, kak Ve serius nih! Ada yang harus kamu tahu tentang kak Ve dan... misi kita untuk minta maaf!!" Nabilah masih tidur "ayolah Bil, ini menentukan hidup dan matinya kak Ve!" Nabilah masih tetap tidur, Ve tidak mendengar respon dari Nabilah
"Nabilah..."
".............."
karena tidak juga mendengar respon dari Nabilah, Ve memutuskan untuk bicara apa yang ingin dia sampaikan
"Nabilah, kak Ve akan beneran meninggal nih!" setengah sadar dan tidak Nabilah mendengar kata 'meninggal' "kak Ve belum mau meninggal Bil, masih banyak yang harus kakak perbaiki.." Ve mulai menangis *arwah nangis? Emang bisa?*
Nabilah membuka matanya dan cukup bersimpati dengan suara Ve "cuma kamu yang bisa bantuin kak Ve, Nabilah! Tolonglah kakak.. kakak beneran butuh bantuan kamu!!"
Nabilah pun mulai tersentuh dan memaksakan tubuhnya untuk bangun
"heeeeeH!~ kak Ve itu kenapa sih? Seneng banget gangguin hidup aku? AHH!~" Nabilah terkejut melihat wajahnya Ve, bukan karena dia takut, tapi dari wajah yang sekarang Nabilah lihat tidak seperti wajah-wajah biasanya yang Nabilah lihat (Ve terlihat hopeless, wajah kalem nya begitu di selimuti ketakutan dan kesedihan)
"maafin kak Ve, Nabilah! Kakak emang selalu jadi pengganggu!! Saat kak Ve masih bisa di lihat oleh orang-orang, kak Ve gangguin kehidupannya mereka. Dan sekarang.... kakak tidak terlihat lagi sama siapapun bahkan nyaris meninggal, kakak gangguin hidup kamu malah mau nyusahin kamu! Maafin kakak!!"
Nabilah melongo mendengar curahan si arwah yang sepertinya begitu menderita "kak Ve kok bicaranya gitu sih? Nabilah kan cuma bercanda kak?! Maafin Nabilah ya?" Nabilah tersenyum, dia sudah duduk diatas tempat tidurnya dan berhadapan dengan Ve.
"kamu gak perlu minta maaf, karena yang harusnya minta maaf itu kakak!" Nabilah begitu tersentuh dengan ucapan Ve.
Hening sesaat menyelimuti kamarnya Nabilah
"jadi? Ada apa kak? Kenapa kakak gangguin aku sepagi ini?" Nabilah membuyarkan kesunyian
"kita cuma punya waktu 48jam untuk menyelesaikan misi kita, Nabilah!" Ve mulai bercerita, Nabilah mengerung heran "kakak cuma punya waktu 48jam untuk dapatkan maaf dari mereka yang pernah kakak sakitin, maaf yang tulus dari mereka!,-" ~ "Hah? 48jam?! Gila apa ya? 48nama dalam waktu 48jam, pemberian maaf yang tulus!" Nabilah memotong Ve dengan begitu terlihat kaget, Ve mengangguk.
"itu gak mungkin kak! Lagian~ dari mana kita tahu kalo orang-orang itu dengan tulusnya mau maafin kakak!!" Nabilah kini terlihat hopeless "kemarin-kemarin kak Ve gak bilang apapun sama Nabilah tentang adanya waktu yang membatasi!! Ia kan?"
"kak Ve juga baru tahu kemarin Nabilah, kak Ve kemarin di ajak sama.... Kakak gak tahu dia siapa tapi dia bilang kalau kakak cuma punya waktu 48jam untuk mendapatkan maaf, kalalu lebih dari waktu itu... kakak akan meninggal dengan membawa setumpuk amarah orang lain yang mengantarkan kakak, kesana (akhirat maksudnya)!" Nabilah kembali mengerutkan kening. 'Dunia arwah begitu ribet! Pake ada rules segala lagi!!' pikir Nabilah, "cuma kamu harapan kak Ve satu-satunya Nabilah! Kamu yang bisa bantuin kakak!!" Ve menatap lekat Nabilah
"gak, bukan cuma Nabilah harapan kakak satu-satunya!" Ve memasang wajah heran "kak Ve masih punya Tuhan" *deg* Ve begitu tersentuh mendengar kata 'Tuhan' keluar dari mulutnya Nabilah. "Nabilah, dengan bantuan dari Tuhan akan membantu kak Ve seeeemaksimal mungkin! Biar kakak di kasih kesempatan ke dua untuk memperbaiki kehidupan kakak!" suara Nabilah begitu berapi-api di pagi yang langitnya masih terlihat gelap
"kamu memang anak yang baik Nabilah! Keluarga dan teman-teman di sekitar kamu pasti sangat bahagia dengan kehadiran kamu" Nabilah tersipu malu dengan pujian dari Ve..
"jadi? Kapan kita mulai 48jam kita kak?"
sekarang Nabilah begitu semangat
"nanti sore, saat matahari perlahan turun dengan di temani warna orange keperakan yang menyembur dari langit. Saat itu 48jam kakak di mulai!!"
Nabilah berpikir "jam 5 sore?" tanya Nabilah, Ve mengangguk. "yosh, aku mau mandi siap-siap ke sekolah dan mulai mendatangi mereka satu-persatu! Biar saat 48jam itu dimulai kita sudah dapat beberapa orang yang mau maafin kakak!! Benar kan?"
Ve tersenyum bahagia mendengar ucapan Nabilah, dia berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Nabilah. Sementara Nabilah berlari ke kamar mandi, Ve masih terduduk di atas tempat tidur Nabilah dan merenung.
Dia merasa, masih ada keberuntungan yang berpihak di sisinya dengan adanya bantuan dari Nabilah yang Tuhan kasih. padahal selama ini Ve sudah sangat lama tidak pernah menemui Tuhan atau menyebutkan nama Tuhan dalam kehidupannya, dia sibuk membenci Tuhan atas apa yang terjadi pada kehidupannya. Meski hidup dalam limpahan harta, Ve merasa semua itu tidak bisa memberikannya kebahagiaan. Semua harta itu hanya menyuguhkan keindahan semu yang tidak memberikan efek ketenangan hati. Ve punya 3sahabat tapi sampai sekarang dia tidak melihat ke3 nya ada datang menjenguk dia ke rumah sakit, Ve juga punya orang tua lengkap tapi mereka terlihat tidak begitu shock atau sedih melihat anak satu-satunya yang sedang berada di ambang pintu kehidupan dan kematian. Mereka masih saja sibuk dengan pekerjaan dan pertengkarannya.
Jam 05.15 Nabilah sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Dia keluar dari kamarnya, dan menuruni tangga di temani Ve. Nabilah mengampiri mamanya yang sedang sibuk di dapur
"pagi mah!" sapa Nabilah
"eh, anak mama.. tumben jam segini sudah rapi?"
mama cukup terkejut dengan Nabilah yang sudah rapi dan sepertinya siap berangkat.
"kalo lebih pagi kan rezekinya gak akan di patuk ayam mah, hehhee" jawab Nabilah sambil melihat-lihat apa yang sedang di siapkan mama dan bi ijem
"rejeki? Aduhhh anak mama ngomongnya udah kayak orang dewasa aja!!" Nabilah melemparkan senyumnya dengan mata masih main di hidangan pagi mama "rezeki orang dewasa itu uang, kalo rezeki untuk aku itu ilmu mah!" ujar Nabilah dengan tangannya kini bersiap mencomot makanan, tapi kemudian mama mengepaskan tangan Nabilah. "gak sopan! ini buat di makan sama-sama, masa kamu mau mendahului! Mana pake tangan, di nyomot-nyomot lagi" kata mama
"he..he.. maaf mah, gak di sengaja!" jawab Nabilah, Ve yang sedang di samping Nabilah ikut tersenyum melihat tingkah Nabilah yang masih seperti anak kecil (lah Nabilah kan emang masih kecil tapi..... SKIP)
Jam 6 lebih sedikit Nabilah sudah sampai di sekolah. Dia berangkat naik sepeda mininya, dengan alasan pada keluarganya kalau dia ada misi berat yang tidak bisa ditunda dan sangat mendesak, makanya Nabilah berangkat begitu pagi dari rumah (udah kayak mau ke medan perang aja). keluarga Nabilah sudah tahu perihal permintaan bantuan yang di ajukan si arwah pada Nabilah, namun mereka tidak ada yang tahu kalau misinya itu di kasih jangka waktu.
Nabilah berdiri di dekat mading pura-pura membaca, dia kini ada di gedung SMA. Sebelum-sebelumnya Nabilah belum pernah masuk ke gedung SMa tapi kali ini dengan penuh keberanian dan siap menanggung malu Nabilah masuk ke gedung berlantai 4itu. Ditasnya ada beberapa banyak barang milik orang-orang yang akan dia mintai permintaan maaf atas nama Ve.
'gile... kenapa aku bisa sampai senekad ini ya? Buat bantuin kak Ve! Padahal, kenal aja enggak!' Nabilah sibuk menggumam dalam hatinya (Ve ada di samping Nabilah seperti biasanya, Nabilah masih menghadap mading. Sementara Ve melihat-lihat ke arah murid-murid yang mulai berdatangan) 'apa kata Gaby dan Ayana nanti... kalau mereka tahu aku main di gedung SMA dan,-'
"Nabilah, Nabilah... Nisa sama Ghaida dateng tuh!"
Ve bicara tanpa melihat wajah Nabilah, karena sedang memasuki alam pikirannya Nabilah jadi tidak mendengar ucapan Nabilah
"NABILAH!" ~ "Ha!!" Nabilah kaget dengan teriakan dari Ve hingga membuat dia menjadi pusat perhatian beberapa murid yang baru datang "apa sih? Biasa aja manggilnya" gerutu Nabilah
"ia maaf~ abisnya kamu sih.. kak Ve ngomong gak di tanggepin!!"
"ya udah ada apa?" Nabilah sambil celingukan bicara dengan Ve
"itu tuh... ada terget kita yang udah dateng!"
saat mendengar ucapan Ve, Nabilah segera memainkan matanya
"mana?" tanya Nabilah, lalu Ve menunjukan tangannya.
Terlihat 2orang murid yang potongan rambutnya sama-sama pendek tapi lebih pendek yang tinggi badannya lebih tinggi.
"aduh gimana nih? Alah~ um... gimana Nabilah ngomongnya nih... aisshhh (Nabilah terlihat panik, karena gugup)"
"tarik nafas Bil!" Nabilah menuruti "buang nafas... semuanya!"
"eh? Mati dong Nabilah!? Heh, kak Ve_- lagi panik gini juga masih aja mainin!!" Ve tertawa renyah.
'Ok! Nabilah Ratna Ayu yang gak bisa nyebutin huruf R dengan jelas! Kamu pasti bisa!! Semangat lah, Semangat 48!!!' bisik Nabilah pada dirinya sendiri. Ve hanya bisa teresenyum melihat tingkah Nabilah yang seperti itu.
Nabilah pun berjalan untuk menghampiri 2murid yang beda tingkatan namun selalu barengan kalau pagi-pagi gini untuk masuk ke salah satu ruangan bertemu dengan teman-teman mereka lainnya membahas tentang Anime, manga, Cosplay, dan berita lainnya tentang kultur Jepang. Nabilah mengambil lagi nafasnya dan mengumpulkan keberaniannya, jalan~ jalan~ jalan~ semakin dekat dan... Nabilah berhenti di depan keduanya menghalangi jalan mereka, namun karena Nabilah tidak langsung bicara, kedua murid itu bergeser ke sebelah kiri untuk menghindari Nabilah (dikira ketidak sengajaan papasan), Nabilah yang melihat itu langsung mengikuti gerakan keduanya, mereka bergerak ke sebelah kanan Nabilah ikuti, mereka ke kiri Nabilah ikut, kiri-kanan beberapa kali sampai si murid yang rambutnya lebih pendek bicara "eh dek, (karena dia melihat Nabilah memakai seragam SMP) kamu diam di tempat. Aku sama temen aku bakal lewatin kamu! Ok!?" katanya sambil memerintah. Nabilah tidak menjawab, saat Ghaida (si murid berambut paling pendek) dan Nisa (si murid yang rambutnya sebahu) akan ngelewatin Nabilah, dengan refleks Nabilah kembali mengikuti gerakan mereka. hingga Nisa mengucapkan satu kata "baka!" pada Nabilah 'dia ngomong apaan ya?' tanya Nabilah tapi tidak dia sampaikan
"dia bilang BODOH, Bil!" bisik Ve karena melihat wajah Nabilah di naungi pertanyaan
"APA?" reflek Nabilah bicara dengan ekspresi kesal karena di sebut bodoh
"aaa~pa?" tanya Nisa
"apanya?" jawab Nabilah
"ya kamu bilang 'apa?' itu untuk apa?" kembali Nisa bicara,tapi tidak Nabilah respon karena dia masih merasa kesal "Ergh, anak SMP ni!! Ngeselin.." ujar Nisa yang di diamkan Nabilah
"eh? yang ngeselin itu kakak! Pake bilang aku bodoh lagi!! Dasar anak SMA! Belagu~" Nabilah tidak mau kalah.
Akhirnya Nabilah dan Nisa beradu mulut di hadapan Ghaida dan Ve (Ve menghela nafas lalu menjatuhkan kepalanya lemas; Ghaida segera menghentikan kedua anak yang tingginya tidak jauh beda itu karena murid SMA ataupun SMP yang mulai berdatangan dengan ramai lancarnya sedang melihat ke arah mereka)
"Nichan~ udah-udah... malu diliatin!!"
"Nabilah udah Bil, malu diliatin!"
Ve dan Ghaida mencoba memisahkan keduanya, Ghaida memegang pundak Nisa yang dia panggil Nichan, sedangkan Ve hanya bisa bicara tanpa bisa melakukan kontak fisik.
Nisa bisa berhenti dengan ocehannya pada Nabilah, dia menuruti apa kata Ghaida. Sementara Nabilah masih sibuk dengan kekesalannya pada Nisa dan dia bicara pada Ve untuk tidak menghentikan ocehannya pada Nisa "ah biarin kak, ni kakak satu belagu banget soalnya!" ~ "Jangan gitu dong Bil, kamu kan mau nyampein pesan aku sama dia!" ~ "bodo amat! Orang belagu kayak dia mah gak pantas kakak mintain maaf!!" (Ghaida dan Nisa menganga melihat sikap Nabilah yang sedang sibuk ngoceh sendiri) "gak gitu Bil, kamu nya aja yang terlalu WaW nanggepin Nisa! Dia gak bela,-" ~ "Kakak belain dia!? Aku gak akan sampein pesannya!!" Nabilah marah pada Ve, saat Ve akan kembali berbicara "ia tapi,-" Ve keburu melihat ekspresi Ghaida dan Nisa yang sedang mengerung
"Bil, Bil.."
"apa?" wajah Nabilah masih nyolot pada Ve
"itu Bil.." Ve masih mengarahkan wajahnya pada Ghaida dan Nisa
"apa sih? Gak Jelas bang,-" Nabilah bicara sambil mengikuti arah dari kedua bola matanya Ve, dan saat dia sampai di titik arah matanya Ve. Lidahnya berhenti merangkai kata karena Nabilah bisa sangat jelas melihat ke heranan di wajah Ghaida dan Nisa yang sedang melihat tingkahnya, karena tanggung sudah diliatin Nabilah pun akhirnya bicara masih dengan wajah nyolotnya
"Apa? Baru pertama kali liat orang ngomong sendiri?!"
kata Nabilah tanpa berpikir kalau mereka adalah targetnya
"eh anak SMP, udah ganggu gak jelas pagi-pagi.. Sekarang keliatan ngomong sendiri malah marah-marah kesini!! Dasar anak Aneh!!!" ujar Nisa diikuti Ghaida "udahlah Nichan, biarin aja! Udah tahu ni anak aneh masih aja di ladenin!! Yuk pergi yang lain udah pada nungguin!!!" (Ve hanya bisa menepuk jidatnya dengan kelakuan Nabilah)
"eh, anak SMA~ jaga ya kalo bicara, mentang-mentang ngomong sama junior bisa seenaknya! Pake ngatain Aneh segala lagi!!"
"eeh? Masih aja nyolot, udah kamu yang salah juga!" kembali Nisa menanggapi
"aduh Bil, udah dong! Gimana mau minta maafnya" Nabilah hanya melirik dengan sudut matanya mendengar ucapan Ve.
"Nii~iichan,, udah kak Ghaida bilang gak usah di tanggepin! Hayu masuk!!" Ghaida pun menyeret Nisa masuk ke gedung SMA.
Wajah Ve memperlihatkan kekecewaanya pada Nabilah, sedangkan Nabilah masih dengan rasa marahnya "ah! Ngeselin~ aku gak mau minta maaf sama kakak-kakak di gedung ini!" ucap Nabilah sambil menghentakan kaki kanannya dan pergi ke taman sekolah tanpa menghiraukan Ve. Ve tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti langkah Nabilah.
Di taman, Ve masih diam dengan wajahnya dia arahkan pada Nabilah yang masih kesal (jam 07.24)
"kamu masih kesal sama Nichan?" tanya Ve akhirnya.
Nabilh tidak menjawab hanya mendelik, dia memang masih kesal dengan tingkah Nisa yang mengatainya Bodoh belum lagi kata terakhir nya tadi yang bilang kalau dirinya Aneh. "(Ve menghela nafas) kalau kamu masih kesal, ya udah kak Ve gak akan maksa kamu!" dengan nada rendah Ve bicara "mungkin~ ini udah jadi takdirnya kakak, gak bisa dapetin kesempatan kedua untuk memperbaiki kehidupan kakak!" masih dengan rendahnya Ve bicara, Nabilah masih belum bereaksi "makasih ya Bil, kamu udah mau dengerin semua keluhan kak Ve!" Ve tertunduk lemas, Nabilah dan Ve saling diam. Tak lama Nabilah pun bicara
"jangan ngucapin makasih sekarang!" Ve terbelalak mendengar ucapan Nabilah yang masih belum melakukan kontak mata dengannya "Nabilah belum ngelakuin apapun kak, malah... Nabilah hampir ngerusak semuanya!!" Nabilah mengalihkan pandangannya pada Ve yang sudah lebih dulu melihatnya "maafin Nabilah ya kak, Nabilah akan ulang lagi scene yang tadi pagi. Tapi dengan cara yang lebih lembut!!" tutur Nabilah membuat Ve terharu "Nabilah..."
"Nabilah tahu kak, tindakan Nabilah tadi itu~ emang terlalu over reacted. Gak harusnya Nabilah malah jadi adu mulut sama kak Nisa, toh pas Nabilah pikirin ulang itu emang salahnya Nabilah kak! hehe" Nabilah bicara penuh penghayatan, Ve menyimak dengan sangat senang karena tadi Ve sempat berpikir kalau Nabilah tidak mau membantunya lagi.
"harusnya Nabilah engga halangin jalan nya mereka, harusnya Nabilah langsung bicara saat itu bukan malah cuma berdiri dan bikin mereka risih... Hmm Nabilah masih bingung kak, harus bicara apa sama mereka!!" Nabilah menjelaskan
"Kak Ve tahu Nabilah, apa yang akan kamu lakukan untuk kakak itu pasti akan sulit... Kamu gak harus minta maaf, karena kakak yang harusnya minta maaf dan harusnya kakak ngucapin makasih sama kamu yang udah mau dibuat susah sama kakak!"
Nabilah mengulaskan senyumnya "ya udah~ yuk kita jalan lagi..!!" ucap Nabilah yang kini penuh semangat, Ve menyambutnya dengan senyum bahagia.
Mereka pun berjalan dengan sambil bicara membahas kalau misi minta maafnya akan Nabilah ulang pas istirahat nanti, tapi ganti target karena kalau memaksakan menemui Ghaida dan Nisa, Nabilah takutnya mereka masih kesal pada dirinya.
Sampai di kelas, Ayana dan Gaby sudah duduk manis menunggu Nabilah.
"pagi~" sapa Nabilah, dia duduk dan menyimpan tasnya tapi belum dengar sapaan balik, baik dari Ayana maupun Gaby "kalian berdua kenapa sih?" Nabilah kini bertanya heran karena Ayana dan Gaby melihatnya dengan tatapan 'aneh'
"kamu tadi... abis berantem sama anak SMA? Bil!" tanya Gaby, Nabilah merapatkan alis matanya 'berantem? Dipikir aku abis baku hantam apa?' bisik Nabilah. lalu bersikap biasa lagi dengan diikuti desahan dan di akhiri jawaban "(haaah) aku heran~ Gosip di sekolah ini cepet banget nyebarnya!" Nabilah melihat Ayana dan Gaby "kalian tahu dari mana berita itu?" kemudian Nabilah bertanya
"dari temen-temen yang berseliweran!" jawab Ayana diikuti anggukan Gaby
"Ayana Shahab! Ih! Kamu tu ya, seneng banget nangkep kabar yang berseliweran di gedung ini!!" Nabilah diam sejenak "eh denger ya? Aku itu gak berantem sama anak SMA! Tadi itu cuma salah paham aja!! Udah ah jangan bahas berita yang dapetnya dari seliweran! Kalo mau bahas berita yang dari selebaran aja, jangan dari seliweran" Ve yang dari tadi menyimak kini sedang tertawa dengan jawaban dari Nabilah untuk ke2 sahabatnya.
"emangnya kamu ngapain Bil, kok bisa sampai salah paham sama kakak di gedung SMA?" Gaby melemparkan pertanyaan yang membuat Nabilah menelan ludahnya sendiri
"um itu~ aku.-" *Belllllllllllll MASUK* "ah, udah bell masuk" kata Nabilah seperti ada yang menyelamatkan "tuh, tuh~ bu Aryani udah dateng tuh!" kemudian Nabilah menunjuk ke arah luar kelas. Gaby tidak bisa berbuat apapun kecuali diam, karena guru mereka sudah datang dan siap memulai pelajaran.
Waktu istirahat datang, sebenarnya Nabilah masih ingin berada di kelas selama mungkin (padahal biasanya Nabilah ingin cepat mendengar bell istirahat) dan membiarkan waktu berjalan LAMBAT karena dia masih merasa deg-deggan tidak karuan kalau mengingat adanya misi yang harus dia kerjakan.
Nabilah memutar pikirannya untuk mencari alasan pada Ayana dan Gaby agar dia bisa keluar, setelah dapat Nabilah berdiri dari tempat duduknya
"mau kemana Bil?" tanya Ayana, sesuai yang sudah di prediksi Nabilah kalau ke2 sahabatnya ini akan bertanya
"em~ aku mau ke ruang guru!" jawab Nabilah dengan ekspresi seee-biasa mungkin agar tidak ketahuan bohongnya, Ayana dan Gaby mengerung
"ruang guru? Tumben!" kata Gaby
"tadi bu Ariani nyuruh aku untuk ke ruang guru kalo udah istirahat! Katanya ada yang mau di bicarain!"
"Kapan bu Ariani nyuruh kamu Bil? Perasaan tadi aku gak lihat kamu sama bu Ariani bicara deh?!" Ayana menerawang (si Ayana KEPO)
"tadi bu Ariani bilangnya pas aku ke depan nyerahin buku PR kita!!" kata Nabilah, Gaby dan Ayana bilang Oohh~ setelah mengingat kejadian tadi pagi saat Nabilah maju kedepan mengumpulkan buku tugas teman-teman sekelas
"aku kesana dulu yah!" Nabilah mengucapkan permisinya, Ve tersenyum jahil pada Nabilah yang pintar mencari alasan, Nabilah mendelik pada si arwah dengan dari wajahnya tersirat kata 'apa?'.
Nabilah berhasil keluar, dia berjalan menuju lapangan basket untuk menghampiri targetnya (target Ve maksudnya)
"itu tuh... Jeje, Panda, Delima sama Frieska!" Ve menunjukan ke salah satu sudut dimana ada 4orang sedang duduk menikmati makanannya
"hmm~ yang tiga itu.." tunjuk Nabilah pada Jeje, Panda dan Delima "kayaknya bakal rada susah kak!" Ve melihat Nabilah "diliat dari wajahnya, mereka kayaknya bakal susah deh ngasih maaf!!" Nabilah terdengar hopeless "mana wajahnya keliatan pada nyolot semua lagi! Salut aku sama kak Ve, bisa nge Bully mereka!!"
"hem! Ngeledek?"
"gak ngeledek kak, kenyataan itu!!"
Ve hanya bisa mendelik Nabilah
"ya udahlah terserah kamu, yang penting sekarang kita samperin mereka!" Nabilah mengangguk lalu berjalan mendekati Jeje, Panda, Frieska dan Delima.
"Hai~ Selamat siang" dengan susah payah Nabilah mengucapkan kata itu, Jeje melihat ke arah kanan, kiri dan belakangnya
"ke kita?" tanya Jeje pada Nabilah yang berdiri di hadapannya, Frieska, Delima dan Panda.
Nabilah mengangguk "i-ia kak, aku ngucapin salam ke kakak semua!" Ve membisikan kata-katanya "ayo Bil, waktu nih!" Nabilah melakukan gerakan kecil pada tangan atas sebelah kanannya sambil mendelik Ve
"emang ada apa kamu nyapa kita?" tanya murid yang memiliki pipi bolong (lesung pipi; Delima)
"um~ anu... itu- aku mau...." lidah Nabilah terasa begitu kelu, ke4 murid SMA itu menatap Nabilah heran.
Gimana mereka gak heran, anak SMP berdiri di hadapan mereka dengan ucapan terbata gak tahu apa maksud sebenarnya dan gak tahu mau ngapain.
"Aduh~ Nabilah ayolahhh!" Ve membisikan itu di sebelah Nabilah
"hemm, Nabilah Ratna AZ.." ucap murid yang terlihat sedikit berisi (Panda) menyebutkan nama Nabilah yang terpampang di baju seragam sebelah kanannya "apa yang mau kamu sampaikan sama kita?" tanya Panda kemudian
"lu kenal sama anak ini, Panda?" tanya Jeje, Panda menggeleng sambil menunjuk papan nama Nabilah. Jeje hanya mengucapkan Oh dengan tangannya kembali menopang dagu
"ini~ aku mau... mmm~ Aku..Aku mau ngucapin maaf atasnamakakveyangudahpernahbik inkaliankesalmarahsampaimungki nkalianmembencidiakarenatingka hlakunyayangmenyebalkan!"
Nabilah menarik nafasnya karena saat berucap dia tidak menyimpan titik,
koma, tanda seru, tanda tanya atau tanda apapun di aliran kalimatnya.
"ni anak ngomong apa sih?" ujar Jeje, mereka ber4 tidak bisa menangkap dengan jelas ucapan Nabilah yang tanpa pembatas dan terdengar bla-ble-blo di tengah pengucapan huruf R nya yang ngambang
"eh dek, bicaranya kalem aja! Kita semua dengerin kok! Ia kan teman-teman?" ucap si murid yang terlihat santai (Frieska) dan di amini oleh ke3 lainnya dengan anggukan.
Ingin sekali Ve memasuki tubuh Nabilah agar dia bisa menyampaikan maafnya secara langsung, tapi apa daya... hal itu sangat mustahil untuk di lakukan. Nabilah melihat sekilas ke arah Ve yang menundukan kepalanya, dia lalu mengumpulkan keberaniannya dan memulai kembali ucapannya dengan sebelumnya menarik nafas dalam-dalam
"(hemmmmmhah!) jadi gini kak~ maksud Nabilah nyamperin kakak semuanya adalah untuk.... untuk menyampaikan permintaan maaf!"
"Maaf? Maksudnya" tanya Delima heran
"ia maaf, sebuah permintaan maaf dari kak Ve!"
saat mendengar nama Ve di sebutkan, refleks ke3 nya kaget lalu mengerutkan dahinya. Ve melihat Nabilah lalu melihat Jeje, Panda, Delima dan Frieska. "aku Nabilah, ingin menyampaikan permintaan maaf dari kak Ve untuk kak Jeje, kak Panda, kak Delima dan juga kak Frieska.. Kak Ve minta maaf atas apa yang sudah dia lakukan pada kakak semua" Jeje, Panda, Delima, Frieska belum ada yang bereaksi "kak Ve harap, kalian mau ngasih maaf kalian untuk dia. Dan memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, kak Ve ju,-"
"Haaah! Stop, Stop, Stop,~ kamu sebenarnya ngomong apa sih dek! Hah?" Jeje yang pertama kali menanggapi Nabilah dengan menyetop ucapannya "kamu bilang Ve mau kita maafin dia?" lanjut Jeje. Nabilah mengangguk dengan polosnya, Ve masih memperhatikan
"Ve? Jessica Veranda?!" sambung Panda bertanya, Nabilah pun kembali mengangguk lalu mengeluarkan suaranya lagi
"ia, Ve! Kak Ve, Jessica Veranda murid SMA PUTRI JAKARTA kelas XI A 4!" kata Nabilah seolah tahu kalau Jeje dan Panda sedang meragukan ucapannya "anak dari pemilik yayasan yang menaungi Sekolah kita, murid yang terkenal di seantero Sekolah sebagai Queen Witch! Masih kurang jelas kak?" Nabilah balik bertanya,
kini Jeje, Panda, Delima dan Frieska menatap Nabilah dengan wajahnya di selimuti keheranan
"terus? Maksud kamu Ve mau minta maaf itu apa? Ve kan lagi koma, gimana mungkin dia bisa bilang sama kamu untuk minta maaf dan.. lagian, kamu itu siapanya Ve? Sampai tahu kalau Ve mau minta maaf sama kita?" Delima menganalisa dengan di ia kan oleh Jeje dan Panda "Sahabat-sahabatnya aja, gak pernah ada yang datang sama kita buat ngucapin maaf ATAS NAMA Ve!" Delima menekankan Atas Nama nya karena tadi Nabilah bilangya mengucapkan maaf atas nama Ve, yang Delima anggap kalo Nabilah pernah ngobrol baru-baru ini dengan Ve.
'aduhh, gimana jawabnya nih?' wajah Nabilah terlihat sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, Ve bisa melihat wajah Nabilah "kamu bilang aja, kamu adik sepupu aku! Dan kamu nemuin surat di kamar aku!!" dia lalu bicara untuk memberikan bantuan pada Nabilah "em, no sense kak! (gak masuk akal)" bisik Nabilah sambil mengusap alis mata kirinya agar saat dia berbisik pada Ve, ke4 murid SMA yang sedang melihatnya tidak melihat tingkahnya itu.
"kamu ngomong apa? Kita gak denger!" kata Jeje menembak Nabilah dengan pertanyaan
"ah, em~ itu~ anu- aku.. Aku mau bilang, kalau aku itu.. adik sepupunya kak Ve!" jawab Nabila dengan senyum tak karuan "katanya No sense!" goda Ve pada Nabilah, Nabilah menekuk wajahnya melirik sekilas Ve.
"adik sepupu?" tanya Panda dan Jeje berbarengan, Nabilah mengangguk "Ve punya adik sepupu yang satu sekolah?" Nabilah kembali mengangguk
"hmm~ kalau kamu emang adik sepupunya Ve, terus kenapa selama ini kita gak pernah liat kamu ada di dekat Ve atau kamu tegur sapa sama Ve!" giliran Frieska yang menganalisa
'Heran sama murid-murid di sekolah ini, kayanya tahu banget soal kak Ve!' kata Nabilah dalam pikirannya
"ehhh~ di tanya diem lagi!" ujar Delima.
"um~ ya... aku emang gak begitu deket sama kak Ve, meskipun aku adik sepupunya!" Nabilah mulai menjelaskan dan di tonton oleh 4targetnya. "lagian, kaya yang kalian tahu... kak Ve kan orangnya........... jadi ya, aku sih cuma bisa ngeliat aja!" lanjut Nabilah dengan tidak menyebutkan part dimana Ve itu orangnya MENYEBALKAN, MENGESALKAN, MENJENGKELKAN, DAN MEMBUAT HAMPIR SEMUA MURID MEMBENCI DIA (capslock jebol) pokonya hal-hal yang tidak baik dari sisi seorang Veranda.
"aku tahu kalau kak Ve mengalami kecelakaan dan bahkan sekarang dia koma, jadi ya... aku sama keluarga aku ngejenguk dia ke rumah sakit, dan~ kemarin aku main ke rumahnya kak Ve sama papa mama aku.. Terus,,-" Nabilah berhenti sejenak untuk mencari kata yang pas dalam misi meminta maaf ini, Nabilah sebenarnya tidak mau membohongi mereka karena yang dia tahu ini adalah misi meminta maaf. Jadi kalau Nabilah membohongi mereka lantas untuk apa permintaan maaf itu? "aku masuk ke kamarnya, aku ngeliat buku diary nya kak Ve dan.... ya gitulah (membaca diary Ve maksudnya, ke4 target mengerti tanpa harus di ucapkan secara nyata oleh Nabilah), sampai aku punya analisa sendiri soal koma nya kak Ve!"
"maksudnya?" Panda mengintrupsi saat mendengar Nabilah mengucapkan analisa soal komanya Ve.
"ia~ aku pikir.. kak Ve koma itu karena mungkin banyaknya yang benci sama dia dan... pasti banyak juga doa yang gak baik buat kak Ve yang secara sadar ataupun enggak pernah keluar dari mulut mereka ataupun yang mereka pendam di hati!~ Bukankah ucapan itu doa, terus kan Tuhan bilang 'sekecil atau sebesar apapun suara kita saat berdoa Tuhan akan tetap mendengarkan dan akan mengabulkannya' ia kan?" Jeje, Panda, Delima dan Frieska terhenyak dengan ucapan si anak SMP yang terdengar sangat dewasa. Ve tak kalah terhenyak mendengar ucapan Nabilah "jadinya ya, sekarang kak Ve ada di batas antara hidup dan mati! Kalau kata orang-orang sih (Nabilah menerawang) Hidup segan matipun enggan!! Itu yang Nabilah pikir tentang koma nya kak Ve!" panjang lebar Nabilah menjelaskan.
Ve merasa terharu dan juga merasa mendapat tamparan dari kata-kata Nabilah.
Karena Jeje, Panda, Delima ataupun Frieska tidak ada yang merespon, Nabilah pikir kalau alasan yang dia buat tidak bisa melunturkan ketidak sukaan mereka pada Ve dan mungkin juga mereka tidak akan memaafkan Ve.
(Jeje, Panda, Delima dan Frieska sedang melamun, menerawang ke masa dimana mereka pernah di kerjai Ve dan juga mereka mengakui dalam hati kalau ucapan Nabilah itu benar *mereka mengucapkan hal yang tidak seharusnya untuk Ve*)
Nabilah masih menunduk dan Ve masih dengan wajah pucat dan guratan harap-harap cemasnya menunggu ke4 nya bereaksi.
sudah hampir 4menit mereka mendiamkan Nabilah (dan Ve juga) "haaah~ kayaknya mereka gak akan maafin kakak, Bil!"
Nabilah melihat ke arah Ve
"jangan putus harapan dong kak!" bisik Nabilah.
Seperti menanti keputusan pengadilan Nabilah memainkan kedua tangannya begitu terlihat tidak tenang, sampai Nabilah berpikir kalau dia harus mengeluarkan suaranya untuk membuat ke4 orang yang ada di hadapannya ini merespon
"Ehem, hem~hem! Ehem~" Nabilah mendehem, meskipun itu ide yang konyol tapi ternyata berhasil. Jeje, Panda, Delima dan Frieska kembali dari alam bawah sadarnya "jadi gimana kak? Kakak-kakak semua... mau? Maafin kakak sepupu aku? Kak Ve!" ucap Nabilah setelah melihat mereka ber4 sepertinya sudah bisa menguasi diri (Ve mengangguk-anggukan kepalanya, berharap kalau mereka ber4 mau memaafkannya).
Jeje menghela nafas sebelum dia mengutarakan jawabannya "kalau gue pribadi.." Jeje berhenti dulu "ya~ gue akuin gue emang kesel sama tingkah lakunya Ve yang suka seenaknya, gak bisa nyaring omongannya, yaaa pokoknya Bad lah Ve buat gue!" Nabilah dan Ve menyimak "dan gue juga mengakui apa yang kamu katakan (menunjuk Nabilah) itu emang bener, gue waktu denger kalau Ve kecelakaan.. Jujur gue seneng banget waktu itu dan ngerasa puaslah karena ternyata Tuhan emang gak tidur, Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah!" Ve mengerungkan wajahnya, sepertinya dia sedang flasback ke masa di mana dia sedang bertingkah seenaknya pada Jeje (ngumpetin kaos team nya Jeje pas waktu mau pertandingan Final kompetisi basket, menghina Jeje dengan membawa-bawa kondisi ekonomi keluarga Jeje dengan begitu kasar dan tidak ber prikemanusiaan) "tapi setelah beberapa hari ini mendengar kondisi Ve yang tidak kunjung membaik, kayaknya gue gak tega juga~ dan..." Jeje melihat Nabilah, Nabilah hanya bisa mengedip-ngedipakan matanya saat di bidik Jeje "kalau apa yang kamu katakan tentang analisis kamu itu benar... Gue mau maafin Ve" Ve bisa tersenyum senang tapi tidak dengan Nabilah dia malah mengerung dan berpikir kalau maafnya Jeje itu gak tulus karena dia (Jeje) mau maafin Ve atas analisis yang di berikan Nabilah bukan karena dia memang mau maafin tingkah menyebalkannya Ve
"kak Jeje gak tulus dong maafin kak Ve?" ~ "maksud kamu?" ~ "ia, kakak mau maafin kak Ve karena analisis aku, kalau kak Ve sedang di ambang hidup dan mati dan kalau kakak semua gak maafin kak Ve maka dia akan benar-benar meninggal! Itu kan yang jadi alasan maunya kak Jeje maafin ka Ve?" si arwah mengangguk menyetujui perkataan Nabilah. Sementara Jejenya sendiri malah tersenyum "Ve, Ve.. dia beruntung bisa punya adik sepupu setulus kamu" Nabilah heran, Jeje berdiri dan memegangi lengan atasnya Nabilah "dengerin ya Nabilah, aku Jeje. Jessica Vania.. mau maafin Ve bukan semata karena mendengar analisis dari kamu tapi karena aku emang dengan setulus hati mau maafin Ve, dan aku harap saat dia bangun nanti dia bisa merubah semua tabiat jeleknya!!" Nabilah tersenyum sedikit "karena aku yakin, apa yang di lakukan Ve pasti ada alasannya! Ia kan?" Nabilah mengangguk, Panda, Delima dan Frieska ikut berdiri dan menghadap Nabilah "aku juga~ aku setuju dengan yang Jeje katakan, dan aku maafin Ve" kata Frieska sambil tersenyum, di susul oleh Delima "Aku juga~ aku maafin Ve" kemudian terakhir Panda "dan aku juga~ Ve emang suka keterlaluan sama murid-murid disini termasuk aku, tapi aku gak mau nyimpan dendam sama dia, karena apa yang dibilang Jeje itu benar, Ve pasti punya alasan untuk kecongkakannya bukan karena dia memang sifatnya seperti itu... aku maafin Ve, semoga dia cepat sembuh ya!" Panda menutupnya dengan memberikan semangat pada Nabilah (karena mereka tahu nya Nabilah itu adik sepupu nya Ve dan Panda yakin Nabilah pasti merasa sedih melihat kondisi kakak sepupunya seperti sekarang ini).
Nabilah tersenyum bahagia dengan sambutan dari Jeje, Panda, Frieska dan Delima, pun dengan Ve yang tak kalah bahagia mendengar setiap ucapan yang terlantun dari bibir mereka yang pernah dia sakiti.
'hal bodoh apa yang sudah aku lakukan dulu Tuhan!? Kenapa aku gak sadar kalau mereka itu terlalu baik untuk aku sakitin!!' Ve menyesali perbuatanya (Penyesalan memang tidak pernah datang di awal cerita).
"makasih ya kak, udah mau maafin kak Ve!"
Nabilah membungkukan badannya, di sambut anggukan dari Jeje, Panda, Delima dan Frieska.
Tidak jauh dari tempat Nabilah kumpul dengan Jeje, Panda, Delima dan Frieska. Ada 2orang murid SMP yang sedang melihatnya
"itu~ itu bukannya Nabilah?" ucap salah seorang yang memilik rambut menjuntai hampir menutupi punggungnya,
"ia, itu Nabilah! Tapi~ dia ngapain nunduk-nunduk gitu di depan anak SMA!?" sambut yang lainnya sambil bertanya.
"apa mungkin Nabilah lagi di..." ~ "Bully!" keduanya mengucapkan kata itu berbarengan sambil saling melempar pandangan satu sama lain.
"hooaa! sugoii, kita baru aja dapat 4 nama kak!! Liat nih hasilnya" Nabilah memperlihatkan kedua telapak tangannya "keringat cuyyy! hah! Adrenaline nya itu~ beuhhh, lebih-lebih pas di kasih tugas presentasi depan kelas!!!" Ve tersenyum dengan ucapan Nabilah, mereka berdua terus berjalan menuju kelas.
"makasih ya Bil, kak Ve gak tahu harus ngucapin makasih dengan cara apa sama kamu!! Baru 4 nama aja, kak Ve udah seneng banget!! Hem~ kak Ve yakin dengan ketulusan kamu, murid-murid di sekolah ini... pasti mau maafin kakak!"
"dengan ketulusan aku dan kebenaran kakak yang mau berubah! Itu yang akan membuat semuanya lancar gak ada lagi topeng, gak ada lagi penyamaran dari kak Ve yang pura-pura baik terus kembali nyakitin oang lain! Ok?! " Nabilah mengedipkan mata kanannya, dia sudah antisipasi saat berbicara dengan Ve, tidak ada siapapun tidak ada seorangpun yang memperhatikan Nabilah meski dia sedang berjalan menuju kelasnya (padahal ada 2orang yang kini sedang berjalan kearahnya, dan mungkin sempat melihat Nabilah berkomat-kamit).
"Nabilah~" kedua orang yang tadi melihat Nabilah dari jauh memanggil Nabilah dan berjalan menghampirinya, Ve ikut melihat kedatangan ke2 murid itu lalu bicara pada Nabilah
"mereka manggil kamu? Wahh, kebetulan banget tuh!"
"kebetulan? Apanya?"
"ya merekanya!"
"merekanya? aduh kak Ve, ngomongnya yang jelas napa!"
"aduhh Nabilah, yang manggil kamu itu kan Beby sama Shania!"
"haaaa, terus?"
"itu artinya mereka berdua.. ada di list kita!!"
"huh? Kita? Kak Ve aja, ihh!!" jawab Nabilah dengan gimik bercanda.
"-_bzzz, ia~ ia- list kak Ve! Hah~" Nabilah tersenyum jahil. Shania dan Beby tinggal beberapa inchi lagi pada Nabilah, dan sebelum mereka benar-benar ada di depan Nabilah. Nabilah mengeluarkan pernyataan pada Ve "awas ya kak Ve, kalau nanti Nabilah lagi bicara sama mereka! Kak Ve jangan bikin Nabilah keliatan kayak orang............" Ve tersenyum pada Nabilah, lalu mengangkat kedua jempolnya dengan diikuti senyum 2 jari pertanda mengerti dengan yang di ucapkan si cerewet meskipun tidak di ucapkan semunya.
Shania dan Beby pun sampai di depan Nabilah,
"kak Shania~ kak Beby~!" ucap Nabilah
"Hai, Bil!" sapa Shania lalu Beby, nabilah memberikan senyumnya untuk membalas sapaan.
"ada apa kak? manggil Nabilah!" tanya Nabilah to the point
"em~ itu... kita mau tanya!" kata Shania "tadi kakak sama kak Beby lihat kamu bareng sama anak SMA, terus kita lihat kamu membungkuk! Itu untuk apa? Kenapa kamu ngelakuin itu?!" lanjut Shania, Beby hanya mengangguk meng ia kan setiap ucapan Shania.
Mereka berdua itu kakak kelas plus anggota Osis di SMP, mereka kenal pada Nabilah karena Nabilah juga anggota Osis. Meskipun tidak dekat, tapi Shania dan Beby yang sebagai kakak kelas ingin memperlihatkan kalau mereka perduli dengan teman-teman di gedung SMP, jika teman atau adik kelas mereka ada yang di kerjai oleh anak SMA maka mereka dan anggota Osis lainnya akan mengambil tindakan untuk melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah.
"oh! Itu... um~ gak ada apa-apaan kok kak!" jawab Nabilah dengan santainya
"kamu yakin gak ada apa-apa? Kok kayaknya tadi serius banget, kamu gak lagi di Bully kan?!" kembali Shania bertanya
"Shania segitu sinisnya ngebahas anak SMA!?"
bisik Ve pada Nabilah
"itu kan gara-gara kakak juga" gumam Nabilah
"apa Bil? Kamu ngomong apa barusan?" giliran Beby yang bertanya karena melihat Nabilah seperti sedang bicara *padahal emang lagi bicara*
"iya! hehe~ gak kok kak, aku gak bicara! em, masalah aku tadi bungkuk sama murid SMA itu... soalnya aku lagi, aku lagi" Nabilah sepertinya bersiap melancarkan misi minta maafnya "aku lagi ngucapin makasih~ ia makasih... itu bener! Hehe, makasih" lanjut Nabilah ternyata tidak langsung minta maaf.
*WARNING: Sisa waktu 2menit tan menuju bell masuk istirahat*
Shania dan Beby saling melempar pandangan dengan jawaban yang di utarakan Nabilah
"emmm~ kak, Nabilah boleh bicara sesuatu gak?" tanya Nabilah memisahkan tatapan Shania dan Beby
"bicara aja!" ucap Beby yang menanggapi pertama.
"sebenarnya... Nabilah sama kakak SMA itu tadi, ngucapin makasih karena~ um- mereka mau maafin kak Ve!"
"Apa?"
"Apa?"
Beby dan Shania refleks menyebutkan 'apa' secara berbarengan
"apanya?" kata Nabilah pada ekspresi yang di perlihatkan Shania dan Beby
"kamu tadi bilang kak Ve!?" tanya Beby, Nabilah mengangguk.
"maafin kak Ve!" giliran Shania buka suara
"ia! kak Jeje, kak Panda, kak Frieska sama kak Delima mau maafin kak Ve untuk semua yang pernah di lakukan kak Ve pada mereka" dengan polosnya dan tanpa beban akan perasaan Shania dan Beby, Nabilah bicara.
"kamu mau jadi penghianat Bil?"
"huh? Penghianat!? Maksud kak Shania?" Nabilah heran
"maksud Shania itu... kenapa kamu minta maaf untuk kak Ve, apa hubungannya sama kamu? Terus... apa yang tadi kamu bilang itu artinya kamu lagi bantuin kak Ve? Ia kan!?" Nabilah diam sejenak mencerna ucapan Beby, lalu dengan gerakan pelan Nabilah menganggukan kepalanya.
"hah (senyum sinis) ck, ck, ck... Nabilah, Nabilah~ ngapain kamu meminta maaf untuk orang kayak kak Ve!" dengan sangat sinis Shania bicara (sepertinya apa yang dulu Ve lakukan pada Shania sangat keterlaluan hingga membuat Shania sebegitu skeptis nya saat mendengar nama Ve, apalagi adanya bantuan untuk Ve) "apa hubungannya sama kamu? Emang dia itu siapa nya kamu?"
Ve terlihat sedih, sakit, menyesal ketika mendengar ke sinis san Beby dan juga Shania <- dia yang lebih SINIS
"kamu masih kesal sama Nichan?" tanya Ve akhirnya.
Nabilh tidak menjawab hanya mendelik, dia memang masih kesal dengan tingkah Nisa yang mengatainya Bodoh belum lagi kata terakhir nya tadi yang bilang kalau dirinya Aneh. "(Ve menghela nafas) kalau kamu masih kesal, ya udah kak Ve gak akan maksa kamu!" dengan nada rendah Ve bicara "mungkin~ ini udah jadi takdirnya kakak, gak bisa dapetin kesempatan kedua untuk memperbaiki kehidupan kakak!" masih dengan rendahnya Ve bicara, Nabilah masih belum bereaksi "makasih ya Bil, kamu udah mau dengerin semua keluhan kak Ve!" Ve tertunduk lemas, Nabilah dan Ve saling diam. Tak lama Nabilah pun bicara
"jangan ngucapin makasih sekarang!" Ve terbelalak mendengar ucapan Nabilah yang masih belum melakukan kontak mata dengannya "Nabilah belum ngelakuin apapun kak, malah... Nabilah hampir ngerusak semuanya!!" Nabilah mengalihkan pandangannya pada Ve yang sudah lebih dulu melihatnya "maafin Nabilah ya kak, Nabilah akan ulang lagi scene yang tadi pagi. Tapi dengan cara yang lebih lembut!!" tutur Nabilah membuat Ve terharu "Nabilah..."
"Nabilah tahu kak, tindakan Nabilah tadi itu~ emang terlalu over reacted. Gak harusnya Nabilah malah jadi adu mulut sama kak Nisa, toh pas Nabilah pikirin ulang itu emang salahnya Nabilah kak! hehe" Nabilah bicara penuh penghayatan, Ve menyimak dengan sangat senang karena tadi Ve sempat berpikir kalau Nabilah tidak mau membantunya lagi.
"harusnya Nabilah engga halangin jalan nya mereka, harusnya Nabilah langsung bicara saat itu bukan malah cuma berdiri dan bikin mereka risih... Hmm Nabilah masih bingung kak, harus bicara apa sama mereka!!" Nabilah menjelaskan
"Kak Ve tahu Nabilah, apa yang akan kamu lakukan untuk kakak itu pasti akan sulit... Kamu gak harus minta maaf, karena kakak yang harusnya minta maaf dan harusnya kakak ngucapin makasih sama kamu yang udah mau dibuat susah sama kakak!"
Nabilah mengulaskan senyumnya "ya udah~ yuk kita jalan lagi..!!" ucap Nabilah yang kini penuh semangat, Ve menyambutnya dengan senyum bahagia.
Mereka pun berjalan dengan sambil bicara membahas kalau misi minta maafnya akan Nabilah ulang pas istirahat nanti, tapi ganti target karena kalau memaksakan menemui Ghaida dan Nisa, Nabilah takutnya mereka masih kesal pada dirinya.
Sampai di kelas, Ayana dan Gaby sudah duduk manis menunggu Nabilah.
"pagi~" sapa Nabilah, dia duduk dan menyimpan tasnya tapi belum dengar sapaan balik, baik dari Ayana maupun Gaby "kalian berdua kenapa sih?" Nabilah kini bertanya heran karena Ayana dan Gaby melihatnya dengan tatapan 'aneh'
"kamu tadi... abis berantem sama anak SMA? Bil!" tanya Gaby, Nabilah merapatkan alis matanya 'berantem? Dipikir aku abis baku hantam apa?' bisik Nabilah. lalu bersikap biasa lagi dengan diikuti desahan dan di akhiri jawaban "(haaah) aku heran~ Gosip di sekolah ini cepet banget nyebarnya!" Nabilah melihat Ayana dan Gaby "kalian tahu dari mana berita itu?" kemudian Nabilah bertanya
"dari temen-temen yang berseliweran!" jawab Ayana diikuti anggukan Gaby
"Ayana Shahab! Ih! Kamu tu ya, seneng banget nangkep kabar yang berseliweran di gedung ini!!" Nabilah diam sejenak "eh denger ya? Aku itu gak berantem sama anak SMA! Tadi itu cuma salah paham aja!! Udah ah jangan bahas berita yang dapetnya dari seliweran! Kalo mau bahas berita yang dari selebaran aja, jangan dari seliweran" Ve yang dari tadi menyimak kini sedang tertawa dengan jawaban dari Nabilah untuk ke2 sahabatnya.
"emangnya kamu ngapain Bil, kok bisa sampai salah paham sama kakak di gedung SMA?" Gaby melemparkan pertanyaan yang membuat Nabilah menelan ludahnya sendiri
"um itu~ aku.-" *Belllllllllllll MASUK* "ah, udah bell masuk" kata Nabilah seperti ada yang menyelamatkan "tuh, tuh~ bu Aryani udah dateng tuh!" kemudian Nabilah menunjuk ke arah luar kelas. Gaby tidak bisa berbuat apapun kecuali diam, karena guru mereka sudah datang dan siap memulai pelajaran.
Waktu istirahat datang, sebenarnya Nabilah masih ingin berada di kelas selama mungkin (padahal biasanya Nabilah ingin cepat mendengar bell istirahat) dan membiarkan waktu berjalan LAMBAT karena dia masih merasa deg-deggan tidak karuan kalau mengingat adanya misi yang harus dia kerjakan.
Nabilah memutar pikirannya untuk mencari alasan pada Ayana dan Gaby agar dia bisa keluar, setelah dapat Nabilah berdiri dari tempat duduknya
"mau kemana Bil?" tanya Ayana, sesuai yang sudah di prediksi Nabilah kalau ke2 sahabatnya ini akan bertanya
"em~ aku mau ke ruang guru!" jawab Nabilah dengan ekspresi seee-biasa mungkin agar tidak ketahuan bohongnya, Ayana dan Gaby mengerung
"ruang guru? Tumben!" kata Gaby
"tadi bu Ariani nyuruh aku untuk ke ruang guru kalo udah istirahat! Katanya ada yang mau di bicarain!"
"Kapan bu Ariani nyuruh kamu Bil? Perasaan tadi aku gak lihat kamu sama bu Ariani bicara deh?!" Ayana menerawang (si Ayana KEPO)
"tadi bu Ariani bilangnya pas aku ke depan nyerahin buku PR kita!!" kata Nabilah, Gaby dan Ayana bilang Oohh~ setelah mengingat kejadian tadi pagi saat Nabilah maju kedepan mengumpulkan buku tugas teman-teman sekelas
"aku kesana dulu yah!" Nabilah mengucapkan permisinya, Ve tersenyum jahil pada Nabilah yang pintar mencari alasan, Nabilah mendelik pada si arwah dengan dari wajahnya tersirat kata 'apa?'.
Nabilah berhasil keluar, dia berjalan menuju lapangan basket untuk menghampiri targetnya (target Ve maksudnya)
"itu tuh... Jeje, Panda, Delima sama Frieska!" Ve menunjukan ke salah satu sudut dimana ada 4orang sedang duduk menikmati makanannya
"hmm~ yang tiga itu.." tunjuk Nabilah pada Jeje, Panda dan Delima "kayaknya bakal rada susah kak!" Ve melihat Nabilah "diliat dari wajahnya, mereka kayaknya bakal susah deh ngasih maaf!!" Nabilah terdengar hopeless "mana wajahnya keliatan pada nyolot semua lagi! Salut aku sama kak Ve, bisa nge Bully mereka!!"
"hem! Ngeledek?"
"gak ngeledek kak, kenyataan itu!!"
Ve hanya bisa mendelik Nabilah
"ya udahlah terserah kamu, yang penting sekarang kita samperin mereka!" Nabilah mengangguk lalu berjalan mendekati Jeje, Panda, Frieska dan Delima.
"Hai~ Selamat siang" dengan susah payah Nabilah mengucapkan kata itu, Jeje melihat ke arah kanan, kiri dan belakangnya
"ke kita?" tanya Jeje pada Nabilah yang berdiri di hadapannya, Frieska, Delima dan Panda.
Nabilah mengangguk "i-ia kak, aku ngucapin salam ke kakak semua!" Ve membisikan kata-katanya "ayo Bil, waktu nih!" Nabilah melakukan gerakan kecil pada tangan atas sebelah kanannya sambil mendelik Ve
"emang ada apa kamu nyapa kita?" tanya murid yang memiliki pipi bolong (lesung pipi; Delima)
"um~ anu... itu- aku mau...." lidah Nabilah terasa begitu kelu, ke4 murid SMA itu menatap Nabilah heran.
Gimana mereka gak heran, anak SMP berdiri di hadapan mereka dengan ucapan terbata gak tahu apa maksud sebenarnya dan gak tahu mau ngapain.
"Aduh~ Nabilah ayolahhh!" Ve membisikan itu di sebelah Nabilah
"hemm, Nabilah Ratna AZ.." ucap murid yang terlihat sedikit berisi (Panda) menyebutkan nama Nabilah yang terpampang di baju seragam sebelah kanannya "apa yang mau kamu sampaikan sama kita?" tanya Panda kemudian
"lu kenal sama anak ini, Panda?" tanya Jeje, Panda menggeleng sambil menunjuk papan nama Nabilah. Jeje hanya mengucapkan Oh dengan tangannya kembali menopang dagu
"ini~ aku mau... mmm~ Aku..Aku mau ngucapin maaf atasnamakakveyangudahpernahbik
"ni anak ngomong apa sih?" ujar Jeje, mereka ber4 tidak bisa menangkap dengan jelas ucapan Nabilah yang tanpa pembatas dan terdengar bla-ble-blo di tengah pengucapan huruf R nya yang ngambang
"eh dek, bicaranya kalem aja! Kita semua dengerin kok! Ia kan teman-teman?" ucap si murid yang terlihat santai (Frieska) dan di amini oleh ke3 lainnya dengan anggukan.
Ingin sekali Ve memasuki tubuh Nabilah agar dia bisa menyampaikan maafnya secara langsung, tapi apa daya... hal itu sangat mustahil untuk di lakukan. Nabilah melihat sekilas ke arah Ve yang menundukan kepalanya, dia lalu mengumpulkan keberaniannya dan memulai kembali ucapannya dengan sebelumnya menarik nafas dalam-dalam
"(hemmmmmhah!) jadi gini kak~ maksud Nabilah nyamperin kakak semuanya adalah untuk.... untuk menyampaikan permintaan maaf!"
"Maaf? Maksudnya" tanya Delima heran
"ia maaf, sebuah permintaan maaf dari kak Ve!"
saat mendengar nama Ve di sebutkan, refleks ke3 nya kaget lalu mengerutkan dahinya. Ve melihat Nabilah lalu melihat Jeje, Panda, Delima dan Frieska. "aku Nabilah, ingin menyampaikan permintaan maaf dari kak Ve untuk kak Jeje, kak Panda, kak Delima dan juga kak Frieska.. Kak Ve minta maaf atas apa yang sudah dia lakukan pada kakak semua" Jeje, Panda, Delima, Frieska belum ada yang bereaksi "kak Ve harap, kalian mau ngasih maaf kalian untuk dia. Dan memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, kak Ve ju,-"
"Haaah! Stop, Stop, Stop,~ kamu sebenarnya ngomong apa sih dek! Hah?" Jeje yang pertama kali menanggapi Nabilah dengan menyetop ucapannya "kamu bilang Ve mau kita maafin dia?" lanjut Jeje. Nabilah mengangguk dengan polosnya, Ve masih memperhatikan
"Ve? Jessica Veranda?!" sambung Panda bertanya, Nabilah pun kembali mengangguk lalu mengeluarkan suaranya lagi
"ia, Ve! Kak Ve, Jessica Veranda murid SMA PUTRI JAKARTA kelas XI A 4!" kata Nabilah seolah tahu kalau Jeje dan Panda sedang meragukan ucapannya "anak dari pemilik yayasan yang menaungi Sekolah kita, murid yang terkenal di seantero Sekolah sebagai Queen Witch! Masih kurang jelas kak?" Nabilah balik bertanya,
kini Jeje, Panda, Delima dan Frieska menatap Nabilah dengan wajahnya di selimuti keheranan
"terus? Maksud kamu Ve mau minta maaf itu apa? Ve kan lagi koma, gimana mungkin dia bisa bilang sama kamu untuk minta maaf dan.. lagian, kamu itu siapanya Ve? Sampai tahu kalau Ve mau minta maaf sama kita?" Delima menganalisa dengan di ia kan oleh Jeje dan Panda "Sahabat-sahabatnya aja, gak pernah ada yang datang sama kita buat ngucapin maaf ATAS NAMA Ve!" Delima menekankan Atas Nama nya karena tadi Nabilah bilangya mengucapkan maaf atas nama Ve, yang Delima anggap kalo Nabilah pernah ngobrol baru-baru ini dengan Ve.
'aduhh, gimana jawabnya nih?' wajah Nabilah terlihat sangat bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, Ve bisa melihat wajah Nabilah "kamu bilang aja, kamu adik sepupu aku! Dan kamu nemuin surat di kamar aku!!" dia lalu bicara untuk memberikan bantuan pada Nabilah "em, no sense kak! (gak masuk akal)" bisik Nabilah sambil mengusap alis mata kirinya agar saat dia berbisik pada Ve, ke4 murid SMA yang sedang melihatnya tidak melihat tingkahnya itu.
"kamu ngomong apa? Kita gak denger!" kata Jeje menembak Nabilah dengan pertanyaan
"ah, em~ itu~ anu- aku.. Aku mau bilang, kalau aku itu.. adik sepupunya kak Ve!" jawab Nabila dengan senyum tak karuan "katanya No sense!" goda Ve pada Nabilah, Nabilah menekuk wajahnya melirik sekilas Ve.
"adik sepupu?" tanya Panda dan Jeje berbarengan, Nabilah mengangguk "Ve punya adik sepupu yang satu sekolah?" Nabilah kembali mengangguk
"hmm~ kalau kamu emang adik sepupunya Ve, terus kenapa selama ini kita gak pernah liat kamu ada di dekat Ve atau kamu tegur sapa sama Ve!" giliran Frieska yang menganalisa
'Heran sama murid-murid di sekolah ini, kayanya tahu banget soal kak Ve!' kata Nabilah dalam pikirannya
"ehhh~ di tanya diem lagi!" ujar Delima.
"um~ ya... aku emang gak begitu deket sama kak Ve, meskipun aku adik sepupunya!" Nabilah mulai menjelaskan dan di tonton oleh 4targetnya. "lagian, kaya yang kalian tahu... kak Ve kan orangnya........... jadi ya, aku sih cuma bisa ngeliat aja!" lanjut Nabilah dengan tidak menyebutkan part dimana Ve itu orangnya MENYEBALKAN, MENGESALKAN, MENJENGKELKAN, DAN MEMBUAT HAMPIR SEMUA MURID MEMBENCI DIA (capslock jebol) pokonya hal-hal yang tidak baik dari sisi seorang Veranda.
"aku tahu kalau kak Ve mengalami kecelakaan dan bahkan sekarang dia koma, jadi ya... aku sama keluarga aku ngejenguk dia ke rumah sakit, dan~ kemarin aku main ke rumahnya kak Ve sama papa mama aku.. Terus,,-" Nabilah berhenti sejenak untuk mencari kata yang pas dalam misi meminta maaf ini, Nabilah sebenarnya tidak mau membohongi mereka karena yang dia tahu ini adalah misi meminta maaf. Jadi kalau Nabilah membohongi mereka lantas untuk apa permintaan maaf itu? "aku masuk ke kamarnya, aku ngeliat buku diary nya kak Ve dan.... ya gitulah (membaca diary Ve maksudnya, ke4 target mengerti tanpa harus di ucapkan secara nyata oleh Nabilah), sampai aku punya analisa sendiri soal koma nya kak Ve!"
"maksudnya?" Panda mengintrupsi saat mendengar Nabilah mengucapkan analisa soal komanya Ve.
"ia~ aku pikir.. kak Ve koma itu karena mungkin banyaknya yang benci sama dia dan... pasti banyak juga doa yang gak baik buat kak Ve yang secara sadar ataupun enggak pernah keluar dari mulut mereka ataupun yang mereka pendam di hati!~ Bukankah ucapan itu doa, terus kan Tuhan bilang 'sekecil atau sebesar apapun suara kita saat berdoa Tuhan akan tetap mendengarkan dan akan mengabulkannya' ia kan?" Jeje, Panda, Delima dan Frieska terhenyak dengan ucapan si anak SMP yang terdengar sangat dewasa. Ve tak kalah terhenyak mendengar ucapan Nabilah "jadinya ya, sekarang kak Ve ada di batas antara hidup dan mati! Kalau kata orang-orang sih (Nabilah menerawang) Hidup segan matipun enggan!! Itu yang Nabilah pikir tentang koma nya kak Ve!" panjang lebar Nabilah menjelaskan.
Ve merasa terharu dan juga merasa mendapat tamparan dari kata-kata Nabilah.
Karena Jeje, Panda, Delima ataupun Frieska tidak ada yang merespon, Nabilah pikir kalau alasan yang dia buat tidak bisa melunturkan ketidak sukaan mereka pada Ve dan mungkin juga mereka tidak akan memaafkan Ve.
(Jeje, Panda, Delima dan Frieska sedang melamun, menerawang ke masa dimana mereka pernah di kerjai Ve dan juga mereka mengakui dalam hati kalau ucapan Nabilah itu benar *mereka mengucapkan hal yang tidak seharusnya untuk Ve*)
Nabilah masih menunduk dan Ve masih dengan wajah pucat dan guratan harap-harap cemasnya menunggu ke4 nya bereaksi.
sudah hampir 4menit mereka mendiamkan Nabilah (dan Ve juga) "haaah~ kayaknya mereka gak akan maafin kakak, Bil!"
Nabilah melihat ke arah Ve
"jangan putus harapan dong kak!" bisik Nabilah.
Seperti menanti keputusan pengadilan Nabilah memainkan kedua tangannya begitu terlihat tidak tenang, sampai Nabilah berpikir kalau dia harus mengeluarkan suaranya untuk membuat ke4 orang yang ada di hadapannya ini merespon
"Ehem, hem~hem! Ehem~" Nabilah mendehem, meskipun itu ide yang konyol tapi ternyata berhasil. Jeje, Panda, Delima dan Frieska kembali dari alam bawah sadarnya "jadi gimana kak? Kakak-kakak semua... mau? Maafin kakak sepupu aku? Kak Ve!" ucap Nabilah setelah melihat mereka ber4 sepertinya sudah bisa menguasi diri (Ve mengangguk-anggukan kepalanya, berharap kalau mereka ber4 mau memaafkannya).
Jeje menghela nafas sebelum dia mengutarakan jawabannya "kalau gue pribadi.." Jeje berhenti dulu "ya~ gue akuin gue emang kesel sama tingkah lakunya Ve yang suka seenaknya, gak bisa nyaring omongannya, yaaa pokoknya Bad lah Ve buat gue!" Nabilah dan Ve menyimak "dan gue juga mengakui apa yang kamu katakan (menunjuk Nabilah) itu emang bener, gue waktu denger kalau Ve kecelakaan.. Jujur gue seneng banget waktu itu dan ngerasa puaslah karena ternyata Tuhan emang gak tidur, Dia tahu mana yang benar dan mana yang salah!" Ve mengerungkan wajahnya, sepertinya dia sedang flasback ke masa di mana dia sedang bertingkah seenaknya pada Jeje (ngumpetin kaos team nya Jeje pas waktu mau pertandingan Final kompetisi basket, menghina Jeje dengan membawa-bawa kondisi ekonomi keluarga Jeje dengan begitu kasar dan tidak ber prikemanusiaan) "tapi setelah beberapa hari ini mendengar kondisi Ve yang tidak kunjung membaik, kayaknya gue gak tega juga~ dan..." Jeje melihat Nabilah, Nabilah hanya bisa mengedip-ngedipakan matanya saat di bidik Jeje "kalau apa yang kamu katakan tentang analisis kamu itu benar... Gue mau maafin Ve" Ve bisa tersenyum senang tapi tidak dengan Nabilah dia malah mengerung dan berpikir kalau maafnya Jeje itu gak tulus karena dia (Jeje) mau maafin Ve atas analisis yang di berikan Nabilah bukan karena dia memang mau maafin tingkah menyebalkannya Ve
"kak Jeje gak tulus dong maafin kak Ve?" ~ "maksud kamu?" ~ "ia, kakak mau maafin kak Ve karena analisis aku, kalau kak Ve sedang di ambang hidup dan mati dan kalau kakak semua gak maafin kak Ve maka dia akan benar-benar meninggal! Itu kan yang jadi alasan maunya kak Jeje maafin ka Ve?" si arwah mengangguk menyetujui perkataan Nabilah. Sementara Jejenya sendiri malah tersenyum "Ve, Ve.. dia beruntung bisa punya adik sepupu setulus kamu" Nabilah heran, Jeje berdiri dan memegangi lengan atasnya Nabilah "dengerin ya Nabilah, aku Jeje. Jessica Vania.. mau maafin Ve bukan semata karena mendengar analisis dari kamu tapi karena aku emang dengan setulus hati mau maafin Ve, dan aku harap saat dia bangun nanti dia bisa merubah semua tabiat jeleknya!!" Nabilah tersenyum sedikit "karena aku yakin, apa yang di lakukan Ve pasti ada alasannya! Ia kan?" Nabilah mengangguk, Panda, Delima dan Frieska ikut berdiri dan menghadap Nabilah "aku juga~ aku setuju dengan yang Jeje katakan, dan aku maafin Ve" kata Frieska sambil tersenyum, di susul oleh Delima "Aku juga~ aku maafin Ve" kemudian terakhir Panda "dan aku juga~ Ve emang suka keterlaluan sama murid-murid disini termasuk aku, tapi aku gak mau nyimpan dendam sama dia, karena apa yang dibilang Jeje itu benar, Ve pasti punya alasan untuk kecongkakannya bukan karena dia memang sifatnya seperti itu... aku maafin Ve, semoga dia cepat sembuh ya!" Panda menutupnya dengan memberikan semangat pada Nabilah (karena mereka tahu nya Nabilah itu adik sepupu nya Ve dan Panda yakin Nabilah pasti merasa sedih melihat kondisi kakak sepupunya seperti sekarang ini).
Nabilah tersenyum bahagia dengan sambutan dari Jeje, Panda, Frieska dan Delima, pun dengan Ve yang tak kalah bahagia mendengar setiap ucapan yang terlantun dari bibir mereka yang pernah dia sakiti.
'hal bodoh apa yang sudah aku lakukan dulu Tuhan!? Kenapa aku gak sadar kalau mereka itu terlalu baik untuk aku sakitin!!' Ve menyesali perbuatanya (Penyesalan memang tidak pernah datang di awal cerita).
"makasih ya kak, udah mau maafin kak Ve!"
Nabilah membungkukan badannya, di sambut anggukan dari Jeje, Panda, Delima dan Frieska.
Tidak jauh dari tempat Nabilah kumpul dengan Jeje, Panda, Delima dan Frieska. Ada 2orang murid SMP yang sedang melihatnya
"itu~ itu bukannya Nabilah?" ucap salah seorang yang memilik rambut menjuntai hampir menutupi punggungnya,
"ia, itu Nabilah! Tapi~ dia ngapain nunduk-nunduk gitu di depan anak SMA!?" sambut yang lainnya sambil bertanya.
"apa mungkin Nabilah lagi di..." ~ "Bully!" keduanya mengucapkan kata itu berbarengan sambil saling melempar pandangan satu sama lain.
"hooaa! sugoii, kita baru aja dapat 4 nama kak!! Liat nih hasilnya" Nabilah memperlihatkan kedua telapak tangannya "keringat cuyyy! hah! Adrenaline nya itu~ beuhhh, lebih-lebih pas di kasih tugas presentasi depan kelas!!!" Ve tersenyum dengan ucapan Nabilah, mereka berdua terus berjalan menuju kelas.
"makasih ya Bil, kak Ve gak tahu harus ngucapin makasih dengan cara apa sama kamu!! Baru 4 nama aja, kak Ve udah seneng banget!! Hem~ kak Ve yakin dengan ketulusan kamu, murid-murid di sekolah ini... pasti mau maafin kakak!"
"dengan ketulusan aku dan kebenaran kakak yang mau berubah! Itu yang akan membuat semuanya lancar gak ada lagi topeng, gak ada lagi penyamaran dari kak Ve yang pura-pura baik terus kembali nyakitin oang lain! Ok?! " Nabilah mengedipkan mata kanannya, dia sudah antisipasi saat berbicara dengan Ve, tidak ada siapapun tidak ada seorangpun yang memperhatikan Nabilah meski dia sedang berjalan menuju kelasnya (padahal ada 2orang yang kini sedang berjalan kearahnya, dan mungkin sempat melihat Nabilah berkomat-kamit).
"Nabilah~" kedua orang yang tadi melihat Nabilah dari jauh memanggil Nabilah dan berjalan menghampirinya, Ve ikut melihat kedatangan ke2 murid itu lalu bicara pada Nabilah
"mereka manggil kamu? Wahh, kebetulan banget tuh!"
"kebetulan? Apanya?"
"ya merekanya!"
"merekanya? aduh kak Ve, ngomongnya yang jelas napa!"
"aduhh Nabilah, yang manggil kamu itu kan Beby sama Shania!"
"haaaa, terus?"
"itu artinya mereka berdua.. ada di list kita!!"
"huh? Kita? Kak Ve aja, ihh!!" jawab Nabilah dengan gimik bercanda.
"-_bzzz, ia~ ia- list kak Ve! Hah~" Nabilah tersenyum jahil. Shania dan Beby tinggal beberapa inchi lagi pada Nabilah, dan sebelum mereka benar-benar ada di depan Nabilah. Nabilah mengeluarkan pernyataan pada Ve "awas ya kak Ve, kalau nanti Nabilah lagi bicara sama mereka! Kak Ve jangan bikin Nabilah keliatan kayak orang............" Ve tersenyum pada Nabilah, lalu mengangkat kedua jempolnya dengan diikuti senyum 2 jari pertanda mengerti dengan yang di ucapkan si cerewet meskipun tidak di ucapkan semunya.
Shania dan Beby pun sampai di depan Nabilah,
"kak Shania~ kak Beby~!" ucap Nabilah
"Hai, Bil!" sapa Shania lalu Beby, nabilah memberikan senyumnya untuk membalas sapaan.
"ada apa kak? manggil Nabilah!" tanya Nabilah to the point
"em~ itu... kita mau tanya!" kata Shania "tadi kakak sama kak Beby lihat kamu bareng sama anak SMA, terus kita lihat kamu membungkuk! Itu untuk apa? Kenapa kamu ngelakuin itu?!" lanjut Shania, Beby hanya mengangguk meng ia kan setiap ucapan Shania.
Mereka berdua itu kakak kelas plus anggota Osis di SMP, mereka kenal pada Nabilah karena Nabilah juga anggota Osis. Meskipun tidak dekat, tapi Shania dan Beby yang sebagai kakak kelas ingin memperlihatkan kalau mereka perduli dengan teman-teman di gedung SMP, jika teman atau adik kelas mereka ada yang di kerjai oleh anak SMA maka mereka dan anggota Osis lainnya akan mengambil tindakan untuk melaporkan kejadian itu pada pihak sekolah.
"oh! Itu... um~ gak ada apa-apaan kok kak!" jawab Nabilah dengan santainya
"kamu yakin gak ada apa-apa? Kok kayaknya tadi serius banget, kamu gak lagi di Bully kan?!" kembali Shania bertanya
"Shania segitu sinisnya ngebahas anak SMA!?"
bisik Ve pada Nabilah
"itu kan gara-gara kakak juga" gumam Nabilah
"apa Bil? Kamu ngomong apa barusan?" giliran Beby yang bertanya karena melihat Nabilah seperti sedang bicara *padahal emang lagi bicara*
"iya! hehe~ gak kok kak, aku gak bicara! em, masalah aku tadi bungkuk sama murid SMA itu... soalnya aku lagi, aku lagi" Nabilah sepertinya bersiap melancarkan misi minta maafnya "aku lagi ngucapin makasih~ ia makasih... itu bener! Hehe, makasih" lanjut Nabilah ternyata tidak langsung minta maaf.
*WARNING: Sisa waktu 2menit tan menuju bell masuk istirahat*
Shania dan Beby saling melempar pandangan dengan jawaban yang di utarakan Nabilah
"emmm~ kak, Nabilah boleh bicara sesuatu gak?" tanya Nabilah memisahkan tatapan Shania dan Beby
"bicara aja!" ucap Beby yang menanggapi pertama.
"sebenarnya... Nabilah sama kakak SMA itu tadi, ngucapin makasih karena~ um- mereka mau maafin kak Ve!"
"Apa?"
"Apa?"
Beby dan Shania refleks menyebutkan 'apa' secara berbarengan
"apanya?" kata Nabilah pada ekspresi yang di perlihatkan Shania dan Beby
"kamu tadi bilang kak Ve!?" tanya Beby, Nabilah mengangguk.
"maafin kak Ve!" giliran Shania buka suara
"ia! kak Jeje, kak Panda, kak Frieska sama kak Delima mau maafin kak Ve untuk semua yang pernah di lakukan kak Ve pada mereka" dengan polosnya dan tanpa beban akan perasaan Shania dan Beby, Nabilah bicara.
"kamu mau jadi penghianat Bil?"
"huh? Penghianat!? Maksud kak Shania?" Nabilah heran
"maksud Shania itu... kenapa kamu minta maaf untuk kak Ve, apa hubungannya sama kamu? Terus... apa yang tadi kamu bilang itu artinya kamu lagi bantuin kak Ve? Ia kan!?" Nabilah diam sejenak mencerna ucapan Beby, lalu dengan gerakan pelan Nabilah menganggukan kepalanya.
"hah (senyum sinis) ck, ck, ck... Nabilah, Nabilah~ ngapain kamu meminta maaf untuk orang kayak kak Ve!" dengan sangat sinis Shania bicara (sepertinya apa yang dulu Ve lakukan pada Shania sangat keterlaluan hingga membuat Shania sebegitu skeptis nya saat mendengar nama Ve, apalagi adanya bantuan untuk Ve) "apa hubungannya sama kamu? Emang dia itu siapa nya kamu?"
Ve terlihat sedih, sakit, menyesal ketika mendengar ke sinis san Beby dan juga Shania <- dia yang lebih SINIS
"kak
Shania kok ngomongnya gitu? Kan bantuin orang lain gak ada salahnya
kak!" ujar Nabilah (dia bisa menyatu sama Ve dan merasa jadi part nya
Ve, meskipun dia tahu kisah bully an nya Ve pada Shania dulu)
"gitu gimana? Apa yang aku ucapkan barusan gak ada yang salah kok! Nolongin orang juga emang gak salah, bener banget malah.. tapi,," Shania berhenti sejenak "ya liat-liat dulu lah orang yang mau di tolongnya!" Beby hanya menyimak ucapan Shania; Nabilah mengerutkan keningnya; Ve merasa sangat amat bersalah "kalo orang nya kaya kak Ve sih, dia mana pantas buat dapetin pertolongan! Dia aja dulu... boro-boro mau nolongin yang ada malah jahatin! dan bukan cuma aku atau Beby, kayaknya udah banyak murid di sekolah ini yang merasakan sakit hati sama tingkahnya!!" Ve menggigit bibir bawahnya saat mendengar ucapan Shania.
"hemp! Aku setuju sama Shania, kak Ve itu.. gak pantes dapetin pertolongan kayak apapun!! Kamu udah lupa apa Nabilah, waktu dulu gimana kak Ve bikin Shania malu di depan hampir semua murid?!" Beby bicara mengingatkan pada kejadian beberapa minggu lalu saat Ve dengan congkak nya menjatuhkan Shania di depan teman-temannya di lapangan basket
*Flash Back*
"Shania Junianatha! Hah (senyum sinis kek di sinetron-sinetron), Hheeem.. gue heran? kenapa kepala sekolah masih ngijinin lu buat sekolah disini!"
puluhan murid sudah berbaur (SMP, SMA) melihat Ve dan 3teman lainnya sedang menghakimi Shania (BULLY) di lapangan basket
"Apa kata orang-orang diluaran sana tentang sekolah kita... PUTRI JAKARTA international school masih memberikan tempat untuk seorang anak KO..RUP..TOR! sekolah disini!! ck, bisa anjlok nama sekolah kita!! ia kan?" 3teman Ve mengangguk dan murid lainnya, tidak meng ia kan juga tidak menolak perkataan Ve mereka hanya menonton. mata Shania terlihat merah menahan tangis saat itu, dia tidak berkutik dengan yang di ucapkan Ve.
Ayahnya Shania masuk dalam berita-berita baik di media elektronik maupun media cetak, dia dikabarkan (baru di kabarkan ya!) menjadi salah satu dari 4 terduga (bukan tersangka) korupsi dalam kasus pembangunan wisma atlit.
"teman-teman, lihatlah.. hari ini ayahnya yang jadi koruptor ngambil uang yang bukan haknya, tapi besok-besok dimasa yang akan datang... bisa jadi Shania nya langsung yang menjadi koruptor saat dia sudah kerja!!" senyum sinis menghiasi wajahnya Ve, kali ini murid-murid yang menonton saling berbisik sambil mengangguk seolah menyetujui apa yang di katakan Ve; Shania melihat Ve dengan dari matanya begitu terpancar rasa benci
"eh, kak! Kalau ngomong tuh di saring dulu!! Ayahnya Shania itu bukan koruptor!!!" Beby yang sahabatnya Shania mencoba memberikan pembelaan
"heh! Anak kecil~ tahu dari mana kamu, kalau Ayahnya si Shania itu bukan KO..RUPTOR! hah?" 3teman Ve mengangguk-angguk (tu temen2 Ve gak bisa ngomong apa ya? ngangguk mulu perasaan_-) "kamu gak punya tv dirumah? Atau kamu gak pernah baca apa di media online? Jejaring sosial? Atau... koran lah koran, jangan yang berbau internet! Secara~ di rumah kamu pasti gak ada jaringan kan buat pasang internet! Hahaha" lanjut Ve dengan pongkahnya "di setiap media yang baru-baru ini~ seeeemuanya membahas tentang kasus korupsi wisma atlit dan Natha Prasetyo itu jadi salah satu di antara 4 orang yang sedang menjalani pemeriksaan!! Kamu kan sahabatnya, kamu pasti tahu dong siapa Natha Prasetyo (ayahnya Shania)"
Beby memasang tampang benci melihat Ve
"dan kamu~ apa kamu gak bisa baca atau denger tuh berita yang di tulis ataupun di ucapkan, antara menjalani PEMERIKSAAN dan sudah jadi TERSANGKA kayak yang tadi kamu koar-koar itu BEDA, ya!!" Beby kesal dengan tingkah Ve sampai dia tidak menggunakan 'Kakak' saat bicara dengan Ve yang adalah seniornya; Dan Shania... dia hanya menunduk sambil menangis.
"itu emang beda, Beby Chaesara" Ve melihat bet nama Beby "tapi... sekali lagi aku tanya sama kamu, apa kamu gak pernah nonton?!! kalau kasus korupsi itu... yang menjalani pemeriksaan ujung-ujungnya sudah pasti akan menjadi tersangka! which is, ayah dari orang yang ada di sebelah kamu itu sudah pasti adalah ter...sang..ka!! Hahaha" Beby mengepalkan tangannya mendengar ucapan kasar Ve untuk Shania, belum Beby bicara menanggapi kata-kata Ve. Shania keburu lari untuk pergi dari lapangan basket karena dia tidak tahan dengan apa yang di ucapkan Ve.
"EeHHh! denger ya!!Suatu saat nanti, semuanya akan terbukti!!! Ayahnya Shania bukan Koruptor, dan kamu... pasti akan dapat balasan setimpal atas apa yang sudah sering kamu lakuin sama murid-murid di sekolah ini, dan juga Shania!!!" ucap Beby dengan di akhir kalimat seperti mendoakan Ve. Lalu Beby pun pergi dari lapangan untuk mengejar Shania, Ve dan 3teman nya tertawa puas, murid-murid lain pun bubar.
Setelah kejadian hari itu, Shania selalu di pandang rendah oleh murid-murid yang ada di gedung SMP dan saat bertemu dengan murid SMA dia pasti mendengar kata-kata yang tidak enak masuk ke gendang telinganya tentang ayahnya. Meskipun begitu, anggota Osis baik di SMP maupun SMA tidak ada yang menghakimi Shania mereka tetap mengikut sertakan Shania dan respect dengan gadis tinggi yang memiliki lesung di dekat bibirnya saat dia tersenyum. Ayahnya masih menjalani serangkaian pemeriksaan terkait kasus itu (Masih Saksi katanya).
satu minggu Shania merasakan asing nya berada di sekolah sampai akhirnya KPK menetapkan kalau Natha Prasetyo bukanlah tersangka untuk kasus suap wisma atlit (lama bener kerjanya tu KPK_-).
*Selesai ah Flasbacknya*
Nabilah ingat dengan kejadian itu, karena dia pun melihat dan mendengar bagaimana waktu itu Ve bicara dengan seenaknya. Ve hampir tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang pernah dia perbuat pada adik kelasnya itu wajahnya terlihat sangat penuh dengan penyesalan.
"Nabilah tahu kak, Nabilah tahu banget soal itu~ tapi.. kak Ve kan pasti punya alasan kenapa dia dulu bersikap menyebalkan dan menjatuhkan orang lain dengan seenaknya!!" Nabilah masih ingat dengan cerita Ve saat main ke rumahnya Ve.
"Alasan? alasan apa sih Bil? Yang pasti si kak Ve itu, ngelakuin semua kesewenangannya sama murid-murid disini! Itu untuk kesenangannya, karena dia anak dari pemilik yayasan, jadi dia dengan bangganya membuat murid lain terlihat sangat rendah di depan dia" jelas Beby
"apa... itu artinya kalau Nabilah mau meninta maaf sama kak Shania dan juga kak Beby atas nama kak Ve kalian gak akan maafin?" Nabilah bertanya
"denger ya Bil, aku gak akan pernah lupain hari itu.. saat kak Ve dengan enaknya bilang aku itu anak koruptor dan ayah ku seorang koruptor dan~ ah udahlah, intinya aku.. gak akan mau maafin DIA!!" kata Shania dengan tegasnya, Beby mengangguk "biarin aja si kak Ve itu ngerasain balasan dari apa yang sudah dia perbuat!!" ujar Beby.
Nabila diam sejenak setelah mendengar ucapan Shania dan Beby, lalu "em~ Nabilah tahu pasti berat waktu itu ada di posisi kak Shania ataupun kak Beby saat kak Ve bertingkah seenaknya pada kalian, tapi Nabilah cuma mau bilang satu hal..." Nabilah diam sejenak melihat sekilas ke arah Ve "semua orang bisa berbuat kesalahan, entah itu kecil ataupun besar! Namun tidak semua orang yang dengan beraninya mau mengakui kesalahannya, menyesalinya dan meminta maaf untuk apa yang sudah di perbuat, bahkan saat dia sudah tidak berdaya dia akan terus berjuang untuk mendapatkan maaf itu! Karena dia tahu itu salah!!" Nabilah bicara begitu terdengar dewasa, Shania dan Beby melihat Nabilah dengan pikirannya mencerna ucapan Nabilah.
*bell masuk bunyi*
"oh ya kak, orang besar itu selalu mampu memaafkan kesalahan orang lain yang sudah di perbuat padanya. Mereka tidak pernah menyimpan dendam, karena untuk mereka dendam hanya membuat hati dan pikirannya tidak bisa bebas!! Dan akhirnya mereka tidak pernah maju!!!" Nabilah berhenti dengan ucapannya dan tersenyum manis "itu yang Nabilah baca di sebuah buku kak!" lalu Nabilah pamit pada keduanya untuk masuk kelas, tanpa menghiraukan reaksi Shania dan Beby karena dia sudah mendengar bell masuk. sementara itu, ke2 senior yang tadi begitu sinis hanya diam terpaku setelah mendengar ucapan-ucapan Nabilah yang notaben nya adalah adik kelas mereka, tapi begitu terdengar dewasa saat bicara barusan.
Ve melamun di sebelah Nabilah, dia tidak bicara ataupun merubah ekspresi sedihnya karena masih menyesali setiap tingkah lakunya yang sampai membuat semua orang sebegitu membencinya.
"udah~ mukanya jangan ditekuk gitu! Udah jelek karena pucat, di tambah nekuk... semakin jelek jadinya!!" kata Nabilah sambil berjalan, Ve melihat Nabilah lalu bicara
"kalau kesempatan itu bisa kakak dapetin (bangun dari komanya)" Ve berhenti "kak Ve bakal datengin setiap murid di sekolah ini Bil!" Nabilah hanya bisa menyimak "kakak bakal minta maaf langsung sama mereka dan kalau perlu... kakak akan sujud depan mereka semua, gimanapun dan apapun caranya agar mereka mau maafin kak Ve! Kakak akan lakuin itu!!" Nabilah tersenyum (edisi ini terdengar sedikit serius).
"dan kesempatan itu pasti akan kakak dapetin, karena kesempatan bukan datang tapi diciptakan kak!!" giliran Ve yang tersenyum "Nabilah akan bantuin kak Ve untuk menciptakan kesempatan itu..." mereka berdua saling melihat dengan senyum menghiasi wajahnya (padahal tadi Shania sama Beby tidak mau maafin Ve, tapi mereka bisa akrab dan seperti tanpa beban saat tidak menerima kata memaafkan)
~Pulang Sekolah~
Saat Nabilah akan keluar dari gerbang (Ayana dan Gaby belum pulang, mereka ikut ekskul dulu) dia melihat Ghaida dan Nisa dan... ada satu murid lagi yang berjalan di sebelah Nisa.
"itu kak Ghaida sama kak Nisa.." tunjuk Nabilah, Ve melihat lalu mengangguk sambil bicara "ada kak Diasta juga!" kata Ve
"kita bisa minta maaf dan ngembaliin cosplay nya sama mereka bertiga langsung kak?! Kalau tadi pagi kan cuma berdua!!" Ve mengangguk dan bilang 'emm!' Nabilah ditemani Ve menghampiri mereka.
"kak Ghaida~ kak Nisa~ kak Diasta~ selamat siang kak!" Nabilah membungkuk di depan mereka bertiga
"kamu laagi..." ucap Nisa menyambut sapaan Nabilah, tapi kali ini dengan kepala dingin Nabilah menanggapi tone menyebalkannya Nisa dengan senyum
"ada apa... Nabilah!" lalu Ghaida bicara sambil menyebutkan nama Nabilah (biasa dari bet nama yang di sebelah kanan)
"dia siapa Ghaida?" tanya Diasta yang bingung karena disapa anak SMP
"yang tadi saat di ruangan aku sama Nichan ceritain" Ghaida menjelaskan,
"yang bicara sendiri setelah adu mulut sama Nichan?" Diasta mencoba menegaskan, Ghaida dan Nisa mengangguk.
"Nabilah minta maaf untuk yang tadi pagi kak!" senyum Nabilah saat mendengar Diasta begitu gamblang mengucapkan kalimatnya
"dia lebih manis ya, daripada tadi pagi kak!" bisik Nisa pada Ghaida, melihat sikap Nabilah yang tidak nyolot atau sewot. Ve tersenyum mendengar bisikan Nisa pada Ghaida
"sebenarnya, Nabilah tadi pagi menghalangi jalannya kak Ghaida sama kak Nisa itu karena mau..." Nabilah menyodorkan tangan kanannya dengan sebuah big paper bag ada di genggamannya "ngasihin ini kak!" Ghaida dan Nisa saling bertukar pandang, Diasta ikut bingung "ini... barang milik kak Ghaida, kak Nisa sama kak Diasta juga!!" ke 3 nya mengangkat ke 2alis mata mereka kaget mendengar 'barang milik', Nisa mengambil paper bag nya dan membuka. Saat melihat isinya mulut Nisa menganga
"isinya apaan Nichan?" tanya Ghaida penasaran apalagi melihat ekspresi Nisa, Diasta tak kalah penasaran.
"Co...s...pl..ay.. Kak!" Nisa terbata karena tak percaya kalau costume play nya yang hilang 2minggu lalu ada di depan matanya. Ghaida segera mengambil paper bag dari Nisa dan mengeluarkan isinya "kamu dapat dari mana barang ini?" tanya Ghaida pada Nabilah; barang-barang sudah di tangan pemiliknya.
"mm- itu... itu Nabilah dapat dari... dari kak Ve, kak!"
Nisa, Ghaida dan Diasta terbelalak
"tuh kan kak Ghaida, kak Diasta.. apa Nichan bilang waktu itu! Emang bener kan yang ngambil costume kita itu kak Ve!!" kata Nisa mengingat kejadian 2minggu lalu.
"Nabilah dapat costume itu di rumah kak Ve, costume nya masih sama kok! Gak ada yang rusak atau cacat atau luntur!!" Nabilah menjelaskan
"kamu kenal sama Ve? Kamu siapanya dia?" Ghaida bertanya
"Nabilah~ Nabilah adik sepupunya kak Ve, kak!" kembali Nabilah menggunakan alasan adik sepupu "dan Nabilah ngembaliin cotume itu sama kakak-kakak, sekalian mau bilang..." Nabilah berhenti dan melihat mereka satu-persatu "maaf, Nabilah atas nama kak Ve mau minta maaf sama kak Ghaida, kak Diasta dan juga kak Nisa!!"
"buat apa kamu minta maaf atas nama kakak sepupu kamu?" tanya Diasta
"Nabilah cuma, gak mau melihat kak Ve gak berdaya kayak sekarang! Dia gak bisa meninggal tapi gak bisa hidup juga!!"
"maksudnya?" Nisa heran, Ghaida dan Diasta menyimak karena pertanyaannya sudah di tanyakan Nisa
"yaa, kan kakak semua tahu kalau kak Ve itu lagi koma.. dan Nabilah pikir dengan semua tingkah laku tidak menyenangkannya kak Ve pada kakak semua dan kakak lainnya di sekolah kita, kak Ve jadi gak bisa meninggal gak bisa hidup juga! Dia ada diantara dua dunia tanpa bisa melakukan apapun!! Nabilah berharap dengan Nabilah meminta maaf atas nama kak Ve dan kalian mau maafin kak Ve, kak Ve di kasih kemudahan oleh Tuhan untuk hidupnya. Apa dia akan selesai atau masih ada season selanjutnya di perjalanan hidupnya yang masih singkat ini!!!" Nabilah memainkan bibirnya "gak kayak sekarang kak, kak Ve gak hidup tapi gak meninggal juga!!" Nabilah mendesah mengakhiri kalimatnya.
Nisa, Ghaida, dan Diasta berpikir sejenak akan tingkahnya Ve di masa lalu (belum lama lah LALU nya). kemudian... Diasta yang lebih dewasa dari Ghaida dan Nisa pun bicara
"apa yang kamu katakan memang benar, kasian Ve.. dia gak bisa hidup tapi gak bisa meninggal juga! Hmm~ sebenarnya... kak Nyash (panggilan Diasta) gak pernah dendam sama kak Ve, ya emang sih sempat ada kesal juga tapi kakak gak pernah sampe nyimpen itu dalam hati!" ~ "jadi, kak Nyash (karena dengar Diasta nyebut namanya sendiri 'Nyash', jadi Nabilah sok akrab dengan nyebut namanya Diasta jadi Nyash) mau maafin kak Ve?" Diasta mengangguk dengan senyumnya pada Nabilah, Ve ikut tersenyum melihat scene itu.
Ghaida dan Nisa pun angkat bicara, setelah mengemukakan kekesalannya di hari yang lalu pada Ve, mereka akhirnya memaafkan si queen witch. Nabilah, terlebih Ve tersenyum gembira mendengar ucapan 'memaafkan' dari ketiga cosplayer PUTRI JAKARTA itu. Seperti sebelumnya Nabilah kembali membungkuk mengucapkan terima kasih karena mereka mau memaafkan Ve.
Di lain jarak yang tidak begitu jauh dari ke 4 murid itu berdiri, Shania dan Beby melihat adegan itu dan sayup-sayup mendengar percakapan mereka. Setelah Ghaida, Diasta dan Nisa pergi meninggalkan Nabilah, Shania dan Beby menghampiri Nabilah.
"Nabilah~" Beby memanggil Nabilah
"kak Beby, kak Shania~" gumam Nabilah, lalu dia menatap Ve dan Ve balas tatapan itu. Shania dan Beby sudah dekat
"kita mau ngomong sama kamu!" Nabilah mulai menerka apa yang akan di bicarakan kedua orang yang saat istirahat tadi sempat bicara dengannya
"gitu gimana? Apa yang aku ucapkan barusan gak ada yang salah kok! Nolongin orang juga emang gak salah, bener banget malah.. tapi,," Shania berhenti sejenak "ya liat-liat dulu lah orang yang mau di tolongnya!" Beby hanya menyimak ucapan Shania; Nabilah mengerutkan keningnya; Ve merasa sangat amat bersalah "kalo orang nya kaya kak Ve sih, dia mana pantas buat dapetin pertolongan! Dia aja dulu... boro-boro mau nolongin yang ada malah jahatin! dan bukan cuma aku atau Beby, kayaknya udah banyak murid di sekolah ini yang merasakan sakit hati sama tingkahnya!!" Ve menggigit bibir bawahnya saat mendengar ucapan Shania.
"hemp! Aku setuju sama Shania, kak Ve itu.. gak pantes dapetin pertolongan kayak apapun!! Kamu udah lupa apa Nabilah, waktu dulu gimana kak Ve bikin Shania malu di depan hampir semua murid?!" Beby bicara mengingatkan pada kejadian beberapa minggu lalu saat Ve dengan congkak nya menjatuhkan Shania di depan teman-temannya di lapangan basket
*Flash Back*
"Shania Junianatha! Hah (senyum sinis kek di sinetron-sinetron), Hheeem.. gue heran? kenapa kepala sekolah masih ngijinin lu buat sekolah disini!"
puluhan murid sudah berbaur (SMP, SMA) melihat Ve dan 3teman lainnya sedang menghakimi Shania (BULLY) di lapangan basket
"Apa kata orang-orang diluaran sana tentang sekolah kita... PUTRI JAKARTA international school masih memberikan tempat untuk seorang anak KO..RUP..TOR! sekolah disini!! ck, bisa anjlok nama sekolah kita!! ia kan?" 3teman Ve mengangguk dan murid lainnya, tidak meng ia kan juga tidak menolak perkataan Ve mereka hanya menonton. mata Shania terlihat merah menahan tangis saat itu, dia tidak berkutik dengan yang di ucapkan Ve.
Ayahnya Shania masuk dalam berita-berita baik di media elektronik maupun media cetak, dia dikabarkan (baru di kabarkan ya!) menjadi salah satu dari 4 terduga (bukan tersangka) korupsi dalam kasus pembangunan wisma atlit.
"teman-teman, lihatlah.. hari ini ayahnya yang jadi koruptor ngambil uang yang bukan haknya, tapi besok-besok dimasa yang akan datang... bisa jadi Shania nya langsung yang menjadi koruptor saat dia sudah kerja!!" senyum sinis menghiasi wajahnya Ve, kali ini murid-murid yang menonton saling berbisik sambil mengangguk seolah menyetujui apa yang di katakan Ve; Shania melihat Ve dengan dari matanya begitu terpancar rasa benci
"eh, kak! Kalau ngomong tuh di saring dulu!! Ayahnya Shania itu bukan koruptor!!!" Beby yang sahabatnya Shania mencoba memberikan pembelaan
"heh! Anak kecil~ tahu dari mana kamu, kalau Ayahnya si Shania itu bukan KO..RUPTOR! hah?" 3teman Ve mengangguk-angguk (tu temen2 Ve gak bisa ngomong apa ya? ngangguk mulu perasaan_-) "kamu gak punya tv dirumah? Atau kamu gak pernah baca apa di media online? Jejaring sosial? Atau... koran lah koran, jangan yang berbau internet! Secara~ di rumah kamu pasti gak ada jaringan kan buat pasang internet! Hahaha" lanjut Ve dengan pongkahnya "di setiap media yang baru-baru ini~ seeeemuanya membahas tentang kasus korupsi wisma atlit dan Natha Prasetyo itu jadi salah satu di antara 4 orang yang sedang menjalani pemeriksaan!! Kamu kan sahabatnya, kamu pasti tahu dong siapa Natha Prasetyo (ayahnya Shania)"
Beby memasang tampang benci melihat Ve
"dan kamu~ apa kamu gak bisa baca atau denger tuh berita yang di tulis ataupun di ucapkan, antara menjalani PEMERIKSAAN dan sudah jadi TERSANGKA kayak yang tadi kamu koar-koar itu BEDA, ya!!" Beby kesal dengan tingkah Ve sampai dia tidak menggunakan 'Kakak' saat bicara dengan Ve yang adalah seniornya; Dan Shania... dia hanya menunduk sambil menangis.
"itu emang beda, Beby Chaesara" Ve melihat bet nama Beby "tapi... sekali lagi aku tanya sama kamu, apa kamu gak pernah nonton?!! kalau kasus korupsi itu... yang menjalani pemeriksaan ujung-ujungnya sudah pasti akan menjadi tersangka! which is, ayah dari orang yang ada di sebelah kamu itu sudah pasti adalah ter...sang..ka!! Hahaha" Beby mengepalkan tangannya mendengar ucapan kasar Ve untuk Shania, belum Beby bicara menanggapi kata-kata Ve. Shania keburu lari untuk pergi dari lapangan basket karena dia tidak tahan dengan apa yang di ucapkan Ve.
"EeHHh! denger ya!!Suatu saat nanti, semuanya akan terbukti!!! Ayahnya Shania bukan Koruptor, dan kamu... pasti akan dapat balasan setimpal atas apa yang sudah sering kamu lakuin sama murid-murid di sekolah ini, dan juga Shania!!!" ucap Beby dengan di akhir kalimat seperti mendoakan Ve. Lalu Beby pun pergi dari lapangan untuk mengejar Shania, Ve dan 3teman nya tertawa puas, murid-murid lain pun bubar.
Setelah kejadian hari itu, Shania selalu di pandang rendah oleh murid-murid yang ada di gedung SMP dan saat bertemu dengan murid SMA dia pasti mendengar kata-kata yang tidak enak masuk ke gendang telinganya tentang ayahnya. Meskipun begitu, anggota Osis baik di SMP maupun SMA tidak ada yang menghakimi Shania mereka tetap mengikut sertakan Shania dan respect dengan gadis tinggi yang memiliki lesung di dekat bibirnya saat dia tersenyum. Ayahnya masih menjalani serangkaian pemeriksaan terkait kasus itu (Masih Saksi katanya).
satu minggu Shania merasakan asing nya berada di sekolah sampai akhirnya KPK menetapkan kalau Natha Prasetyo bukanlah tersangka untuk kasus suap wisma atlit (lama bener kerjanya tu KPK_-).
*Selesai ah Flasbacknya*
Nabilah ingat dengan kejadian itu, karena dia pun melihat dan mendengar bagaimana waktu itu Ve bicara dengan seenaknya. Ve hampir tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas apa yang pernah dia perbuat pada adik kelasnya itu wajahnya terlihat sangat penuh dengan penyesalan.
"Nabilah tahu kak, Nabilah tahu banget soal itu~ tapi.. kak Ve kan pasti punya alasan kenapa dia dulu bersikap menyebalkan dan menjatuhkan orang lain dengan seenaknya!!" Nabilah masih ingat dengan cerita Ve saat main ke rumahnya Ve.
"Alasan? alasan apa sih Bil? Yang pasti si kak Ve itu, ngelakuin semua kesewenangannya sama murid-murid disini! Itu untuk kesenangannya, karena dia anak dari pemilik yayasan, jadi dia dengan bangganya membuat murid lain terlihat sangat rendah di depan dia" jelas Beby
"apa... itu artinya kalau Nabilah mau meninta maaf sama kak Shania dan juga kak Beby atas nama kak Ve kalian gak akan maafin?" Nabilah bertanya
"denger ya Bil, aku gak akan pernah lupain hari itu.. saat kak Ve dengan enaknya bilang aku itu anak koruptor dan ayah ku seorang koruptor dan~ ah udahlah, intinya aku.. gak akan mau maafin DIA!!" kata Shania dengan tegasnya, Beby mengangguk "biarin aja si kak Ve itu ngerasain balasan dari apa yang sudah dia perbuat!!" ujar Beby.
Nabila diam sejenak setelah mendengar ucapan Shania dan Beby, lalu "em~ Nabilah tahu pasti berat waktu itu ada di posisi kak Shania ataupun kak Beby saat kak Ve bertingkah seenaknya pada kalian, tapi Nabilah cuma mau bilang satu hal..." Nabilah diam sejenak melihat sekilas ke arah Ve "semua orang bisa berbuat kesalahan, entah itu kecil ataupun besar! Namun tidak semua orang yang dengan beraninya mau mengakui kesalahannya, menyesalinya dan meminta maaf untuk apa yang sudah di perbuat, bahkan saat dia sudah tidak berdaya dia akan terus berjuang untuk mendapatkan maaf itu! Karena dia tahu itu salah!!" Nabilah bicara begitu terdengar dewasa, Shania dan Beby melihat Nabilah dengan pikirannya mencerna ucapan Nabilah.
*bell masuk bunyi*
"oh ya kak, orang besar itu selalu mampu memaafkan kesalahan orang lain yang sudah di perbuat padanya. Mereka tidak pernah menyimpan dendam, karena untuk mereka dendam hanya membuat hati dan pikirannya tidak bisa bebas!! Dan akhirnya mereka tidak pernah maju!!!" Nabilah berhenti dengan ucapannya dan tersenyum manis "itu yang Nabilah baca di sebuah buku kak!" lalu Nabilah pamit pada keduanya untuk masuk kelas, tanpa menghiraukan reaksi Shania dan Beby karena dia sudah mendengar bell masuk. sementara itu, ke2 senior yang tadi begitu sinis hanya diam terpaku setelah mendengar ucapan-ucapan Nabilah yang notaben nya adalah adik kelas mereka, tapi begitu terdengar dewasa saat bicara barusan.
Ve melamun di sebelah Nabilah, dia tidak bicara ataupun merubah ekspresi sedihnya karena masih menyesali setiap tingkah lakunya yang sampai membuat semua orang sebegitu membencinya.
"udah~ mukanya jangan ditekuk gitu! Udah jelek karena pucat, di tambah nekuk... semakin jelek jadinya!!" kata Nabilah sambil berjalan, Ve melihat Nabilah lalu bicara
"kalau kesempatan itu bisa kakak dapetin (bangun dari komanya)" Ve berhenti "kak Ve bakal datengin setiap murid di sekolah ini Bil!" Nabilah hanya bisa menyimak "kakak bakal minta maaf langsung sama mereka dan kalau perlu... kakak akan sujud depan mereka semua, gimanapun dan apapun caranya agar mereka mau maafin kak Ve! Kakak akan lakuin itu!!" Nabilah tersenyum (edisi ini terdengar sedikit serius).
"dan kesempatan itu pasti akan kakak dapetin, karena kesempatan bukan datang tapi diciptakan kak!!" giliran Ve yang tersenyum "Nabilah akan bantuin kak Ve untuk menciptakan kesempatan itu..." mereka berdua saling melihat dengan senyum menghiasi wajahnya (padahal tadi Shania sama Beby tidak mau maafin Ve, tapi mereka bisa akrab dan seperti tanpa beban saat tidak menerima kata memaafkan)
~Pulang Sekolah~
Saat Nabilah akan keluar dari gerbang (Ayana dan Gaby belum pulang, mereka ikut ekskul dulu) dia melihat Ghaida dan Nisa dan... ada satu murid lagi yang berjalan di sebelah Nisa.
"itu kak Ghaida sama kak Nisa.." tunjuk Nabilah, Ve melihat lalu mengangguk sambil bicara "ada kak Diasta juga!" kata Ve
"kita bisa minta maaf dan ngembaliin cosplay nya sama mereka bertiga langsung kak?! Kalau tadi pagi kan cuma berdua!!" Ve mengangguk dan bilang 'emm!' Nabilah ditemani Ve menghampiri mereka.
"kak Ghaida~ kak Nisa~ kak Diasta~ selamat siang kak!" Nabilah membungkuk di depan mereka bertiga
"kamu laagi..." ucap Nisa menyambut sapaan Nabilah, tapi kali ini dengan kepala dingin Nabilah menanggapi tone menyebalkannya Nisa dengan senyum
"ada apa... Nabilah!" lalu Ghaida bicara sambil menyebutkan nama Nabilah (biasa dari bet nama yang di sebelah kanan)
"dia siapa Ghaida?" tanya Diasta yang bingung karena disapa anak SMP
"yang tadi saat di ruangan aku sama Nichan ceritain" Ghaida menjelaskan,
"yang bicara sendiri setelah adu mulut sama Nichan?" Diasta mencoba menegaskan, Ghaida dan Nisa mengangguk.
"Nabilah minta maaf untuk yang tadi pagi kak!" senyum Nabilah saat mendengar Diasta begitu gamblang mengucapkan kalimatnya
"dia lebih manis ya, daripada tadi pagi kak!" bisik Nisa pada Ghaida, melihat sikap Nabilah yang tidak nyolot atau sewot. Ve tersenyum mendengar bisikan Nisa pada Ghaida
"sebenarnya, Nabilah tadi pagi menghalangi jalannya kak Ghaida sama kak Nisa itu karena mau..." Nabilah menyodorkan tangan kanannya dengan sebuah big paper bag ada di genggamannya "ngasihin ini kak!" Ghaida dan Nisa saling bertukar pandang, Diasta ikut bingung "ini... barang milik kak Ghaida, kak Nisa sama kak Diasta juga!!" ke 3 nya mengangkat ke 2alis mata mereka kaget mendengar 'barang milik', Nisa mengambil paper bag nya dan membuka. Saat melihat isinya mulut Nisa menganga
"isinya apaan Nichan?" tanya Ghaida penasaran apalagi melihat ekspresi Nisa, Diasta tak kalah penasaran.
"Co...s...pl..ay.. Kak!" Nisa terbata karena tak percaya kalau costume play nya yang hilang 2minggu lalu ada di depan matanya. Ghaida segera mengambil paper bag dari Nisa dan mengeluarkan isinya "kamu dapat dari mana barang ini?" tanya Ghaida pada Nabilah; barang-barang sudah di tangan pemiliknya.
"mm- itu... itu Nabilah dapat dari... dari kak Ve, kak!"
Nisa, Ghaida dan Diasta terbelalak
"tuh kan kak Ghaida, kak Diasta.. apa Nichan bilang waktu itu! Emang bener kan yang ngambil costume kita itu kak Ve!!" kata Nisa mengingat kejadian 2minggu lalu.
"Nabilah dapat costume itu di rumah kak Ve, costume nya masih sama kok! Gak ada yang rusak atau cacat atau luntur!!" Nabilah menjelaskan
"kamu kenal sama Ve? Kamu siapanya dia?" Ghaida bertanya
"Nabilah~ Nabilah adik sepupunya kak Ve, kak!" kembali Nabilah menggunakan alasan adik sepupu "dan Nabilah ngembaliin cotume itu sama kakak-kakak, sekalian mau bilang..." Nabilah berhenti dan melihat mereka satu-persatu "maaf, Nabilah atas nama kak Ve mau minta maaf sama kak Ghaida, kak Diasta dan juga kak Nisa!!"
"buat apa kamu minta maaf atas nama kakak sepupu kamu?" tanya Diasta
"Nabilah cuma, gak mau melihat kak Ve gak berdaya kayak sekarang! Dia gak bisa meninggal tapi gak bisa hidup juga!!"
"maksudnya?" Nisa heran, Ghaida dan Diasta menyimak karena pertanyaannya sudah di tanyakan Nisa
"yaa, kan kakak semua tahu kalau kak Ve itu lagi koma.. dan Nabilah pikir dengan semua tingkah laku tidak menyenangkannya kak Ve pada kakak semua dan kakak lainnya di sekolah kita, kak Ve jadi gak bisa meninggal gak bisa hidup juga! Dia ada diantara dua dunia tanpa bisa melakukan apapun!! Nabilah berharap dengan Nabilah meminta maaf atas nama kak Ve dan kalian mau maafin kak Ve, kak Ve di kasih kemudahan oleh Tuhan untuk hidupnya. Apa dia akan selesai atau masih ada season selanjutnya di perjalanan hidupnya yang masih singkat ini!!!" Nabilah memainkan bibirnya "gak kayak sekarang kak, kak Ve gak hidup tapi gak meninggal juga!!" Nabilah mendesah mengakhiri kalimatnya.
Nisa, Ghaida, dan Diasta berpikir sejenak akan tingkahnya Ve di masa lalu (belum lama lah LALU nya). kemudian... Diasta yang lebih dewasa dari Ghaida dan Nisa pun bicara
"apa yang kamu katakan memang benar, kasian Ve.. dia gak bisa hidup tapi gak bisa meninggal juga! Hmm~ sebenarnya... kak Nyash (panggilan Diasta) gak pernah dendam sama kak Ve, ya emang sih sempat ada kesal juga tapi kakak gak pernah sampe nyimpen itu dalam hati!" ~ "jadi, kak Nyash (karena dengar Diasta nyebut namanya sendiri 'Nyash', jadi Nabilah sok akrab dengan nyebut namanya Diasta jadi Nyash) mau maafin kak Ve?" Diasta mengangguk dengan senyumnya pada Nabilah, Ve ikut tersenyum melihat scene itu.
Ghaida dan Nisa pun angkat bicara, setelah mengemukakan kekesalannya di hari yang lalu pada Ve, mereka akhirnya memaafkan si queen witch. Nabilah, terlebih Ve tersenyum gembira mendengar ucapan 'memaafkan' dari ketiga cosplayer PUTRI JAKARTA itu. Seperti sebelumnya Nabilah kembali membungkuk mengucapkan terima kasih karena mereka mau memaafkan Ve.
Di lain jarak yang tidak begitu jauh dari ke 4 murid itu berdiri, Shania dan Beby melihat adegan itu dan sayup-sayup mendengar percakapan mereka. Setelah Ghaida, Diasta dan Nisa pergi meninggalkan Nabilah, Shania dan Beby menghampiri Nabilah.
"Nabilah~" Beby memanggil Nabilah
"kak Beby, kak Shania~" gumam Nabilah, lalu dia menatap Ve dan Ve balas tatapan itu. Shania dan Beby sudah dekat
"kita mau ngomong sama kamu!" Nabilah mulai menerka apa yang akan di bicarakan kedua orang yang saat istirahat tadi sempat bicara dengannya
*Flash Back dulu*
Setelah Nabilah pergi meninggalkan Shania dan Beby yang masih terpaku memandangi punggung anak kecil yang tadi sok dewasa dengan kata-kata nya yang Super, keduanya buru-buru mengambil kembali kesadaran mereka sebelum terlalu dalam masuknya dan menjadikan mereka patung di pinggir lapangan bola basket. Merekapun berjalan menuju kelasnya tanpa ada yang bicara satu-sama lain (efek ucapan si cerewet Dahsyat juga ya^).
Sesampainya didepan kelas, Shania dan Beby melihat ke dalam kelas dan memberikan isyarat pada temannya 'apa udah ada guru di kelas?' si temannya menggeleng. Shania dan Beby masuk lalu bertanya "kenapa guru bhs jepang nya belum dateng?" di jawab lah oleh si pemeran pembantu murid "ibu Gitcha gak masuk" ~
"loh? Kok bisa? Tadi pagi kan bu Gitcha ada!" sahut Shania
"katanya bu Charis sih.. si bu Gictha sakit perut. Salah makan coklat, dikira coklat biasa tahunya coklat pencuci perut!"
keduanya eh ketiganya tertawa lepas (Shania sama Beby, tadi diem2 man merenungkan ucapan Nabilah, denger gurunya sakit perut karena salah makan coklat bisa ketawa lepas_-) *kualat loh ngetawain guru* *jangan ditiru adegan ngetawainnya, harusnya prihatin.. soalnya kalau gak bisa nahan tawa entar gak dapet point*
Setelah beberapa menit sok asik dengan teman sekelasnya, Shania dan Beby duduk manis di mejanya dan kembali merenungkan ucapan Nabilah *kilas balik kayak adegan di sinetron* tanpa sadar keduanya menghela nafas secara berbarengan, lalu saling tukar mata.
"kamu lagi mikirin........ yang tadi, Beb!" kata Shania pertama kali.
Beby menganguk "kamu juga Shan?" giliran Shania mengangguk, lalu bicara
"kak Ve emang keterlaluan! Tapi... kayaknya kita lebih keterlaluan deh Beb!!" ujarnya "mm~ kak Ve emang salah, tapi kan bukan berarti kita bisa menghakimi dia dengan cara membenci kak Ve balik! Kita terlalu over hate sama kak Ve, lagian apa yang dikatakan Nabilah bener juga sih, kak Ve bertingkah kayak gitu pasti ada sebabnya!!"
Beby mengangguk-angguk "aku juga kayaknya udah keterlaluan banget, nyumpahin kak Ve yang enggak-enggak!!" ….. "mm~ gimana kalau pulang sekolah nanti kita samperin Nabilah, dan bilang kalau kita mau maafin kak Ve!!" usul Beby, Shania mengulaskan senyum lalu mengangguk. (penulis gak bisa bikin 2anak ini Jahat_-).
*Selesai Flashback, kita kembali ke TKP... dimana Nabilah sedang dihadapkan pada 2orang yang sepertinya akan memaafkan*
"so..al apa kak?" kata Nabilah pelan
"um~ kita berdua... kita berdua mau maafin kak Ve, Bil!"
Nabilah dan juga Ve terbelalak mendengar ucapan Shania.
"apa yang tadi kamu bilang sama kita (pas istirahat) itu ada benarnya juga! Kak Ve bertingkah kayak gitu pasti ada alasannya, karena.." Beby berhenti untuk mengingat "dulu-dulu (pas Ve masih kelas X) kak Ve gak pernah bertingkah seenaknya, dia biasa aja ngejalanin sekolahnya dan... murid-murid juga gak ada yang pernah ngeluh soal sikap nya kak Ve!!" Shania mengangguk setuju dengan ucapa Beby; Nabilah mengerung heran; Ve melayangkan pikiranya. "tapi, saat kak Ve udah jadi anak kelas XI baru tuh keliatan sikapnya yang beda dari biasanya, apalagi setelah kak Ve temenan sama kak Stella, kak Dhike dan juga kak yoona!" Ve mengoleksi kembali memory masa lalu nya saat mendengar Beby bicara "em~ udahlah gak usah bahas yang itu, bukan urusan kita juga kan! Intinya, aku sama Shania mau maafin kak Ve.. dan semoga aja kak Ve bisa cepat kembali dari komanya dan bisa melihat secara langsung gimana kamu mau bantuin dia untuk meminta maaf pada murid-murid yang pernah dia sakitin!!"
Beby bicara seperti itu karena dia menyimpulkan saat Nabilah meminta maaf pada Jeje, Panda, Delima, dan Frieska. dan... barusan dia meminta maaf lagi pada Ghaida, Nisa, dan Diasta.
"satu lagi… apa yang kamu ucapkan saat istirahat tadi soal, ‘orang besar itu selalu mampu memaafkan kesalahan orang lain yang sudah di perbuat padanya. Mereka tidak pernah menyimpan dendam’. kak Shania cukup tersentuh dengan ucapan kamu itu~ kamu bisa berpikir sejauh itu... sementara aku sama Beby terus-menerus sibuk membenci kak Ve!!" timpal Shania setelah Beby berhenti berucap "mau kamu siapapun nya kak Ve, satu hal yang pasti.. kita bangga punya teman kayak kamu Bil (adik kelas ya!), kamu mau bantuin kak Ve tanpa takut akan resiko yang kamu dapatkan! Kamu di ledek, kamu di remehkan, kamu di cemooh Atau bahkan nantinya kamu malah jadi sasaran kemarahan orang yang pernah di sakiti kak Ve. Tapi kamu tetap mau bantuin dia!" lanjut Shania menuturkan, disambut senyum oleh Nabilah dan anggukan oleh si arwah dengan wajahnya berbinar.
"jadi... kak Shania sama kak Beby beneran mau maafin kak Ve nih?" tanya Nabilah kemudian, Shania dan Beby saling menukar pandang, lalu mengangguk bersamaan membuat Nabilah refleks membuat gerakan tos tapi ke arah Ve yang ada di sebelahnya "huaa,, tos dulu kak!" sambil tertawa gembira Nabilah melakukan gerakan itu, Shania dan Beby menatap heran dan mengangakan mulutnya melihat tingkah Nabilah.
Ve melihat keduanya berekspresi "Nabilah, Nabilah... Stop! Stop!! Lihat Shania sama Beby" Ve belum menyambut tangan Nabilah untuk tos *mana bisa manusia sama arwah tos, dasar si cerewet_-*
"Hheee? t-to..s dong kak, kita tos! Ayo tos?!" dengan tingkah tak karuan Nabilah mengalihkan tangannya dan bicara seolah mengajak Shania dan Beby untuk tos. Pada akhirnya, dengan raut wajah masih bingung Shania dan Beby menyambut tangan Nabilah untuk tos, Nabilah masih dengan senyum lebar malu-malu tos pada Shania dan Beby, lalu bersikap biasa dan membungkuk di depan keduanya sambil bilang makasih *dedek Nabilah emang sopan ya ^ *.
Sebelum akhirnya mereka bertiga berpisah
"Nabilah" panggil Shania
"hemm~" jawab Nabilah
"um~ kalo kamu nanti nemuin kesulitan buat bantuin kak Ve, kak Shania siap bantuin kamu!" Nabilah kembali melebarkan matanya, mendengar pernyataan Shania.
"aku juga!" Beby tunjuk tangan, dia pun siap untuk membantu Nabilah.
Giliran Nabilah yang dibuat heran sama keduanya 'bisa sedrastis itu ya perubahannya?' pikir Nabilah 'padahal tadi kayaknya gak akan ada kesempatan untuk kak Ve bisa di maafin deh!!' dia memakukan pandangnnya pada Shania lalu ke Beby dan terakhir ke orang yang berdiri di sampingnya (si arwah kalem)
"ah? ma...kasih kak!" ucap Nabilah setelahnya. Beby dan Shania pun pergi lebih dulu, meninggalkan Nabilah yang masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar.
Nabilah dan Ve tidak langsung pulang, dia berjalan kedepan sekolahnya lalu duduk di tempat biasa murid-murid di sekolah menunggu jemputan mereka datang. Nabilah menopang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu sangat amat penting.
"kamu kenapa, Nabilah?" tanya Ve yang duduk di sebelahnya
"hmm~" Ve mengerutkan dahinya mendengar suara tanpa kata dari Nabilah
"Bil, kami lagi mikirin apa sih?" kembali Ve bertanya
"hess~ hmmm~" dan kembali Nabilah hanya bersuara seperti itu dengan tangannya masih di dagu.
"jam berapa si nih?" ucap Nabilah kemudian, seperti baru pulang dari alam bawah sadarnya, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Ve. Ve mengerutkan dahinya lebih dalam melihat tingkah 'adik sepupu ketemu gedenya ini'
"kak Ve gak pake jam, Bil! Jadi gak tahu ini jam berapa!!" jawab Ve, setelah meluruskan kerutan di dahinya. Nabilah mendelik, Ve melanjutkan kata-katanya "kamu ingat gak?" Nabilah melihat Ve dengan gimik cukup serius "kalo kemarin, suasana kayak gini itu jam berapa? Soalnya kemarin sama sekarang kan waktu pasti sama!" dengan senyum dari wajah pucatnya Ve bercanda jayus.
"hmm~ jawaban kakak baGus! Ciyus kak, ck baGus banGet!!" sahut Nabilah dengan menekan suara nya saat di huruf 'G', Ve hanya tersenyum.
"emangnya kenapa sih? Kok kamu nanyain jam?"
"em~ Nabilah cuma khawatir aja kak! Hari ini... kita hanya dapat kata 'Maaf' dari 9orang!! Padahal waktunya belum di mulai, gimana besok? setelah nanti sore waktu kita dimulai kak?!"
Ve begitu tersentuh dengan kekhawatiran Nabilah tentang misi dirinya.
"gimana besok?" Ve berhenti dan menerawang "kalau besok datang... dan besoknya lagi datang! terus, orang yang kita mintain maaf gak bisa semuanya di dapat (halusnya GAGAL!) kak Ve gak kecewa, Bil!! Kak Ve juga gak akan marah sama kamu, karena kamu gagal bantuin kakak!!!" kali ini Ve melihat Nabilah dan Nabilah membalasnya "setidaknya, kakak tahu kalau masih ada yang dengan tulusnya mau bantuin kak Ve. dan juga... mereka yang pernah kakak jahatin masih mau memaafkan kakak dan memakai hati mereka untuk melakukan hal itu~" Nabilah tersenyum begitu sangat manis, mendengar ucapan Ve.
"Sebenarnya… ada beberapa hal yang ingin kak Ve lakuin, kalau saat waktu kita datang dan berlalu dengan cepat tanpa ada hasil pasti!"
"apa kak?"
"meminta maaf sama beberapa orang yang begitu penting di kehidupan kakak!" Nabilah memperhatikan setiap ucapan Ve "mama sama papa, bi rumaya dan orang-orang yang ada di rumah (para pekerja rumahnya), dan yang terakhir... sama sahabat kak Ve!"
"kak Stella, kak Dhike sama kak Yoona?" tanya Nabilah, Ve menggeleng
"terus?" tanya lagi Nabilah dengan raut heran.
"mereka bertiga memang sering di sebut sebagai sahabat kak Ve, tapi... seperti suguhan harta yang papa mama kasih, Stella, Dhike dan Yoona, mereka itu semu Bil!! Dan.. seperti yang tadi Beby bilang 'kak Ve bertingkah menyebalkan setelah dekat dengan mereka'” Ve berhenti sejenak “kak Ve akuin, apa yang Beby katakan itu memang ada benarnya! Kakak jadi begini, terus begitu, tahu tempat kayak gini, kayak gitu, bisa seenaknya ngerjain atau menghardik atau mencaci atau membuat orang lain malu dan semuanya yang tidak menyenangkan. Setelah kakak dekat sama Stella, Dhike dan juga Yoona!...yang katanya mereka itu sahabat kakak, tapi kamu tahu sendiri. Selama kakak terbujur kaku di rumah sakit, mereka gak pernah ada buat jenguk kakak!!" Nabilah menyimak begitu serius, lalu mengajukan pertanyaan.
"emang dulunya, pas kakak masih kelas X. Kakak biasa aja ya?" tanyanya polos.
"emang dulu pas kakak kelas X kamu pernah denger nama kak Ve di sebut-sebut sebagai queen witch!?" Ve menjawab dengan pertanyaan
"mana Nabilah tahu! Kak Ve lupa atau gimana sih? Nabilah ini kan anak kelas VII, baru juga masuk! Yang Nabilah tahu tentang kak Ve ya... Kak Ve itu paling di sebelin, paling populer di sekolah karena tingkah kakak dan juga karena keluarga kakak yang pemilik yayasan, itu pun Nabilah tahu dari Ayana atau Gaby yang suka ngumpulin berita_- dari teman-teman lainnya!!"
(Note: beberapa orang yang berlalu-lalang sedang melihat Nabilah_- *Nabilah, control your self when you with her_-")
"Gosip?" sela Ve
"berita.. itu biar lebih halus!" jawab Nabilah, Ve mendelik. Lalu melanjutkan kisahnya.
Saat pertama masuk ke PUTRI JAKARTA, Ve bukanlah sosok yang pas di sebut queen witch. Karena bagaimanapun bisa dilihat dari wajahnya yang pemalu dan seperti bukan tipikel pembuat onar. Namun saat menjelang kenaikan kelas, tiba-tiba sikapnya berubah drastis. Ve jadi sosok yang tidak menyenangkan bahkan guru-guru dan kepala sekolah yang sempat memanggil Ve menanyakan ada apa dengannya yang berubah menjadi seperti itu.
Nabilah menyimak cerita Ve dan meluncurkan lagi pertanyaan untuk si arwah.
"orang tua kak Ve... pasti jadi penyebab utama berubahnya sikap kakak? ia kan?!" Nabilah mencoba menganalisa, Ve mengangguk "itu memang alasan utamanya, Bil! Tapi ada yang menjadi pendorong sampai akhirnya kak Ve benar-benar merasakan benci dengan semua yang terjadi!!" Nabilah memasang tampang dengan siratan pertanyaan tentang apa yang mendorong Ve berubah. Saat Ve akan melanjutkan lagi ceritanya, Ayana datang berteriak memanggil Nabilah dari dalam sekolah. (si pengumpul berita datang :D)
"Nabilah!"
"Ayana?!" ucap Nabilah dengan tone tak percaya
Setelah Nabilah pergi meninggalkan Shania dan Beby yang masih terpaku memandangi punggung anak kecil yang tadi sok dewasa dengan kata-kata nya yang Super, keduanya buru-buru mengambil kembali kesadaran mereka sebelum terlalu dalam masuknya dan menjadikan mereka patung di pinggir lapangan bola basket. Merekapun berjalan menuju kelasnya tanpa ada yang bicara satu-sama lain (efek ucapan si cerewet Dahsyat juga ya^).
Sesampainya didepan kelas, Shania dan Beby melihat ke dalam kelas dan memberikan isyarat pada temannya 'apa udah ada guru di kelas?' si temannya menggeleng. Shania dan Beby masuk lalu bertanya "kenapa guru bhs jepang nya belum dateng?" di jawab lah oleh si pemeran pembantu murid "ibu Gitcha gak masuk" ~
"loh? Kok bisa? Tadi pagi kan bu Gitcha ada!" sahut Shania
"katanya bu Charis sih.. si bu Gictha sakit perut. Salah makan coklat, dikira coklat biasa tahunya coklat pencuci perut!"
keduanya eh ketiganya tertawa lepas (Shania sama Beby, tadi diem2 man merenungkan ucapan Nabilah, denger gurunya sakit perut karena salah makan coklat bisa ketawa lepas_-) *kualat loh ngetawain guru* *jangan ditiru adegan ngetawainnya, harusnya prihatin.. soalnya kalau gak bisa nahan tawa entar gak dapet point*
Setelah beberapa menit sok asik dengan teman sekelasnya, Shania dan Beby duduk manis di mejanya dan kembali merenungkan ucapan Nabilah *kilas balik kayak adegan di sinetron* tanpa sadar keduanya menghela nafas secara berbarengan, lalu saling tukar mata.
"kamu lagi mikirin........ yang tadi, Beb!" kata Shania pertama kali.
Beby menganguk "kamu juga Shan?" giliran Shania mengangguk, lalu bicara
"kak Ve emang keterlaluan! Tapi... kayaknya kita lebih keterlaluan deh Beb!!" ujarnya "mm~ kak Ve emang salah, tapi kan bukan berarti kita bisa menghakimi dia dengan cara membenci kak Ve balik! Kita terlalu over hate sama kak Ve, lagian apa yang dikatakan Nabilah bener juga sih, kak Ve bertingkah kayak gitu pasti ada sebabnya!!"
Beby mengangguk-angguk "aku juga kayaknya udah keterlaluan banget, nyumpahin kak Ve yang enggak-enggak!!" ….. "mm~ gimana kalau pulang sekolah nanti kita samperin Nabilah, dan bilang kalau kita mau maafin kak Ve!!" usul Beby, Shania mengulaskan senyum lalu mengangguk. (penulis gak bisa bikin 2anak ini Jahat_-).
*Selesai Flashback, kita kembali ke TKP... dimana Nabilah sedang dihadapkan pada 2orang yang sepertinya akan memaafkan*
"so..al apa kak?" kata Nabilah pelan
"um~ kita berdua... kita berdua mau maafin kak Ve, Bil!"
Nabilah dan juga Ve terbelalak mendengar ucapan Shania.
"apa yang tadi kamu bilang sama kita (pas istirahat) itu ada benarnya juga! Kak Ve bertingkah kayak gitu pasti ada alasannya, karena.." Beby berhenti untuk mengingat "dulu-dulu (pas Ve masih kelas X) kak Ve gak pernah bertingkah seenaknya, dia biasa aja ngejalanin sekolahnya dan... murid-murid juga gak ada yang pernah ngeluh soal sikap nya kak Ve!!" Shania mengangguk setuju dengan ucapa Beby; Nabilah mengerung heran; Ve melayangkan pikiranya. "tapi, saat kak Ve udah jadi anak kelas XI baru tuh keliatan sikapnya yang beda dari biasanya, apalagi setelah kak Ve temenan sama kak Stella, kak Dhike dan juga kak yoona!" Ve mengoleksi kembali memory masa lalu nya saat mendengar Beby bicara "em~ udahlah gak usah bahas yang itu, bukan urusan kita juga kan! Intinya, aku sama Shania mau maafin kak Ve.. dan semoga aja kak Ve bisa cepat kembali dari komanya dan bisa melihat secara langsung gimana kamu mau bantuin dia untuk meminta maaf pada murid-murid yang pernah dia sakitin!!"
Beby bicara seperti itu karena dia menyimpulkan saat Nabilah meminta maaf pada Jeje, Panda, Delima, dan Frieska. dan... barusan dia meminta maaf lagi pada Ghaida, Nisa, dan Diasta.
"satu lagi… apa yang kamu ucapkan saat istirahat tadi soal, ‘orang besar itu selalu mampu memaafkan kesalahan orang lain yang sudah di perbuat padanya. Mereka tidak pernah menyimpan dendam’. kak Shania cukup tersentuh dengan ucapan kamu itu~ kamu bisa berpikir sejauh itu... sementara aku sama Beby terus-menerus sibuk membenci kak Ve!!" timpal Shania setelah Beby berhenti berucap "mau kamu siapapun nya kak Ve, satu hal yang pasti.. kita bangga punya teman kayak kamu Bil (adik kelas ya!), kamu mau bantuin kak Ve tanpa takut akan resiko yang kamu dapatkan! Kamu di ledek, kamu di remehkan, kamu di cemooh Atau bahkan nantinya kamu malah jadi sasaran kemarahan orang yang pernah di sakiti kak Ve. Tapi kamu tetap mau bantuin dia!" lanjut Shania menuturkan, disambut senyum oleh Nabilah dan anggukan oleh si arwah dengan wajahnya berbinar.
"jadi... kak Shania sama kak Beby beneran mau maafin kak Ve nih?" tanya Nabilah kemudian, Shania dan Beby saling menukar pandang, lalu mengangguk bersamaan membuat Nabilah refleks membuat gerakan tos tapi ke arah Ve yang ada di sebelahnya "huaa,, tos dulu kak!" sambil tertawa gembira Nabilah melakukan gerakan itu, Shania dan Beby menatap heran dan mengangakan mulutnya melihat tingkah Nabilah.
Ve melihat keduanya berekspresi "Nabilah, Nabilah... Stop! Stop!! Lihat Shania sama Beby" Ve belum menyambut tangan Nabilah untuk tos *mana bisa manusia sama arwah tos, dasar si cerewet_-*
"Hheee? t-to..s dong kak, kita tos! Ayo tos?!" dengan tingkah tak karuan Nabilah mengalihkan tangannya dan bicara seolah mengajak Shania dan Beby untuk tos. Pada akhirnya, dengan raut wajah masih bingung Shania dan Beby menyambut tangan Nabilah untuk tos, Nabilah masih dengan senyum lebar malu-malu tos pada Shania dan Beby, lalu bersikap biasa dan membungkuk di depan keduanya sambil bilang makasih *dedek Nabilah emang sopan ya ^ *.
Sebelum akhirnya mereka bertiga berpisah
"Nabilah" panggil Shania
"hemm~" jawab Nabilah
"um~ kalo kamu nanti nemuin kesulitan buat bantuin kak Ve, kak Shania siap bantuin kamu!" Nabilah kembali melebarkan matanya, mendengar pernyataan Shania.
"aku juga!" Beby tunjuk tangan, dia pun siap untuk membantu Nabilah.
Giliran Nabilah yang dibuat heran sama keduanya 'bisa sedrastis itu ya perubahannya?' pikir Nabilah 'padahal tadi kayaknya gak akan ada kesempatan untuk kak Ve bisa di maafin deh!!' dia memakukan pandangnnya pada Shania lalu ke Beby dan terakhir ke orang yang berdiri di sampingnya (si arwah kalem)
"ah? ma...kasih kak!" ucap Nabilah setelahnya. Beby dan Shania pun pergi lebih dulu, meninggalkan Nabilah yang masih tidak habis pikir dengan apa yang baru saja dia dengar.
Nabilah dan Ve tidak langsung pulang, dia berjalan kedepan sekolahnya lalu duduk di tempat biasa murid-murid di sekolah menunggu jemputan mereka datang. Nabilah menopang dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu yang begitu sangat amat penting.
"kamu kenapa, Nabilah?" tanya Ve yang duduk di sebelahnya
"hmm~" Ve mengerutkan dahinya mendengar suara tanpa kata dari Nabilah
"Bil, kami lagi mikirin apa sih?" kembali Ve bertanya
"hess~ hmmm~" dan kembali Nabilah hanya bersuara seperti itu dengan tangannya masih di dagu.
"jam berapa si nih?" ucap Nabilah kemudian, seperti baru pulang dari alam bawah sadarnya, tanpa menghiraukan pertanyaan dari Ve. Ve mengerutkan dahinya lebih dalam melihat tingkah 'adik sepupu ketemu gedenya ini'
"kak Ve gak pake jam, Bil! Jadi gak tahu ini jam berapa!!" jawab Ve, setelah meluruskan kerutan di dahinya. Nabilah mendelik, Ve melanjutkan kata-katanya "kamu ingat gak?" Nabilah melihat Ve dengan gimik cukup serius "kalo kemarin, suasana kayak gini itu jam berapa? Soalnya kemarin sama sekarang kan waktu pasti sama!" dengan senyum dari wajah pucatnya Ve bercanda jayus.
"hmm~ jawaban kakak baGus! Ciyus kak, ck baGus banGet!!" sahut Nabilah dengan menekan suara nya saat di huruf 'G', Ve hanya tersenyum.
"emangnya kenapa sih? Kok kamu nanyain jam?"
"em~ Nabilah cuma khawatir aja kak! Hari ini... kita hanya dapat kata 'Maaf' dari 9orang!! Padahal waktunya belum di mulai, gimana besok? setelah nanti sore waktu kita dimulai kak?!"
Ve begitu tersentuh dengan kekhawatiran Nabilah tentang misi dirinya.
"gimana besok?" Ve berhenti dan menerawang "kalau besok datang... dan besoknya lagi datang! terus, orang yang kita mintain maaf gak bisa semuanya di dapat (halusnya GAGAL!) kak Ve gak kecewa, Bil!! Kak Ve juga gak akan marah sama kamu, karena kamu gagal bantuin kakak!!!" kali ini Ve melihat Nabilah dan Nabilah membalasnya "setidaknya, kakak tahu kalau masih ada yang dengan tulusnya mau bantuin kak Ve. dan juga... mereka yang pernah kakak jahatin masih mau memaafkan kakak dan memakai hati mereka untuk melakukan hal itu~" Nabilah tersenyum begitu sangat manis, mendengar ucapan Ve.
"Sebenarnya… ada beberapa hal yang ingin kak Ve lakuin, kalau saat waktu kita datang dan berlalu dengan cepat tanpa ada hasil pasti!"
"apa kak?"
"meminta maaf sama beberapa orang yang begitu penting di kehidupan kakak!" Nabilah memperhatikan setiap ucapan Ve "mama sama papa, bi rumaya dan orang-orang yang ada di rumah (para pekerja rumahnya), dan yang terakhir... sama sahabat kak Ve!"
"kak Stella, kak Dhike sama kak Yoona?" tanya Nabilah, Ve menggeleng
"terus?" tanya lagi Nabilah dengan raut heran.
"mereka bertiga memang sering di sebut sebagai sahabat kak Ve, tapi... seperti suguhan harta yang papa mama kasih, Stella, Dhike dan Yoona, mereka itu semu Bil!! Dan.. seperti yang tadi Beby bilang 'kak Ve bertingkah menyebalkan setelah dekat dengan mereka'” Ve berhenti sejenak “kak Ve akuin, apa yang Beby katakan itu memang ada benarnya! Kakak jadi begini, terus begitu, tahu tempat kayak gini, kayak gitu, bisa seenaknya ngerjain atau menghardik atau mencaci atau membuat orang lain malu dan semuanya yang tidak menyenangkan. Setelah kakak dekat sama Stella, Dhike dan juga Yoona!...yang katanya mereka itu sahabat kakak, tapi kamu tahu sendiri. Selama kakak terbujur kaku di rumah sakit, mereka gak pernah ada buat jenguk kakak!!" Nabilah menyimak begitu serius, lalu mengajukan pertanyaan.
"emang dulunya, pas kakak masih kelas X. Kakak biasa aja ya?" tanyanya polos.
"emang dulu pas kakak kelas X kamu pernah denger nama kak Ve di sebut-sebut sebagai queen witch!?" Ve menjawab dengan pertanyaan
"mana Nabilah tahu! Kak Ve lupa atau gimana sih? Nabilah ini kan anak kelas VII, baru juga masuk! Yang Nabilah tahu tentang kak Ve ya... Kak Ve itu paling di sebelin, paling populer di sekolah karena tingkah kakak dan juga karena keluarga kakak yang pemilik yayasan, itu pun Nabilah tahu dari Ayana atau Gaby yang suka ngumpulin berita_- dari teman-teman lainnya!!"
(Note: beberapa orang yang berlalu-lalang sedang melihat Nabilah_- *Nabilah, control your self when you with her_-")
"Gosip?" sela Ve
"berita.. itu biar lebih halus!" jawab Nabilah, Ve mendelik. Lalu melanjutkan kisahnya.
Saat pertama masuk ke PUTRI JAKARTA, Ve bukanlah sosok yang pas di sebut queen witch. Karena bagaimanapun bisa dilihat dari wajahnya yang pemalu dan seperti bukan tipikel pembuat onar. Namun saat menjelang kenaikan kelas, tiba-tiba sikapnya berubah drastis. Ve jadi sosok yang tidak menyenangkan bahkan guru-guru dan kepala sekolah yang sempat memanggil Ve menanyakan ada apa dengannya yang berubah menjadi seperti itu.
Nabilah menyimak cerita Ve dan meluncurkan lagi pertanyaan untuk si arwah.
"orang tua kak Ve... pasti jadi penyebab utama berubahnya sikap kakak? ia kan?!" Nabilah mencoba menganalisa, Ve mengangguk "itu memang alasan utamanya, Bil! Tapi ada yang menjadi pendorong sampai akhirnya kak Ve benar-benar merasakan benci dengan semua yang terjadi!!" Nabilah memasang tampang dengan siratan pertanyaan tentang apa yang mendorong Ve berubah. Saat Ve akan melanjutkan lagi ceritanya, Ayana datang berteriak memanggil Nabilah dari dalam sekolah. (si pengumpul berita datang :D)
"Nabilah!"
"Ayana?!" ucap Nabilah dengan tone tak percaya
“ceritanya nanti di lanjut kak!” ujar Nabilah pada Ve, dengan matanya dia arahkan ke Ayana.
“kamu kok belum pulang, Bil?” tanya Ayana setelah di depan Nabilah
“aku..,” Nabilah memainkan matanya untuk memikirkan alasan “aku lagi... em~ nungguin kak Melody!” di akhiri senyum Nabilah memberikan alasan
“Owh~” Ayana mengangguk-angguk “terus kak Melody nya? Belum datang?!” Nabilah mengangguk
“ya, jelas kak Melody belum datang. Orang dia kan gak ada acara jemput kamu! Hihi..” bisik Ve, membuat Nabilah menanggapinya tanpa sadar dengan keberadaan Ayana “berisik!” ~ “kok kamu ngomongnya gitu sih!” Ayana memanyunkan bibirnya
“eh, eh~ bukan..bukan! bukan ke kamu Chan!!”
“hem~ terus? Kan disini cuma ada kamu sama aku?!”
“ini beneran bukan maksudnya ke kamu! Hehe.. aku tuh~… ngomong sama diriku sendiri, soalnya di otak ku lagi berisik. Nyuruh buat nyari makan! Dari tadi istirahat kan aku belum makan!!” Nabilah tersenyum memaksa.
“Aduhh, kak Ve lupa! iya, ya.. kamu kan belum makan dari tadi!!”
“Emmm.. kaaa…siannnn, ya udah~ pulang bareng aku aja yuk! Dari pada disini nungguin kak Melo, tapi gak dateng-dateng?!” Nabilah memasang tampang berbinar 'pucuk di petik jadilah teh kotak' pikir Nabilah. (duh Bil, lagian biasa juga kamu nebeng ama Anaya_-)
“cari makan dulu tapi... ya-ya-ya-ya?” Nabilah melebarkan senyumnya
“gimana ya?~ hmm~ okelah! Aku juga sama lapar! Yuk berangkat...” ajak Ayana.
Keduanya di tambah Ve pergi meninggalkan sekolah. Selama perjalanan, seperti biasa Ayana sibuk ngoceh berbagi ‘berita’ yang dia kumpulkan disekolah. Nabilah tidak bisa menolak informasi itu, dia pun jadi ikut larut dalam berita yang di bawakan Ayana.
**
“aku mimpa maaf~”
“Nabilah~”
“em~ maapin ya? kak Ve baik kok!”
“Nabilah~~”
“iya tahu.. Tapi—“
“Nabilah~~~!!”
Nabilah membuka kedua matanya dan mengedip-ngedipkan nya dengan cepat.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Ve menyadarkan
“kak.. Ve?”
Ve mengangguk “ia! ini kak Ve!” jawabnya atas ucapan Nabilah.
Nabilah tidak lagi bicara, dia mengarahkan matanya ke jendela dan.. seketika membelalakan kedua matanya saat melihat sinar mentari sudah menerobos gorden kamarnya, Nabilah bangun
“jam berapa ni?” tanya Nabilah kemudian
“kak Ve liat di jam dinding kamu sih, jam 06.30 pagi, Bil!!”
“HAH? APA?!” Nabilah kaget dan melihat jam dinding spongebob nya “KAK VEEEEEE! kenapa gak bangunin Nabilah?!” Nabilah segera berhamburan turun dari atas tempat tidurnya
“kak Ve udah bangunin kok!”
(Notes: Papa Mama gak ada *tau deh kemana*, Melody udah bangunin tapi Nabilah cuma jawab *hemm,, ia,, Nabilah akan bangun* pada Melody yang ada kuliah pagi. Sampai akhirnya Melody bicara sendiri untuk menitipkan Nabilah pada Ve)
“kalo kak Ve bangunin masa iya Nabilah telat bangun nya!!”
“yeee, kamu nya aja yang susah di bangunin!” Nabilah sibuk, panik, liatin sana-sini mencari handuk warna ping nya “kakak kamu juga udah bangunin kamu dari tadi subuh, ehhh~ kamunya hah heh hah heh doang! Sampai akhirnya kak Melody nitipin kamu ke kak Ve buat di bangunin, soalnya dia ada presentasi di kampusnya!”
“haduhh!!~ handuk aku mana ya?” dengan tanpa dosa nya Nabilah bicara menanyakan handuknya
“kamu gak dengerin penjelasan kakak ya?”
“aduhh~ udah siang ni! Kak Ve liat handuk aku gak?”
Ve cuma menghela nafas lalu menunjuk ke dalam lemari bajunya Nabilah, Nabilah membukanya dan tersenyum lebar “disini toh ngumpetnya! Hehehe, aku cari-cari juga!!-- hah? Aduh Lupa! Nabilah kan telat ya?! Aduh, aduh~ Nabilah telat~ gawat~ gawat~ gawat~..” Nabilah rusuh sendiri sambil lari ke kamar mandi, dan Ve hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah anak baru gede yang menolongnya.
“hah~ sudah jatuh, tertimpa tangga.. ini nih pribahasa yang cocok gambarin keadaan Nabilah sekarang!” Nabilah menggerutu di depan tiang bendera.
Ya, dia terlambat datang kesekolahnya. Dengan susah payah dan mati-matian Nabilah lari dari rumah ke tempat dia biasa nyetop angkot, dengan tanpa sarapan sebelumnya, sesampainya di sekolah dengan mengeluarkan rayuan maut yang tidak begitu memberikan efek ‘Wah’ pada satpam Nabilah bisa masuk ke sekolah, dia diperbolehkan masuk karena satpam tahu betul siapa saja langganannya yang datang terlambat ke sekolah, dan Nabilah tidak pernah ada di listnya. Karena itu si satpam memperbolehkan Nabilah masuk dengan wejangan agar Nabilah jangan sampai terlambat lagi kedepannya.
Merasakan perasaan lega karena bisa masuk sekolah, Nabilah berjalan cepat menggantikan tugas lari-lari sebelumnya. Nafasnya naik-turun gerakan kakinya terus melambat karena Nabilah merasakan capek yang amat sangat. Sialnya, sampai di depan kelas Nabilah di sambut guru yang punya disiplin tingkat dewa. Dia di jegal tidak bisa masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran pagi ini dari sang guru, ditambah hukuman hormat di depan tiang bendera. Tapi, bukan Nabilah namanya kalau dia tidak melakukan protes pada apa yang gurunya bebankan, Nabilah melakukan pembelaan atas keterlambatannya tapi sayangnya guru wanita yang punya tinggi sekitar 180cm itu TIDAK bisa di goyahkan, Nabilah kembali meluncurkan alasan lain, kali ini dengan polosnya Nabilah bilang kalau teman-teman di kelasnya pada telat mereka bisa masuk untuk mengikuti pelajaran tapi kenapa giliran dia yang terlambat tidak boleh ikut pelajaran, mana dapat reward Hormat lagi.
*ya, iyalah Nabilah... gurunya beda pas temen-temen kamu telat!*.
Guru yang di kenal Mrs. Discipline itu membelototkan bola matanya ke arah Nabilah, belum si guru mengeluarkan kata untuk mengiringi tatapan maut matanya itu, Nabilah langsung menyerah tanpa kata-kata lagi, akhirnya dia berjalan ke tempat tiang bendera yang berdiri tegap di antara gedung SMP dan SMA.
“tumben ni lapangan sepi!” Nabilah menggumam, melihat sekeliling yang biasanya suka ada beberapa murid yang sedang di jemur di depan tiang bendera.
Sekolah internasional, dengan murid yang di dalamnya cukup banyak yang kelas tinggi dan begitu sangat modern dalam hal apapun yang ada di sekolah itu, tapi hukuman telat tetap klasik. Di jemur depan tiang bendera, angkat tangan kanan, kepala melihat keatas di mana merah putih sedang berkibar tertiup angin.
“berarti cuma kamu yang telat!” ucap Ve menganggapi Nabilah, Nabilah mendelik Ve dengan posisi wajahnya masih melihat keatas.
“kalau aja kak Ve gak cerita, Nabilah pasti gak akan kesiangan gini!” Nabilah menyalahkan Ve atas keterlambatannya
“loh? Kok kak Ve sih?! Kamu telat kan karena kamu susah di bangunin!!”
“iyya, tapi kan aku telat bangun karena semalam itu dengerin curhatannya kakak!!” Nabilah masih menyalahkan Ve dan seolah membantah yang di ucapkan Ve.
“kan kamu yang minta kakak, buat ceritain yang saat siang kepotong sama Ayana!!”
“kenapa kakak gak hentiin ceritanya? Kak Ve kan pasti liat jam di dinding sudah menunjukan jam malam untuk anak sebesar Nabilah!!”
“*sigh*”
“kenapa menghela nafas gitu? Nabilah bener kan?!” tanya Nabilah mendengar desahan Ve atas ucapannya. Nabilah bisa leluasa ngobrol di dekat tiang itu, karena pasti gak akan ada yang liat soalnya mereka sedang belajar.
“hmm~ iya, iya,.. kak Ve yang salah! Puas?" Ve mengalah, karena dia tahu dia tidak akan mungkin terus beradu argument dengan Nabilah yang cukup keras kepala. Sementara jam pasir terus meluncur ke sisi bawah, misi sudah di mulai dari kemarin sore. Harusnya pagi ini Nabilah dapat lagi murid yang akan dia mintai maaf, tapi karena terlambat, tidak ada satupun yang Nabilah dapat.
“nah... gitu dong, kalau salah ya akui!” ujar Nabilah dengan tenangnya,
semalam Nabilah memaksa Ve untuk menceritakan lanjutan ceritanya sampai tak terasa sudah jam 10 malam dan Ve sempat mengingatkan Nabilah kalau itu sudah jam 10. Tapi emang dasar Nabilah keras kepala, dia terus mendesak Ve untuk bercerita semuanya sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya saat jarum jam sudah ada di angka 1.
Nabilah diam Ve pun ikut diam, saat Nabilah masih dengan tenangya nya melihat keatas, Ve mengitarkan matanya menikmati setiap pemandangan yang ada di sekolahnya, dari setiap sudut di sekolah itu banyak menyimpan kenangannya. saat masih jadi anak baik-baik dan juga saat sudah menjadi anak yang menyebalkan dan suka seenaknya.
“ki..nal...” Ve berbisik pelan menyebutkan nama seseorang
“kak Ve! ada yang mau Nabilah tanyain!?” Ve masih fokus melihat seorang murid yang sedang berjalan ke arahnya dan juga Nabilah
“Oy... kak Ve!! KAK!!! ck~ lagi liatin apa sih serius bener!? Ampe ucapan Nabilah gak di dengerin!” Nabilah komplain tapi Ve tetap tidak mendengarkan “haaah~” Nabilah mengeluarkan keluhan lewat nafasnya, dan wajahnya masih dengan gagahnya melihat keatas.
Nabilah melihat lagi Ve tapi kali ini dia melihat langsung dengan full seluruh matanya, tidak seperti tadi hanya dengan sudut mata saja. saat Nabilah bisa melihat jelas wajah Ve, dia melihat si arwah itu sedang melihat ke arah lain, karena penasaran Nabilah pun mengikuti alurnya dan... saat Nabilah akan mleihat arah itu Nabilah terkejut “HA!~” seorang murid berseragam SMA sudah berdiri di sampingnya, dia melirik Nabilah yang terkejut, karena sadar di tatap, Nabilah pun segera meminta maaf “m-maaf kak!” ucapnya dengan kembali menjalankan ‘tugas nya’ murid itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali melihat bendera.
Kini Nabilah memiliki teman dalam menjalankan tugasnya.
Raut muka Ve yang pucat terlihat sedih ‘apa yang terjadi?’ pikir Ve dengan matanya melihat seseorang. Nabilah diam karena di sebelahnya ada seseorang ‘wajahnya terlihat capek?’ Ve masih berpikir dengan kesedihan masih menyelimuti wajahnya.
Nabilah merasakan bosan, capek, panas, sampai dia berkeringat, sudut matanya melirik Ve tangan kirinya diapakai untuk menyeka keringat yang ada di keningnya. lalu *kreuikkkk~* Nabilah melebarkan matanya saat mendengar suara dari perutnya, murid yang ada di samping nya melihat Nabilah kemudian tersenyum dan bicara
“kamu lapar?” tanyanya
“heh?” Nabilah melihat kearahnya, tapi si murid itu masih melihat keatas
“perut kamu barusan bunyi!” katanya lagi, Nabilah tersenyum malu dengan kata-kata yang dia dengar.
“hehe~ aduh Nabilah jadi malu...” ucap Nabilah masih dengan senyum malu-malunya.
Murid itu tersenyum mendengar ucapan Nabilah. Si murid yang tidak melepas penglihatannya dan tidak menurunkan wajahnya dari atas tiang bendera, tiba-tiba menurunkan tangannya dan membalikan tas di punggunggnya, dia mencari-cari sesuatu dan.... dia memberikan sesuatu itu ke depan Nabilah
“eh? a-aapa ini kak?”
“buat kamu, biar cacingnya gak pada nyanyi!” tuturnya di barengi senyum khas dari wajahnya. Dia memberikan Nabilah roti selai coklat
“buat Nabilah kak?” dia mengangguk “ma-maakasih kak!” Nabilah mengambilnya tapi dia ragu untuk memakan roti itu karena takut ada guru yang melihatnya
“kakak bantuin kamu, kamu makan aja rotinya biar kakak liatin sekeliling!!” murid manis itu menawarkan, Nabilah tidak mungkin menolak kebaikan seniornya yang langka dia dapat. Dia membuka bungkus rotinya dan dengan speed cukup cepat Nabilah memakannya.
*Ve masih memakukan pandangannya dan begitu asik dengan memory lamanya*.
Bell pelajaran pertama berbunyi, itu artinya hukuman Nabilah dan juga murid yang baik sudah habis, Nabilah merapihkan mulutnya agar tidak terlihat sisa-sisa rotinya, dan si murid SMA bersiap pergi menuju kelasnya yang sudah tidak dia masuki selama 2hari.
“kak!” Nabilah memanggil seniornya, dia berbalik
“ya?”
“um~ makasih ya kak, untuk rotinya!” Nabilah tersenyum cerah, dia pun membalas lalu membalikan lagi badannya dan pergi.
“eh? Nabilah lupa! Tu kakak siapa namanya ya?! Hesss- Hadduh--” Nabilah hanya bisa melihat punggung si senior.
Nabilah mulai berjalan menuju kelasnya, tapi saat baru beberapa langkah... Nabilah baru sadar sesosok arwah yang selalu mengikutinya tidak ada berjalan di sampingnya, Nabilah melihat kembali ke belakang dan dengan gontai dia melangkah balik pada Ve yang masih terpaku.
“kak, ayo balik ke kelas!” tidak ada respon.
“Kaa~aaak Ve...” Nabilah melambaik-lambaikan tanganya di depan wajah Ve.
“Kak Ve!” Nabilah mencoba melakukan kontak dengan Ve tapi dia malah membelalakan matanya dan menatap tangan kanannya yang bisa menembus bahunya Ve. “Waaa~ Kee..ren!!” ucap Nabilah mengagumi apa yang baru dia alami. Dengan senyum jahil di sudut bibirnya Nabilah melakukan lagi kontak dengan Ve tapi lagi-lagi nembus, dan lagi~ dan cuma nembus lagi, coba lagi~ dan masih tetap hanya nembus, Nabilah cekikikan senang. tapi... saat yang ke 4 kalinya, belum tangan Nabilah sampai, Ve terlebih dulu menyetop apa yang akan di lakukan Nabilah
“Stop! Itu sakit tahu!!” komplain Ve pada apa yang di lakukan Nabilah
“sakit? Gak kena juga! Masa ia sakit?!” kata Nabilah
“itu beneran sakit Nabilahh!!” jawab Ve
“di giniin doang sakit?” kata Nabilah sambil kembali melakukan kontak dengan Ve
“udah di bilangin itu sakit! AHH!! bandel banget sih~” suara keras dari Ve cukup membuat Nabilah kaget, Nabilah buru-buru minta maaf pada Ve
“iya-iya-- maaf! Jangan marah dong, kak!!” kata Nabilah
“kamunya sih, di kasih tahu gak mau nurut! Saat tangan kamu nembus badan kakak, itu terasa sakit sama seperti kalau kamu mendorong bahu seseorang, orang itu merasakan sakit!!” Nabilah memainkan bibirnya “kamu pernah kan merasakan sakit saat bahu kamu di dorong seseorang?” Nabilah menggeleng, karena dia tidak pernah merasakan di dorong. “hemm~ ya udahlah!!” kata Ve,
Nabilah merasakan aneh pada sikapnya Ve kali ini, sebelum bahkan saat Nabilah di hukum sikapnya masih biasa saja padanya bahkan masih sempat meledek halus, tapi saat Ve melihatkan matanya pada seseorang ‘seseorang? siapa ya tadi yang di lihat kak Ve?’ pikir Nabilah sambil berjalan dengan sudah kembali di temani Ve. Selama berjalan tidak biasanya si arwah ataupun Nabilah saling diam, mereka selalu ada topik pembicaraan kalau sedang jalan berdua dan kondisi sekeliling aman dari gangguan orang-orang.
Tinggal beberapa langkah lagi Nabilah akan sampai di kelasnya, tiba-tiba Ve mengucapkan beberapa kata dengan suara yang hampir berbisik “yang tadi itu...” Nabilah mengerung karena merasa mendengar arwah di sebelahnya mengucapkan sesuatu “yang tadi itu Kinal, Nabilah!”
“apa?” tanya Nabilah untuk memastikan apa yang di ucapkan Ve.
“yang tadi di hukum bareng kamu itu... dia Kinal!!”
“HAAAH!!” tanpa Nabilah sadari dia sudah ada di ambang pintu masuk kelasnya, otomatis teriakannya membuat se isi kelas termasuk guru yang baru datang dan baru duduk di mejanya melihat kearah Nabilah.
“ada apa Nabilah?” tanya si guru laki-laki melihat Nabilah
“huh? Eeeh~ em~.. ng-nggak pak! Gaaak apa-apa!! Hehe..” ucap Nabilah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, wajah teman-teman masih tertuju padanya. Ayana dan Gaby saling menukar pandang melihat kelakuan sahabatnya yang sudah mereka rasa aneh, akhir-akhir ini.
“ya sudah, duduk sana!” kata guru sejarah nya itu menyuruh Nabilah.
Dengan setengah membungkukan badannya Nabilah mengucapkan iya dan berjalan ke mejanya. Dia mendapat tatapan penuh tanya dari kedua sahabatnya. 'istirahat pasti di berondongi pertanyaan nih!' pikir Nabilah sambil duduk, Ve hanya bisa diam karena melihat posisinya Nabilah sedang tidak bisa di ganggu dan Ve pun tidak ada niatan untuk mengganggu Nabilah.
‘eh, iya.. Nabilah kan mau tanya sesuatu ke kak Ve!’ bisik Nabilah dalam hati dengan tangannya memainkan ballpoint, dia memainkan matanya untuk mencari Ve. ‘hemp! tu arwah kemana sih? lagi dibutuhin juga!!’ Nabilah celingukan sampai Gaby yang duduk di sebelahnya (tempat duduk mereka satu seat - satu seat) melihat Nabilah heran ‘aduh kak Ve, muncul dong! Kak Ve dimana sih?!’ masih celingukan tidak fokus pada pelajaran (Gaby memberikan isyarat pada Ayana untuk melihat tingkah Nabilah). Saat Nabilah melihat kearah kiri (wajahnya masih tanda tanya) dan kemudian kearah kanannya... tiba-tiba Nabilah tersentak kaget (wajahnya jadi tanda seru) sampai membuat ballpoint yang tadi dia pegang jatuh dan mengeluarkan bunyi yang cukup menyita perhatian guru yang sedang mencatat materi dan kemudian akan menjelaskannya, si guru yang rambutnya tidak menutupi semua kepalanya itu segera menengok ke arah murid
“ada apa?... Nabilah!-- Ada apa lagi kamu?” kata si guru setelah melihat Nabilah akan membungkukan badannya untuk mengambil ballpoint
“hah , ng-nggak pak, gak apa-apa!! Ini~ pulpen Nabilah jatuh!” jawab Nabilah dengan keringat dingin
“catat apa yang sedang bapak catat Nabilah! Nanti akan ada pertanyaan!!” lanjut si guru dengan suara beratnya
“iii..a pak! Nabilah lagi nyatet kok~” Nabilah menghela nafas
“ada yang mau Nabilah tanyain kak?” Nabilah berbisik dengan suara seeeee kecil mungkin
“tentang?” jawab Ve dengan tanya balik
“kak Ve nyimpen nomor HP teman-teman sekelas kak ve, gak?” Nabilah kembali berbisik sambil memainkan matanya, karena takut ada yang memperhatikan. Ve menggeleng “hah?! Gak ada!” Ve mengangguk
“hmm~ Kak Ve emang bukan mahluk sosial!” ~ “masa kak Ve gak punya nomor HP teman sekelas sih!?” Nabilah mendesah (Gaby sedang memperhatikan tingkah Nabilah). Ve kembali menggeleng
“kakak emang gak punya!” jawabnya “emang nomornya buat apa sih!?” lanjut Ve dengan pertanyaan
“buat di gadein! Ya buat di hubungin lah kak, aku ada rencana dengan nomor-nomor itu!!”
“rencana? Rencana apaan?”
“rencana renovasi rumah! Aduh kak banyak nanya banget!! Ada gak nomornya?” kembali Nabilah memastikan.
“gak ada, Bil! Lagian kamu kan tahu kalau kak Ve...-”
“ahh, STOP! Nabilah gak butuh penjelasan!!” kembali, tanpa sadar Nabilah mengucapkan kalimatnya dengan suara normal sampai si guru berhenti menggunakan tangannya untuk menulis “kamu bicara apa Nabilah?!” tanya si guru masih belum berbalik
‘Adduh! Mati aku~’ Nabilah menepuk jidatnya, teman-teman sekelasnya kini sedang meliht ke arah Nabilah yang dengan jelasnya mengucapkan kalimat yang tidak enak di dengar. “Nabilah~ Nabilah gak bicara apa-apa pak!” Nabilah mencoba mencari alasan.
“sekarang, kamu maju!!” perintah si guru yang sudah melihat Nabilah, Nabilah melebarkan kedua bola matanya “ayo maju, kamu catat ini di white board dan bapak akan menjelaskan pada teman-teman kamu!!” ~
“kan Nabilah bukan sekretaris pak! masa Nabilah yang nyatat di white Board!” Nabilah masih bisa melakukan protes dengan apa yang tadi sudah dia katakan (Gaby dan Ayana melihat Nabilah)
“kamu, mau catat ini ke white board” si guru menunjuk bukumya “atau kamu catat catatan bapak di buku kamu, sambil berdiri di luar kelas?!” Nabilah menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan gurunya, daripada di keluarkan Nabilah pun akhirnya maju ke depan untuk mencatat dan si guru menjelaskannya. ‘alahhhh~ sialnya ni hari!!’ gerutu Nabilah dalam hati.
2jam kurang Nabilah mencatat, si guru menjelaskan, dan Nabilah kembali mencatat dengan diikuti si guru yang menjelaskan.
~bell istirahat berbunyi~
Guru sejarah yang mengajar kelas VII-A + sudah menjadikan Nabilah sekretaris dadakan pun keluar dari kelas. Nabilah kembali duduk di mejanya, dengan gerutuan dari bibirnya
“haah! sial banget pagi ini~” Ayana dan Gaby yang ingin mengajukan pertanyaan pun jadi urung, “bangun telat, gak sempet sarapan, gak bekal makan buat istirahat, suruh hormat ke bendera, ehh~ di tutup sama tugas sekretaris.. NYATET di white board! Mana tadi yang di tulis panjang banget lagi!! Hah!!!” keluhnya dengan kedua tangannya menopang dagu.
“em~ kamu gak bawa makan Bil?” Nabilah mengangguk dengan bibirnya masih di tekuk, ke arah Gaby yang bertanya “ya udah, ni- berdua sama aku!” Gaby menawarkan, Nabilah tersenyum senang
“punya aku juga nih!” susul Ayana menawarkan
“Wahhh~ serius nih?” Gaby dan Ayana mengangguk, Nabilah masih tersenyum senang “kalian emang..... The Best!” balas Nabilah dengan tangannya sudah dia turunkan dari dagu dan bersiap mencicipi bekal Gaby dan Ayana, tapi belum tangan putih itu dekat dengan bekal. Nabilah keburu ingat akan misi dan rencana yang sudah dia susun tanpa sepengetahuan Ve, Nabilah memutar otaknya untuk mencari alasan agar bisa keluar dan mencari si arwah yang kembali tidak terlihat
“um~ Gab, Chan, gak jadi deh icip makanan kalian nya!” kata Nabilah, membuat Gaby dan Ayana bertanya 'kenapa'
“aku mau jajan aja ke kantin! Tahu sendiri porsi makan aku gimana!!” lanjut Nabilah memberikan alasan dengan senyum lebar ke arah Ayana dan juga Gaby, tanpa ada perlawanan kedua sahabat Nabilah itu hanya mengangguk dan bilam 'ohhh, ya udah!'. Nabilah heran dengan reaksi yang di tunjukan sahabat-sahabatnya itu, biasanya mereka suka ingin tahu lebih detail. tapi Nabilah tidak mau ambil pusing, diapun segera keluar dari kelasnya berjalan kearah.. kearah yang belum pasti, untuk mencari sosok Ve. ‘kak Ve dimana sih? ngilang-ngilang mulu!!’ pikir Nabilah sambil jalan. ‘waktunya kan udah di mulai! Dia malah bertingkah aneh!!’.
Nabilah masih berjalan, dia berpikir untuk ke taman sekolah, entah kenapa pikiran Nabilah mengaungkan tempat yang di penuhi bunga itu agar dia datangi. tapi karena dari perutnya si cacing kembali bernyanyi, Nabilah pun belok dulu ke kantin untuk membeli makanan yang bisa mengganjal perutnya agar si cacing tidak melakukan mega konser bernyanyi ria dalam perutnya.
Sampainya di taman ternyata apa yang di bisikan pikirannya benar, Nabilah bisa melihat si arwah.
“hmm~ Di cariin juga! Tahunya mejeng disini!!” ucap Nabilah mengambil posisi duduk, dengan sebelumnya melihat situasi sekitar taman. Nabilah mengunyah sisa makanan yang dia beli di kantin
“ada yang aneh sama Kinal, Bil!” kata Ve dengan suara pelan, Nabilah melihat Ve
“aneh? Aneh kenapa kak?” tanyanya dengan di mulut masih ada makanan
“dia akhir-akhir ini sering bolos sekolah! Dan... tadi pagi pas telat~ Kinal bukan murid yang suka terlambat datang ke sekolah Bil!!” Nabilah berpikir sejenak ‘kenapa ni arwah tahu ya?’ “apa yang sebenarnya sudah terjadi?... haaaah~ kenapa aku dulu sama Kinal harus berantem ya?!” lanjut Ve dengan nada menyesal,
“kenapa juga kakak dulu mesti marah-marah dan dorong kak Kinal untuk menjauh?” kata Nabilah dengan polosnya, Ve melihat Nabilah. “kalau dulu kakak gak marah sama kak Kinal, terus gak jauhin kak Kinal, mungkin sekarang kakak gak perlu ngalamin semua ini! Ia kan?” tutur Nabilah.
“hemm~ mung...kin!” kata Ve sambil memikirkan ucapan Nabilah.
“ya udahlah kak, itu kan yang dulu! Yang sekarang itu mending kita cari cara untuk gimana minta maaf sama kak Kinal, sama teman-teman disini, sama orang tua kakak yang... sekarang orang tua kakak dimana kak?” Nabilah mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan karena seperti yang Ve bilang orang tuanya super duper sibuk. Meski mereka tahu anaknya sedang koma yang entah akan sembuh atau mati mereka sepertinya tidak terlalu memusingkan hal itu. Mereka sudah menitipkan Ve yang ada di ruang ICU pada dokter dan suster-suster di rumah sakit dengan uang dan kekuasaannya.
“em~ kakak juga gak tahu, Bil! Mereka ada dirumah apa gak? Mereka kapan ada di rumahnya? Kakak gak tahu, dan… gak pernah tahu tentang papa dan mama! *sigh*” jawab Ve dengan begitu lemas.
“mmm~*Nabilah berpikir* gimana...” Ve melihat Nabilah “kalau sore nanti, kita ke rumahnya kakak!” Nabilah menawarkan, Ve tersenyum dan membalas tawaran Nabilah
“boleh, rencana kamu apa?”
“rencana apa kak?”
“ya rencana kamu ke rumah kakak! Itu buat apa? Dan mau ngapain?”
“owh! yaaa.. Nemuin orang tuanya kakak lah! Kalaupun mereka nya gak ada, kan ada bibi rumaya... Sekalian aja minta maaf, sama tanya kapan orang tua kakak akan ada di rumah atau... ya gimana caranya lah biar papa mama nya kak Ve bisa kita temuin sebelum 48jam itu berakhir!!” Nabilah menjelaskan
“bibi rumaya… dia bakal maafin kakak gak ya?” gumam Ve,
Nabilah masih sibuk dengan kegiatan makannya sambil bicara “pastilah kak! bibi nya kak Ve itu... mm~ waktu pertama Nabilah ke rumah kakak, dia kayak tahu keberadaan kakak yang ada di dekat Nabilah!”
“oh ya?” Ve sedikit terkejut, Nabilah mengerung
“ya, iyalah.. jangan-jangan kakak dulu gak dengerin apa yang Nabilah ucapkan?” Ve balas mengerung dengan melihat Nabilah
“yang mana Bil?” Nabilah tidak menjawab pertanyaannya Ve, dia berhenti melahap makanannya dan mengelus kening sebelah kanannya sambil menarik nafas.
“udahlah gak usah ngebahas yang itu~ pokoknya kak Ve ikutin apa yang Nabilah akan lakuin untuk misi kita ini! Ok?”
“misi kita?” Ve tersenyum lebar “kamu udah mau nerima misi ini Bil?” lanjutnya, membuat Nabilah bereaksi
“hemp! Misi kita, misinya Veranda dan Nabilah! Yang Nabilah namain misi VeNa.. Hahahaaa!!” Nabilah tertawa dengan apa yang di ucapkan bibirnya. Ve yang tadi sempat murung bisa ikut tertawa dengan kelakuan Nabilah.
Ve menatap Nabilah dan kembali berpikir dia sangat beruntung bisa mendapat pertolongan dari Nabilah, meski kadang Nabilah suka mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar yang mengindikasikan kalau Nabilah menolong dirinya karena keterpaksaan, dengan bilang ‘ini bukan misinya’ ‘kenapa Nabilah harus mau bantuin kak Ve’ ‘apa untungnya buat Nabilah’ ‘kenapa kak Ve gak pilih orang lain’. Dan tak jarang Nabilah juga suka bercanda dan menggodanya untuk hal-hal konyol yang sudah pernah dia lakukan di saat sebelum kecelakaan itu datang. Tapi kembali Ve berpikir kalau itu bukan masalah serius yang perlu Ve simpan dalam hati, karena Ve tahu pasti Nabilah tulus menolongnya, dan apa yang Nabilah lakukan itu hanya refleksi dari siapa Nabilah dan bagaimana dia... Nabilah tetap anak yang masih berusia 13th meski dari wajahnya sepintas sudah seperti anak SMA , dia senang bercanda, dia senang meledek sebatas untuk bercanda, dia senang berteman dengan siapapun, dia senang bicara sampai menghabiskan durasi orang lain, dan kesenangan lainnya yang di lakukan anak seusianya.
“heh! Kenapa liatin Nabilah kayak gitu?” Tanya Nabilah “Nabilah cantik ya?” lanjutnya membuat Ve tersenyum lalu menjawab
“ya pasti kamu cantik lah, orang kamu kan cewek!”
“hmm~ bilang ia aja, tanpa ada kata karena Nabilah cewek, buat nyenengin hati Nabilah, susah banget ya? kayaknya! Nyebelin!!" gerutu Nabilah, Ve tidak bisa menahan kegemesannya pada Nabilah “iya, iya~ Nabilah cantik, manis, lucu, imut, semua dehh!” kata Ve sambil melihat Nabilah
“nah gitu dong! Kan mood nya Nabilah jadi bagus buat nolongin kakak!!~ hehe.. - eh ya kak, masih inget sama apa yang Nabilah tadi tanyain di kelas?" Nabilah bertanya pda Ve yang kini sedang mencari jawaban
“emm~ ... tentang.... nomor HP?” Nabilah mengangguk dengan jawaban Ve
“kalau kakak gak punya nomor teman sekelas kakak, atau nomor murid-murid yang akan kita mintai maaf. Gimana caranya kita dapat nomor HP mereka, kak? Dari mana Nabilah bisa dapetin nomor mereka?!" Nabilah mengarahkan badannya ke arah Ve
“em~” Ve berpikir (si arwah sudah bisa kembali ke mood awal sebelum bertemu Kinal, dan masih bisa menggoda Nabilah) “em~~ dari...”
“ck~ lama amat sih! Jadi dari mana nih? Nabilah protes karena Ve terlalu lama
“dari... dari mana ya Bil?” dengan lurusnya Ve malah bertanya balik pada Nabilah
“ish, kirain tahu! Dari tadi sok-sok mikir tuh!!” ucap Nabilah
“kan tadi di kelas juga kak Ve udah kasih tahu, kak Ve gak punya nomor mereka dan gak tahu juga harus dapetin dari siapa? Tahu sendiri kak Ve bukan mahluk sosial!” ~ “lagian, mana mungkin kak Ve nyimpen nomor mereka.. kenal aja enggak!! Yang ada di kontak nya kakak paling cuma Stella, Dhike, Yoona, sama Kinal, Udah! sisanya nomor...,-“
“gak usah di terusin kak, kelamaan!” potong Nabilah atas penjelasan Ve “sekarang kita pikirin dari mana kita bisa dapetin nomor nya mereka-mereka!!” Ve mengangguk “jangan ngangguk aja! Jadi gimana nih? Dari siapa kira-kira kita bisa dapat nomornya?” kembali Nabilah bertanya, Ve memainkan matanya *sepertinya berpikir*
“apa kita minta tolong sama kak Stella, kak Dhike dan kak Yoona”
“Jangannn!” Nabilah terbelalak mendengar jawaban cepat Ve
“ke...napa?” tanya Nabilah pelan, menjawab Ve.
“gak tahu...” jawab Ve tak kalah pelan
“lah, gak bolehin kok malah gak punya alasannya sih? Hiss-- terus gimana dong?”
“umm~ gimana kalau kamu minta tolong Shania sama Beby aja?” usul Ve
“kalo ke kak Shania sama kak Beby udah Nabilah pikirin kak! Nabilah udah minta tolong sama mereka, tapi buat minta nomor HP nya murid-murid yang di SMP. Kalau yang di SMA kan... gak mungkin kak?”
Ve menatap lagi Nabilah
“aaapa sih? Seneng banget liatin Nabilah kayak gitu, dari tadi?” kata Nabilah yang diliatin Ve, sambil senyum mengembang dari bibir nya Ve.
“mm-nggak, kakak lagi seneng aja!” Nabilah mengerutkan keningnya
“idihh... dasar arwah labil! tadi mukanya di tekuk, bersedih sinetron~ sekarang senyam-senyum kayak mau pinjem duit!”
“hahaha~ bisa aja nih si cadel!!”
“aduh itu ngomongnya? Cadel, Cadel~ eh kak, cadel-cadel gini juga banyak yang ngantri sama Nabilah, tahu!”
“ngantri? Mau pinjem duit?! Hahahaa”
“kagak kak, ngantri buat nonton theater JeKaTe empat delapan!! Puas!?”
“eh? WL dong?! Hahahaaa~” ~ “Hahahaaa~ betull! panjang tuh antriannya” Nabilah dan Ve malah sibuk ketawa dengan candaan jayusnya.
*beberapa centimeter dari tempat Nabilah dan Ve berbincang, ternyata ada 2murid yang sedang menguping dan melihat Nabilah (karena Ve tidak terlihat dan tidak terdengar)*
“tuh kan, aku bilang juga apa! Ada yang aneh sama Nabilah!” kata si murid satu berbisik, si murid lainnya mengangguk menyetujui. (Posisi mereka berjongkok, sembunyi di belakang deretan bunga-bunga matahari yang ada di taman yang bentuknya seperti labirin kotak).
“jadi gimana nih Ga-,”
“Ssuutt,, jangan berisik! Gak kedenger Nabilah ngomong apa lagi!” katanya dengan menghalangkan tangan kanan pada teman yang ada di sebelahnya.
“kamu kok belum pulang, Bil?” tanya Ayana setelah di depan Nabilah
“aku..,” Nabilah memainkan matanya untuk memikirkan alasan “aku lagi... em~ nungguin kak Melody!” di akhiri senyum Nabilah memberikan alasan
“Owh~” Ayana mengangguk-angguk “terus kak Melody nya? Belum datang?!” Nabilah mengangguk
“ya, jelas kak Melody belum datang. Orang dia kan gak ada acara jemput kamu! Hihi..” bisik Ve, membuat Nabilah menanggapinya tanpa sadar dengan keberadaan Ayana “berisik!” ~ “kok kamu ngomongnya gitu sih!” Ayana memanyunkan bibirnya
“eh, eh~ bukan..bukan! bukan ke kamu Chan!!”
“hem~ terus? Kan disini cuma ada kamu sama aku?!”
“ini beneran bukan maksudnya ke kamu! Hehe.. aku tuh~… ngomong sama diriku sendiri, soalnya di otak ku lagi berisik. Nyuruh buat nyari makan! Dari tadi istirahat kan aku belum makan!!” Nabilah tersenyum memaksa.
“Aduhh, kak Ve lupa! iya, ya.. kamu kan belum makan dari tadi!!”
“Emmm.. kaaa…siannnn, ya udah~ pulang bareng aku aja yuk! Dari pada disini nungguin kak Melo, tapi gak dateng-dateng?!” Nabilah memasang tampang berbinar 'pucuk di petik jadilah teh kotak' pikir Nabilah. (duh Bil, lagian biasa juga kamu nebeng ama Anaya_-)
“cari makan dulu tapi... ya-ya-ya-ya?” Nabilah melebarkan senyumnya
“gimana ya?~ hmm~ okelah! Aku juga sama lapar! Yuk berangkat...” ajak Ayana.
Keduanya di tambah Ve pergi meninggalkan sekolah. Selama perjalanan, seperti biasa Ayana sibuk ngoceh berbagi ‘berita’ yang dia kumpulkan disekolah. Nabilah tidak bisa menolak informasi itu, dia pun jadi ikut larut dalam berita yang di bawakan Ayana.
**
“aku mimpa maaf~”
“Nabilah~”
“em~ maapin ya? kak Ve baik kok!”
“Nabilah~~”
“iya tahu.. Tapi—“
“Nabilah~~~!!”
Nabilah membuka kedua matanya dan mengedip-ngedipkan nya dengan cepat.
“Kamu gak apa-apa?” tanya Ve menyadarkan
“kak.. Ve?”
Ve mengangguk “ia! ini kak Ve!” jawabnya atas ucapan Nabilah.
Nabilah tidak lagi bicara, dia mengarahkan matanya ke jendela dan.. seketika membelalakan kedua matanya saat melihat sinar mentari sudah menerobos gorden kamarnya, Nabilah bangun
“jam berapa ni?” tanya Nabilah kemudian
“kak Ve liat di jam dinding kamu sih, jam 06.30 pagi, Bil!!”
“HAH? APA?!” Nabilah kaget dan melihat jam dinding spongebob nya “KAK VEEEEEE! kenapa gak bangunin Nabilah?!” Nabilah segera berhamburan turun dari atas tempat tidurnya
“kak Ve udah bangunin kok!”
(Notes: Papa Mama gak ada *tau deh kemana*, Melody udah bangunin tapi Nabilah cuma jawab *hemm,, ia,, Nabilah akan bangun* pada Melody yang ada kuliah pagi. Sampai akhirnya Melody bicara sendiri untuk menitipkan Nabilah pada Ve)
“kalo kak Ve bangunin masa iya Nabilah telat bangun nya!!”
“yeee, kamu nya aja yang susah di bangunin!” Nabilah sibuk, panik, liatin sana-sini mencari handuk warna ping nya “kakak kamu juga udah bangunin kamu dari tadi subuh, ehhh~ kamunya hah heh hah heh doang! Sampai akhirnya kak Melody nitipin kamu ke kak Ve buat di bangunin, soalnya dia ada presentasi di kampusnya!”
“haduhh!!~ handuk aku mana ya?” dengan tanpa dosa nya Nabilah bicara menanyakan handuknya
“kamu gak dengerin penjelasan kakak ya?”
“aduhh~ udah siang ni! Kak Ve liat handuk aku gak?”
Ve cuma menghela nafas lalu menunjuk ke dalam lemari bajunya Nabilah, Nabilah membukanya dan tersenyum lebar “disini toh ngumpetnya! Hehehe, aku cari-cari juga!!-- hah? Aduh Lupa! Nabilah kan telat ya?! Aduh, aduh~ Nabilah telat~ gawat~ gawat~ gawat~..” Nabilah rusuh sendiri sambil lari ke kamar mandi, dan Ve hanya bisa menepuk jidatnya melihat tingkah anak baru gede yang menolongnya.
“hah~ sudah jatuh, tertimpa tangga.. ini nih pribahasa yang cocok gambarin keadaan Nabilah sekarang!” Nabilah menggerutu di depan tiang bendera.
Ya, dia terlambat datang kesekolahnya. Dengan susah payah dan mati-matian Nabilah lari dari rumah ke tempat dia biasa nyetop angkot, dengan tanpa sarapan sebelumnya, sesampainya di sekolah dengan mengeluarkan rayuan maut yang tidak begitu memberikan efek ‘Wah’ pada satpam Nabilah bisa masuk ke sekolah, dia diperbolehkan masuk karena satpam tahu betul siapa saja langganannya yang datang terlambat ke sekolah, dan Nabilah tidak pernah ada di listnya. Karena itu si satpam memperbolehkan Nabilah masuk dengan wejangan agar Nabilah jangan sampai terlambat lagi kedepannya.
Merasakan perasaan lega karena bisa masuk sekolah, Nabilah berjalan cepat menggantikan tugas lari-lari sebelumnya. Nafasnya naik-turun gerakan kakinya terus melambat karena Nabilah merasakan capek yang amat sangat. Sialnya, sampai di depan kelas Nabilah di sambut guru yang punya disiplin tingkat dewa. Dia di jegal tidak bisa masuk ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran pagi ini dari sang guru, ditambah hukuman hormat di depan tiang bendera. Tapi, bukan Nabilah namanya kalau dia tidak melakukan protes pada apa yang gurunya bebankan, Nabilah melakukan pembelaan atas keterlambatannya tapi sayangnya guru wanita yang punya tinggi sekitar 180cm itu TIDAK bisa di goyahkan, Nabilah kembali meluncurkan alasan lain, kali ini dengan polosnya Nabilah bilang kalau teman-teman di kelasnya pada telat mereka bisa masuk untuk mengikuti pelajaran tapi kenapa giliran dia yang terlambat tidak boleh ikut pelajaran, mana dapat reward Hormat lagi.
*ya, iyalah Nabilah... gurunya beda pas temen-temen kamu telat!*.
Guru yang di kenal Mrs. Discipline itu membelototkan bola matanya ke arah Nabilah, belum si guru mengeluarkan kata untuk mengiringi tatapan maut matanya itu, Nabilah langsung menyerah tanpa kata-kata lagi, akhirnya dia berjalan ke tempat tiang bendera yang berdiri tegap di antara gedung SMP dan SMA.
“tumben ni lapangan sepi!” Nabilah menggumam, melihat sekeliling yang biasanya suka ada beberapa murid yang sedang di jemur di depan tiang bendera.
Sekolah internasional, dengan murid yang di dalamnya cukup banyak yang kelas tinggi dan begitu sangat modern dalam hal apapun yang ada di sekolah itu, tapi hukuman telat tetap klasik. Di jemur depan tiang bendera, angkat tangan kanan, kepala melihat keatas di mana merah putih sedang berkibar tertiup angin.
“berarti cuma kamu yang telat!” ucap Ve menganggapi Nabilah, Nabilah mendelik Ve dengan posisi wajahnya masih melihat keatas.
“kalau aja kak Ve gak cerita, Nabilah pasti gak akan kesiangan gini!” Nabilah menyalahkan Ve atas keterlambatannya
“loh? Kok kak Ve sih?! Kamu telat kan karena kamu susah di bangunin!!”
“iyya, tapi kan aku telat bangun karena semalam itu dengerin curhatannya kakak!!” Nabilah masih menyalahkan Ve dan seolah membantah yang di ucapkan Ve.
“kan kamu yang minta kakak, buat ceritain yang saat siang kepotong sama Ayana!!”
“kenapa kakak gak hentiin ceritanya? Kak Ve kan pasti liat jam di dinding sudah menunjukan jam malam untuk anak sebesar Nabilah!!”
“*sigh*”
“kenapa menghela nafas gitu? Nabilah bener kan?!” tanya Nabilah mendengar desahan Ve atas ucapannya. Nabilah bisa leluasa ngobrol di dekat tiang itu, karena pasti gak akan ada yang liat soalnya mereka sedang belajar.
“hmm~ iya, iya,.. kak Ve yang salah! Puas?" Ve mengalah, karena dia tahu dia tidak akan mungkin terus beradu argument dengan Nabilah yang cukup keras kepala. Sementara jam pasir terus meluncur ke sisi bawah, misi sudah di mulai dari kemarin sore. Harusnya pagi ini Nabilah dapat lagi murid yang akan dia mintai maaf, tapi karena terlambat, tidak ada satupun yang Nabilah dapat.
“nah... gitu dong, kalau salah ya akui!” ujar Nabilah dengan tenangnya,
semalam Nabilah memaksa Ve untuk menceritakan lanjutan ceritanya sampai tak terasa sudah jam 10 malam dan Ve sempat mengingatkan Nabilah kalau itu sudah jam 10. Tapi emang dasar Nabilah keras kepala, dia terus mendesak Ve untuk bercerita semuanya sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya saat jarum jam sudah ada di angka 1.
Nabilah diam Ve pun ikut diam, saat Nabilah masih dengan tenangya nya melihat keatas, Ve mengitarkan matanya menikmati setiap pemandangan yang ada di sekolahnya, dari setiap sudut di sekolah itu banyak menyimpan kenangannya. saat masih jadi anak baik-baik dan juga saat sudah menjadi anak yang menyebalkan dan suka seenaknya.
“ki..nal...” Ve berbisik pelan menyebutkan nama seseorang
“kak Ve! ada yang mau Nabilah tanyain!?” Ve masih fokus melihat seorang murid yang sedang berjalan ke arahnya dan juga Nabilah
“Oy... kak Ve!! KAK!!! ck~ lagi liatin apa sih serius bener!? Ampe ucapan Nabilah gak di dengerin!” Nabilah komplain tapi Ve tetap tidak mendengarkan “haaah~” Nabilah mengeluarkan keluhan lewat nafasnya, dan wajahnya masih dengan gagahnya melihat keatas.
Nabilah melihat lagi Ve tapi kali ini dia melihat langsung dengan full seluruh matanya, tidak seperti tadi hanya dengan sudut mata saja. saat Nabilah bisa melihat jelas wajah Ve, dia melihat si arwah itu sedang melihat ke arah lain, karena penasaran Nabilah pun mengikuti alurnya dan... saat Nabilah akan mleihat arah itu Nabilah terkejut “HA!~” seorang murid berseragam SMA sudah berdiri di sampingnya, dia melirik Nabilah yang terkejut, karena sadar di tatap, Nabilah pun segera meminta maaf “m-maaf kak!” ucapnya dengan kembali menjalankan ‘tugas nya’ murid itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali melihat bendera.
Kini Nabilah memiliki teman dalam menjalankan tugasnya.
Raut muka Ve yang pucat terlihat sedih ‘apa yang terjadi?’ pikir Ve dengan matanya melihat seseorang. Nabilah diam karena di sebelahnya ada seseorang ‘wajahnya terlihat capek?’ Ve masih berpikir dengan kesedihan masih menyelimuti wajahnya.
Nabilah merasakan bosan, capek, panas, sampai dia berkeringat, sudut matanya melirik Ve tangan kirinya diapakai untuk menyeka keringat yang ada di keningnya. lalu *kreuikkkk~* Nabilah melebarkan matanya saat mendengar suara dari perutnya, murid yang ada di samping nya melihat Nabilah kemudian tersenyum dan bicara
“kamu lapar?” tanyanya
“heh?” Nabilah melihat kearahnya, tapi si murid itu masih melihat keatas
“perut kamu barusan bunyi!” katanya lagi, Nabilah tersenyum malu dengan kata-kata yang dia dengar.
“hehe~ aduh Nabilah jadi malu...” ucap Nabilah masih dengan senyum malu-malunya.
Murid itu tersenyum mendengar ucapan Nabilah. Si murid yang tidak melepas penglihatannya dan tidak menurunkan wajahnya dari atas tiang bendera, tiba-tiba menurunkan tangannya dan membalikan tas di punggunggnya, dia mencari-cari sesuatu dan.... dia memberikan sesuatu itu ke depan Nabilah
“eh? a-aapa ini kak?”
“buat kamu, biar cacingnya gak pada nyanyi!” tuturnya di barengi senyum khas dari wajahnya. Dia memberikan Nabilah roti selai coklat
“buat Nabilah kak?” dia mengangguk “ma-maakasih kak!” Nabilah mengambilnya tapi dia ragu untuk memakan roti itu karena takut ada guru yang melihatnya
“kakak bantuin kamu, kamu makan aja rotinya biar kakak liatin sekeliling!!” murid manis itu menawarkan, Nabilah tidak mungkin menolak kebaikan seniornya yang langka dia dapat. Dia membuka bungkus rotinya dan dengan speed cukup cepat Nabilah memakannya.
*Ve masih memakukan pandangannya dan begitu asik dengan memory lamanya*.
Bell pelajaran pertama berbunyi, itu artinya hukuman Nabilah dan juga murid yang baik sudah habis, Nabilah merapihkan mulutnya agar tidak terlihat sisa-sisa rotinya, dan si murid SMA bersiap pergi menuju kelasnya yang sudah tidak dia masuki selama 2hari.
“kak!” Nabilah memanggil seniornya, dia berbalik
“ya?”
“um~ makasih ya kak, untuk rotinya!” Nabilah tersenyum cerah, dia pun membalas lalu membalikan lagi badannya dan pergi.
“eh? Nabilah lupa! Tu kakak siapa namanya ya?! Hesss- Hadduh--” Nabilah hanya bisa melihat punggung si senior.
Nabilah mulai berjalan menuju kelasnya, tapi saat baru beberapa langkah... Nabilah baru sadar sesosok arwah yang selalu mengikutinya tidak ada berjalan di sampingnya, Nabilah melihat kembali ke belakang dan dengan gontai dia melangkah balik pada Ve yang masih terpaku.
“kak, ayo balik ke kelas!” tidak ada respon.
“Kaa~aaak Ve...” Nabilah melambaik-lambaikan tanganya di depan wajah Ve.
“Kak Ve!” Nabilah mencoba melakukan kontak dengan Ve tapi dia malah membelalakan matanya dan menatap tangan kanannya yang bisa menembus bahunya Ve. “Waaa~ Kee..ren!!” ucap Nabilah mengagumi apa yang baru dia alami. Dengan senyum jahil di sudut bibirnya Nabilah melakukan lagi kontak dengan Ve tapi lagi-lagi nembus, dan lagi~ dan cuma nembus lagi, coba lagi~ dan masih tetap hanya nembus, Nabilah cekikikan senang. tapi... saat yang ke 4 kalinya, belum tangan Nabilah sampai, Ve terlebih dulu menyetop apa yang akan di lakukan Nabilah
“Stop! Itu sakit tahu!!” komplain Ve pada apa yang di lakukan Nabilah
“sakit? Gak kena juga! Masa ia sakit?!” kata Nabilah
“itu beneran sakit Nabilahh!!” jawab Ve
“di giniin doang sakit?” kata Nabilah sambil kembali melakukan kontak dengan Ve
“udah di bilangin itu sakit! AHH!! bandel banget sih~” suara keras dari Ve cukup membuat Nabilah kaget, Nabilah buru-buru minta maaf pada Ve
“iya-iya-- maaf! Jangan marah dong, kak!!” kata Nabilah
“kamunya sih, di kasih tahu gak mau nurut! Saat tangan kamu nembus badan kakak, itu terasa sakit sama seperti kalau kamu mendorong bahu seseorang, orang itu merasakan sakit!!” Nabilah memainkan bibirnya “kamu pernah kan merasakan sakit saat bahu kamu di dorong seseorang?” Nabilah menggeleng, karena dia tidak pernah merasakan di dorong. “hemm~ ya udahlah!!” kata Ve,
Nabilah merasakan aneh pada sikapnya Ve kali ini, sebelum bahkan saat Nabilah di hukum sikapnya masih biasa saja padanya bahkan masih sempat meledek halus, tapi saat Ve melihatkan matanya pada seseorang ‘seseorang? siapa ya tadi yang di lihat kak Ve?’ pikir Nabilah sambil berjalan dengan sudah kembali di temani Ve. Selama berjalan tidak biasanya si arwah ataupun Nabilah saling diam, mereka selalu ada topik pembicaraan kalau sedang jalan berdua dan kondisi sekeliling aman dari gangguan orang-orang.
Tinggal beberapa langkah lagi Nabilah akan sampai di kelasnya, tiba-tiba Ve mengucapkan beberapa kata dengan suara yang hampir berbisik “yang tadi itu...” Nabilah mengerung karena merasa mendengar arwah di sebelahnya mengucapkan sesuatu “yang tadi itu Kinal, Nabilah!”
“apa?” tanya Nabilah untuk memastikan apa yang di ucapkan Ve.
“yang tadi di hukum bareng kamu itu... dia Kinal!!”
“HAAAH!!” tanpa Nabilah sadari dia sudah ada di ambang pintu masuk kelasnya, otomatis teriakannya membuat se isi kelas termasuk guru yang baru datang dan baru duduk di mejanya melihat kearah Nabilah.
“ada apa Nabilah?” tanya si guru laki-laki melihat Nabilah
“huh? Eeeh~ em~.. ng-nggak pak! Gaaak apa-apa!! Hehe..” ucap Nabilah sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, wajah teman-teman masih tertuju padanya. Ayana dan Gaby saling menukar pandang melihat kelakuan sahabatnya yang sudah mereka rasa aneh, akhir-akhir ini.
“ya sudah, duduk sana!” kata guru sejarah nya itu menyuruh Nabilah.
Dengan setengah membungkukan badannya Nabilah mengucapkan iya dan berjalan ke mejanya. Dia mendapat tatapan penuh tanya dari kedua sahabatnya. 'istirahat pasti di berondongi pertanyaan nih!' pikir Nabilah sambil duduk, Ve hanya bisa diam karena melihat posisinya Nabilah sedang tidak bisa di ganggu dan Ve pun tidak ada niatan untuk mengganggu Nabilah.
‘eh, iya.. Nabilah kan mau tanya sesuatu ke kak Ve!’ bisik Nabilah dalam hati dengan tangannya memainkan ballpoint, dia memainkan matanya untuk mencari Ve. ‘hemp! tu arwah kemana sih? lagi dibutuhin juga!!’ Nabilah celingukan sampai Gaby yang duduk di sebelahnya (tempat duduk mereka satu seat - satu seat) melihat Nabilah heran ‘aduh kak Ve, muncul dong! Kak Ve dimana sih?!’ masih celingukan tidak fokus pada pelajaran (Gaby memberikan isyarat pada Ayana untuk melihat tingkah Nabilah). Saat Nabilah melihat kearah kiri (wajahnya masih tanda tanya) dan kemudian kearah kanannya... tiba-tiba Nabilah tersentak kaget (wajahnya jadi tanda seru) sampai membuat ballpoint yang tadi dia pegang jatuh dan mengeluarkan bunyi yang cukup menyita perhatian guru yang sedang mencatat materi dan kemudian akan menjelaskannya, si guru yang rambutnya tidak menutupi semua kepalanya itu segera menengok ke arah murid
“ada apa?... Nabilah!-- Ada apa lagi kamu?” kata si guru setelah melihat Nabilah akan membungkukan badannya untuk mengambil ballpoint
“hah , ng-nggak pak, gak apa-apa!! Ini~ pulpen Nabilah jatuh!” jawab Nabilah dengan keringat dingin
“catat apa yang sedang bapak catat Nabilah! Nanti akan ada pertanyaan!!” lanjut si guru dengan suara beratnya
“iii..a pak! Nabilah lagi nyatet kok~” Nabilah menghela nafas
“ada yang mau Nabilah tanyain kak?” Nabilah berbisik dengan suara seeeee kecil mungkin
“tentang?” jawab Ve dengan tanya balik
“kak Ve nyimpen nomor HP teman-teman sekelas kak ve, gak?” Nabilah kembali berbisik sambil memainkan matanya, karena takut ada yang memperhatikan. Ve menggeleng “hah?! Gak ada!” Ve mengangguk
“hmm~ Kak Ve emang bukan mahluk sosial!” ~ “masa kak Ve gak punya nomor HP teman sekelas sih!?” Nabilah mendesah (Gaby sedang memperhatikan tingkah Nabilah). Ve kembali menggeleng
“kakak emang gak punya!” jawabnya “emang nomornya buat apa sih!?” lanjut Ve dengan pertanyaan
“buat di gadein! Ya buat di hubungin lah kak, aku ada rencana dengan nomor-nomor itu!!”
“rencana? Rencana apaan?”
“rencana renovasi rumah! Aduh kak banyak nanya banget!! Ada gak nomornya?” kembali Nabilah memastikan.
“gak ada, Bil! Lagian kamu kan tahu kalau kak Ve...-”
“ahh, STOP! Nabilah gak butuh penjelasan!!” kembali, tanpa sadar Nabilah mengucapkan kalimatnya dengan suara normal sampai si guru berhenti menggunakan tangannya untuk menulis “kamu bicara apa Nabilah?!” tanya si guru masih belum berbalik
‘Adduh! Mati aku~’ Nabilah menepuk jidatnya, teman-teman sekelasnya kini sedang meliht ke arah Nabilah yang dengan jelasnya mengucapkan kalimat yang tidak enak di dengar. “Nabilah~ Nabilah gak bicara apa-apa pak!” Nabilah mencoba mencari alasan.
“sekarang, kamu maju!!” perintah si guru yang sudah melihat Nabilah, Nabilah melebarkan kedua bola matanya “ayo maju, kamu catat ini di white board dan bapak akan menjelaskan pada teman-teman kamu!!” ~
“kan Nabilah bukan sekretaris pak! masa Nabilah yang nyatat di white Board!” Nabilah masih bisa melakukan protes dengan apa yang tadi sudah dia katakan (Gaby dan Ayana melihat Nabilah)
“kamu, mau catat ini ke white board” si guru menunjuk bukumya “atau kamu catat catatan bapak di buku kamu, sambil berdiri di luar kelas?!” Nabilah menelan ludahnya sendiri mendengar ucapan gurunya, daripada di keluarkan Nabilah pun akhirnya maju ke depan untuk mencatat dan si guru menjelaskannya. ‘alahhhh~ sialnya ni hari!!’ gerutu Nabilah dalam hati.
2jam kurang Nabilah mencatat, si guru menjelaskan, dan Nabilah kembali mencatat dengan diikuti si guru yang menjelaskan.
~bell istirahat berbunyi~
Guru sejarah yang mengajar kelas VII-A + sudah menjadikan Nabilah sekretaris dadakan pun keluar dari kelas. Nabilah kembali duduk di mejanya, dengan gerutuan dari bibirnya
“haah! sial banget pagi ini~” Ayana dan Gaby yang ingin mengajukan pertanyaan pun jadi urung, “bangun telat, gak sempet sarapan, gak bekal makan buat istirahat, suruh hormat ke bendera, ehh~ di tutup sama tugas sekretaris.. NYATET di white board! Mana tadi yang di tulis panjang banget lagi!! Hah!!!” keluhnya dengan kedua tangannya menopang dagu.
“em~ kamu gak bawa makan Bil?” Nabilah mengangguk dengan bibirnya masih di tekuk, ke arah Gaby yang bertanya “ya udah, ni- berdua sama aku!” Gaby menawarkan, Nabilah tersenyum senang
“punya aku juga nih!” susul Ayana menawarkan
“Wahhh~ serius nih?” Gaby dan Ayana mengangguk, Nabilah masih tersenyum senang “kalian emang..... The Best!” balas Nabilah dengan tangannya sudah dia turunkan dari dagu dan bersiap mencicipi bekal Gaby dan Ayana, tapi belum tangan putih itu dekat dengan bekal. Nabilah keburu ingat akan misi dan rencana yang sudah dia susun tanpa sepengetahuan Ve, Nabilah memutar otaknya untuk mencari alasan agar bisa keluar dan mencari si arwah yang kembali tidak terlihat
“um~ Gab, Chan, gak jadi deh icip makanan kalian nya!” kata Nabilah, membuat Gaby dan Ayana bertanya 'kenapa'
“aku mau jajan aja ke kantin! Tahu sendiri porsi makan aku gimana!!” lanjut Nabilah memberikan alasan dengan senyum lebar ke arah Ayana dan juga Gaby, tanpa ada perlawanan kedua sahabat Nabilah itu hanya mengangguk dan bilam 'ohhh, ya udah!'. Nabilah heran dengan reaksi yang di tunjukan sahabat-sahabatnya itu, biasanya mereka suka ingin tahu lebih detail. tapi Nabilah tidak mau ambil pusing, diapun segera keluar dari kelasnya berjalan kearah.. kearah yang belum pasti, untuk mencari sosok Ve. ‘kak Ve dimana sih? ngilang-ngilang mulu!!’ pikir Nabilah sambil jalan. ‘waktunya kan udah di mulai! Dia malah bertingkah aneh!!’.
Nabilah masih berjalan, dia berpikir untuk ke taman sekolah, entah kenapa pikiran Nabilah mengaungkan tempat yang di penuhi bunga itu agar dia datangi. tapi karena dari perutnya si cacing kembali bernyanyi, Nabilah pun belok dulu ke kantin untuk membeli makanan yang bisa mengganjal perutnya agar si cacing tidak melakukan mega konser bernyanyi ria dalam perutnya.
Sampainya di taman ternyata apa yang di bisikan pikirannya benar, Nabilah bisa melihat si arwah.
“hmm~ Di cariin juga! Tahunya mejeng disini!!” ucap Nabilah mengambil posisi duduk, dengan sebelumnya melihat situasi sekitar taman. Nabilah mengunyah sisa makanan yang dia beli di kantin
“ada yang aneh sama Kinal, Bil!” kata Ve dengan suara pelan, Nabilah melihat Ve
“aneh? Aneh kenapa kak?” tanyanya dengan di mulut masih ada makanan
“dia akhir-akhir ini sering bolos sekolah! Dan... tadi pagi pas telat~ Kinal bukan murid yang suka terlambat datang ke sekolah Bil!!” Nabilah berpikir sejenak ‘kenapa ni arwah tahu ya?’ “apa yang sebenarnya sudah terjadi?... haaaah~ kenapa aku dulu sama Kinal harus berantem ya?!” lanjut Ve dengan nada menyesal,
“kenapa juga kakak dulu mesti marah-marah dan dorong kak Kinal untuk menjauh?” kata Nabilah dengan polosnya, Ve melihat Nabilah. “kalau dulu kakak gak marah sama kak Kinal, terus gak jauhin kak Kinal, mungkin sekarang kakak gak perlu ngalamin semua ini! Ia kan?” tutur Nabilah.
“hemm~ mung...kin!” kata Ve sambil memikirkan ucapan Nabilah.
“ya udahlah kak, itu kan yang dulu! Yang sekarang itu mending kita cari cara untuk gimana minta maaf sama kak Kinal, sama teman-teman disini, sama orang tua kakak yang... sekarang orang tua kakak dimana kak?” Nabilah mengakhiri kalimatnya dengan pertanyaan karena seperti yang Ve bilang orang tuanya super duper sibuk. Meski mereka tahu anaknya sedang koma yang entah akan sembuh atau mati mereka sepertinya tidak terlalu memusingkan hal itu. Mereka sudah menitipkan Ve yang ada di ruang ICU pada dokter dan suster-suster di rumah sakit dengan uang dan kekuasaannya.
“em~ kakak juga gak tahu, Bil! Mereka ada dirumah apa gak? Mereka kapan ada di rumahnya? Kakak gak tahu, dan… gak pernah tahu tentang papa dan mama! *sigh*” jawab Ve dengan begitu lemas.
“mmm~*Nabilah berpikir* gimana...” Ve melihat Nabilah “kalau sore nanti, kita ke rumahnya kakak!” Nabilah menawarkan, Ve tersenyum dan membalas tawaran Nabilah
“boleh, rencana kamu apa?”
“rencana apa kak?”
“ya rencana kamu ke rumah kakak! Itu buat apa? Dan mau ngapain?”
“owh! yaaa.. Nemuin orang tuanya kakak lah! Kalaupun mereka nya gak ada, kan ada bibi rumaya... Sekalian aja minta maaf, sama tanya kapan orang tua kakak akan ada di rumah atau... ya gimana caranya lah biar papa mama nya kak Ve bisa kita temuin sebelum 48jam itu berakhir!!” Nabilah menjelaskan
“bibi rumaya… dia bakal maafin kakak gak ya?” gumam Ve,
Nabilah masih sibuk dengan kegiatan makannya sambil bicara “pastilah kak! bibi nya kak Ve itu... mm~ waktu pertama Nabilah ke rumah kakak, dia kayak tahu keberadaan kakak yang ada di dekat Nabilah!”
“oh ya?” Ve sedikit terkejut, Nabilah mengerung
“ya, iyalah.. jangan-jangan kakak dulu gak dengerin apa yang Nabilah ucapkan?” Ve balas mengerung dengan melihat Nabilah
“yang mana Bil?” Nabilah tidak menjawab pertanyaannya Ve, dia berhenti melahap makanannya dan mengelus kening sebelah kanannya sambil menarik nafas.
“udahlah gak usah ngebahas yang itu~ pokoknya kak Ve ikutin apa yang Nabilah akan lakuin untuk misi kita ini! Ok?”
“misi kita?” Ve tersenyum lebar “kamu udah mau nerima misi ini Bil?” lanjutnya, membuat Nabilah bereaksi
“hemp! Misi kita, misinya Veranda dan Nabilah! Yang Nabilah namain misi VeNa.. Hahahaaa!!” Nabilah tertawa dengan apa yang di ucapkan bibirnya. Ve yang tadi sempat murung bisa ikut tertawa dengan kelakuan Nabilah.
Ve menatap Nabilah dan kembali berpikir dia sangat beruntung bisa mendapat pertolongan dari Nabilah, meski kadang Nabilah suka mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di dengar yang mengindikasikan kalau Nabilah menolong dirinya karena keterpaksaan, dengan bilang ‘ini bukan misinya’ ‘kenapa Nabilah harus mau bantuin kak Ve’ ‘apa untungnya buat Nabilah’ ‘kenapa kak Ve gak pilih orang lain’. Dan tak jarang Nabilah juga suka bercanda dan menggodanya untuk hal-hal konyol yang sudah pernah dia lakukan di saat sebelum kecelakaan itu datang. Tapi kembali Ve berpikir kalau itu bukan masalah serius yang perlu Ve simpan dalam hati, karena Ve tahu pasti Nabilah tulus menolongnya, dan apa yang Nabilah lakukan itu hanya refleksi dari siapa Nabilah dan bagaimana dia... Nabilah tetap anak yang masih berusia 13th meski dari wajahnya sepintas sudah seperti anak SMA , dia senang bercanda, dia senang meledek sebatas untuk bercanda, dia senang berteman dengan siapapun, dia senang bicara sampai menghabiskan durasi orang lain, dan kesenangan lainnya yang di lakukan anak seusianya.
“heh! Kenapa liatin Nabilah kayak gitu?” Tanya Nabilah “Nabilah cantik ya?” lanjutnya membuat Ve tersenyum lalu menjawab
“ya pasti kamu cantik lah, orang kamu kan cewek!”
“hmm~ bilang ia aja, tanpa ada kata karena Nabilah cewek, buat nyenengin hati Nabilah, susah banget ya? kayaknya! Nyebelin!!" gerutu Nabilah, Ve tidak bisa menahan kegemesannya pada Nabilah “iya, iya~ Nabilah cantik, manis, lucu, imut, semua dehh!” kata Ve sambil melihat Nabilah
“nah gitu dong! Kan mood nya Nabilah jadi bagus buat nolongin kakak!!~ hehe.. - eh ya kak, masih inget sama apa yang Nabilah tadi tanyain di kelas?" Nabilah bertanya pda Ve yang kini sedang mencari jawaban
“emm~ ... tentang.... nomor HP?” Nabilah mengangguk dengan jawaban Ve
“kalau kakak gak punya nomor teman sekelas kakak, atau nomor murid-murid yang akan kita mintai maaf. Gimana caranya kita dapat nomor HP mereka, kak? Dari mana Nabilah bisa dapetin nomor mereka?!" Nabilah mengarahkan badannya ke arah Ve
“em~” Ve berpikir (si arwah sudah bisa kembali ke mood awal sebelum bertemu Kinal, dan masih bisa menggoda Nabilah) “em~~ dari...”
“ck~ lama amat sih! Jadi dari mana nih? Nabilah protes karena Ve terlalu lama
“dari... dari mana ya Bil?” dengan lurusnya Ve malah bertanya balik pada Nabilah
“ish, kirain tahu! Dari tadi sok-sok mikir tuh!!” ucap Nabilah
“kan tadi di kelas juga kak Ve udah kasih tahu, kak Ve gak punya nomor mereka dan gak tahu juga harus dapetin dari siapa? Tahu sendiri kak Ve bukan mahluk sosial!” ~ “lagian, mana mungkin kak Ve nyimpen nomor mereka.. kenal aja enggak!! Yang ada di kontak nya kakak paling cuma Stella, Dhike, Yoona, sama Kinal, Udah! sisanya nomor...,-“
“gak usah di terusin kak, kelamaan!” potong Nabilah atas penjelasan Ve “sekarang kita pikirin dari mana kita bisa dapetin nomor nya mereka-mereka!!” Ve mengangguk “jangan ngangguk aja! Jadi gimana nih? Dari siapa kira-kira kita bisa dapat nomornya?” kembali Nabilah bertanya, Ve memainkan matanya *sepertinya berpikir*
“apa kita minta tolong sama kak Stella, kak Dhike dan kak Yoona”
“Jangannn!” Nabilah terbelalak mendengar jawaban cepat Ve
“ke...napa?” tanya Nabilah pelan, menjawab Ve.
“gak tahu...” jawab Ve tak kalah pelan
“lah, gak bolehin kok malah gak punya alasannya sih? Hiss-- terus gimana dong?”
“umm~ gimana kalau kamu minta tolong Shania sama Beby aja?” usul Ve
“kalo ke kak Shania sama kak Beby udah Nabilah pikirin kak! Nabilah udah minta tolong sama mereka, tapi buat minta nomor HP nya murid-murid yang di SMP. Kalau yang di SMA kan... gak mungkin kak?”
Ve menatap lagi Nabilah
“aaapa sih? Seneng banget liatin Nabilah kayak gitu, dari tadi?” kata Nabilah yang diliatin Ve, sambil senyum mengembang dari bibir nya Ve.
“mm-nggak, kakak lagi seneng aja!” Nabilah mengerutkan keningnya
“idihh... dasar arwah labil! tadi mukanya di tekuk, bersedih sinetron~ sekarang senyam-senyum kayak mau pinjem duit!”
“hahaha~ bisa aja nih si cadel!!”
“aduh itu ngomongnya? Cadel, Cadel~ eh kak, cadel-cadel gini juga banyak yang ngantri sama Nabilah, tahu!”
“ngantri? Mau pinjem duit?! Hahahaa”
“kagak kak, ngantri buat nonton theater JeKaTe empat delapan!! Puas!?”
“eh? WL dong?! Hahahaaa~” ~ “Hahahaaa~ betull! panjang tuh antriannya” Nabilah dan Ve malah sibuk ketawa dengan candaan jayusnya.
*beberapa centimeter dari tempat Nabilah dan Ve berbincang, ternyata ada 2murid yang sedang menguping dan melihat Nabilah (karena Ve tidak terlihat dan tidak terdengar)*
“tuh kan, aku bilang juga apa! Ada yang aneh sama Nabilah!” kata si murid satu berbisik, si murid lainnya mengangguk menyetujui. (Posisi mereka berjongkok, sembunyi di belakang deretan bunga-bunga matahari yang ada di taman yang bentuknya seperti labirin kotak).
“jadi gimana nih Ga-,”
“Ssuutt,, jangan berisik! Gak kedenger Nabilah ngomong apa lagi!” katanya dengan menghalangkan tangan kanan pada teman yang ada di sebelahnya.
“gimana kalau... kita minta tolongnya sama kak Kinal!”
usul Nabilah pada Ve, tapi Ve menggeleng “kenapa lagi? Tadi mau ke kak Stella sama yang lainnya, gak mau! Sekarang di ganti ke kak Kinal, masih gak mau juga! Jadi maunya kak Ve gimana? Ke siapa?!” Nabilah menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“aduh Nabilah, kenapa kamu kayak orang gila!”
bisiknya melihat kelakuan Nabilah yang bertanya sendiri di jawab sendiri
“iyaa... lebih parah dari waktu itu… yang teriak-teriak gak jelas, terus lari-lari!”
sahut yang di sebelahnya sambil geleng-geleng.
“Kinal gak akan punya nomor HP mereka, Bil! Kamu kan tahu cerita Kinal gimana...” jelas Ve
“Nabilah tahu kak, meski belum semuanya! Tapi kan maksud Nabilah minta tolong sama kak Kinal itu biar dia minta tolong lagi sama teman-teman lainnya, gitu loh!! Akses kak Kinal ke murid yang di gedung SMA lebih leluasa di banding Nabilah!”
“emm.. *Ve sok memikirkan* ya udah kita coba!”
“nah gitu dong, yuk ahh sekarang cari kak Kinal! Kalau pulangnya takut kak Kinal keburu ngilang!!” Ve mengangguk, mereka berdua beranjak dari bangku taman.
“eh, eh~ Chan, Chan.. Nabilah jalan tuh, cepetan cari tempat ngumpet!”
“i-ia Gab, (Ayana Celingukan) disana~ disana!” Gaby dan Ayana dengan cepat menuju tempat yang di tunjuk Ayana.
Setelah Nabilah keluar dari kelas, Ayana dan Gaby tak lama mengikuti Nabilah dari belakang dengan jarak cukup aman untuk tidak terdeteksi oleh Nabilah. Mereka berdua penasaran dengan keanehan tingkah sahabat nya yang ompong itu, makanya keduanya merencanakan untuk menguntit Nabilah dengan rencana yang sudah mereka susun pas tadi Nabilah sedang menjalani hukuman benderanya.
Saat Nabilah dan Ve berjalan di koridor SMA dengan tatapan murid-murid di gedung itu tertuju padanya. Ve berbicara pada Nabilah dengan menunjuk ke arah koridor seberang yang ada di depan kelas XII
“Bil, ada kak Sendy sama kak Rica tuh!”
“terus?” ucap Nabilah pelan, dengan matanya dia tetap arahkan kedepan, agar murid yang sedang menatapnya tidak berpikir macam-macam setelah pikiran mereka di penuhi kemacam-macaman lainnya karena melihat murid SMP jalan di koridor gedung SMA.
“minta maaf aja dulu sama mereka! Soal Kinal bisa nanti belakangan, dia kan bisa di cari ke rumahnya.. kalo kak Sendy sama kak Rica, susah!!” jelas Ve, Nabilah mengarahkan matanya ke tempat yang di tunjuk Ve. Lalu kembali ke depan
“gak ah! ke Kak Kinal aja, soal kak Sendy sama kak Rica bisa lebih gampang, Kalo kita udah dapat nomornya. Otomatis bisa sekalian kita mintain maaf! dan gak cuma 2murid tapi semua sekaligus!!” Nabilah bicara seperti menggumam agar mulutnya tidak terbuka terlalu lebar.
“ahhh, bener juga tuh ide kamu!” jawab Ve
“makanya di otaknya jangan cuma ada rencana nge Bully aja!!”
“jaaah, malah ngeledek!”
“untung Nabilah ngeledeknya pas kakak gak keliatan, kalo masih normal. Bisa-bisa malah Nabilah yang di ledek balik dan jadi korban bully nya kakak!!” dengan senyum di sudut bibirnya Nabilah berucap.
“*sigh* hmm~ ledek aja terus!!”
-PERPUSTAKAAN-
“kak Kinal emang murid yang baik ya?, nongkrongnya aja di perpus!” bisik Nabilah pada Ve, yang di balas anggukan.
“bukan Cuma Kinal, kakak juga murid yang baik kok!” ucap Ve “dulu… kita berdua suka ngabisin waktu di tempat ini, buat baca komik sambil dengerin musik, terus sambil searching-searching juga!” Ve menerawang, Nabilah mendengarkan dengan matanya menyisir setiap sudut yang ada di perpustakaan modern itu (perpustnya gak lusuh kayak di film-film Hantu kebanyakan, emang ini film hantu? Bukan! Cerita Hantu? Mm~ bukan juga! kayaknya! :D)
“kita juga sering di tegur sama penjaga perpus, karena suka berisik kalau udah ngomongin sesuatu! Atau kalau Kinal membagi cerita lucunya!!”
“hmm~ kayaknya lebih asik temenan ama kak Kinal ya kak? Ketimbang ama yang sekarang” Ve mengangguk, saat dia akan kembali bicara, Nabilah keburu bicara duluan “kak, kak~ itu kak Kinal” ucapnya sambil menunjuk, mereka berdua menghampiri Kinal.
Kinal yang menyadari kedatangan Nabilah segera mengarahkan bola matanya ke arah Nabilah
“Hai kak!” Nabilah melambaikan tangan kanannya dan berbisik mengucapkan 'Hai' , Kinal diam sejenak mengingat wajah Nabilah dan.. mulutnya terbuka membentuk 'Ah' "kamu...?" Nabilah mengangguk padahal Kinal belum selesai bicara
“aku Nabilah kak, kakak... kak Kinal kan?” Nabilah sok akrab, Kinal mengangguk heran ‘kok dia tahu?’ “bisa bicara sebentar gak kak?” lanjutnya meminta, tanpa banyak berpikir Kinal kembali mengangguk. Inginnya Nabilah mengajak Kinal keluar tapi dia merasa tidak enak, udah di bolehin ngomong sama Kinal aja Nabilah udah bersyukur.
“umm~ Nabilah boleh minta tolong gak? sama kakak?” ~ “tolong? tolong apa?” ~ “Nabilah mau.. minta-- nomor telpon mereka kak!” kata Nabilah mengajukan selembar kertas yang berisi nama-nama murid SMA yang akan dia mintai maaf, Kinal menerima kertasnya dia membaca sekilas lalu menggeleng “kakak gak punya nomor mereka!”
“kak Ve bilang juga apa Bil! Kinal gak akan punya nomor mereka!!” Nabilah mendelik Ve dengan sudut mata kanannya
(belajar dari kesalahan. Nabilah sedikit memanegement setiap tingkahnya saat akan menjalin komunikasi dengan Ve, kalau tidak karena reflex Nabilah tidak akan bicara. Dia Hanya akan menggunakan bahasa tubuhnya.)
“emm~ kalau kakak gak punya, kakak bisa gak? Bantuin Nabilah buat dapetin nomor murid-murid yang ada di kertas itu?” Kinal mengangkat kedua bola matanya seolah berkata 'huh? Siapa e..lo?!' lalu dia mulai menjawab permintaan Nabilah
“aku gak bisa! Aku lagi sibuk!! Maaf ya~” katanya
“tapi kak, Nabilah mohon... Nabilah minta bantuannya kak Kinal! Soalnya ini penting banget!! Dan.. Nabilah gak tahu lagi harus minta tolong sama siapa!!!”
“hemph~ kakak gak bisa, dan gak akan pernah bisa meminta nomor mereka! Kamu mending minta tolong sama yang lain aja deh, siapa kek gitu? Atau… kamu ke Tata Usaha aja!! Biar lebih jelas!!!”
tanpa memberikan alasan yang jelas, Kinal menolak membantu Nabilah padahal tadi pagi terlihat kalau Kinal itu baik meski dia tidak kenal pada Nabilah, itu kenapa Nabilah memutuskan untuk meminta bantuan Kinal yang juga sahabatnya Ve, orang yang sedang di bantunya.
“tapi kak ini,-“ Kinal beranjak dari bangku di perpus dan meninggalkan Nabilah tanpa mau lagi menghiraukan ucapan Nabilah, dia berjalan
“gimana nih, Bil! Kinal kayaknya marah sama kamu!!”
“tunggu kak!-- Kalau semua ini ada kaitannya sama kak Ve!!” Kinal berhenti berjalan, “kalau Nabilah bilang nomor-nomor itu bisa menolong kak Ve dari komanya?!” kinal mengerungkan keningnya masih membelakangi Nabilah ‘apa maksud ucapan anak itu?’ pikir Kinal,
Ve mengharapkan Kinal mau menolong Nabilah karena dengan begitu Ve akan tahu apa Kinal marah padanya atau tidak?, setelah Ve mendengar ucapan Nabilah.
Kinal berbalik “Nabilah, dengerin kak Kinal ya! Seperti tadi kakak bilang... kakak gak bisa bantuin kamu untuk dapetin nomor-nomor itu,-" ~ “sekalipun itu untuk kepentingannya kak Ve?” potong Nabilah “ya! Sekalipun itu untuk kepentingannya… Ve!!” Kinal mengucapkannya dengan begitu jelas, Ve begitu terkejut mendengar pernyataan Kinal.
“tapi.-“ ~ “udah, gak usah ada kata tapi lagi, kak Kinal bilang gak! Itu artinya GAK!!” giliran Kinal yang memotong ucapan Nabilah. Kinal kembali berjalan; Nabilah tidak mau menyerah, bukan karena Kinal menolak permintaan tolongnya tapi karena Nabilah ingin tahu alasan penolakan Kinal atas permintaannya padahal Nabilah sudah membawa nama sahabatnya sendiri yaitu Ve. *posisi Kinal, Nabilah dan Ve sudah ada di luar perpus*
“apa persahabatan kakak sama kak Ve dulu gak pernah berarti?” Nabilah bicara di belakang Kinal yang terus berjalan “apa hanya karena kak Ve bilang gak mau lagi temenan sama kakak, lantas kakak menyerah dengan sikapnya kak Ve?” Nabilah belum menyerah... “tapi.. bukankah dulu juga salahnya kak Kinal sendiri? yang bilang sama kak Stella, kak Dhike dan kak Yona kalau kakak sebenarnya sudah muak berteman dengan anak orang kaya,,, seperti kak Ve!” kata-kata terakhir Nabilah mampu membuat Kinal berhenti, tapi Nabilah masih terus bicara tanpa melihat Kinal, karena Kinal berjalan dengan cukup cepat sampai “dan.. kak Kinal juga bilang kalau kakak temenan sama kak Ve hanya karena,-- *buuk* aduhhh...” Nabilah menabrak punggung Kinal, membuat ucapan dan juga langkah kakinya terhenti, saat Nabilah mengusap keningnya yang menabrak punggung Kinal, Kinal sudah menatapnya dan bersiap bicara, Nabilah mengangkat kepalanya dan merasakan perasaan ciut saat Kinal memberikan tatapannya.
“HEH! Tahu apa kamu soal aku sama Ve? Kamu itu siapa? Gak usah sok tahu kalau jadi anak!!” ujar Kinal cukup serius, membuat Nabilah menelan ludahnya sendiri; Ve masih melihat ekspresi Kinal yang menurutnya ada kesedihan di balik kemarahannya pada Nabilah. “JAWAB! Dari mana kamu tahu cerita kayak gitu!??”
“d-dari kak Ve! Dari mana lagi Nabilah tahu soal kak Kinal dan kak Ve kalau bukan dari kak Ve nya!!” karena panik di desak Kinal, Nabilah jadi keceplosan mengucapkan kata-katanya.
Kinal melebarkan bola matanya.
“jangan bohong ya? Kamu pasti tahu dari Stella sama teman-temannya kan?!” ~ “huh? K-kak Stella..” Nabilah menggeleng, Kinal menatap Nabilah dengan kerungan dari wajahnya dan pikirannya terus menebak apa yang di katakan Nabilah sebelumnya itu benar adanya? Tapi bagaimana mungkin Ve bicara dengan anak yang ada di depannya, sementara Ve sedang terbaring koma dan.. sebelum Ve koma, Ve selalu ada dengan Stella dan lainnya. Tidak pernah Kinal lihat Ve dengan Nabilah. “siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu tahu soal cerita itu…” kembali Kinal bertanya, karena sangat penasaran dengan siapa Nabilah dan apa maksudnya.
“Nabilah tahu dari kak Ve! Harus berapa kali lagi Nabilah ulang kalimat itu? NABI..LAH, TAHU… DARI KA.K VE!! Gak usah liatin Nabilah kayak gitu? Temen-temen kakak pada liatin kesini!” entah kerasukan apa yang pasti bukan kerasukan Ve, Nabilah berani bicara dengan nada dia tekan kan kearah Kinal yang masih menatapnya dengan tatapan pemburu. “kakak mau? Disangka lagi nge bully Nabilah! Lihatlah wajah mereka…” ujar Nabilah menunjukan dengan matanya kearah murid-murid yang memakai seragam SMA “udah gak ada lagi queen witch disini!! Kecuali…,-” kata-kata Nabilah terpotong karena ada seorang guru berjalan di koridor yang sama, tempat dia dan Kinal berdiri. “ada guru kak, sebaiknya Nabilah pergi… takutnya nanti disangka kak Kinal mau ngapa-ngapain Nabilah dan jadi masalah!!” Kinal melihat kebelakang dan saat akan melihat lagi Nabilah, ternyata Nabilah sudah melewatinya untuk pergi meninggalkan gedung SMA.
“jangan dulu pergi Bil, belum selesai! Gimana dengan Kinal!?”
“Nabilah gak tahu kak! Pikirin nanti aja!!” sahut Nabilah pada pertanyaan Ve
Nabilah terpaksa meninggalkan Kinal karena dia takut kalau Kinal akan dapat masalah dengan pihak sekolah karena tahu sedang berhadapan dengan Nabilah dengan gimik emosi meski tanpa kontak fisik yang berarti. Dan belum lagi, waktu istirahat hampir habis. Kalau Nabilah masih beradu argument dengan Kinal, yang ada nanti nomor HP tidak dapat, kata maaf pun musnah.
“gimana dengan nomor HP?” Tanya Ve lagi “gimana dengan meminta maaf pada Kinal?” Ve terus berbicara “Nabilah? gimana” tapi Nabilah tetap tidak menanggapi, dia terus berjalan dan… akhirnya dia sudah ada di luar gedung SMA.
Setelah diluar, nabilah mengitarkan matanya dan bicara pada Ve. Dengan sebelumnya menghela nafas
“*sigh* udah Nabilah bilang kak, kita pikirin itu nanti! Kalau Nabilah tetap bertahan disana dan… dan terus berharap sama kak Kinal, waktu kita keburu habis!! Kakak lihat sendiri kan? Gimana sikap kak Kinal!” Ve bungkam dengan yang di katakan Nabilah, karena Ve tahu betul apa yang dikatakan Nabilah itu memang benar.
“Ssss~ Kita ke rencana B, kak!!” ucap Nabilah setelah beberapa detik terdiam “ayo kak, kita pergi cari kak Jeje dan lainnya!” ajak Nabilah pada Ve, Ve pun mengangguk tanpa pertanyaan karena melihat wajah Nabilah yang begitu serius dan Tone dari ucapannya yang terdengar begitu perduli akan masalah dirinya, Ve pun mengangguk dan bergegas pergi bersama Nabilah. meski di pikirannya memunculkan pertanyaan, 'Nabilah punya rencana B? kapan dia memikirkannya?'
*4menit Bell akan berbunyi*
‘kak Jeje sama yang lainnya pasti ada di dekat lapangan basket dan voli’ pikiran Nabilah terus mengarahkan kakinya untuk ketempat olah raga itu. Sesampainya disana ternyata dugaan Nabilah benar. Jeje, Panda, dan Frieska ada disana meski tanpa Delima.
“hai~ siang kak!” sapa Nabilah saat sudah ada di hadapan Panda dan Frieska, Jeje sedang bermain bola basket.
“Nabilah? Ada apa?” tanya Frieska
“Nabilah... ma..u~ mm--mi..nta to...long, boleh gak kak?!”
meski tiap kalimatnya lama Nabilah sampaikan tapi bisa selesai juga.
“tolong? tolong apa?” giliran Panda yang bertanya
“ini kak” Nabilah merogoh saku seragamnya dan menyodorkan secarik kertas “Nabilah mau minta tolong! Nabilah~ mau minta nomor HP nya kakak-kakak yang namanya ada di kertas itu. Bisa gak kak?” ucap Nabilah kali ini tanpa ragu, karena dia tahu bell tanda istirahat habis akan segera bunyi. Panda dan Frieska saling tukar pandang
“ada apa nih?” Jeje datang menghampiri mereka dengan sisa keringat yang masih terlihat di leher “hai, Bil!” sapanya kemudian pada Nabilah, Nabilah tersenyum dan mengangguk menerima sapaan Jeje. Panda dan Frieska mengatakan pada Jeje tentang maksud Nabilah, kini Jeje, Panda, dan Frieska yang saling menukar pandang. Selang sepersekian detik Jeje pun mengeluarkan suaranya
“kita boleh tahu gak, nomor-nomor ini bakal kamu apain?” tanya Jeje
“mm~ Nabilah mau... meminta maaf sama mereka,
seperti yang Nabilah lakuin sama kak Jeje, kak Panda, kak Frieska, kak Delima dan yang lainnya yang sudah-sudah” Nabilah memberikan penjelasannya, Ve hanya bisa menyimak dan berharap penuh pada Jeje dan teman-temannya untuk bisa membantu Nabilah agar dia bisa membantu dirinya.
“kak, bisa gak? Nabilah dapat nomor mereka?! Waktu istirahatnya udah hampir habis!!” tanya lagi Nabilah sedikit memaksa kedengarannya.
“kalau di di sebutin satu-satu kelamaan, kayak yang kamu bilang istirahatnya udah hampir abis!”
“jadi?”
“nomor HP kamu berapa? Nanti kak Jeje sms ini nomor-nomornya!!”
“ah, s-serius kak! Ya udah, ini nomor Nabilah kak!!” Nabilah menyebutkan nomornya dan Jeje menyimpan nomor si cerewet di phone booknya.
“Ok, kamu tunggu aja... nanti kakak sms in nomornya!”
“ia kak! Makasih~ sekali lagi makasih kak~” setelah mengucapkan kata terima kasih Nabilah lalu pamit untuk pergi karena bell istirahat sudah berbunyi.
“kamu yakin Je, mau ngasih nomor mereka yang ada di kertas itu?!” tanya Panda kemudian, setelah Nabilah menghilang dari pandangannya
“apa boleh buat! Nabilah bakal susah di hentikan, kalau toh kita gak ngasih nomornya dia pasti akan tanya ke teman-teman lainnya~ jadi ya udah, kita kasih aja! Dia juga gak mungkin macam-macam pakai nomor itu!! Iya kan?”
“iya, gue tahu! Bukan itu masalahnya, tapi.. apa gak akan kenapa-kenapa kita ngasih nomor mereka ke Nabilah, dan… saat Nabilah nanti minta maaf, lu yakin mereka gak akan pada gimana-gimana sama tu anak! Secara dia minta maaf buat kakak sepupunya yang begitu di benci sama murid di sini!” Panda berspekulasi menanggapi Jeje.
“aku rasa gak akan ada apa-apa dan kenapa-kenapa, Nabilah sepertinya anak yang cerdik. Dia bisa memilah kata saat dia berbicara, so' ya… gak akan ruwet lah!!” dan Frieska menyusul menanggapi
“gue setuju ama Frieska, si Nabilah bakal baik-baik aja! Kalau emang mau mastiin, ya liat aja ntar apa yang di lakukan tu anak!!” Jeje kembali buka suara dan setuju pada pemikiran Frieska. Panda pun mengangguk
“masuk kelas yuk? Keburu pa Zaid nyampe di kelas!” ajak Jeje kemudian.
-Di Kelas-
Nabilah duduk dengan sebelumnya melempar senyum pada Ayana dan Gaby, karena bell sudah berbunyi dari tadi... *dret~ dret~* HP Nabilah bergetar, saat akan mengambil HP nya guru IPA keburu datang. Tapi karena penasaran Nabilah tetap mengambil HP yang ada di saku seragamnya
“Sut~ liatin gurunya kak, Ada SMS nih!!” Nabilah memberikan perintah pada Ve, Ve mengangguk.
‘Bil, kak Shania sama kak Beby udah bisa meyakinkan teman-teman lainnya untuk berkumpul di dekat taman sekolah!’
isi SMS dari Shania.
Nabilah meminta tolong pada Shania dan Beby untuk mengumpulkan teman-temannya yang di gedung SMP, jumlah mereka memang tidak sebanyak murid SMA yang pernah di sakiti Ve. Tapi karena rencana awal meminta nomor HP murid SMA yang di perkirakan bisa di dapat sebelum istirahat dan misi dapat di eksekusi sepulang sekolah gagal, jadi ya.. Nabilah memutuskan untuk melancarkan rencana kedua yaitu meminta maaf terlebih dulu pada murid-murid SMP. Shania dan Beby bisa gerak cepat untuk meyakinkan teman-teman agar mau kumpul di tempat yang sudah di tentukan.
Nabilah menyeringai lalu mengetik balasan
‘:) makasih kak, makasih atas bantuannya! Pulangnya nanti Nabilah akan langsung ke taman!!’ *klik send*
Guru memulai materi pelajaran tepat setelah Nabilah mengirimkan pesan balasan.
Waktu memang begitu cepat berlalu, setelah pelajaran IPA yang lamanya 1,5jam, kemudian berganti lagi guru, dan akhirnya mereka mendengar bell pulang. Nabilah cepat-cepat pamit pada Ayana dan Gaby untuk pulang lebih dulu, lalu berjalan menuju taman sekolah, kedua sahabatnya itu sengaja dengan cepat meng iyakan ucapan pamit Nabilah agar mereka bisa kembali mengikuti Nabilah seperti saat istirahat tadi. Mereka berdua ingin tahu lebih detail tentang apa yang sebenarnya sedang Nabilah lakukan?, apa benar Nabilah bicara sendiri?, untuk apa Nabilah mendatangi gedung SMA? Bukan baru sekali tapi 2kali!, yang paling penting adalah apa yang Nabilah sembunyikan dari mereka?.
Beberapa menit Nabilah menunggu dan yang di tunggu pun mulai berdatangan satu persatu sampai akhirnya datang semuanya.. murid SMP yang berjumlah 13orang. Sonia, Rena, Novinta, Olive, Uty, Sinka, Tata dan 6 murid lainnya (disebutin satu-satu penuh *ngeles*:D ).
Saat mereka menginjakan kakinya ditaman, dan melihat ada adik kelas mereka sudah menunggu. Mereka heran kenapa mereka di suruh kumpul di tempat ini, hingga gaduh lah sekitar taman itu dengan pertanyaan yang di lontarkan antar satu sama lain. Beby dan Shania hanya menjadi penonton (maksudnya mengantisipasi kalau-kalau Nabilah di...... sama seniornya) di belakang tidak jauh dari posisi Nabilah, pun dengan Ayana dan Gaby yang sudah bisa melihat murid-murid itu ada di sekitar Nabilah.
“Nabilah mau ngapain ya Gab?” tanya Ayana, Gaby hanya bisa menggeleng. “eh, eh,, liat deh Gab!” Ayana menunjukan tangan kanannya ke arah Shania dan Beby “itu bukannya kak Shania sama kak Beby, ya?!” Gaby mengerung dan menscan wajah orang yang di tunjuk Ayana dengan matanya
“iya, itu memang mereka! Tapi mau ngapain kak Shania sama kak Beby ada di sana dan ngeliatin Nabilah!?” Ayana diam lalu hanya menjawab
“Aneh?!” ~ “Banget!” sahut Gaby.
Saat Nabilah mulai bicara dengan basa-basinya pada ke 13 murid, Ayana dan Gaby masih khusuk mendengarkan. Tapi saat Nabilah sampai pada inti pembicaraan, bukan hanya ke13 murid itu yang kaget mendengar kalau Nabilah meminta maaf atas nama Ve namun Ayana dan Gaby pun tak kalah terkejutnya. Hingga akhirnya keberadaan keduanya bisa tersadari dan terlihat oleh Nabilah.
“Aya...na?~ Ga...by?~” bisik Nabilah pelan Melihat ke dua sahabatnya. Nabilah jadi bingung, melanjutkan maafnya dengan menjawab pertanyaan senior SMP nya yang membanjiri taman, atau berlari ke arah Gaby dan Ayana yang akan menghampiri dirinya dengan dari wajah mereka sangat jelas tersirat keheranan?.
Shania dan Beby yang melihat adegan itu, tanpa di komando atau tanpa dimintai pertolongan oleh Nabilah langsung lari ke arah Ayana dan Gaby yang bersiap menghampiri Nabilah di tengah orasi maafnya. Kedua sahabatnya sudah ada yang menghandle dan sekarang tinggal Nabilah menyelesaikan apa yang sudah dia mulai
“Ok, Ok! Tenang, Tenang,, kakak-kakak!!~ Nabilah akan jelasin, seeeeeeejelas mungkin sama kakak-kakak semuanya! Ya?!”
Ve melihat Nabilah dengan dari wajahnya terlukis guratan yang abstrak, ekspresinya Ve bercampur; senang, sedih, khawatir, takut, putus asa. Semua ada di wajah pucatnya yang sedang dia arahkan pada Nabilah. “seperti yang kita semua tahu, kak Ve mengalami kecelakaan dan dikabarkan koma,-“
“terus? Kenapa kamu minta maaf untuk dia!” celetuk seorang murid bernama Novinta memotong ucapan Nabilah “bukankah semua murid disini senang kalau kak Ve itu mengalami hal yang kayak gini! Yaa.. anggap aja itu hukuman buat dia yang suka seenaknya!! Iya kan teman-teman?!” tutup Novinta membuat beberapa murid lainnya saling bersahutan menyambut ucapan Novinta; Nabilah mengerung mendengar ucapan terakhir kakak kelasnya itu. “iya betul” ~ “apa yang di katakan Novinta betul” ~ “heem, kak Ve gak pantas dapetin itu” ~ “bener-bener, semua murid pasti senang kalau kak Ve gak balik lagi ke sekolah ini!” Novinta tersenyum penuh kemenangan atas apa yang di ucapkannya yang ternyata mendapat tanggapan yang ‘positif’ dari beberapa teman lainnya, Nabilah menggelengkan kepalanya. Karena suara dari seniornya tidak juga reda, Nabilah mengambil tindakan untuk menghentikan saling sahut ucapan diantara mereka.
“STOPPPPPP! tenang lah, kakak-kakak semua!!” Nabilah menghentikan saling sahut mereka yang semakin lama semakin berisik “apa... kakak-kakak semua gak malu! Disini Nabilah berdiri sebagai adik kelas kalian!! Hanya mendengar ucapan permintaan maaf yang Nabilah sampaikan atas nama kak Ve yang belum selesai Nabilah utarakan, kalian malah pada sibuk berspekulasi sendiri, sampai bicara seenaknya!” murid-murid itu mendengarkan apa yang di katakan Nabilah.
“gak ada yang bicara seenaknya disini! Justru kamu tuh, yang seenaknya. Nyuruh Shania sama Beby buat ngumpulin kita disini, dengan alasan gak jelas. Ehh~ gak tahunya mau minta maaf… atas nama kak Ve lagi! Siapanya kamu, kak Ve itu?!” kembali Novinta bicara “ngapain kamu mau minta maaf atas nama dia? Gak usah sok-sok an lah!!” Nabilah dan Novinta saling melempar tatapan, Ve hanya bisa menonton dan berharap semua akan lancar seperti sebelum-sebelumnya. “kamu gak tahu kan gimana rasanya di kerjain kak Ve? Di permalukan di depan murid-murid lainnya sama dia!,-” ~
“iya! Nabilah emang gak tahu gimana rasanya! Karena Nabilah belum pernah berurusan dengan kak Ve untuk hal itu!! Tapi… bukan berarti Nabilah gak bisa ngerasain apa yang dulu kakak semua alamin, dan.. apa dengan sekarang kakak gak mau maafin kak Ve, lantas semua yang pernah kakak rasakan itu terbalas dengan melihat kak Ve koma!” Nabilah menyela ucapan Novinta
“bicara itu gampang! Apalagi kamu gak pernah ngerasain langsung ada di posisi kita, iya kan teman-teman!?” beberapa murid yang pro pada Novinta mengangguk sementara sisanya…
“bicara itu gak pernah ada yang gampang kak, apa yang akan kita ucapkan itu butuh keberanian untuk mengeluarkannya. Dan butuh pertanggungjawabannya juga! Apa yang sudah Nabilah ucapkan tidak akan pernah bisa Nabilah tarik lagi, bicara itu tetap ada konsekuensinya! Seperti ucapan kakak. Seperti ucapan kak Ve yang sudah terllihat sekarang konsekuensi yang dia dapat. Apa kayak gitu yang kakak bilang kalau bicara itu gampang!?” Novinta diam.
Shania, Beby, Ayana dan Gaby melihat dari belakang dengan sebelumnya Shania dan Beby bicara hingga membuat sahabat Nabilah itu diam
“apa segitu sulitnya untuk memaafkan kesalahan orang lain!? Apa kakak semua... gak pernah ngelakuin kesalahan?!” Nabilah mulai menurunkan nada bicaranya, setelah Ve memberikannya bisikan agar Nabilah bersikap tenang. Mereka semua diam, bungkam mendengar ucapan juniornya.
“um~ Nabilah..” seorang murid akhirnya ada yang bicara setelah ucapan terakhir Nabilah. Dia bukan salah satu dari murid yang berisik saat Novinta bicara. “aku… mau kok maafin kak Ve!” Nabilah kaget karena senang. Begitupun Ve, Mendengar kata 'memaafkan sepertinya menjadi satu hal yang melegakan untuk dirinya. “teman-teman~ coba deh kita pikirin, gimana perasaan orang tuanya kak Ve melihat anaknya koma kayak gitu. Mereka pasti sedih dan terpukul. Apa kita, yang ada di sekolah ini, yang sama-sama memakai seragam, atribut, nama sekolah yang sama, gak bisa punya rasa simpati sedikit untuk kondisinya kak Ve!” murid yang diketahui bernama Sonia itu membantu Nabilah
“apa kamu yakin Sonia, kalau orang tuanya kak Ve sedih akan kondisinya dia!!” murid yang bernama Novinta, siswi kelas IX kembali dengan kesinisan dan provokasinya. Nabilah yang memang dari tadi sudah gerah dengan setiap ucapan provokasi yang diluncurkan Novinta, kembali berkata untuk menanggapi
“gak ada orang tua yang gak perduli sama anaknya! Orang tuanya kak Ve udah pasti sedih dan merasa terpukul dengan kejadian ini”
“oh ya? kalau emang iya, apa kamu pernah lihat orang tuanya ada menjenguk kak Ve di rumah sakit!?” ~
“apa kak Novinta juga pernah lihat orang tuanya kak Ve gak sedih dengan kondisinya kak Ve!!?”
apa yang Ve lakukan dulu pada Novinta sepertinya masih menyisakan segores luka yang masih belum tertutup di dalam hatinya yang terus dia ingat, se..pertinya.
“kenapa sih? Kamu kekeuh banget mau minta maaf untuk kak Ve!?” Novinta bertanya pada Nabilah
“kenapa juga kak Novinta kekeuh banget menyiratkan kalau kak Ve gak pantas buat di maafin!?” jawab Nabilah dengan menanyakan lagi pertanyaan yang di lontarkan Novinta.
“udah, Bil! Gak perlu terus berdebat dengan Novinta! Waktu kita… !” Ve mengingatkan pada Nabilah.
“terserah kalian lah, kalau memang kalian pada mau maafin kak Ve. Tapi aku enggak, aku gak akan pernah bisa maafin kak Ve!” ucap Novinta lalu pergi meninggalkan Nabilah dan yang lainnya. Shania, Beby, Ayana, dan Gaby saling menukar pandang.
Nabilah membiarkan Novinta pergi, setelah itu dia mulai lagi dari awal acara permintaan maaf nya. Nabilah menjelaskan lagi dari awal, penjelasan kenapa dia mau meminta maaf untuk Ve dan dengan bantuan Sonia yang tadi sempat mengucapkan sebuah kalimat, akhirnya mereka pun mau melapangkan hati mereka dan memaafkan Ve dengan ketulusan untuk mengubur dan melupakan apa yang sudah pernah Ve perbuat pada mereka di waktu yang lalu. Sementara untuk Novinta sendiri, Nabilah akan membiarkan dulu dia tenang dan bisa berpikir jernih untuk memulai kembali percakapan dengannya. Sudah Nabilah catat dalam pikirannya rencana setelah ini dan waktu yang akan dia gunakan untuk menghampiri Novinta.
Taman labirin mulai di tinggalkan oleh murid-murid SMP dan tersisa Nabilah, Ve, Shania, Beby, Ayana, dan Gaby di sana. Nabilah melihat kedua sahabatnya lalu berjalan menghampiri mereka dengan sebelumnya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, untuk membuat hatinya tenang.
“hai.. Achan~ Gaby~” ucap Nabilah,
“yang tadi kamu lakuin itu..” Ayana tidak membalas sapaan Nabilah, dia langsung bertanya “yang aku sama Gaby dengerin itu… Se..rius? kamu.. meminta maaf sama murid yang pernah kak Ve sakitin?!” karena sudah tahu sedikit cerita dari Shania dan Beby.
“terus~ kata kak Shania sama kak Beby, kamu itu.. sepupunya kak Ve! Benarkah? Kamu.. sepupunya!” tambah Gaby semakin membuat Nabailah terpojok dengan pertanyaan sahabatnya. Baru Nabilah akan buka mulut “mm~ sorry, bukan mau nyela tapi, karena disini udah beres.. jadi aku sama Shania pamit duluan. Oo..k!” kata Beby yang melihat keseriusan di wajah Ayana dan Gaby yang menanti jawaban Nabilah, lalu melihat wajah Nabilah yang bingung memikirkan apa yang akan dia katakana pada kedua orang yang memberondonginya dengan pertanyaan.
usul Nabilah pada Ve, tapi Ve menggeleng “kenapa lagi? Tadi mau ke kak Stella sama yang lainnya, gak mau! Sekarang di ganti ke kak Kinal, masih gak mau juga! Jadi maunya kak Ve gimana? Ke siapa?!” Nabilah menggaruk kepalanya yang tidak gatal
“aduh Nabilah, kenapa kamu kayak orang gila!”
bisiknya melihat kelakuan Nabilah yang bertanya sendiri di jawab sendiri
“iyaa... lebih parah dari waktu itu… yang teriak-teriak gak jelas, terus lari-lari!”
sahut yang di sebelahnya sambil geleng-geleng.
“Kinal gak akan punya nomor HP mereka, Bil! Kamu kan tahu cerita Kinal gimana...” jelas Ve
“Nabilah tahu kak, meski belum semuanya! Tapi kan maksud Nabilah minta tolong sama kak Kinal itu biar dia minta tolong lagi sama teman-teman lainnya, gitu loh!! Akses kak Kinal ke murid yang di gedung SMA lebih leluasa di banding Nabilah!”
“emm.. *Ve sok memikirkan* ya udah kita coba!”
“nah gitu dong, yuk ahh sekarang cari kak Kinal! Kalau pulangnya takut kak Kinal keburu ngilang!!” Ve mengangguk, mereka berdua beranjak dari bangku taman.
“eh, eh~ Chan, Chan.. Nabilah jalan tuh, cepetan cari tempat ngumpet!”
“i-ia Gab, (Ayana Celingukan) disana~ disana!” Gaby dan Ayana dengan cepat menuju tempat yang di tunjuk Ayana.
Setelah Nabilah keluar dari kelas, Ayana dan Gaby tak lama mengikuti Nabilah dari belakang dengan jarak cukup aman untuk tidak terdeteksi oleh Nabilah. Mereka berdua penasaran dengan keanehan tingkah sahabat nya yang ompong itu, makanya keduanya merencanakan untuk menguntit Nabilah dengan rencana yang sudah mereka susun pas tadi Nabilah sedang menjalani hukuman benderanya.
Saat Nabilah dan Ve berjalan di koridor SMA dengan tatapan murid-murid di gedung itu tertuju padanya. Ve berbicara pada Nabilah dengan menunjuk ke arah koridor seberang yang ada di depan kelas XII
“Bil, ada kak Sendy sama kak Rica tuh!”
“terus?” ucap Nabilah pelan, dengan matanya dia tetap arahkan kedepan, agar murid yang sedang menatapnya tidak berpikir macam-macam setelah pikiran mereka di penuhi kemacam-macaman lainnya karena melihat murid SMP jalan di koridor gedung SMA.
“minta maaf aja dulu sama mereka! Soal Kinal bisa nanti belakangan, dia kan bisa di cari ke rumahnya.. kalo kak Sendy sama kak Rica, susah!!” jelas Ve, Nabilah mengarahkan matanya ke tempat yang di tunjuk Ve. Lalu kembali ke depan
“gak ah! ke Kak Kinal aja, soal kak Sendy sama kak Rica bisa lebih gampang, Kalo kita udah dapat nomornya. Otomatis bisa sekalian kita mintain maaf! dan gak cuma 2murid tapi semua sekaligus!!” Nabilah bicara seperti menggumam agar mulutnya tidak terbuka terlalu lebar.
“ahhh, bener juga tuh ide kamu!” jawab Ve
“makanya di otaknya jangan cuma ada rencana nge Bully aja!!”
“jaaah, malah ngeledek!”
“untung Nabilah ngeledeknya pas kakak gak keliatan, kalo masih normal. Bisa-bisa malah Nabilah yang di ledek balik dan jadi korban bully nya kakak!!” dengan senyum di sudut bibirnya Nabilah berucap.
“*sigh* hmm~ ledek aja terus!!”
-PERPUSTAKAAN-
“kak Kinal emang murid yang baik ya?, nongkrongnya aja di perpus!” bisik Nabilah pada Ve, yang di balas anggukan.
“bukan Cuma Kinal, kakak juga murid yang baik kok!” ucap Ve “dulu… kita berdua suka ngabisin waktu di tempat ini, buat baca komik sambil dengerin musik, terus sambil searching-searching juga!” Ve menerawang, Nabilah mendengarkan dengan matanya menyisir setiap sudut yang ada di perpustakaan modern itu (perpustnya gak lusuh kayak di film-film Hantu kebanyakan, emang ini film hantu? Bukan! Cerita Hantu? Mm~ bukan juga! kayaknya! :D)
“kita juga sering di tegur sama penjaga perpus, karena suka berisik kalau udah ngomongin sesuatu! Atau kalau Kinal membagi cerita lucunya!!”
“hmm~ kayaknya lebih asik temenan ama kak Kinal ya kak? Ketimbang ama yang sekarang” Ve mengangguk, saat dia akan kembali bicara, Nabilah keburu bicara duluan “kak, kak~ itu kak Kinal” ucapnya sambil menunjuk, mereka berdua menghampiri Kinal.
Kinal yang menyadari kedatangan Nabilah segera mengarahkan bola matanya ke arah Nabilah
“Hai kak!” Nabilah melambaikan tangan kanannya dan berbisik mengucapkan 'Hai' , Kinal diam sejenak mengingat wajah Nabilah dan.. mulutnya terbuka membentuk 'Ah' "kamu...?" Nabilah mengangguk padahal Kinal belum selesai bicara
“aku Nabilah kak, kakak... kak Kinal kan?” Nabilah sok akrab, Kinal mengangguk heran ‘kok dia tahu?’ “bisa bicara sebentar gak kak?” lanjutnya meminta, tanpa banyak berpikir Kinal kembali mengangguk. Inginnya Nabilah mengajak Kinal keluar tapi dia merasa tidak enak, udah di bolehin ngomong sama Kinal aja Nabilah udah bersyukur.
“umm~ Nabilah boleh minta tolong gak? sama kakak?” ~ “tolong? tolong apa?” ~ “Nabilah mau.. minta-- nomor telpon mereka kak!” kata Nabilah mengajukan selembar kertas yang berisi nama-nama murid SMA yang akan dia mintai maaf, Kinal menerima kertasnya dia membaca sekilas lalu menggeleng “kakak gak punya nomor mereka!”
“kak Ve bilang juga apa Bil! Kinal gak akan punya nomor mereka!!” Nabilah mendelik Ve dengan sudut mata kanannya
(belajar dari kesalahan. Nabilah sedikit memanegement setiap tingkahnya saat akan menjalin komunikasi dengan Ve, kalau tidak karena reflex Nabilah tidak akan bicara. Dia Hanya akan menggunakan bahasa tubuhnya.)
“emm~ kalau kakak gak punya, kakak bisa gak? Bantuin Nabilah buat dapetin nomor murid-murid yang ada di kertas itu?” Kinal mengangkat kedua bola matanya seolah berkata 'huh? Siapa e..lo?!' lalu dia mulai menjawab permintaan Nabilah
“aku gak bisa! Aku lagi sibuk!! Maaf ya~” katanya
“tapi kak, Nabilah mohon... Nabilah minta bantuannya kak Kinal! Soalnya ini penting banget!! Dan.. Nabilah gak tahu lagi harus minta tolong sama siapa!!!”
“hemph~ kakak gak bisa, dan gak akan pernah bisa meminta nomor mereka! Kamu mending minta tolong sama yang lain aja deh, siapa kek gitu? Atau… kamu ke Tata Usaha aja!! Biar lebih jelas!!!”
tanpa memberikan alasan yang jelas, Kinal menolak membantu Nabilah padahal tadi pagi terlihat kalau Kinal itu baik meski dia tidak kenal pada Nabilah, itu kenapa Nabilah memutuskan untuk meminta bantuan Kinal yang juga sahabatnya Ve, orang yang sedang di bantunya.
“tapi kak ini,-“ Kinal beranjak dari bangku di perpus dan meninggalkan Nabilah tanpa mau lagi menghiraukan ucapan Nabilah, dia berjalan
“gimana nih, Bil! Kinal kayaknya marah sama kamu!!”
“tunggu kak!-- Kalau semua ini ada kaitannya sama kak Ve!!” Kinal berhenti berjalan, “kalau Nabilah bilang nomor-nomor itu bisa menolong kak Ve dari komanya?!” kinal mengerungkan keningnya masih membelakangi Nabilah ‘apa maksud ucapan anak itu?’ pikir Kinal,
Ve mengharapkan Kinal mau menolong Nabilah karena dengan begitu Ve akan tahu apa Kinal marah padanya atau tidak?, setelah Ve mendengar ucapan Nabilah.
Kinal berbalik “Nabilah, dengerin kak Kinal ya! Seperti tadi kakak bilang... kakak gak bisa bantuin kamu untuk dapetin nomor-nomor itu,-" ~ “sekalipun itu untuk kepentingannya kak Ve?” potong Nabilah “ya! Sekalipun itu untuk kepentingannya… Ve!!” Kinal mengucapkannya dengan begitu jelas, Ve begitu terkejut mendengar pernyataan Kinal.
“tapi.-“ ~ “udah, gak usah ada kata tapi lagi, kak Kinal bilang gak! Itu artinya GAK!!” giliran Kinal yang memotong ucapan Nabilah. Kinal kembali berjalan; Nabilah tidak mau menyerah, bukan karena Kinal menolak permintaan tolongnya tapi karena Nabilah ingin tahu alasan penolakan Kinal atas permintaannya padahal Nabilah sudah membawa nama sahabatnya sendiri yaitu Ve. *posisi Kinal, Nabilah dan Ve sudah ada di luar perpus*
“apa persahabatan kakak sama kak Ve dulu gak pernah berarti?” Nabilah bicara di belakang Kinal yang terus berjalan “apa hanya karena kak Ve bilang gak mau lagi temenan sama kakak, lantas kakak menyerah dengan sikapnya kak Ve?” Nabilah belum menyerah... “tapi.. bukankah dulu juga salahnya kak Kinal sendiri? yang bilang sama kak Stella, kak Dhike dan kak Yona kalau kakak sebenarnya sudah muak berteman dengan anak orang kaya,,, seperti kak Ve!” kata-kata terakhir Nabilah mampu membuat Kinal berhenti, tapi Nabilah masih terus bicara tanpa melihat Kinal, karena Kinal berjalan dengan cukup cepat sampai “dan.. kak Kinal juga bilang kalau kakak temenan sama kak Ve hanya karena,-- *buuk* aduhhh...” Nabilah menabrak punggung Kinal, membuat ucapan dan juga langkah kakinya terhenti, saat Nabilah mengusap keningnya yang menabrak punggung Kinal, Kinal sudah menatapnya dan bersiap bicara, Nabilah mengangkat kepalanya dan merasakan perasaan ciut saat Kinal memberikan tatapannya.
“HEH! Tahu apa kamu soal aku sama Ve? Kamu itu siapa? Gak usah sok tahu kalau jadi anak!!” ujar Kinal cukup serius, membuat Nabilah menelan ludahnya sendiri; Ve masih melihat ekspresi Kinal yang menurutnya ada kesedihan di balik kemarahannya pada Nabilah. “JAWAB! Dari mana kamu tahu cerita kayak gitu!??”
“d-dari kak Ve! Dari mana lagi Nabilah tahu soal kak Kinal dan kak Ve kalau bukan dari kak Ve nya!!” karena panik di desak Kinal, Nabilah jadi keceplosan mengucapkan kata-katanya.
Kinal melebarkan bola matanya.
“jangan bohong ya? Kamu pasti tahu dari Stella sama teman-temannya kan?!” ~ “huh? K-kak Stella..” Nabilah menggeleng, Kinal menatap Nabilah dengan kerungan dari wajahnya dan pikirannya terus menebak apa yang di katakan Nabilah sebelumnya itu benar adanya? Tapi bagaimana mungkin Ve bicara dengan anak yang ada di depannya, sementara Ve sedang terbaring koma dan.. sebelum Ve koma, Ve selalu ada dengan Stella dan lainnya. Tidak pernah Kinal lihat Ve dengan Nabilah. “siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu tahu soal cerita itu…” kembali Kinal bertanya, karena sangat penasaran dengan siapa Nabilah dan apa maksudnya.
“Nabilah tahu dari kak Ve! Harus berapa kali lagi Nabilah ulang kalimat itu? NABI..LAH, TAHU… DARI KA.K VE!! Gak usah liatin Nabilah kayak gitu? Temen-temen kakak pada liatin kesini!” entah kerasukan apa yang pasti bukan kerasukan Ve, Nabilah berani bicara dengan nada dia tekan kan kearah Kinal yang masih menatapnya dengan tatapan pemburu. “kakak mau? Disangka lagi nge bully Nabilah! Lihatlah wajah mereka…” ujar Nabilah menunjukan dengan matanya kearah murid-murid yang memakai seragam SMA “udah gak ada lagi queen witch disini!! Kecuali…,-” kata-kata Nabilah terpotong karena ada seorang guru berjalan di koridor yang sama, tempat dia dan Kinal berdiri. “ada guru kak, sebaiknya Nabilah pergi… takutnya nanti disangka kak Kinal mau ngapa-ngapain Nabilah dan jadi masalah!!” Kinal melihat kebelakang dan saat akan melihat lagi Nabilah, ternyata Nabilah sudah melewatinya untuk pergi meninggalkan gedung SMA.
“jangan dulu pergi Bil, belum selesai! Gimana dengan Kinal!?”
“Nabilah gak tahu kak! Pikirin nanti aja!!” sahut Nabilah pada pertanyaan Ve
Nabilah terpaksa meninggalkan Kinal karena dia takut kalau Kinal akan dapat masalah dengan pihak sekolah karena tahu sedang berhadapan dengan Nabilah dengan gimik emosi meski tanpa kontak fisik yang berarti. Dan belum lagi, waktu istirahat hampir habis. Kalau Nabilah masih beradu argument dengan Kinal, yang ada nanti nomor HP tidak dapat, kata maaf pun musnah.
“gimana dengan nomor HP?” Tanya Ve lagi “gimana dengan meminta maaf pada Kinal?” Ve terus berbicara “Nabilah? gimana” tapi Nabilah tetap tidak menanggapi, dia terus berjalan dan… akhirnya dia sudah ada di luar gedung SMA.
Setelah diluar, nabilah mengitarkan matanya dan bicara pada Ve. Dengan sebelumnya menghela nafas
“*sigh* udah Nabilah bilang kak, kita pikirin itu nanti! Kalau Nabilah tetap bertahan disana dan… dan terus berharap sama kak Kinal, waktu kita keburu habis!! Kakak lihat sendiri kan? Gimana sikap kak Kinal!” Ve bungkam dengan yang di katakan Nabilah, karena Ve tahu betul apa yang dikatakan Nabilah itu memang benar.
“Ssss~ Kita ke rencana B, kak!!” ucap Nabilah setelah beberapa detik terdiam “ayo kak, kita pergi cari kak Jeje dan lainnya!” ajak Nabilah pada Ve, Ve pun mengangguk tanpa pertanyaan karena melihat wajah Nabilah yang begitu serius dan Tone dari ucapannya yang terdengar begitu perduli akan masalah dirinya, Ve pun mengangguk dan bergegas pergi bersama Nabilah. meski di pikirannya memunculkan pertanyaan, 'Nabilah punya rencana B? kapan dia memikirkannya?'
*4menit Bell akan berbunyi*
‘kak Jeje sama yang lainnya pasti ada di dekat lapangan basket dan voli’ pikiran Nabilah terus mengarahkan kakinya untuk ketempat olah raga itu. Sesampainya disana ternyata dugaan Nabilah benar. Jeje, Panda, dan Frieska ada disana meski tanpa Delima.
“hai~ siang kak!” sapa Nabilah saat sudah ada di hadapan Panda dan Frieska, Jeje sedang bermain bola basket.
“Nabilah? Ada apa?” tanya Frieska
“Nabilah... ma..u~ mm--mi..nta to...long, boleh gak kak?!”
meski tiap kalimatnya lama Nabilah sampaikan tapi bisa selesai juga.
“tolong? tolong apa?” giliran Panda yang bertanya
“ini kak” Nabilah merogoh saku seragamnya dan menyodorkan secarik kertas “Nabilah mau minta tolong! Nabilah~ mau minta nomor HP nya kakak-kakak yang namanya ada di kertas itu. Bisa gak kak?” ucap Nabilah kali ini tanpa ragu, karena dia tahu bell tanda istirahat habis akan segera bunyi. Panda dan Frieska saling tukar pandang
“ada apa nih?” Jeje datang menghampiri mereka dengan sisa keringat yang masih terlihat di leher “hai, Bil!” sapanya kemudian pada Nabilah, Nabilah tersenyum dan mengangguk menerima sapaan Jeje. Panda dan Frieska mengatakan pada Jeje tentang maksud Nabilah, kini Jeje, Panda, dan Frieska yang saling menukar pandang. Selang sepersekian detik Jeje pun mengeluarkan suaranya
“kita boleh tahu gak, nomor-nomor ini bakal kamu apain?” tanya Jeje
“mm~ Nabilah mau... meminta maaf sama mereka,
seperti yang Nabilah lakuin sama kak Jeje, kak Panda, kak Frieska, kak Delima dan yang lainnya yang sudah-sudah” Nabilah memberikan penjelasannya, Ve hanya bisa menyimak dan berharap penuh pada Jeje dan teman-temannya untuk bisa membantu Nabilah agar dia bisa membantu dirinya.
“kak, bisa gak? Nabilah dapat nomor mereka?! Waktu istirahatnya udah hampir habis!!” tanya lagi Nabilah sedikit memaksa kedengarannya.
“kalau di di sebutin satu-satu kelamaan, kayak yang kamu bilang istirahatnya udah hampir abis!”
“jadi?”
“nomor HP kamu berapa? Nanti kak Jeje sms ini nomor-nomornya!!”
“ah, s-serius kak! Ya udah, ini nomor Nabilah kak!!” Nabilah menyebutkan nomornya dan Jeje menyimpan nomor si cerewet di phone booknya.
“Ok, kamu tunggu aja... nanti kakak sms in nomornya!”
“ia kak! Makasih~ sekali lagi makasih kak~” setelah mengucapkan kata terima kasih Nabilah lalu pamit untuk pergi karena bell istirahat sudah berbunyi.
“kamu yakin Je, mau ngasih nomor mereka yang ada di kertas itu?!” tanya Panda kemudian, setelah Nabilah menghilang dari pandangannya
“apa boleh buat! Nabilah bakal susah di hentikan, kalau toh kita gak ngasih nomornya dia pasti akan tanya ke teman-teman lainnya~ jadi ya udah, kita kasih aja! Dia juga gak mungkin macam-macam pakai nomor itu!! Iya kan?”
“iya, gue tahu! Bukan itu masalahnya, tapi.. apa gak akan kenapa-kenapa kita ngasih nomor mereka ke Nabilah, dan… saat Nabilah nanti minta maaf, lu yakin mereka gak akan pada gimana-gimana sama tu anak! Secara dia minta maaf buat kakak sepupunya yang begitu di benci sama murid di sini!” Panda berspekulasi menanggapi Jeje.
“aku rasa gak akan ada apa-apa dan kenapa-kenapa, Nabilah sepertinya anak yang cerdik. Dia bisa memilah kata saat dia berbicara, so' ya… gak akan ruwet lah!!” dan Frieska menyusul menanggapi
“gue setuju ama Frieska, si Nabilah bakal baik-baik aja! Kalau emang mau mastiin, ya liat aja ntar apa yang di lakukan tu anak!!” Jeje kembali buka suara dan setuju pada pemikiran Frieska. Panda pun mengangguk
“masuk kelas yuk? Keburu pa Zaid nyampe di kelas!” ajak Jeje kemudian.
-Di Kelas-
Nabilah duduk dengan sebelumnya melempar senyum pada Ayana dan Gaby, karena bell sudah berbunyi dari tadi... *dret~ dret~* HP Nabilah bergetar, saat akan mengambil HP nya guru IPA keburu datang. Tapi karena penasaran Nabilah tetap mengambil HP yang ada di saku seragamnya
“Sut~ liatin gurunya kak, Ada SMS nih!!” Nabilah memberikan perintah pada Ve, Ve mengangguk.
‘Bil, kak Shania sama kak Beby udah bisa meyakinkan teman-teman lainnya untuk berkumpul di dekat taman sekolah!’
isi SMS dari Shania.
Nabilah meminta tolong pada Shania dan Beby untuk mengumpulkan teman-temannya yang di gedung SMP, jumlah mereka memang tidak sebanyak murid SMA yang pernah di sakiti Ve. Tapi karena rencana awal meminta nomor HP murid SMA yang di perkirakan bisa di dapat sebelum istirahat dan misi dapat di eksekusi sepulang sekolah gagal, jadi ya.. Nabilah memutuskan untuk melancarkan rencana kedua yaitu meminta maaf terlebih dulu pada murid-murid SMP. Shania dan Beby bisa gerak cepat untuk meyakinkan teman-teman agar mau kumpul di tempat yang sudah di tentukan.
Nabilah menyeringai lalu mengetik balasan
‘:) makasih kak, makasih atas bantuannya! Pulangnya nanti Nabilah akan langsung ke taman!!’ *klik send*
Guru memulai materi pelajaran tepat setelah Nabilah mengirimkan pesan balasan.
Waktu memang begitu cepat berlalu, setelah pelajaran IPA yang lamanya 1,5jam, kemudian berganti lagi guru, dan akhirnya mereka mendengar bell pulang. Nabilah cepat-cepat pamit pada Ayana dan Gaby untuk pulang lebih dulu, lalu berjalan menuju taman sekolah, kedua sahabatnya itu sengaja dengan cepat meng iyakan ucapan pamit Nabilah agar mereka bisa kembali mengikuti Nabilah seperti saat istirahat tadi. Mereka berdua ingin tahu lebih detail tentang apa yang sebenarnya sedang Nabilah lakukan?, apa benar Nabilah bicara sendiri?, untuk apa Nabilah mendatangi gedung SMA? Bukan baru sekali tapi 2kali!, yang paling penting adalah apa yang Nabilah sembunyikan dari mereka?.
Beberapa menit Nabilah menunggu dan yang di tunggu pun mulai berdatangan satu persatu sampai akhirnya datang semuanya.. murid SMP yang berjumlah 13orang. Sonia, Rena, Novinta, Olive, Uty, Sinka, Tata dan 6 murid lainnya (disebutin satu-satu penuh *ngeles*:D ).
Saat mereka menginjakan kakinya ditaman, dan melihat ada adik kelas mereka sudah menunggu. Mereka heran kenapa mereka di suruh kumpul di tempat ini, hingga gaduh lah sekitar taman itu dengan pertanyaan yang di lontarkan antar satu sama lain. Beby dan Shania hanya menjadi penonton (maksudnya mengantisipasi kalau-kalau Nabilah di...... sama seniornya) di belakang tidak jauh dari posisi Nabilah, pun dengan Ayana dan Gaby yang sudah bisa melihat murid-murid itu ada di sekitar Nabilah.
“Nabilah mau ngapain ya Gab?” tanya Ayana, Gaby hanya bisa menggeleng. “eh, eh,, liat deh Gab!” Ayana menunjukan tangan kanannya ke arah Shania dan Beby “itu bukannya kak Shania sama kak Beby, ya?!” Gaby mengerung dan menscan wajah orang yang di tunjuk Ayana dengan matanya
“iya, itu memang mereka! Tapi mau ngapain kak Shania sama kak Beby ada di sana dan ngeliatin Nabilah!?” Ayana diam lalu hanya menjawab
“Aneh?!” ~ “Banget!” sahut Gaby.
Saat Nabilah mulai bicara dengan basa-basinya pada ke 13 murid, Ayana dan Gaby masih khusuk mendengarkan. Tapi saat Nabilah sampai pada inti pembicaraan, bukan hanya ke13 murid itu yang kaget mendengar kalau Nabilah meminta maaf atas nama Ve namun Ayana dan Gaby pun tak kalah terkejutnya. Hingga akhirnya keberadaan keduanya bisa tersadari dan terlihat oleh Nabilah.
“Aya...na?~ Ga...by?~” bisik Nabilah pelan Melihat ke dua sahabatnya. Nabilah jadi bingung, melanjutkan maafnya dengan menjawab pertanyaan senior SMP nya yang membanjiri taman, atau berlari ke arah Gaby dan Ayana yang akan menghampiri dirinya dengan dari wajah mereka sangat jelas tersirat keheranan?.
Shania dan Beby yang melihat adegan itu, tanpa di komando atau tanpa dimintai pertolongan oleh Nabilah langsung lari ke arah Ayana dan Gaby yang bersiap menghampiri Nabilah di tengah orasi maafnya. Kedua sahabatnya sudah ada yang menghandle dan sekarang tinggal Nabilah menyelesaikan apa yang sudah dia mulai
“Ok, Ok! Tenang, Tenang,, kakak-kakak!!~ Nabilah akan jelasin, seeeeeeejelas mungkin sama kakak-kakak semuanya! Ya?!”
Ve melihat Nabilah dengan dari wajahnya terlukis guratan yang abstrak, ekspresinya Ve bercampur; senang, sedih, khawatir, takut, putus asa. Semua ada di wajah pucatnya yang sedang dia arahkan pada Nabilah. “seperti yang kita semua tahu, kak Ve mengalami kecelakaan dan dikabarkan koma,-“
“terus? Kenapa kamu minta maaf untuk dia!” celetuk seorang murid bernama Novinta memotong ucapan Nabilah “bukankah semua murid disini senang kalau kak Ve itu mengalami hal yang kayak gini! Yaa.. anggap aja itu hukuman buat dia yang suka seenaknya!! Iya kan teman-teman?!” tutup Novinta membuat beberapa murid lainnya saling bersahutan menyambut ucapan Novinta; Nabilah mengerung mendengar ucapan terakhir kakak kelasnya itu. “iya betul” ~ “apa yang di katakan Novinta betul” ~ “heem, kak Ve gak pantas dapetin itu” ~ “bener-bener, semua murid pasti senang kalau kak Ve gak balik lagi ke sekolah ini!” Novinta tersenyum penuh kemenangan atas apa yang di ucapkannya yang ternyata mendapat tanggapan yang ‘positif’ dari beberapa teman lainnya, Nabilah menggelengkan kepalanya. Karena suara dari seniornya tidak juga reda, Nabilah mengambil tindakan untuk menghentikan saling sahut ucapan diantara mereka.
“STOPPPPPP! tenang lah, kakak-kakak semua!!” Nabilah menghentikan saling sahut mereka yang semakin lama semakin berisik “apa... kakak-kakak semua gak malu! Disini Nabilah berdiri sebagai adik kelas kalian!! Hanya mendengar ucapan permintaan maaf yang Nabilah sampaikan atas nama kak Ve yang belum selesai Nabilah utarakan, kalian malah pada sibuk berspekulasi sendiri, sampai bicara seenaknya!” murid-murid itu mendengarkan apa yang di katakan Nabilah.
“gak ada yang bicara seenaknya disini! Justru kamu tuh, yang seenaknya. Nyuruh Shania sama Beby buat ngumpulin kita disini, dengan alasan gak jelas. Ehh~ gak tahunya mau minta maaf… atas nama kak Ve lagi! Siapanya kamu, kak Ve itu?!” kembali Novinta bicara “ngapain kamu mau minta maaf atas nama dia? Gak usah sok-sok an lah!!” Nabilah dan Novinta saling melempar tatapan, Ve hanya bisa menonton dan berharap semua akan lancar seperti sebelum-sebelumnya. “kamu gak tahu kan gimana rasanya di kerjain kak Ve? Di permalukan di depan murid-murid lainnya sama dia!,-” ~
“iya! Nabilah emang gak tahu gimana rasanya! Karena Nabilah belum pernah berurusan dengan kak Ve untuk hal itu!! Tapi… bukan berarti Nabilah gak bisa ngerasain apa yang dulu kakak semua alamin, dan.. apa dengan sekarang kakak gak mau maafin kak Ve, lantas semua yang pernah kakak rasakan itu terbalas dengan melihat kak Ve koma!” Nabilah menyela ucapan Novinta
“bicara itu gampang! Apalagi kamu gak pernah ngerasain langsung ada di posisi kita, iya kan teman-teman!?” beberapa murid yang pro pada Novinta mengangguk sementara sisanya…
“bicara itu gak pernah ada yang gampang kak, apa yang akan kita ucapkan itu butuh keberanian untuk mengeluarkannya. Dan butuh pertanggungjawabannya juga! Apa yang sudah Nabilah ucapkan tidak akan pernah bisa Nabilah tarik lagi, bicara itu tetap ada konsekuensinya! Seperti ucapan kakak. Seperti ucapan kak Ve yang sudah terllihat sekarang konsekuensi yang dia dapat. Apa kayak gitu yang kakak bilang kalau bicara itu gampang!?” Novinta diam.
Shania, Beby, Ayana dan Gaby melihat dari belakang dengan sebelumnya Shania dan Beby bicara hingga membuat sahabat Nabilah itu diam
“apa segitu sulitnya untuk memaafkan kesalahan orang lain!? Apa kakak semua... gak pernah ngelakuin kesalahan?!” Nabilah mulai menurunkan nada bicaranya, setelah Ve memberikannya bisikan agar Nabilah bersikap tenang. Mereka semua diam, bungkam mendengar ucapan juniornya.
“um~ Nabilah..” seorang murid akhirnya ada yang bicara setelah ucapan terakhir Nabilah. Dia bukan salah satu dari murid yang berisik saat Novinta bicara. “aku… mau kok maafin kak Ve!” Nabilah kaget karena senang. Begitupun Ve, Mendengar kata 'memaafkan sepertinya menjadi satu hal yang melegakan untuk dirinya. “teman-teman~ coba deh kita pikirin, gimana perasaan orang tuanya kak Ve melihat anaknya koma kayak gitu. Mereka pasti sedih dan terpukul. Apa kita, yang ada di sekolah ini, yang sama-sama memakai seragam, atribut, nama sekolah yang sama, gak bisa punya rasa simpati sedikit untuk kondisinya kak Ve!” murid yang diketahui bernama Sonia itu membantu Nabilah
“apa kamu yakin Sonia, kalau orang tuanya kak Ve sedih akan kondisinya dia!!” murid yang bernama Novinta, siswi kelas IX kembali dengan kesinisan dan provokasinya. Nabilah yang memang dari tadi sudah gerah dengan setiap ucapan provokasi yang diluncurkan Novinta, kembali berkata untuk menanggapi
“gak ada orang tua yang gak perduli sama anaknya! Orang tuanya kak Ve udah pasti sedih dan merasa terpukul dengan kejadian ini”
“oh ya? kalau emang iya, apa kamu pernah lihat orang tuanya ada menjenguk kak Ve di rumah sakit!?” ~
“apa kak Novinta juga pernah lihat orang tuanya kak Ve gak sedih dengan kondisinya kak Ve!!?”
apa yang Ve lakukan dulu pada Novinta sepertinya masih menyisakan segores luka yang masih belum tertutup di dalam hatinya yang terus dia ingat, se..pertinya.
“kenapa sih? Kamu kekeuh banget mau minta maaf untuk kak Ve!?” Novinta bertanya pada Nabilah
“kenapa juga kak Novinta kekeuh banget menyiratkan kalau kak Ve gak pantas buat di maafin!?” jawab Nabilah dengan menanyakan lagi pertanyaan yang di lontarkan Novinta.
“udah, Bil! Gak perlu terus berdebat dengan Novinta! Waktu kita… !” Ve mengingatkan pada Nabilah.
“terserah kalian lah, kalau memang kalian pada mau maafin kak Ve. Tapi aku enggak, aku gak akan pernah bisa maafin kak Ve!” ucap Novinta lalu pergi meninggalkan Nabilah dan yang lainnya. Shania, Beby, Ayana, dan Gaby saling menukar pandang.
Nabilah membiarkan Novinta pergi, setelah itu dia mulai lagi dari awal acara permintaan maaf nya. Nabilah menjelaskan lagi dari awal, penjelasan kenapa dia mau meminta maaf untuk Ve dan dengan bantuan Sonia yang tadi sempat mengucapkan sebuah kalimat, akhirnya mereka pun mau melapangkan hati mereka dan memaafkan Ve dengan ketulusan untuk mengubur dan melupakan apa yang sudah pernah Ve perbuat pada mereka di waktu yang lalu. Sementara untuk Novinta sendiri, Nabilah akan membiarkan dulu dia tenang dan bisa berpikir jernih untuk memulai kembali percakapan dengannya. Sudah Nabilah catat dalam pikirannya rencana setelah ini dan waktu yang akan dia gunakan untuk menghampiri Novinta.
Taman labirin mulai di tinggalkan oleh murid-murid SMP dan tersisa Nabilah, Ve, Shania, Beby, Ayana, dan Gaby di sana. Nabilah melihat kedua sahabatnya lalu berjalan menghampiri mereka dengan sebelumnya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya, untuk membuat hatinya tenang.
“hai.. Achan~ Gaby~” ucap Nabilah,
“yang tadi kamu lakuin itu..” Ayana tidak membalas sapaan Nabilah, dia langsung bertanya “yang aku sama Gaby dengerin itu… Se..rius? kamu.. meminta maaf sama murid yang pernah kak Ve sakitin?!” karena sudah tahu sedikit cerita dari Shania dan Beby.
“terus~ kata kak Shania sama kak Beby, kamu itu.. sepupunya kak Ve! Benarkah? Kamu.. sepupunya!” tambah Gaby semakin membuat Nabailah terpojok dengan pertanyaan sahabatnya. Baru Nabilah akan buka mulut “mm~ sorry, bukan mau nyela tapi, karena disini udah beres.. jadi aku sama Shania pamit duluan. Oo..k!” kata Beby yang melihat keseriusan di wajah Ayana dan Gaby yang menanti jawaban Nabilah, lalu melihat wajah Nabilah yang bingung memikirkan apa yang akan dia katakana pada kedua orang yang memberondonginya dengan pertanyaan.
*di lain tempat*
Novinta sedang berlari kecil untuk menghampiri seseorang,
sesampainya di tempat tujuan. Dia bicara pada 3murid SMA yang dia temui....
“apa? Jadi sekarang anak itu... meminta maaf sama murid SMP? Dengan alasan yang sama waktu dia minta maaf sama beberapa murid di SMA!?” katanya setengah berteriak setelah mendengar ucapan Novinta, Novinta mengangguk
“dan… sepertinya Nabilah berhasil meyakinkan mereka untuk memaafkan kak Ve, kak!”
“apa? *lagi-lagi apa_-!* ini gak boleh di biarin! Kalau Ve sampai sembuh...” ~
“kita bisa habis!” sahut salah satu temannya
“kii..ta? Aku gak masuk hitungan kan kak?” tanya Novinta polos pada ucapan Yona yang tak lain adalah kakaknya.
“kamu udah terlibat! Jadi ya... kamu masuk itungan dong!!” ujar Dhike yang tadi belum bicara
“loh, kok gitu sih! Novinta kan cuma mata-matain Nabilah yang kata kalian ada gerak-gerik mencurigakan!! Selebihnya... Novinta gak tahu apa-apa! Iya kan kak?” jelas Novinta lalu mengarahkan
pandangannya pada Yona sang kakak.
“tetap aja, kamu terlibat! Karena kamu tau rencana kita semua!!” Dhike kembali mempertegas tentang Novinta yang juga harus ikut terlibat
“ya, enggak lah! Kak Dhike itu gimana sih, kakak lupa? Novinta cuma di suruh sama kalian, lagian soal penye,-“
“CUKUP!” teriak Stella yang tadi pertama kali menanggapi ucapan Novinta “jangan ributin masalah itu! Yang penting sekarang gimana caranya kita menghentikan Nabilah untuk meminta maaf atas nama Ve pada murid-murid yang ada disini!!” kata Stella membuat Novinta, Dhike dan Yona diam “kalau apa yang
di katakan Nabilah dalam alasannya meminta maaf itu benar, dan Ve bisa kembali dari koma nya... kita gak perlu takut! Karena tidak ada yang tahu akan apa yang sudah kita lakukan!! Bahkan Ve sekalipun!!! Kalau sampai ada yang tahu, itu artinya... Salah satu dari kita ada yang membocorkan. Jelas!?” Stella terdengar begitu tegas “dan kamu Novinta, sebaiknya kamu hati-hati dengan mulut kamu! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu!! Ngerti?!!” Novinta mengangguk dengan rasa takut menghantui benaknya.
Sebelumnya. Stella, Dhike, dan Yona mendengar kabar burung tentang adanya anak SMP yang nongkrong di depan mading sekolah lalu nyamperin Ghaida dan... (SMP dan SMA tidak begitu akur *untuk yang merasa punya popuaritas* di Putri Jakarta, maklum isinya semua cewek jadi ya.. hal kecil bisa jadi besar dan hal besar bisa semakin membesar) ada sedikit keributan, tapi buat Stella dan lainnya itu bukanlah berita yang WAH, jadi mereka acuhkan saja berita yang datang tanpa perlu mereka minta itu. Namun, setelah itu... siangnya mereka kembali dapat berita yang kali ini mampu menarik perhatian mereka. Kalau si murid SMP kembali berurusan dengan murid SMA yang ternyata tujuannya
bukan untuk cari masalah seperti pagi tadi (jadi aja Nabilah dikira pencari masalah) tapi meminta maaf atas nama Ve. Itu lah yang membuat Stella, Yona dan Dhike menaruh perhatian besar pada si murid SMP yang mereka tahu bernama Nabilah anak kelas VII. Apalagi mendengar detailnya alasan Nabilah meminta maaf semakin membuat mereka penasaran, mereka pun ambil tindakan untuk tahu lebih tentang Nabilah. Stella meminta Yona untuk menyuruh adiknya memata-matai Nabilah, Novinta tidak
bisa menolak diapun mengikuti kemauan Yona dan juga Stella.
Tahulah si Novinta tentang Nabilah yang sudah meminta maaf pada Ghaida, Nisa, Diasta, Shania, Beby. Dan saat Novinta menyampaikan hasil mata-matanya, Stella semakin gerah. Karena Nabilah meminta maaf atas nama Ve sang kakak sepupunya, Stella mencurigai Nabilah. Karena dia tahu betul siapa Ve!
Ve tidak punya kakak, adik, atau saudara yang dekat termasuk sepupu.
Apa sebenarnya tujuan Nabilah? Kenapa dia mau meminta maaf untuk Ve yang bukan siapa-siapanya? Dan.. kenapa Nabilah bilang kalau dia meminta maaf agar kakak sepupunya itu sadar dari koma?.
“kita harus segera cari tahu, siapa Nabilah sebenarnya? Untuk apa dia susah-susah meminta maaf pada murid-murid di sekolah ini atas nama Ve!” Dhike dan Yona mengangguk atas ucapan yang dilontarkan Stella.
~Malam, menjelang!~
Nabilah dan dan Ve berjalan di sebuah trotoar. Mereka baru pulang dari rumahnya Ve
“ternyata... bibi rumaya emang bisa merasakan kehadiran kak Ve, Bil!” Nabilah tersenyum (dia sudah menelpon Melody meminta untuk di jemput, tapi karena Melody belum datang juga akhirnya Nabilah memutuskan untuk berjalan kaki. Meski dia sudah ditawari untuk diantar tapi kali ini Nabilah menolak)
“hmm~ ternyata kehidupan kakak, gak seburuk apa yang kakak pikirin selama ini! Masih ada yang perduli dan tulus sayang sama kakak!!” ucap Ve sambil melihat ke atas.
“makanya, jangan suka mikirin yang negatif dulu! Kan belum tentu, orang yang gak pernah lihat kita itu gak perduli dan.. orang yang suka lihat kita itu perduli! Bisa aja kan sebaliknya?” Nabilah sok gede, padahal yang disebelahnya lebih gede. “hidup mah gak perlu dibikin kayak di sinetron lah kak. santai tapi kita tahu arah saat jalan! gak usah nanggepin satu hal yang belum kita tahu detailnya dengan berlebihan, yang ada ntar malah nyesel!!”
Ve mengangguk dengan ucapan Nabilah
“semoga kakak gak akan ngalamin hal itu! Nyesel karena nanggepin satu hal dengan berlebihan!” Nabilah tersenyum
“eh ya Bil, kamu mau terus jalan kaki? Ini udah jam... jam berapa nih? Kayaknya udah cukup malam!!” kata Ve
“mm~ tadi di sms sih, katanya kak Melody udah jalan tapi macet soalnya ada kontainer mogok gitu lah!”
“kenapa gak tunggu di rumah aja sih? Kan lebih aman, daripada sekarang kamu jalan sendirian kayak gini!”
“gak masalah buat Nabilah, toh Nabilah kan gak jalan sendirian! Ada kak Ve di sebelah Nabilah, terus... ada beberapa mahluk yang ngeliatin Nabilah juga, jadi ya.. Nabilah ngerasa udah lebih dari aman, kak!” kata Nabilah
“eh? be-berapa makh..luk? mak...sudnya?” tanya Ve sambil mengusap tengkuknya *Ve takut? Benarkah? Arwah takut sama Arwah?*
“iya makhluk kayak kakak! HANTU...” kata Nabilah dengan masih melihat kedepan, Ve lebih mendekatkan dirinya pada Nabilah “he? Kenapa kak? Apa sih? Pake mepet-mepet segala!”
“kamu barusan bilang hantu kan?!”
"iya! Ter,- eh? Jangan-jangan?” Nabilah melebarkan bola matanya
lalu tertawa “Ha.. ahahaaaaahahaa... kakak takut?, apa-apaan nih? Masa hantu takut sama hantu? Lucuuuu... Hahahaaa” Nabilah tidak bisa menahan diri, dia terus menertawakan Ve dan menggodanya.
“A! I-iitu... di--di belakang kakak ada-,” Ve celingukan “aaa...da! Haaantuuuuu....” teriak Nabilah sambil bersiap lari, Ve terlihat panik, dia siap mengikuti Nabilah untuk lari. Tapi kemudian Nabilah
membatalkan larinya dan malah kembali tertawa puas.
“Hahahaaaa.. ini seriusan? Kak Ve sang Hantu, takut sama temannya sendiri… Hantu!? Hahahaaa--,”
“gak lucu, Bil!”
“itu lucu~ hahahaa! Hantu takut sama Hantu! Hantu apaan tuh?haha, memalukan!!”
“terus aja ketawa, sampai puas!”
“hahhaaaa---- hah! Udah ahh capek!” kata Nabilah sambil melihat Ve yang masih mendelik ke arahnya. keduanya berjalan lagi di bawah sinar bulan dengan angin malam yang berhembus.
*tid~ tid~ tidddd~*
Nabilah dan Ve menoleh ke arah suara klakson dan... itu suara klakson mobilnya Melody. Nabilah pun masuk
“kenapa gak tunggu kakak di rumahnya kak Ve aja?” kata Melody tanpa basa-basi, mengingat sudah jam 8.30 malam, pastinya Melody merasa khawatir.
“gak apa-apa kak, Nabilah jalan kan gak sendirian!” jawab Nabilah sambil memasangkan seatbelt nya
“ya, tetep aja... itu kan bahaya! kalau ada apa-apa gimana? Kak Melo bisa di pecat jadi anak nya mama sama papa, karena gak bisa jagain kamu!”
“aduhhh, serem amat pake pecat-pecat segala! Hehe~ gak lah kak, Nabilah udah gede ini... ni liat, wajah Nabilah ama kak Melo aja kalau di tilik-tilik kayak sepantaran!! Hahaha~ iya kan?” Melody mendelik lalu menginjak gas mobilnya
“Bil, itu barusan ledekan buat kamu apa buat kak Melo?” bisik si arwah di belakang, Nabilah mengangkat matanya mencerna pertanyaan Ve. Wajah Nabilah memang terlihat dewasa ketimbang umurnya apalagi kalau dia sedang diam, sementara Melody yang punya tinggi badan yang hampir sama dengan Nabilah membuat dia terlihat seperti hanya beda satu-dua tahunan dangan Nabilah. Padahal bedanya mereka itu 7th.
“hmm~ mau bales ngeledek nih ceritanya?’ kata Nabilah tiba-tiba, membuat Melody melihat padanya sekilas.
“gak ada maksud itu kok kak Ve mah! Hihihii~” Nabilah mengabaikan Ve, karena tidak mau memecah konsentrasi kakaknya yang sedang menyetir, dengan bicara menanggapi Ve.
“kamu abis ngapain aja seharian ini? Sampai malam-malam baru pulang!” tanya Melody kemudian untuk menghilangkan jenuh
“em~ ceritanya panjannnggggg banget kak!” jawab Nabilah
“perjalanan kita juga bakal panjangggggg banget dek, soalnya kontainer itu masih ngalangin jalan pulang kita!”
“bisa aja kak Melody, nih!”
“kak Melo serius dek, kontainer itu mogok terus cuma nyisain jalan yang cukup buat satu mobil.. jadi jalannya di buka tutup satu lajur, giliran gitu!”
“ooohhh!~”
“jangan Ohhh aja! Cerita dong, biar kak Melo tahu gimana serunya minta tolong buat orang yang.... gak keliatan!” kata Melody membuat Ve melihat ke arahnya dengan ekspresi kaget.
“hahaha~ orang yang gak keliatan! Arwah kak, Itu sebutannya!!” jawab Nabilah “Haah~ ok, ok! untuk membayar ongkos jemputan ini... Nabilah bakal cerita deh ke kakak! Jadi gini kak......”
Nabilah mulai menceritakan gimana sialnya dia saat bangun tadi kesiangan, nyampe di sekolah kesiangan, di hukum guru depan tiang bendera, dan yang terakhir nyatet di white board. Cerita Nabilah itu membuat Melody tidak tahan untuk tertawa, begitupun dengan Ve yang mengingat setiap detail kejadian tadi pagi. Terus Nabilah juga menceritakan gimana ketegangannya saat 2guru hari tadi membuat Nabilah merasakan sial yang luar biasa selama dia mencicipi bangku sekolah. Kembali Melody tidak bisa menahan tawanya, dia merasa puas menertawakan Nabilah yang bercerita.
Dan tiba pada cerita saat Nabilah melancarkan misi minta tolongnya dan aksi bijaknya di hadapan para seniornya untuk meyakinkan mereka kalau Ve pantas mendapatkan maaf dari mereka, persis seperti saat juru kampanye mempromosikan kandidat jagoan mereka di pemilu-pemilu. Sampai Nabilah menceritakan gimana pengaruh Ve yang tidak masuk di akal bisa membuat Ayana dan Gaby yang sebelumnya memberondongi dia dengan pertanyaan langsung diam persis kayak orang yang di
hipnotis. Cerita itu membuat Ve membanggakan dirinya sendiri dan Melody mengatakan ‘Wah’ lalu bertanya ‘kok bisa?’, Nabilah jawab, dia juga gak tahu. Tapi Ve memang pernah melakukan hal itu pada satpam di rumahnya saat pertama kali Nabilah main ke rumahnya Ve. terus Melody bertanya ‘apa mungkin Ve menyuruh Gaby sama Ayana untuk melupakan kejadian yang tadi mereka saksikan?’, kayak di drama-drama hantu yang si hantunya bisa menyuruh seseorang untuk melakukan apa yang dia mau
dengan cukup membisikan di telinganya. Nabilah terkejut dengan pernyataan Melody, dia berpikir lalu menjawab… mungkin juga sih~ dan Nabilah melihat ke arah Ve yang memasang tampang senyam-senyum gak karuan.
Ve memang bisa membisikan kata-katanya untuk bisa di turuti. Tapi itu ada quotanya *ceile pake quota segala_- penulis korban quota :v*, dia punya 2hak istimewa selama jadi arwah.
1. Bisa membisikan kata-katanya yang hanya bisa di pakai pada 8orang, itupun bukan orang yang akan dia minta maaf tapi orang netral yang sekiranya bisa menjadi pengganggu.
2. Bisa masuk ke tubuhnya Nabilah dengan batasan tidak lebih dari 2kali, untuk menggunakan tubuh Nabilah kalau dia memang butuh karena mendesak.
Meski itu hak istimewa, tapi bukan berarti gak ada konsekuensinya kalau Ve sampai melanggar. Maka akan ada hukuman dari si pemberi hak itu.
Setelah beberapa menit lamanya yang... cukup lama sih! Nabilah becerita pada Melody, dia akhirnya menyerah karena merasa lelah sampai dia tertidur dengan Melody yang masih fokus menyetir.
Melody tidak bisa melakukan apapun dia hanya tersenyum melihat adiknya dengan wajah lelahnya sedang tertidur
“Kinal!” Tiba-tiba Ve berbisik melihat ke depan, saat Kinal akan masuk taksi. Dia terus memperhatikan Kinal sampai akhirnya taksi itu melaju, tanpa sadar Ve menyuruh Melody untuk mengikuti taksi yang dinaiki Kinal “kak Melody, ikutin taksi itu dong! Please~” karena Nabilah sedang tidur. Melody tidak merespon “eh, eh~ kok belok sih kak, kak?, taksi nya lurus kak,-" Ve baru sadar kalau dia tidak bisa melakukan itu, namun karena dia masih punya hak istimewanya. Tanpa berpikir terlalu panjang, Ve segera berbisik di telinga Melody. Saat pesan Ve untuk mengikuti taksi RedBlue itu sampai di pikirannya, dengan sangat mendadak Melody menginjak rem mobil sampai Nabilah yang sedang tertidur jadi kebangun karena gerakan injak rem mendadak yang di lakukan Melody.
“auw~ aduhh~ kak Melo kenapa sih!?” tanya Nabilah, tapi Melody tidak merespon “lho, lho~ kok muter lagi sih! Mau kemana nih?” kembai Nabilah bertanya dan kembali Melody tidak menjawab karena dia masih dalam pengaruh bisikan Ve. Nabilah yang merasa bingung dan linglung dengan sikap Melody dia segera berbalik kebelakang dan melihat si arwah yang sedang serius melihat kedepan “kak Ve, ini ada apa sih? Kok kak Melody ditanya diam aja!” Nabilah lagi-lagi bertanya tapi sayangnya dia lagi-lagi tidak mendapat jawaban. “hoy! Kak Veranda!!”
“Aapa?” jawab Ve karena mendengar Nabilah berteriak
“apa, apa! Ini yang apa! Ini ada apa sih? Kenapa mobilnya belok lagi? Kenapa kak Melody,- ahh, jangan-jangan kak Ve yang ngelakuin ini? kakak ngelakuin hal yang sama kayak yang kakak lakuin ke Achan sama Gaby! Iya kan?” Nabilah nyerocos
“Ssut! Jangan berisik Bil, nanti kakak kamu bangun dan kita kehilangan jejaknya!”
“jejak? Maksudnya?” Nabilah benar-benar memasang tampang bingungnya.
“iya jejak, jejaknya Kinal!” dengan mata masih melihat kedepan Ve menjawab
“Kinal? Kak Kinal?!” kata Nabilah, Ve mengangguk dan kemudian menceritakan saat dia melihat Kinal dan meminta bantuan pada Melody untuk mengikuti taksi.
"dia mau kemana kak? mau pulang kali ya!” Nabilah bertanya tapi kemudian di jawab sendiri pakai tebakannya.
“bukan, Kinal barusan pergi dari rumahnya Bil!,-“
“hah! pergi dari rumahnya! Malam-malam gini, mau kemana tuh kak Kinal! Kalau di negeri orang lain ya kak, udah kena jam malam tuh. Siswa keluyuran malam-malam gini” Nabilah mengeluarkan apa yang dia ketahui *jam 10 kurang dikit*
“kak Ve juga gak tahu, makanya minta tolong sama kakak kamu! Soal jam malam... ini belum masuk jam malam Bil, masih kurang dikit!”
“cuma dikit kan? Gak banyak!” sahut Nabilah tak mau kalah.
Ve masih menaruh matanya pada RedBlue yang mengarah ke satu tempat yang entah tempat seperti apa yang akan di datangi roda empat itu.
“huh? r-rumah sakit! ini~ ini~ ini bukannya rumah sakit tempat kakak di,-” kata Nabilah melihat Ve, tapi.. “kak Ve? lho kak Ve~” Ve sudah tidak ada di seat belakang, dan saat Nabilah melihat kedepan “ah, hsss~ tu arwah udah di luar aja!” Ve sudah mengikuti Kinal yang masuk ke rumah sakit. “Kak Ve tunggu!” teriak Nabilah dari dalam mobil, kondisi halaman rumah sakit sepi. “aduh, kak Melody gimana nih--” Nabilah bingung, karena Melody masih belum lepas dari pengaruh bisikan arwah Ve. “kak Ve, ahh Nabilah bingung! aduhh~ gimana nih?” Nabilah mengucek rambutnya sendiri. Dan akhirnya dia bicara pada Melody “kak, kakak tunggu disini ya! Nabilah keluar sebentar, kakak jangan kemana-mana! Ok?!” tanpa mengucapkan kalimat, Melody mengangguk meng iya kan ucapan Nabilah dan menuruti kata-kata adiknya. Setelah itu Nabilah pun keluar dan berlari kecil mengikuti Ve dan juga Kinal yang sudah masuk. Saat akan masuk lobi rumah sakit, Nabilah di jegat satpam. Hari ini untuk kedua kalinya Nabilah di pasangin badan satpam. Untuk yang di sekolah, bukan hal yang sulit untuknya masuk, tapi kalo di rumah sakit seperti ini... Nabilah sepertinya akan menemui kesulitan yang cukup sulit.
"he~ e~ eh~ mau kemana? Malam-malam gini anak kecil keluyuran, mana masih pakai seragam lagi!” tegur si satpam dengan setengah tegas karena melihat orang yang di hadangnya masih berseragam.
“em~ mau-- itu pak, anu- aku mau” Nabilah terbata sambil melihat kedalam, dimana Ve dan Kinal sudah ada disana dua-duanya “mau jeng,-!” Nabilah terhenti, dia memikirkan ulang kata yang akan dia ucapkan, karena kalau sampai salah bisa-bisa Nabilah tidak akan di ijinkan untuk masuk
“um~ e, i-itu pak, k-kakak aku- kakak aku sakit! Aku bingung!” Nabilah gelagapan untuk meyakinkan
“apa maksud kamu?”
“iya, k-kakak aku tiba-tiba sakit pak. Tadi kita lagi.... mau jalan pulang ke rumah, eh tiba-tiba kakak aku nya gak bisa ngomong terus cuma bengong! iya itu~” si satpam menilik Nabilah untuk memastikan apa yang sedang di bicarakannya itu benar “eh, si bapak malah bengong! Cepetan pak tolongin kakak aku,-“
“i-iya, iya~ sebentar!” satpam itu masuk untuk memanggil perawat UGD ‘maafin Nabilah kak!’ bisik Nabilah dalam hati karena sudah menjadikan kakaknya bahan alasan, dia celingukan ke arah dalam tapi sudah tidak nampak Ve ataupun Kinal. Tak lama satpam dan 2orang perawat keluar dengan membawa kasur roda
“dimana kakak kamu?” tanya si perawat perempuan
“ya? Oh~ itu suster, disana” tunjuk Nabilah ke mobilnya, “cepetan sust, tolongin kakak aku!” Nabilah kembali berakting, perawat dan juga satpam segera meluncur ke arah mobil dengan Nabilah pura-pura seperti akan mengikuti mereka dari belakang tapi kemudian dia berbalik dan memasuki rumh sakit ‘maaf kak~ maaf, maafin Nabilah!!’ kembali Nabilah berbisik di hatinya ‘ini benar-benar gila!’ gumam Nabilah, dia menaiki lift tapi tidak tahu akan ke lantai mana, saat di dalam lift Nabilah tidak memijit angka yang ada di lift ‘aisssh~ kak Ve sama kak Kinal di lantai mana ya? Ohh gawat nih! Ke lantai berapa nih?’ Nabilah sudah merasa lelah, dengan aktifitas tidak biasanya seharian ini.
‘temannya mama’ Nabilah ingat saat pertama kali bertemu dengan Ve ‘tante itu di rawat di lantai berapa ya? Aduhh Nabilah… coba ingat-ingat dong!’ Nabilah bicara pada dirinya sendiri ‘4? Lantai 4? Bukan~ em- 8? Lantai 8? ~ eh, bukan-bukan! 4~ 4 , lantai 4- iya pasti lantai 4!!’ Nabilah sudah tidak bisa berpikir dengan jelas karena memang kenyataannya waktu menemani mama nya dia tidak begitu memperhatikan jalan bahkan saat naik lift dia cuma mengekor mamanya dengan tangan sibuk memainkan game pocket. Jadi tidak begitu mengingat, ke lantai berapa waktu itu dia dan mama nya pergi. Nabilah memang kalau pergi ke satu tempat yang tidak dia sukai, dia tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Nabilah yang masih sangat muda masih suka seenaknya dengan kondisi sekitar, kalau dia tidak suka maka tidak suka dan kalau dia menyukai sesuatu maka dia akan terus memburu hal itu. ‘ah udahlah ke lantai 4 aja dulu!’ Nabilah memutuskan untuk menekan angka 4 dan beberapa menit dia sampai di lantai 4. Nabilah celingukan mencari dan dia tiba di meja perawat yang sedang jaga malam, dengan menekan rasa gugupnya Nabilah menghampiri meja itu lalu siap bertanya tapi, saat akan mengeluarkan kata-katanya Nabilah keburu melihat Kinal yang baru keluar dari sebuah ruangan. Namun dia tidak mendapati sosok Ve yang tadi mengikuti Kinal. Nabilah tidak langsung menghampiri Kinal, dia diam berjalan pelan dengan matanya mencuri kearah Kinal tapi tidak terlihat mencurigakan, perlahan Kinal berjalan lalu memasuki lift, Nabilah melihat angka di lift membentuk digit 8. Karena penasaran dengan keberadaan Ve, Nabilah pun melihat dulu ke ruangan tempat Kinal sebelumnya masuk.
Nabilah melihat Ve berdiri diam terpaku di ruangan itu, Nabilah masuk “kak, ngapai...n ... di..sini~” ucapan Nabilah terhenti, bukan karena melihat Ve yang sedang terpaku tapi karena melihat Ve yang sedang terbujur di atas bangsal dengan alat pendeteksi jantung yang terdengar nyaring membunyikan detak jantung Ve yang lemah, masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, Nabilah memperhatikan tubuh Ve yang baru pertama kali Nabilah lihat. Perban warna coklat yang menutupi kepala bagian atasnya, sebuah codetan menggores di sudut alis kanannya, di tangan sebelah kirinya menggantung slang infus dengan di telapak tangannya melingkar perban putih sepertinya ada luka di telapak tangannya, dan di tangan kanannya slang transfusi darah.
“a..pa.. kakak... mas...ih bisa hidup?” suara Nabilah pelan, entah seperti apa perasaan Nabilah saat ini ketika melihat tubuh Ve yang tak berdaya dengan luka disana-sini dan selabu darah menggantung tepat tak jauh dari pandangan Nabilah. (Nabilah takut kalau melihat darah, tapi kali ini dia tidak terlihat takut akan darah melainkan takut akan orang yang ada di depannya… berakhir). Nabilah terlihat iba melihat kondisi Ve yang seperti itu tanpa ada siapapun yang menungguinya, dia melihat kearah arwah yang masih diam termangu ‘kasian kak Ve’ lirih Nabilah lalu melihatkan lagi pandangannya pada tubuh Ve.
“kak? kak Ve... gak apa-apa?” pertanyaan apa yang keluar dari mulut Nabilah, mana mungkin Ve tidak apa-apa, yang dia saksikan saja sudah mengindikasikan kalau Ve sedang apa-apa dan mungkin kedepan dia akan sangat apa-apa atas kondisinya. Ve tidak menjawab, Nabilah hanya bisa diam.
"lho? kak Ve mau kemana?” tanya Nabilah karena melihat pergerakan Ve “kak, kak Ve!” Nabilah memanggil tapi tidak di gubris, karena dari tadi merasa diabaikan terus sama Ve Nabilah pun berlari dan berhenti di depan Ve “Stop Kak! Jangan bergerak!!” dia menghentikan Ve (masih di dalam ruangan tempat Ve) “kakak mau kemana? mau cari kak Kinal?”
“iya, kak Ve harus cari kak Kinal! Kita harus cari Kinal, Nabilah!! Ada yang dia sembunyikan tentang kemarahannya dulu sama kak Ve!” Nabilah bingung dengan apa yang di ucapkan Ve.
“Nabilah gak ngerti kak?”
“pokoknya sekarang kita cari Kinal!”
“iya tapi kenapa? Ayolah kak, ini udah malem! Dan..” ucapan Nabilah terhenti, dia baru ingat kalau Melody di bawa ke Unit Gawat Darurat “Nabilah lupa, kak Melody kan di bawa ke UGD!”
“Hah! apa? Kamu bilang kak Melody di UGD?” Ve kaget mendengar ucapan Nabilah, Nabilah hanya menjawab dengan anggukan. “kok bisa? Tadi kan kak Melody di mobil dan,- aduhh kak Ve juga lupa! Tadi kakak minta bantuan kak Melody dengan berbisik terus kakak lupa pas sampai rumah sakit kakak gak nyuruh kak Melody buat kembali ke sikap semulanya!!” Ve menjelaskan. Dan tidak tanggung, dia pun jadi menjelaskan dengan panjang kali lebar tentang Hak istimewa yang dia dapat. Nabilah semakin-semakin heran dengan dunia arwah yang ada di cerita ini.
“jadi gimana nih kak? Nabilah harus temuin kak Melody, sebelum pihak rumah sakit menelpon ke rumah atau ke handphone nya papa mama” Nabilah jadi bingung, sementara dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan Ve tadi saat Kinal keluar lalu pergi ke lantai 8 dan juga penasaran dengan apa yang di katakan Ve di ruangannya tadi. Tak kalah bingungnya, pikiran Ve pun jadi buyar antara mencari Kinal atau melihat Melody dan menyadarkannya.
“um~ ya udah lah kita samperin kakak kamu! Soal Kinal besok pagi di sekolah kita bisa nemuin dia kan!!” Nabilah merasa kasihan pada Ve, tapi apalah dayanya dia sekarang sedang berdiri di antara 2 keadaan yang tidak bisa di sepelekan.
“tapi kakak? Gimana sama kakak? Kak Ve belum tahu kan kak Kinal sedang apa disini, setelah dari ruangannya kak Ve!?” Ve berpikir lalu mengangguk pelan, seolah tahu kalau Nabilah sedang memikirkan kepentingannya juga.
“emm~ gak apa-apalah Nabilah. Kita bisa cari tahu besok di sekolah, lebih baik kita sekarang ke kak me,-”
“enggak! Urusan kak Melody, biar Nabilah yang tanganin! Sekarang kakak kasih tahu aja Nabilah, gimana caranya ngembaliin kak Melody ke kondisinya semula. Terus kakak pergi lihat kak Kinal, dia tadi ke lantai 8!” Ve melebarkan bola matanya yang manis saat mendengar usulan dari Nabilah. Dia begitu terharu mendengar Nabilah begitu perhatian dengan kondisinya “kak~ kok malah bengong sih! Bisa kan? Apa yang tadi Nabilah usulkan terkabul?”
“Haah? Ah~ i-iya, kak Ve dengar! Ya udah kalau menurut kamu itu baik kak Ve ikutin.” Ve pun mulai memberi tahu bagaiman cara agar Melody kembali dari alam bawah sadarnya. Nabilah mengerti lalu keluar dari ruangan itu dan jalan menuju lift untuk turun ke bawah dan menghampiri Melody. Sementara Ve dia langsung menuju lantai 8 seperti yang tadi Nabilah bilang, Kinal ke lantai 8. Dan saat berpisah Nabilah bilang pada Ve ‘kalau urusannya lihat Kinal sudah selesai Nabilah akan tunggu Ve di mobil’
*Di UGD*
’pranggg’ sebuah plat dari alumunium tempat menyimpan kapas bekas membersihkan luka jatuh. Melody yang sedang berbaring dengan tatapan kosong nya mulai mengedip-ngedipkan bola matanya, dia melihat langit-langitnya dan kemudian memainkan ke arah lainnya di ruangan itu “mm~ heeeh dimana nih?” bisik Melody sambil memegangi kepalanya dan bangun dari pembaringannya, dia melihat beberapa orang berseliweran sana-sini dengan seragam putihnya “ah, ini... rumah sakit? apa ini rumah sakit?” lalu Melody membelalakan matanya karena kaget saat dia menyadari kalau tempat yang sedang di tatapnya itu rumah sakit. “rumah sakit! Kenapa aku bisa disini? Terus~ Nabilah? Nabilah dimana ya?” Melody melihat sekeliling dan mulai menurunkan kakinya untuk menginjak lantai “kenapa sih aku bisa disini? Nabilah dimana? Ini ada apa sebenarnya?” Melody mencoba mengingat kejadian terakhir.
“kamu sudah sadar?” tanya seorang suster yang melihat Melody bergerak dari bangsalnya
“sadar? Memangnya saya kenapa suster?” Melody balik bertanya dengan kebingungannya.
“Kakakkkkk,,” Nabilah berlari berhamburan ke arah Melody.
“Nabilah!” ucap Melody pelan saat Nabilah memeluk Melody “kakak udah gak apa-apa?” tanya Nabilah kemudian, Melody menggeleng karena dia sebenarnya masih bingung kenapa bisa berbaring di UGD. Suster yang tadi mau menjelaskan keadaan Melody, jadi menelan kembali penjelasannya karena melihat Nabilah yang berlari sambil teriak. Dan di ganti dengan kata-kata pemberitahuan kalau Melody bisa dibawa pulang
“kakak kamu sudah tidak apa-apa, dia bisa pulang, tidak perlu di rawat!” kata suster.
“bentar-bentar sust, aku masih bingung! Kenapa suster sama kamu juga dek bawa-bawa kata ‘apa-apa’ emang kak Melody kenapa?” Suster dan Nabilah saling berpandangan, entah apa maksudnya.
“em~ kakak gak perlu mikirin tentang itu, mending sekarang kita pulang yuk kak! Ini udah malem juga!!-- Ya?” kata Nabilah dengan diakhiri memberikan usulan. Melody masih ingin bertanya tentang bagaimana ceritanya dia bisa terdampar di Rumah Sakit tapi karena saat melihat jam tangannya sudah memperlihatkan hampir jam 11, bukan hampir deh tapi sudah jam 11 lebih. Jadi terpaksa Melody menekan ego nya dan berdiri dari atas bangsal untuk keluar dari emergency room itu bersama dengan Nabilah yang sudah terlihat lelah.
“em~ kakak gak apa-apa... nyetir?”
Melody berpikir sebentar, lalu menjawab dengan gelengan dan beberapa kata “gak, kak Melo gak apa-apa.. dan, emang gak kenapa-kenapa!” Nabilah tersenyum ke arah Melody sambil mengangguk kecil. “kamu gak mau ceritain nih, kenapa kakak bisa sampai di UGD?” Melody bertanya dengan tangannya sudah menstarter mobilnya, Nabilah memainkan matanya dan memikirkan ulang. Kemudian memutuskan untuk menceritakan ceritanya pada Melody, sampai Melody yang semula sudah menstarter mobil mematikan kembali mobilnya. Dan Nabilah pun mulai mendongeng.... untuk mengulur waktu juga karena si arwah masih belum kembali.
*Di sebuah kamar di lantai 8*
Ve melihat Kinal di sebuah ruangan, dia sedang duduk menunggui ibunya. Ve menundukan kepalanya mengucapkan kata Maaf saat melihat dan mendengar Kinal bercerita pada ibunya yang sedang koma. kembali kilasan kejadian dulu dengan Kinal keluar dari dalam pikirannya *“Aku udah muak temenan sama Ve! Dia itu manja, egois, mentang-mentang anak orang kaya.. terus dia bersikap seenaknya!! Aku udah gak mau lagi sahabatan sama dia!!!”Ve diam terpaku saat mendengar Kinal berbicara seperti itu pada Stella, Yona dan Dhike.*
“apa ini? Kenapa sebenarnya dengan Kinal?!” Ve berbisik dalam hati, saat kilasan itu muncul “dia bilang gak mau lagi temenan sama aku, dia bilang muak bersahabat dengan ku, dia bilang dia hanya memanfaatkan ku! Terus tadi apa? Kenapa dia keruanganku dan...” Ve terlihat sedih “dan... dia kah yang selalu mengganti bunga di kamarku? bunga yang sama setiap hari selama aku terbaring!. diakah yang selalu menjengukku setiap malamnya? Apa yang sebenarnya terjadi? terus kenapa sama tante Mila? (mamanya Kinal)” kembali Ve bertanya pada dirinya sendiri. Setiap malam, setelah Nabilah tertidur. Ve selalu pergi ketempat jasadnya berbaring, awalnya Ve mengira perubahan di vas bunganya itu adalah perbuatan si perawat yang bergiliran menjaganya tapi malam ini, Ve tahu... siapa sebenarnya yang mengganti bunga di pass nya!
“HHah? jadi kakak di bisikin sama kak Ve”
Nabilah mengangguk “ya, dan terus.. Nabilah di kasih tahu sama kak Ve gimana cara nyadarin kak Melody! Tapi, pas Nabilah sampai di UGD ternyata kakak udah sadar!!” Melody memproses setiap ucapan Nabilah
“hmm~ kenapa kayak di film-film ya? Kak Melody pikir, roh itu gak akan bisa ngasih bisikan sama kita!” Nabilah mengangkat kedua bahunya “au deh, tanyain aja sama penulis cerpennya!” kata Nabilah sambil tersenyum.
~Keesokan Paginya~
Nabilah bangun sangat pagi, tanpa ada yang membangunkan, entah itu Melody ataupun Ve, tanpa ada alarm yang berteriak. Padahal semalam dia, Melody dan juga Ve sampai di rumah jam 12malam lewat 24menit. Setelah Nabilah bercerita dan Melody menjadi pendengar sekaligus komentator, sambil menunggu kedatangan si arwah yang cukup lama diam di lantai 8 rumah sakit. Nabilah sempat bertanya pada Ve ‘bagaimana Kinal?’ tapi Ve tidak menjawab, dia bungkam dan wajahnya terlihat sedih dan ada gurat penyesalan dari kepucatannya.
Sesampainya di sekolah, Nabilah dan Ve saling diam. Nabilah diam karena dia memikirkan tentang hari terakhir di misi VeNa yang hanya menyisakan waktu kurang lebih 10jam, dia memang sudah mendapatkan nomor HP murid-murid SMA yang akan Ve mintai maaf dan Nabilah pun sudah mengirimkan pesan nya kemarin sore pada mereka, tapi Nabilah merasa khawatir karena dia takut kalau acara yang sudah dia rencanakan berantakan dan Ve tidak mendapat maaf dari mereka. ‘apa yang akan terjadi sama kak Ve ya kalau misi ini gagal?’ Nabilah berbisik dalam hati sambil melihat Ve yang jalan di sebelahnya sambil melamun. Kemudian dia kembali melihat kedepan dengan sebelumnya menghela nafas. Ketegangan cukup terlihat menyelimuti wajahnya Nabilah yang biasanya selalu ceria. Sementara Ve, dia diam bukan hanya memikirkan misi 48jam namun memikirkan juga tentang cerita sahabat yang pernah dia tendang dari perjalanan kehidupannya.
Sampai di lorong sekolah, murid-murid SMP saling berbisik ria ketika melihat Nabilah lewat. Nabilah merasakan pandangan dan juga bisikan dari murid-murid yang berdiri di lorong, tapi dia tidak mau ambil pusing dan membiarkan mereka rame dengan mainannya yaitu melihat Nabilah, buat Nabilah itu bukan hal yang penting sekarang.
Sampai di kelas, Nabilah langsung di serbu oleh Ayana dan Gaby. Mereka berdua bicara barengan tanpa menghiraukan kebingungan di wajah Nabilah. Keduanya terus nyerocos, dan Nabilah juga Ve tidak begitu menangkap apa yang mereka katakan. Ve yang dari tadi diam tanpa kata, kini mengeluarkan kata-katanya dalam bentuk pertanyaan pada Nabilah
“mereka berdua kenapa, Bil?” Nabilah menggeleng dan berbisik pelan “kan kakak yang kemarin bikin mereka bengong!” dengan mata masih terpaku pada kedua sahabatnya yang sudah lupa akan kejadian kemarin.
“kok kamu diem aja sih, Nabilah! Jawab ke? Atau apa lah, tanggepin gitu!” protes Ayana, setelah dari tadi bicara. Gaby mengangguk menyetujui Ayana.
“jawab? Nanggepin? Gimana aku mau ngejawab atau ngasih tanggapan! Orang dari tadi kalian nyerocos mulu, mana aku gak ngerti lagi bahasa yang kalian pakai!!” Nabilah menanggapi, Ayana dan Gaby tersenyum “pake senyum-senyum lagi! Awas ahh, aku mau duduk!” lanjut Nabilah sambil menerobos Ayana dan Gaby lalu duduk di mejanya. Kedua sahabatnya mengikuti, mereka duduk dan melihat Nabilah dengan tatapan mengharapkan jawaban. Nabilah menggerak-gerakan bola matanya melihat keduanya.
“kalian ngapain sih, liatin aku kayak gitu!?”
“ish, si Nabilah gimana sih! Aku sama Gaby kan nungguin jawaban kamu! Iya kan Gab?” Gaby mengangguk.
“jawaban? Pertanyaannya aja aku gak ngerti!” kata Nabilah,
“ehh~ jadi gini loh Nabilah, tadi itu aku sama Gaby nanya kenapa ada anak SMA yang kesini terus nanyain kamu dengan raut mukanya kayak yang marah!” ~ “terus ya... murid SMA nya itu gak satu orang tapi” Gaby berhenti sejenak “3orang, dan kamu tahu Bil mereka yang nyari kamu itu siapa?” Nabilah mengerung lalu menggeleng. Gaby pun melanjutkan “mereka itu... sahabat-sahabatnya kak Ve!” Nabilah dan Juga Ve membelalakan matanya saat mendengar ucapan Gaby “maksud kalian? Kak Stella, kak Dhike sama,-" ~ “kok kamu tahu Bil!?” Ayana memotong ucapan Nabilah
Novinta sedang berlari kecil untuk menghampiri seseorang,
sesampainya di tempat tujuan. Dia bicara pada 3murid SMA yang dia temui....
“apa? Jadi sekarang anak itu... meminta maaf sama murid SMP? Dengan alasan yang sama waktu dia minta maaf sama beberapa murid di SMA!?” katanya setengah berteriak setelah mendengar ucapan Novinta, Novinta mengangguk
“dan… sepertinya Nabilah berhasil meyakinkan mereka untuk memaafkan kak Ve, kak!”
“apa? *lagi-lagi apa_-!* ini gak boleh di biarin! Kalau Ve sampai sembuh...” ~
“kita bisa habis!” sahut salah satu temannya
“kii..ta? Aku gak masuk hitungan kan kak?” tanya Novinta polos pada ucapan Yona yang tak lain adalah kakaknya.
“kamu udah terlibat! Jadi ya... kamu masuk itungan dong!!” ujar Dhike yang tadi belum bicara
“loh, kok gitu sih! Novinta kan cuma mata-matain Nabilah yang kata kalian ada gerak-gerik mencurigakan!! Selebihnya... Novinta gak tahu apa-apa! Iya kan kak?” jelas Novinta lalu mengarahkan
pandangannya pada Yona sang kakak.
“tetap aja, kamu terlibat! Karena kamu tau rencana kita semua!!” Dhike kembali mempertegas tentang Novinta yang juga harus ikut terlibat
“ya, enggak lah! Kak Dhike itu gimana sih, kakak lupa? Novinta cuma di suruh sama kalian, lagian soal penye,-“
“CUKUP!” teriak Stella yang tadi pertama kali menanggapi ucapan Novinta “jangan ributin masalah itu! Yang penting sekarang gimana caranya kita menghentikan Nabilah untuk meminta maaf atas nama Ve pada murid-murid yang ada disini!!” kata Stella membuat Novinta, Dhike dan Yona diam “kalau apa yang
di katakan Nabilah dalam alasannya meminta maaf itu benar, dan Ve bisa kembali dari koma nya... kita gak perlu takut! Karena tidak ada yang tahu akan apa yang sudah kita lakukan!! Bahkan Ve sekalipun!!! Kalau sampai ada yang tahu, itu artinya... Salah satu dari kita ada yang membocorkan. Jelas!?” Stella terdengar begitu tegas “dan kamu Novinta, sebaiknya kamu hati-hati dengan mulut kamu! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu!! Ngerti?!!” Novinta mengangguk dengan rasa takut menghantui benaknya.
Sebelumnya. Stella, Dhike, dan Yona mendengar kabar burung tentang adanya anak SMP yang nongkrong di depan mading sekolah lalu nyamperin Ghaida dan... (SMP dan SMA tidak begitu akur *untuk yang merasa punya popuaritas* di Putri Jakarta, maklum isinya semua cewek jadi ya.. hal kecil bisa jadi besar dan hal besar bisa semakin membesar) ada sedikit keributan, tapi buat Stella dan lainnya itu bukanlah berita yang WAH, jadi mereka acuhkan saja berita yang datang tanpa perlu mereka minta itu. Namun, setelah itu... siangnya mereka kembali dapat berita yang kali ini mampu menarik perhatian mereka. Kalau si murid SMP kembali berurusan dengan murid SMA yang ternyata tujuannya
bukan untuk cari masalah seperti pagi tadi (jadi aja Nabilah dikira pencari masalah) tapi meminta maaf atas nama Ve. Itu lah yang membuat Stella, Yona dan Dhike menaruh perhatian besar pada si murid SMP yang mereka tahu bernama Nabilah anak kelas VII. Apalagi mendengar detailnya alasan Nabilah meminta maaf semakin membuat mereka penasaran, mereka pun ambil tindakan untuk tahu lebih tentang Nabilah. Stella meminta Yona untuk menyuruh adiknya memata-matai Nabilah, Novinta tidak
bisa menolak diapun mengikuti kemauan Yona dan juga Stella.
Tahulah si Novinta tentang Nabilah yang sudah meminta maaf pada Ghaida, Nisa, Diasta, Shania, Beby. Dan saat Novinta menyampaikan hasil mata-matanya, Stella semakin gerah. Karena Nabilah meminta maaf atas nama Ve sang kakak sepupunya, Stella mencurigai Nabilah. Karena dia tahu betul siapa Ve!
Ve tidak punya kakak, adik, atau saudara yang dekat termasuk sepupu.
Apa sebenarnya tujuan Nabilah? Kenapa dia mau meminta maaf untuk Ve yang bukan siapa-siapanya? Dan.. kenapa Nabilah bilang kalau dia meminta maaf agar kakak sepupunya itu sadar dari koma?.
“kita harus segera cari tahu, siapa Nabilah sebenarnya? Untuk apa dia susah-susah meminta maaf pada murid-murid di sekolah ini atas nama Ve!” Dhike dan Yona mengangguk atas ucapan yang dilontarkan Stella.
~Malam, menjelang!~
Nabilah dan dan Ve berjalan di sebuah trotoar. Mereka baru pulang dari rumahnya Ve
“ternyata... bibi rumaya emang bisa merasakan kehadiran kak Ve, Bil!” Nabilah tersenyum (dia sudah menelpon Melody meminta untuk di jemput, tapi karena Melody belum datang juga akhirnya Nabilah memutuskan untuk berjalan kaki. Meski dia sudah ditawari untuk diantar tapi kali ini Nabilah menolak)
“hmm~ ternyata kehidupan kakak, gak seburuk apa yang kakak pikirin selama ini! Masih ada yang perduli dan tulus sayang sama kakak!!” ucap Ve sambil melihat ke atas.
“makanya, jangan suka mikirin yang negatif dulu! Kan belum tentu, orang yang gak pernah lihat kita itu gak perduli dan.. orang yang suka lihat kita itu perduli! Bisa aja kan sebaliknya?” Nabilah sok gede, padahal yang disebelahnya lebih gede. “hidup mah gak perlu dibikin kayak di sinetron lah kak. santai tapi kita tahu arah saat jalan! gak usah nanggepin satu hal yang belum kita tahu detailnya dengan berlebihan, yang ada ntar malah nyesel!!”
Ve mengangguk dengan ucapan Nabilah
“semoga kakak gak akan ngalamin hal itu! Nyesel karena nanggepin satu hal dengan berlebihan!” Nabilah tersenyum
“eh ya Bil, kamu mau terus jalan kaki? Ini udah jam... jam berapa nih? Kayaknya udah cukup malam!!” kata Ve
“mm~ tadi di sms sih, katanya kak Melody udah jalan tapi macet soalnya ada kontainer mogok gitu lah!”
“kenapa gak tunggu di rumah aja sih? Kan lebih aman, daripada sekarang kamu jalan sendirian kayak gini!”
“gak masalah buat Nabilah, toh Nabilah kan gak jalan sendirian! Ada kak Ve di sebelah Nabilah, terus... ada beberapa mahluk yang ngeliatin Nabilah juga, jadi ya.. Nabilah ngerasa udah lebih dari aman, kak!” kata Nabilah
“eh? be-berapa makh..luk? mak...sudnya?” tanya Ve sambil mengusap tengkuknya *Ve takut? Benarkah? Arwah takut sama Arwah?*
“iya makhluk kayak kakak! HANTU...” kata Nabilah dengan masih melihat kedepan, Ve lebih mendekatkan dirinya pada Nabilah “he? Kenapa kak? Apa sih? Pake mepet-mepet segala!”
“kamu barusan bilang hantu kan?!”
"iya! Ter,- eh? Jangan-jangan?” Nabilah melebarkan bola matanya
lalu tertawa “Ha.. ahahaaaaahahaa... kakak takut?, apa-apaan nih? Masa hantu takut sama hantu? Lucuuuu... Hahahaaa” Nabilah tidak bisa menahan diri, dia terus menertawakan Ve dan menggodanya.
“A! I-iitu... di--di belakang kakak ada-,” Ve celingukan “aaa...da! Haaantuuuuu....” teriak Nabilah sambil bersiap lari, Ve terlihat panik, dia siap mengikuti Nabilah untuk lari. Tapi kemudian Nabilah
membatalkan larinya dan malah kembali tertawa puas.
“Hahahaaaa.. ini seriusan? Kak Ve sang Hantu, takut sama temannya sendiri… Hantu!? Hahahaaa--,”
“gak lucu, Bil!”
“itu lucu~ hahahaa! Hantu takut sama Hantu! Hantu apaan tuh?haha, memalukan!!”
“terus aja ketawa, sampai puas!”
“hahhaaaa---- hah! Udah ahh capek!” kata Nabilah sambil melihat Ve yang masih mendelik ke arahnya. keduanya berjalan lagi di bawah sinar bulan dengan angin malam yang berhembus.
*tid~ tid~ tidddd~*
Nabilah dan Ve menoleh ke arah suara klakson dan... itu suara klakson mobilnya Melody. Nabilah pun masuk
“kenapa gak tunggu kakak di rumahnya kak Ve aja?” kata Melody tanpa basa-basi, mengingat sudah jam 8.30 malam, pastinya Melody merasa khawatir.
“gak apa-apa kak, Nabilah jalan kan gak sendirian!” jawab Nabilah sambil memasangkan seatbelt nya
“ya, tetep aja... itu kan bahaya! kalau ada apa-apa gimana? Kak Melo bisa di pecat jadi anak nya mama sama papa, karena gak bisa jagain kamu!”
“aduhhh, serem amat pake pecat-pecat segala! Hehe~ gak lah kak, Nabilah udah gede ini... ni liat, wajah Nabilah ama kak Melo aja kalau di tilik-tilik kayak sepantaran!! Hahaha~ iya kan?” Melody mendelik lalu menginjak gas mobilnya
“Bil, itu barusan ledekan buat kamu apa buat kak Melo?” bisik si arwah di belakang, Nabilah mengangkat matanya mencerna pertanyaan Ve. Wajah Nabilah memang terlihat dewasa ketimbang umurnya apalagi kalau dia sedang diam, sementara Melody yang punya tinggi badan yang hampir sama dengan Nabilah membuat dia terlihat seperti hanya beda satu-dua tahunan dangan Nabilah. Padahal bedanya mereka itu 7th.
“hmm~ mau bales ngeledek nih ceritanya?’ kata Nabilah tiba-tiba, membuat Melody melihat padanya sekilas.
“gak ada maksud itu kok kak Ve mah! Hihihii~” Nabilah mengabaikan Ve, karena tidak mau memecah konsentrasi kakaknya yang sedang menyetir, dengan bicara menanggapi Ve.
“kamu abis ngapain aja seharian ini? Sampai malam-malam baru pulang!” tanya Melody kemudian untuk menghilangkan jenuh
“em~ ceritanya panjannnggggg banget kak!” jawab Nabilah
“perjalanan kita juga bakal panjangggggg banget dek, soalnya kontainer itu masih ngalangin jalan pulang kita!”
“bisa aja kak Melody, nih!”
“kak Melo serius dek, kontainer itu mogok terus cuma nyisain jalan yang cukup buat satu mobil.. jadi jalannya di buka tutup satu lajur, giliran gitu!”
“ooohhh!~”
“jangan Ohhh aja! Cerita dong, biar kak Melo tahu gimana serunya minta tolong buat orang yang.... gak keliatan!” kata Melody membuat Ve melihat ke arahnya dengan ekspresi kaget.
“hahaha~ orang yang gak keliatan! Arwah kak, Itu sebutannya!!” jawab Nabilah “Haah~ ok, ok! untuk membayar ongkos jemputan ini... Nabilah bakal cerita deh ke kakak! Jadi gini kak......”
Nabilah mulai menceritakan gimana sialnya dia saat bangun tadi kesiangan, nyampe di sekolah kesiangan, di hukum guru depan tiang bendera, dan yang terakhir nyatet di white board. Cerita Nabilah itu membuat Melody tidak tahan untuk tertawa, begitupun dengan Ve yang mengingat setiap detail kejadian tadi pagi. Terus Nabilah juga menceritakan gimana ketegangannya saat 2guru hari tadi membuat Nabilah merasakan sial yang luar biasa selama dia mencicipi bangku sekolah. Kembali Melody tidak bisa menahan tawanya, dia merasa puas menertawakan Nabilah yang bercerita.
Dan tiba pada cerita saat Nabilah melancarkan misi minta tolongnya dan aksi bijaknya di hadapan para seniornya untuk meyakinkan mereka kalau Ve pantas mendapatkan maaf dari mereka, persis seperti saat juru kampanye mempromosikan kandidat jagoan mereka di pemilu-pemilu. Sampai Nabilah menceritakan gimana pengaruh Ve yang tidak masuk di akal bisa membuat Ayana dan Gaby yang sebelumnya memberondongi dia dengan pertanyaan langsung diam persis kayak orang yang di
hipnotis. Cerita itu membuat Ve membanggakan dirinya sendiri dan Melody mengatakan ‘Wah’ lalu bertanya ‘kok bisa?’, Nabilah jawab, dia juga gak tahu. Tapi Ve memang pernah melakukan hal itu pada satpam di rumahnya saat pertama kali Nabilah main ke rumahnya Ve. terus Melody bertanya ‘apa mungkin Ve menyuruh Gaby sama Ayana untuk melupakan kejadian yang tadi mereka saksikan?’, kayak di drama-drama hantu yang si hantunya bisa menyuruh seseorang untuk melakukan apa yang dia mau
dengan cukup membisikan di telinganya. Nabilah terkejut dengan pernyataan Melody, dia berpikir lalu menjawab… mungkin juga sih~ dan Nabilah melihat ke arah Ve yang memasang tampang senyam-senyum gak karuan.
Ve memang bisa membisikan kata-katanya untuk bisa di turuti. Tapi itu ada quotanya *ceile pake quota segala_- penulis korban quota :v*, dia punya 2hak istimewa selama jadi arwah.
1. Bisa membisikan kata-katanya yang hanya bisa di pakai pada 8orang, itupun bukan orang yang akan dia minta maaf tapi orang netral yang sekiranya bisa menjadi pengganggu.
2. Bisa masuk ke tubuhnya Nabilah dengan batasan tidak lebih dari 2kali, untuk menggunakan tubuh Nabilah kalau dia memang butuh karena mendesak.
Meski itu hak istimewa, tapi bukan berarti gak ada konsekuensinya kalau Ve sampai melanggar. Maka akan ada hukuman dari si pemberi hak itu.
Setelah beberapa menit lamanya yang... cukup lama sih! Nabilah becerita pada Melody, dia akhirnya menyerah karena merasa lelah sampai dia tertidur dengan Melody yang masih fokus menyetir.
Melody tidak bisa melakukan apapun dia hanya tersenyum melihat adiknya dengan wajah lelahnya sedang tertidur
“Kinal!” Tiba-tiba Ve berbisik melihat ke depan, saat Kinal akan masuk taksi. Dia terus memperhatikan Kinal sampai akhirnya taksi itu melaju, tanpa sadar Ve menyuruh Melody untuk mengikuti taksi yang dinaiki Kinal “kak Melody, ikutin taksi itu dong! Please~” karena Nabilah sedang tidur. Melody tidak merespon “eh, eh~ kok belok sih kak, kak?, taksi nya lurus kak,-" Ve baru sadar kalau dia tidak bisa melakukan itu, namun karena dia masih punya hak istimewanya. Tanpa berpikir terlalu panjang, Ve segera berbisik di telinga Melody. Saat pesan Ve untuk mengikuti taksi RedBlue itu sampai di pikirannya, dengan sangat mendadak Melody menginjak rem mobil sampai Nabilah yang sedang tertidur jadi kebangun karena gerakan injak rem mendadak yang di lakukan Melody.
“auw~ aduhh~ kak Melo kenapa sih!?” tanya Nabilah, tapi Melody tidak merespon “lho, lho~ kok muter lagi sih! Mau kemana nih?” kembai Nabilah bertanya dan kembali Melody tidak menjawab karena dia masih dalam pengaruh bisikan Ve. Nabilah yang merasa bingung dan linglung dengan sikap Melody dia segera berbalik kebelakang dan melihat si arwah yang sedang serius melihat kedepan “kak Ve, ini ada apa sih? Kok kak Melody ditanya diam aja!” Nabilah lagi-lagi bertanya tapi sayangnya dia lagi-lagi tidak mendapat jawaban. “hoy! Kak Veranda!!”
“Aapa?” jawab Ve karena mendengar Nabilah berteriak
“apa, apa! Ini yang apa! Ini ada apa sih? Kenapa mobilnya belok lagi? Kenapa kak Melody,- ahh, jangan-jangan kak Ve yang ngelakuin ini? kakak ngelakuin hal yang sama kayak yang kakak lakuin ke Achan sama Gaby! Iya kan?” Nabilah nyerocos
“Ssut! Jangan berisik Bil, nanti kakak kamu bangun dan kita kehilangan jejaknya!”
“jejak? Maksudnya?” Nabilah benar-benar memasang tampang bingungnya.
“iya jejak, jejaknya Kinal!” dengan mata masih melihat kedepan Ve menjawab
“Kinal? Kak Kinal?!” kata Nabilah, Ve mengangguk dan kemudian menceritakan saat dia melihat Kinal dan meminta bantuan pada Melody untuk mengikuti taksi.
"dia mau kemana kak? mau pulang kali ya!” Nabilah bertanya tapi kemudian di jawab sendiri pakai tebakannya.
“bukan, Kinal barusan pergi dari rumahnya Bil!,-“
“hah! pergi dari rumahnya! Malam-malam gini, mau kemana tuh kak Kinal! Kalau di negeri orang lain ya kak, udah kena jam malam tuh. Siswa keluyuran malam-malam gini” Nabilah mengeluarkan apa yang dia ketahui *jam 10 kurang dikit*
“kak Ve juga gak tahu, makanya minta tolong sama kakak kamu! Soal jam malam... ini belum masuk jam malam Bil, masih kurang dikit!”
“cuma dikit kan? Gak banyak!” sahut Nabilah tak mau kalah.
Ve masih menaruh matanya pada RedBlue yang mengarah ke satu tempat yang entah tempat seperti apa yang akan di datangi roda empat itu.
“huh? r-rumah sakit! ini~ ini~ ini bukannya rumah sakit tempat kakak di,-” kata Nabilah melihat Ve, tapi.. “kak Ve? lho kak Ve~” Ve sudah tidak ada di seat belakang, dan saat Nabilah melihat kedepan “ah, hsss~ tu arwah udah di luar aja!” Ve sudah mengikuti Kinal yang masuk ke rumah sakit. “Kak Ve tunggu!” teriak Nabilah dari dalam mobil, kondisi halaman rumah sakit sepi. “aduh, kak Melody gimana nih--” Nabilah bingung, karena Melody masih belum lepas dari pengaruh bisikan arwah Ve. “kak Ve, ahh Nabilah bingung! aduhh~ gimana nih?” Nabilah mengucek rambutnya sendiri. Dan akhirnya dia bicara pada Melody “kak, kakak tunggu disini ya! Nabilah keluar sebentar, kakak jangan kemana-mana! Ok?!” tanpa mengucapkan kalimat, Melody mengangguk meng iya kan ucapan Nabilah dan menuruti kata-kata adiknya. Setelah itu Nabilah pun keluar dan berlari kecil mengikuti Ve dan juga Kinal yang sudah masuk. Saat akan masuk lobi rumah sakit, Nabilah di jegat satpam. Hari ini untuk kedua kalinya Nabilah di pasangin badan satpam. Untuk yang di sekolah, bukan hal yang sulit untuknya masuk, tapi kalo di rumah sakit seperti ini... Nabilah sepertinya akan menemui kesulitan yang cukup sulit.
"he~ e~ eh~ mau kemana? Malam-malam gini anak kecil keluyuran, mana masih pakai seragam lagi!” tegur si satpam dengan setengah tegas karena melihat orang yang di hadangnya masih berseragam.
“em~ mau-- itu pak, anu- aku mau” Nabilah terbata sambil melihat kedalam, dimana Ve dan Kinal sudah ada disana dua-duanya “mau jeng,-!” Nabilah terhenti, dia memikirkan ulang kata yang akan dia ucapkan, karena kalau sampai salah bisa-bisa Nabilah tidak akan di ijinkan untuk masuk
“um~ e, i-itu pak, k-kakak aku- kakak aku sakit! Aku bingung!” Nabilah gelagapan untuk meyakinkan
“apa maksud kamu?”
“iya, k-kakak aku tiba-tiba sakit pak. Tadi kita lagi.... mau jalan pulang ke rumah, eh tiba-tiba kakak aku nya gak bisa ngomong terus cuma bengong! iya itu~” si satpam menilik Nabilah untuk memastikan apa yang sedang di bicarakannya itu benar “eh, si bapak malah bengong! Cepetan pak tolongin kakak aku,-“
“i-iya, iya~ sebentar!” satpam itu masuk untuk memanggil perawat UGD ‘maafin Nabilah kak!’ bisik Nabilah dalam hati karena sudah menjadikan kakaknya bahan alasan, dia celingukan ke arah dalam tapi sudah tidak nampak Ve ataupun Kinal. Tak lama satpam dan 2orang perawat keluar dengan membawa kasur roda
“dimana kakak kamu?” tanya si perawat perempuan
“ya? Oh~ itu suster, disana” tunjuk Nabilah ke mobilnya, “cepetan sust, tolongin kakak aku!” Nabilah kembali berakting, perawat dan juga satpam segera meluncur ke arah mobil dengan Nabilah pura-pura seperti akan mengikuti mereka dari belakang tapi kemudian dia berbalik dan memasuki rumh sakit ‘maaf kak~ maaf, maafin Nabilah!!’ kembali Nabilah berbisik di hatinya ‘ini benar-benar gila!’ gumam Nabilah, dia menaiki lift tapi tidak tahu akan ke lantai mana, saat di dalam lift Nabilah tidak memijit angka yang ada di lift ‘aisssh~ kak Ve sama kak Kinal di lantai mana ya? Ohh gawat nih! Ke lantai berapa nih?’ Nabilah sudah merasa lelah, dengan aktifitas tidak biasanya seharian ini.
‘temannya mama’ Nabilah ingat saat pertama kali bertemu dengan Ve ‘tante itu di rawat di lantai berapa ya? Aduhh Nabilah… coba ingat-ingat dong!’ Nabilah bicara pada dirinya sendiri ‘4? Lantai 4? Bukan~ em- 8? Lantai 8? ~ eh, bukan-bukan! 4~ 4 , lantai 4- iya pasti lantai 4!!’ Nabilah sudah tidak bisa berpikir dengan jelas karena memang kenyataannya waktu menemani mama nya dia tidak begitu memperhatikan jalan bahkan saat naik lift dia cuma mengekor mamanya dengan tangan sibuk memainkan game pocket. Jadi tidak begitu mengingat, ke lantai berapa waktu itu dia dan mama nya pergi. Nabilah memang kalau pergi ke satu tempat yang tidak dia sukai, dia tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Nabilah yang masih sangat muda masih suka seenaknya dengan kondisi sekitar, kalau dia tidak suka maka tidak suka dan kalau dia menyukai sesuatu maka dia akan terus memburu hal itu. ‘ah udahlah ke lantai 4 aja dulu!’ Nabilah memutuskan untuk menekan angka 4 dan beberapa menit dia sampai di lantai 4. Nabilah celingukan mencari dan dia tiba di meja perawat yang sedang jaga malam, dengan menekan rasa gugupnya Nabilah menghampiri meja itu lalu siap bertanya tapi, saat akan mengeluarkan kata-katanya Nabilah keburu melihat Kinal yang baru keluar dari sebuah ruangan. Namun dia tidak mendapati sosok Ve yang tadi mengikuti Kinal. Nabilah tidak langsung menghampiri Kinal, dia diam berjalan pelan dengan matanya mencuri kearah Kinal tapi tidak terlihat mencurigakan, perlahan Kinal berjalan lalu memasuki lift, Nabilah melihat angka di lift membentuk digit 8. Karena penasaran dengan keberadaan Ve, Nabilah pun melihat dulu ke ruangan tempat Kinal sebelumnya masuk.
Nabilah melihat Ve berdiri diam terpaku di ruangan itu, Nabilah masuk “kak, ngapai...n ... di..sini~” ucapan Nabilah terhenti, bukan karena melihat Ve yang sedang terpaku tapi karena melihat Ve yang sedang terbujur di atas bangsal dengan alat pendeteksi jantung yang terdengar nyaring membunyikan detak jantung Ve yang lemah, masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, Nabilah memperhatikan tubuh Ve yang baru pertama kali Nabilah lihat. Perban warna coklat yang menutupi kepala bagian atasnya, sebuah codetan menggores di sudut alis kanannya, di tangan sebelah kirinya menggantung slang infus dengan di telapak tangannya melingkar perban putih sepertinya ada luka di telapak tangannya, dan di tangan kanannya slang transfusi darah.
“a..pa.. kakak... mas...ih bisa hidup?” suara Nabilah pelan, entah seperti apa perasaan Nabilah saat ini ketika melihat tubuh Ve yang tak berdaya dengan luka disana-sini dan selabu darah menggantung tepat tak jauh dari pandangan Nabilah. (Nabilah takut kalau melihat darah, tapi kali ini dia tidak terlihat takut akan darah melainkan takut akan orang yang ada di depannya… berakhir). Nabilah terlihat iba melihat kondisi Ve yang seperti itu tanpa ada siapapun yang menungguinya, dia melihat kearah arwah yang masih diam termangu ‘kasian kak Ve’ lirih Nabilah lalu melihatkan lagi pandangannya pada tubuh Ve.
“kak? kak Ve... gak apa-apa?” pertanyaan apa yang keluar dari mulut Nabilah, mana mungkin Ve tidak apa-apa, yang dia saksikan saja sudah mengindikasikan kalau Ve sedang apa-apa dan mungkin kedepan dia akan sangat apa-apa atas kondisinya. Ve tidak menjawab, Nabilah hanya bisa diam.
"lho? kak Ve mau kemana?” tanya Nabilah karena melihat pergerakan Ve “kak, kak Ve!” Nabilah memanggil tapi tidak di gubris, karena dari tadi merasa diabaikan terus sama Ve Nabilah pun berlari dan berhenti di depan Ve “Stop Kak! Jangan bergerak!!” dia menghentikan Ve (masih di dalam ruangan tempat Ve) “kakak mau kemana? mau cari kak Kinal?”
“iya, kak Ve harus cari kak Kinal! Kita harus cari Kinal, Nabilah!! Ada yang dia sembunyikan tentang kemarahannya dulu sama kak Ve!” Nabilah bingung dengan apa yang di ucapkan Ve.
“Nabilah gak ngerti kak?”
“pokoknya sekarang kita cari Kinal!”
“iya tapi kenapa? Ayolah kak, ini udah malem! Dan..” ucapan Nabilah terhenti, dia baru ingat kalau Melody di bawa ke Unit Gawat Darurat “Nabilah lupa, kak Melody kan di bawa ke UGD!”
“Hah! apa? Kamu bilang kak Melody di UGD?” Ve kaget mendengar ucapan Nabilah, Nabilah hanya menjawab dengan anggukan. “kok bisa? Tadi kan kak Melody di mobil dan,- aduhh kak Ve juga lupa! Tadi kakak minta bantuan kak Melody dengan berbisik terus kakak lupa pas sampai rumah sakit kakak gak nyuruh kak Melody buat kembali ke sikap semulanya!!” Ve menjelaskan. Dan tidak tanggung, dia pun jadi menjelaskan dengan panjang kali lebar tentang Hak istimewa yang dia dapat. Nabilah semakin-semakin heran dengan dunia arwah yang ada di cerita ini.
“jadi gimana nih kak? Nabilah harus temuin kak Melody, sebelum pihak rumah sakit menelpon ke rumah atau ke handphone nya papa mama” Nabilah jadi bingung, sementara dia juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di ruangan Ve tadi saat Kinal keluar lalu pergi ke lantai 8 dan juga penasaran dengan apa yang di katakan Ve di ruangannya tadi. Tak kalah bingungnya, pikiran Ve pun jadi buyar antara mencari Kinal atau melihat Melody dan menyadarkannya.
“um~ ya udah lah kita samperin kakak kamu! Soal Kinal besok pagi di sekolah kita bisa nemuin dia kan!!” Nabilah merasa kasihan pada Ve, tapi apalah dayanya dia sekarang sedang berdiri di antara 2 keadaan yang tidak bisa di sepelekan.
“tapi kakak? Gimana sama kakak? Kak Ve belum tahu kan kak Kinal sedang apa disini, setelah dari ruangannya kak Ve!?” Ve berpikir lalu mengangguk pelan, seolah tahu kalau Nabilah sedang memikirkan kepentingannya juga.
“emm~ gak apa-apalah Nabilah. Kita bisa cari tahu besok di sekolah, lebih baik kita sekarang ke kak me,-”
“enggak! Urusan kak Melody, biar Nabilah yang tanganin! Sekarang kakak kasih tahu aja Nabilah, gimana caranya ngembaliin kak Melody ke kondisinya semula. Terus kakak pergi lihat kak Kinal, dia tadi ke lantai 8!” Ve melebarkan bola matanya yang manis saat mendengar usulan dari Nabilah. Dia begitu terharu mendengar Nabilah begitu perhatian dengan kondisinya “kak~ kok malah bengong sih! Bisa kan? Apa yang tadi Nabilah usulkan terkabul?”
“Haah? Ah~ i-iya, kak Ve dengar! Ya udah kalau menurut kamu itu baik kak Ve ikutin.” Ve pun mulai memberi tahu bagaiman cara agar Melody kembali dari alam bawah sadarnya. Nabilah mengerti lalu keluar dari ruangan itu dan jalan menuju lift untuk turun ke bawah dan menghampiri Melody. Sementara Ve dia langsung menuju lantai 8 seperti yang tadi Nabilah bilang, Kinal ke lantai 8. Dan saat berpisah Nabilah bilang pada Ve ‘kalau urusannya lihat Kinal sudah selesai Nabilah akan tunggu Ve di mobil’
*Di UGD*
’pranggg’ sebuah plat dari alumunium tempat menyimpan kapas bekas membersihkan luka jatuh. Melody yang sedang berbaring dengan tatapan kosong nya mulai mengedip-ngedipkan bola matanya, dia melihat langit-langitnya dan kemudian memainkan ke arah lainnya di ruangan itu “mm~ heeeh dimana nih?” bisik Melody sambil memegangi kepalanya dan bangun dari pembaringannya, dia melihat beberapa orang berseliweran sana-sini dengan seragam putihnya “ah, ini... rumah sakit? apa ini rumah sakit?” lalu Melody membelalakan matanya karena kaget saat dia menyadari kalau tempat yang sedang di tatapnya itu rumah sakit. “rumah sakit! Kenapa aku bisa disini? Terus~ Nabilah? Nabilah dimana ya?” Melody melihat sekeliling dan mulai menurunkan kakinya untuk menginjak lantai “kenapa sih aku bisa disini? Nabilah dimana? Ini ada apa sebenarnya?” Melody mencoba mengingat kejadian terakhir.
“kamu sudah sadar?” tanya seorang suster yang melihat Melody bergerak dari bangsalnya
“sadar? Memangnya saya kenapa suster?” Melody balik bertanya dengan kebingungannya.
“Kakakkkkk,,” Nabilah berlari berhamburan ke arah Melody.
“Nabilah!” ucap Melody pelan saat Nabilah memeluk Melody “kakak udah gak apa-apa?” tanya Nabilah kemudian, Melody menggeleng karena dia sebenarnya masih bingung kenapa bisa berbaring di UGD. Suster yang tadi mau menjelaskan keadaan Melody, jadi menelan kembali penjelasannya karena melihat Nabilah yang berlari sambil teriak. Dan di ganti dengan kata-kata pemberitahuan kalau Melody bisa dibawa pulang
“kakak kamu sudah tidak apa-apa, dia bisa pulang, tidak perlu di rawat!” kata suster.
“bentar-bentar sust, aku masih bingung! Kenapa suster sama kamu juga dek bawa-bawa kata ‘apa-apa’ emang kak Melody kenapa?” Suster dan Nabilah saling berpandangan, entah apa maksudnya.
“em~ kakak gak perlu mikirin tentang itu, mending sekarang kita pulang yuk kak! Ini udah malem juga!!-- Ya?” kata Nabilah dengan diakhiri memberikan usulan. Melody masih ingin bertanya tentang bagaimana ceritanya dia bisa terdampar di Rumah Sakit tapi karena saat melihat jam tangannya sudah memperlihatkan hampir jam 11, bukan hampir deh tapi sudah jam 11 lebih. Jadi terpaksa Melody menekan ego nya dan berdiri dari atas bangsal untuk keluar dari emergency room itu bersama dengan Nabilah yang sudah terlihat lelah.
“em~ kakak gak apa-apa... nyetir?”
Melody berpikir sebentar, lalu menjawab dengan gelengan dan beberapa kata “gak, kak Melo gak apa-apa.. dan, emang gak kenapa-kenapa!” Nabilah tersenyum ke arah Melody sambil mengangguk kecil. “kamu gak mau ceritain nih, kenapa kakak bisa sampai di UGD?” Melody bertanya dengan tangannya sudah menstarter mobilnya, Nabilah memainkan matanya dan memikirkan ulang. Kemudian memutuskan untuk menceritakan ceritanya pada Melody, sampai Melody yang semula sudah menstarter mobil mematikan kembali mobilnya. Dan Nabilah pun mulai mendongeng.... untuk mengulur waktu juga karena si arwah masih belum kembali.
*Di sebuah kamar di lantai 8*
Ve melihat Kinal di sebuah ruangan, dia sedang duduk menunggui ibunya. Ve menundukan kepalanya mengucapkan kata Maaf saat melihat dan mendengar Kinal bercerita pada ibunya yang sedang koma. kembali kilasan kejadian dulu dengan Kinal keluar dari dalam pikirannya *“Aku udah muak temenan sama Ve! Dia itu manja, egois, mentang-mentang anak orang kaya.. terus dia bersikap seenaknya!! Aku udah gak mau lagi sahabatan sama dia!!!”Ve diam terpaku saat mendengar Kinal berbicara seperti itu pada Stella, Yona dan Dhike.*
“apa ini? Kenapa sebenarnya dengan Kinal?!” Ve berbisik dalam hati, saat kilasan itu muncul “dia bilang gak mau lagi temenan sama aku, dia bilang muak bersahabat dengan ku, dia bilang dia hanya memanfaatkan ku! Terus tadi apa? Kenapa dia keruanganku dan...” Ve terlihat sedih “dan... dia kah yang selalu mengganti bunga di kamarku? bunga yang sama setiap hari selama aku terbaring!. diakah yang selalu menjengukku setiap malamnya? Apa yang sebenarnya terjadi? terus kenapa sama tante Mila? (mamanya Kinal)” kembali Ve bertanya pada dirinya sendiri. Setiap malam, setelah Nabilah tertidur. Ve selalu pergi ketempat jasadnya berbaring, awalnya Ve mengira perubahan di vas bunganya itu adalah perbuatan si perawat yang bergiliran menjaganya tapi malam ini, Ve tahu... siapa sebenarnya yang mengganti bunga di pass nya!
“HHah? jadi kakak di bisikin sama kak Ve”
Nabilah mengangguk “ya, dan terus.. Nabilah di kasih tahu sama kak Ve gimana cara nyadarin kak Melody! Tapi, pas Nabilah sampai di UGD ternyata kakak udah sadar!!” Melody memproses setiap ucapan Nabilah
“hmm~ kenapa kayak di film-film ya? Kak Melody pikir, roh itu gak akan bisa ngasih bisikan sama kita!” Nabilah mengangkat kedua bahunya “au deh, tanyain aja sama penulis cerpennya!” kata Nabilah sambil tersenyum.
~Keesokan Paginya~
Nabilah bangun sangat pagi, tanpa ada yang membangunkan, entah itu Melody ataupun Ve, tanpa ada alarm yang berteriak. Padahal semalam dia, Melody dan juga Ve sampai di rumah jam 12malam lewat 24menit. Setelah Nabilah bercerita dan Melody menjadi pendengar sekaligus komentator, sambil menunggu kedatangan si arwah yang cukup lama diam di lantai 8 rumah sakit. Nabilah sempat bertanya pada Ve ‘bagaimana Kinal?’ tapi Ve tidak menjawab, dia bungkam dan wajahnya terlihat sedih dan ada gurat penyesalan dari kepucatannya.
Sesampainya di sekolah, Nabilah dan Ve saling diam. Nabilah diam karena dia memikirkan tentang hari terakhir di misi VeNa yang hanya menyisakan waktu kurang lebih 10jam, dia memang sudah mendapatkan nomor HP murid-murid SMA yang akan Ve mintai maaf dan Nabilah pun sudah mengirimkan pesan nya kemarin sore pada mereka, tapi Nabilah merasa khawatir karena dia takut kalau acara yang sudah dia rencanakan berantakan dan Ve tidak mendapat maaf dari mereka. ‘apa yang akan terjadi sama kak Ve ya kalau misi ini gagal?’ Nabilah berbisik dalam hati sambil melihat Ve yang jalan di sebelahnya sambil melamun. Kemudian dia kembali melihat kedepan dengan sebelumnya menghela nafas. Ketegangan cukup terlihat menyelimuti wajahnya Nabilah yang biasanya selalu ceria. Sementara Ve, dia diam bukan hanya memikirkan misi 48jam namun memikirkan juga tentang cerita sahabat yang pernah dia tendang dari perjalanan kehidupannya.
Sampai di lorong sekolah, murid-murid SMP saling berbisik ria ketika melihat Nabilah lewat. Nabilah merasakan pandangan dan juga bisikan dari murid-murid yang berdiri di lorong, tapi dia tidak mau ambil pusing dan membiarkan mereka rame dengan mainannya yaitu melihat Nabilah, buat Nabilah itu bukan hal yang penting sekarang.
Sampai di kelas, Nabilah langsung di serbu oleh Ayana dan Gaby. Mereka berdua bicara barengan tanpa menghiraukan kebingungan di wajah Nabilah. Keduanya terus nyerocos, dan Nabilah juga Ve tidak begitu menangkap apa yang mereka katakan. Ve yang dari tadi diam tanpa kata, kini mengeluarkan kata-katanya dalam bentuk pertanyaan pada Nabilah
“mereka berdua kenapa, Bil?” Nabilah menggeleng dan berbisik pelan “kan kakak yang kemarin bikin mereka bengong!” dengan mata masih terpaku pada kedua sahabatnya yang sudah lupa akan kejadian kemarin.
“kok kamu diem aja sih, Nabilah! Jawab ke? Atau apa lah, tanggepin gitu!” protes Ayana, setelah dari tadi bicara. Gaby mengangguk menyetujui Ayana.
“jawab? Nanggepin? Gimana aku mau ngejawab atau ngasih tanggapan! Orang dari tadi kalian nyerocos mulu, mana aku gak ngerti lagi bahasa yang kalian pakai!!” Nabilah menanggapi, Ayana dan Gaby tersenyum “pake senyum-senyum lagi! Awas ahh, aku mau duduk!” lanjut Nabilah sambil menerobos Ayana dan Gaby lalu duduk di mejanya. Kedua sahabatnya mengikuti, mereka duduk dan melihat Nabilah dengan tatapan mengharapkan jawaban. Nabilah menggerak-gerakan bola matanya melihat keduanya.
“kalian ngapain sih, liatin aku kayak gitu!?”
“ish, si Nabilah gimana sih! Aku sama Gaby kan nungguin jawaban kamu! Iya kan Gab?” Gaby mengangguk.
“jawaban? Pertanyaannya aja aku gak ngerti!” kata Nabilah,
“ehh~ jadi gini loh Nabilah, tadi itu aku sama Gaby nanya kenapa ada anak SMA yang kesini terus nanyain kamu dengan raut mukanya kayak yang marah!” ~ “terus ya... murid SMA nya itu gak satu orang tapi” Gaby berhenti sejenak “3orang, dan kamu tahu Bil mereka yang nyari kamu itu siapa?” Nabilah mengerung lalu menggeleng. Gaby pun melanjutkan “mereka itu... sahabat-sahabatnya kak Ve!” Nabilah dan Juga Ve membelalakan matanya saat mendengar ucapan Gaby “maksud kalian? Kak Stella, kak Dhike sama,-" ~ “kok kamu tahu Bil!?” Ayana memotong ucapan Nabilah
"gak mungkin aku gak tahu, sahabat aku kan pengumpul berita! Jadi ya pasti tahulah" jawab Nabilah dengan entengnya
"eh? Maksud kamu aku sama Gaby pengumpul berita? Apaan?!" Nabilah tersenyum menyeringai
"kalian kan suka banget nangkep cerita yang seliweran, terus di kumpulin, lalu di kabarin deh sama aku beritanya! kayak acara pagi di tipi-tipi tuh, yang ngasih berita soal artis-artis tanah air!" Ayana memproses, Gaby berbicara
"hah? itu kan acara gosip! jadi kita... peng gosip dong?! Ngumpulin berita yang berseliweran!"
Nabilah tertawa diiringi anggukan "nah... itu tahu! hahaha~",
Gaby dan Ayana saling mendelik ke arah Nabilah, Ve ikut menertawakan.
"udah-udah gak usah pada kayak gitu ekpresinya, jelek tahu! Masih pagi juga. Huahahaa~" Nabilah masih tertawa. tapi dalam pikirannya tetap memikirkan tentang Stella dan lainnya yang mencari dia, apalagi kata Gaby dan Ayana wajah mereka marah. 'bakal jadi hari yang... hmm~' pikir Nabilah.
Bell masuk bunyi--
Guru PKN ternyata tidak hadir karena sedang sakit, jadi ada waktu kosong selama satu jam untuk kelas VII J. Nabilah tampak berpikir keras dengan daun telinganya dia jejali pakai earphone, Ve tetap stand by di sebelah Nabilah. Tak lama raut Nabilah berubah, dia menyanyi mengikuti apa yang sedang di putar pemutar musik nya, mencoba menikmati lagunya.
(Gaby dan Ayana lagi ke kantin, saat tahu guru PKN nya tidak bisa mengajar mereka berdua bergegas ke kantin untuk membeli cemilan.). Nabilah yang sekarang terlihat lebih kalem dari Nabilah biasanya kalau ada jam pelajaran kosong. Dia, biasanya selalu ngisengin teman-teman sekelas atau main apapun dengan mereka ketika jam pelajaran kosong, atau Nabilah selalu pergi ke kantin sama salah satu dari sahabatnya untuk membeli cemilan sebagai teman ngobrol santai di kelas.
"*No, Nothing Helps. We won't stop right now, we did it on our own nobody else it's because of you i'm standing here with you~*" Nabilah menyanyikan sepenggal lirik lagu milik One Ok rock
"*No Nothing Helps We won't stop right now we did it on our own nobody else it's because of you, we are finally came this far.
Tell me who else?,-*" Nabilah samar-samar bisa mendengar Ve bernyanyi menyanyikan lagu yang sama dengan yang sedang dia nyanyikan, Nabilah lepaskan tangan kanannya yang tadi dia pakai menyangga dagu lalu melanjutkan lagi nyanyinya di temani Ve
"*All What i can do, All what you will want me to, All what you can see me through will someday come the story goes~*" keduanya berhenti lalu menarik nafas panjang secara berbarengan. Nabilah melirik Ve sekilas 'ni arwah tahu juga lagunya One Ok Rock' bisik Nabilah dalam hati, lalu tersenyum di sudut bibirnya. Suasana kelas cukup sepi, hanya ada beberapa murid tersisa. Sementara yang lainnya sedang asik dengan kegiatannya masing-masing di jam kosong.
kembali Nabilah menopang dagunya memikirkan apa yang akan terjadi jika dia tidak bisa membantu Ve menyelesaikan misi 48 jam nya. Ayana dan Gaby datang dari pencarian makanan, mereka duduk dengan mengambil kursi mereka untuk merapat mendekat ke Nabilah. kemudian memulai obrolan--
"eh Gab, kamu kemarin merasa ada yang aneh gak sih?"
"aneh? Aneh gimana, Chan?" Gaby balik bertanya
"ya... ada yang hilang gitu dari aktifitas aku kemarin, mmm~ ada yang ganjal di pikiran aku tapi gak tahu kejadian apa yang hilang itu!" Gaby mencoba mengingat
"hmm~ enggak ah! Biasa aja, kalo kamu Bil?"
"hah? Em~ gak ada yang aneh, semua nya utuh kok! Memory aku kemarin dari pagi sampai ke pagi lagi masih aku ingat dan gak ada yang hilang!" jawab Nabilah.
Ayana tidak bicara lagi karena 2sahabatnya mengatakan tidak ada yang aneh atau apapun yang seperti Ayana rasakan. Sepertinya Ayana berjuang untuk mengingat kejadian kemarin yang hilang, saat Ve membisikan kata-katanya untuk melupakan apa yang mereka dengar plus mereka lihat saat pulang sekolah. Ke3 nya membuka topik baru dalam perbincangan pagi kosong di kelas. Sampai tak terasa waktu pelajaran di jam kedua datang dan guru Matematika pun datang, hening di kelas VII J mendengarkan penjelasan materi yang sedang di berikan.
Tiba waktu istirahat, waktu yang di tunggu-tunggu Nabilah untuk menyelesaikan misi 48jam 48nama nya Ve yang dia wakili. Nabilah menarik nafas kemudian berdiri dari bangkunya dan bersiap pergi meninggalkan kelas untuk menuju aula yang Nabilah jadikan tempat untuk mengumpulkan murid SMA yang kemarin dia kirimi pesan singkat.
"Nabilah, mau kemana?" tanya Gaby saat melihat Nabilah akan pergi
"em~ aku-- aku ada sedikit urusan sama,, um~ sama bu Anggita, aku pergi dulu ya! Dah~" Nabilah lalu pergi tanpa menghiraukan sahabatnya yang akan menanyakan hal lainnya
"ini nih!" tiba-tiba Ayana mengucapkan kata itu.
"apasih Achan!" sahut Gaby melihat tingkah Ayana
"kejadin ini yang aku maksud hilang itu Gab!" Gaby mengerung "kamu lupa apa? kemarin pas istirahat kan kita ngikutin Nabilah terus,-" ~ "terus apa Chan?" ~ "aduhhh~ apalagi ya? aku lupa! Kenapa kita kemarin ngikutin Nabilah ya?!" Ayana memegang kepalanya
"aduh Achan, Gaje banget sih! Udah ahh mending makan!!"
"haaa~ makan! Kemarin kita nawarin Nabilah untuk makan pas istirahat tapi kemudian Nabilah menolak terus nyari makan sendiri ke kantin terus~"
"terus lagi! terusan nya apaan Chan?"
"terus... terus apa lagi ya adegannya kemarin"
pengaruh bisikan Ve memang cukup manjur untuk menghentikan keduanya menanyai ini itu pada Nabilah yang mereka lihat sedang meminta maaf atas nama dirinya. Ve membisikan pada Ayana dan Gaby untuk melupakan apa yang mereka lihat yang berhubungan dengan Nabilah saat jam pulang sekolah di taman labirin, tapi entah kenapa ingatan saat Ayana dan Gaby memutuskan untuk mengikuti Nabilah pun jadi mereka lupakan. *mungkin karena itu bukan perbuatan baik kali ya? Makanya memory nya juga ikut samar-samar dan mungkin juga hilang seperti saat pulang*.
"Hhaah~ udahlah Chan, gak usah aneh-aneh deh!" kata Gaby karena melihat Ayana sepertinya masih mencoba mengingat kejadian kemarin yang menurutnya hilang.
"ish, sakit juga ya ni kepala, mikirin sesuatu yang kayaknya pernah terjadi tapi gak tahu kejadiannya apa!!" kata Ayana, lalu menyuapkan makanannya. Gaby hanya tersenyum melihat tingkah Ayana.
"Chan, Chan~ kak Stella sama teman-temannya tuh!"
"hah? Mana?" Ayana menoleh kebelakang ke arah pintu kelas. Stella, Dhike dan Yona mendekat kearah kelas mereka "apa mereka akan kesini?" tanya Ayana tanpa mengalihkan pandangannya dari arah luar
"gak tahu, tapi kayaknya iya!" sahut Gaby.
"apa kak Stella dan teman-temannya masih nyari Nabilah?" lagi-lagi Ayana membuat pertanyaan
"gak tahu juga! Tapi kayaknya emang iya!!" dan lagi-lagi Gaby hanya menyahut seperti itu. Stella, Dhike dan Yona masuk ke kelas VII J dengan wajah 'menyeramkan' nya.
"mana teman kalian? Dia sekolah kan?" tanya Dhike to the point dengn ekspresi dinginnya, Stella dan Yona berdiri di sebelah Dhike dengan tangan di lipat di depan.
"m-maksud kakak? N-Nabilah!?" Ayana terbata
"iiya, siapa lagi! Udah kalian sampein kan pesan kita sama dia!?" ucap Dhike di hadapan Ayana dan Gaby yang terlihat ketakutan.
Ini untuk kedua kalinya dalam satu hari ini, mereka di datangi geng paling populer dengan bully nya di sekolah, meski kedatangannya bukan untuk mengerjai mereka melainkan mencari Nabilah tapi tetap saja Berhadapan dengan Stella, Dhike dan Yona adalah hal yang cukup membuat adrenalin meningkat dalam ketakutan.
"uu-udah kak! Kita u..dah bilangin sama Nabilah kalau kakak-kakak semua nyariin dia!! Iya kan Gab?" ~ "ha? Ohh~ iya benar, aku sama Ayana udah bil,-"
"terus sekarang mana teman kaliannya?!" Ayana dan Gaby saling menukar pandang tentang jawaban apa yang akan mereka ungkapkan di hadapan Yona sang penanya, yang memotong kalimat nya.
"Nabilah, em~ dia lagi ada urusana sama- sama guru! Itu yang tadi Nabilah katakan pada kita!! Iya kan Chan?" giliran Gaby yang bicara dan mengalihkannya pada Ayana. Ayana hanya mengangguk untuk menanggapi.
"kalian lagi main-main sama kita?" ujar Yona, Ayana dan Gaby yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan Yona hanya bisa mengerung kan alis matanya
"tadi pagi kan kita udah titip pesan sama kalian, kalau kita bakal balik lagi kesini buat bicara sama Na..bi..la..h! Teman kalian itu!! Terus sekarang, Nabilah malah ada di ruang guru! Mau ngapain dia? Mau laporin kita yang lagi nyari dia!? Hah, iya?"
Ayana dan Gaby diam terpaku dengan pernyataan dan pertanyaan dari Yona; Stella masih diam dan memperhatikan; teman-teman sekelasnya tidak ada yang berani ikut campur dengan kedatangan senior mereka ke kelas.
"Hoy!! Jawab dong, Malah bengong!!!" Dhike menggebrak meja yang sedang Ayana dan Gaby jadikan tempat menyimpan bekal makanan
"ii-itu~ enggak kak, Nabilah keruang guru bukan untuk melaporkan kakak semua kok! Dia hanya ada sedikit yang harus di konsultasikan sama guru yang mengajar di kelas kami!! itu aja, selebihnya... kita yakin kalau Nabilah tidak akan mungkin membuat laporan tentang kalian pada guru disini!!" Ayana mencoba menjabarkan pada Mereka.
"heh, kalau sampai si Nabilah itu ngelaporin kita ke guru! Bukan cuma dia yang akan kita kerjai, tapi kalian juga akan dapat giliran!!" Dhike menyeringai di sudut bibirnya, Ayana dan Gaby hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat mendengar ancaman dari Dhike.
"kak Stella~ kak Stella~ kak Stella~ haaaah"
Novinta berlari berhamburan ke dalam kelas. Stella, Dhike dan juga Yona melihat kearah Novinta. Ayana dan Gaby heran kenapa Novinta bisa kenal sama mereka. (Novinta anggota Osis, itu kenapa Ayana dan Gaby tahu siapa Novinta. tapi mereka tidak pernah tahu kalau Novinta itu adiknya Yona)
"ada apa? Kenapa lari-lari seperti itu?" tanya Yona pada adiknya yang masih mengatur nafas
"haaaah~ itu kak, Nabilah- Nabilah lagi di aula sama murid SMA! Kayaknya dia mau minta maaf lagi untuk kak Ve!!" Novinta bisa menyelesaikan kalimatnya.
"apa? Kamu yakin itu Nabilah!?" Novinta mengangguk atas pertanyaan Stella. Stella langsung mengalihkan tatapannya pada Ayana dan Gaby yang sedang mencerna ucapan Novinta tentang Nabilah meminta maaf pada murid SMA untuk Ve.
"Heh! Tadi kalian bilang si Nabilah ke ruang guru, kalian mau mainin kita?" tanya Stella
"ki-kita juga gak tahu kak, tad..i Nabilah bilang nya mau ke ruang guru kok!" Ayana mengangguk menyetujui ucapan Gaby
"Ah! Denger ya? urusan kita belum selesai! Kalian akan dapat giliran setelah Nabilah!! cabut, kita ke aula." ancam Stella lalu mengajak teman-temannya untuk pergi menghampiri Nabilah.
Saat istirahat, Nabilah berjalan ke aula dengan Ve. Tidak ada obrolan, yang menemani perjalanan mereka ke aula. Sampai di aula ternyata murid-murid yang di tunggu sudah ada semuanya. Nabilah tersenyum senang karena dia tidak perlu menunggu 'manjur juga kata-kata ku di SMS' pikir Nabilah. Ketika Nabilah masuk seketikan semua mata tertuju pada sosoknya yang berseragam SMP.
"apa-apaan nih? Kenapa ada murid SMP juga! Siapa sebenarnya yang mengirim pesan kemarin sore" seorang murid bersuara dan di tanggapi oleh murid lainnya.
'Haaah, ini akan lebih sulit dari kemarin sama senior SMP!' bisik Nabilah dalam hati saat mendengar sahutan mereka yang bertanya siapa si pengirim pesan dan melihat kesinisan di wajah kakak kelasnya saat melihat dia masuk 'belum ngomong apapun, atmosfir udah gak enak!' kembali Nabilah berbicara pada dirinya sendiri.
"um~ anu... yang kirim pesan singkat pada kakak semua itu Nabilah kak!" mendengar ucapan Nabilah yang tiba-tiba, sontak membuat para senior membelalakan matanya.
"Hah? apa? Jadi sebenarnya yang ngirim SMS kemarin sore itu lu? terus, kenapa lu bawa-bawa nama Ve segala dalam pesan singkat lu kemarin sore! Apa maksudnya? Hah!" tanya senior pada Nabilah
"iya, apa maksudnya dengan bilang kalau Ve akan menyatakan permintaan maaf langsung sama kita!? Lu bohongin kita dalam pesan singkat lu kemarin?!" senior lainnya ikut menanggapi
"emm~ Nabilah tahu, apa yang Nabilah tulis di pesan singkat kemarin sore itu salah kak. Tapi.. gak salah-salah banget sih!" Nabilah membuat seniornya bingung, karena dia sendiri bingung "ini memang tentang kak Ve!" lanjut Nabilah.
"haaah, gak jelas! gue gak ada waktu buat dengerin ocehan anak SMP!" katanya dengan mata menatap Nabilah.
"gue juga! Buat apa gue dengerin ucapan lu, kenal juga enggak, mana lu ngebohongin lagi!!"
"lagian... kayaknya gak penting sih kita dengerin ni anak ngomong, iya kan teman-teman?"
"tapi ini beneran tentang kak Ve! Nabilah serius, dan ini penting!! Yaa, Nabilah tahu kemarin itu Nabilah salah gak jelasin secara rinci, itu karena Nabilah bingung harus mengirim pesan singkat kayak gimana?! Kalaupun di telpon, kakak semua pasti gak akan mau kan datang ke sini!!"
murid SMA tidak ada yang begitu menghiraukan Nabilah saat dia menjelaskan, mereka hanya menatapnya
"Nabilah mohon kak, dengerin dulu apa yang mau Nabilah sampein ke kakak semua! Nabilah mohon" Nabilah begitu memohon dengan tulus.
Nabilah memang tidak menjelaskan alasan dia menyuruh murid-murid itu untuk kumpul di aula saat dia mengirimkan pesannya, dia hanya menuliskan rangkaian kata maaf dan menaruh nama Ve di akhir rangkaian maafnya kemudian di akhiri permohonan agar mereka yang menerima pesannya untuk bisa datang dan menyaksikan langsung Ve meminta maaf.
senior nya masih tidak menghiraukan, malah mereka bersiap pergi dari aula untuk meninggalkan Nabilah "aduhh, gimana nih? Kok mereka malah pada mau pergi sih!" gumam Nabilah panik, kemudian dia berlari ke arah depan senior-seniornya dan mengedapankan kedua tangannya untuk menyetop seniornya agar mau mendengarkan dia
"kak~ kak~ Nabilah mohon, bentarrr aja! Dengerin apa yang mau Nabilah bicarakan, karena ini menyangkut hidup matinya kak Ve!! Pleaseeeee" Nabilah kembali memohon dengan sekarang langsung membawa nama Ve
"eh~ denger ya? kita gak perlu Ve di sekolah ini! Biarin aja dia, mau koma ke, mau hidup lagi ke, atau mau mati sekalian... mungkin akan lebih baik buat dia!" ucap salah seorang dari murid itu dengan kasarnya
"itu balasan untuk orang kayak Ve yang suka seenaknya sama murid-murid disini! Mentang-mentang dia anak pemilik yayasan terus kaya, jadi bisa bersikap dan berbuat apa saja sama murid disini!!" tambahnya.
Nabilah merasa sedikit marah akan kata-kata yang di lontarkan seniornya tapi dia tidak mau memperkeruh suasana dan malah ribut dengannya, jadi Nabilah hanya diam mendengar komplenan seniornya; Ve mengerutkan alis matanya dan terlihat sedih mendengar ucapan murid itu, apa yang setahun terakhir Ve lakukan sepertinya memang sangat keterlaluan dan sampai membekas di hati para korbannya. 'sudah sedalam inikah rasa benci mereka terhadap ku?' tanya Ve pada dirinya sendiri.
"minggir lu~" tangan si senior akan menyingkirkan tubuh Nabilah tapi dengan cepat Nabilah kembali memohon
"ok, terserah kakak semua mau bilang apa tentang kak Ve! Tapi... Nabilah mohon sebentar aja dengerin penjelasan Nabilah. setelah itu, terserah kakak semua mau bersikap seperti apapun pada kak Ve! Nabilah minta waktunya 10menit aja kak!" pinta Nabilah dengan telapak tangannya dia satukan untuk memohon
"ada yang mau dengerin anak ini?" tanya senior yang paling senior alias kelas XII, yang lainnya diam tidak ada yang meng iya kan atau meng tidak kan. "denger dan lihat sendiri kan, gak ada yang mau dengerin penjelasan kamu! Jadi... udahlah minggir sana!! Kita masuk kelas" lanjutnya
"8 menit kak!" Nabilah belum menyerah, para senior menatapnya "oook, 6 menit?!" kembali Nabilah meminta sekaligus memotong waktunya tapi kembali dia hanya dapat tatapan *pada keras ye hatinya mereka, kayak gak pernah lakuin kesalahan aja!* "mmm... 4menit kak! Nabilah mohon!!" Nabilah begitu teguh.
"Hah! udahlah, kita dengerin aja apa yang mau dia sampaikan! Dari pada kayak sekarang kita gak bisa keluar dari aula karena dia masih ngotot!" usul salah satu senior yang ada di belakang
"lagian, cuma 4menit kan? Itu gak akan lama, setelah itu terserah masing-masing mau gimana!" yang di sebelahnya ikut menanggapi dan memberi usulan.
"ya udah kalian aja, gue sih enggak mau!" si senior yang di depan tetap tidak mau "yang lainnya? Ada yang mau disini sama Sendy dan Rica buat dengerin si Nabilah!" tanyanya kemudian.
Tak lama dia lalu kembali bergerak diikuti beberapa banyak murid lainnya, yang diam hanya 4murid; Sendy, Rica, Cindy dan Olive.
Ve tidak punya pilihan lain saat melihat adegan itu *sreeeet* dia masuk ke tubuh Nabilah. Belum murid-murid yang pergi meninggalkan aula sampai di depan pintu, Nabilah yang di rasuki Ve bicara dan suaranya... itu suara Ve, jadi senior yang tadi pergi berhenti karena kaget mendengar suara Ve, begitupun dengan senior yang masih ada di dekat Nabilah. Mereka tak kalah kaget karena suara Nabilah jadi suaranya Ve.
"aku minta maaf karena aku sudah salah sama kalian!" mereka berbalik menghadap Nabilah yang menunduk "aku tahu aku salah, dulu aku sering sekali membuat kalian marah bahkan sampai membenciku! Aku sekarang meminta maaf bukan hanya karena aku akan mati kalau aku tidak dapat maaf dari kalian, aku meminta maaf karena aku ingin berubah. Aku minta maaf, aku mohon kasih aku kesempatan~ kasih aku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya mendapat maaf dari kalian! Aku siap menerima hukuman apapun dari kalian yang masih menyimpan dendam dan benci padaku~ aku Ve, aku minta maaf~ hik, hik, hik--" Nabilah (Ve) menangis,
senior yang di dekat pintu keluar terdiam mencerna apa yang sedang mereka saksikan dan mereka dengar 'apa ini?' 'apa benar yang sedang bicara ini Ve?' 'apakah ini nyata?' 'apakah ini serius? Anak SMP ini kemasukan roh nya Ve!' 'Ve kan sedang koma, terus anak yang di depan ini?!' banyak pertanyaan muncul di benak mereka tentang apa yang mereka saksikan.
"jika kematianku bisa membuat kalian bahagia, aku akan terima itu! Tapi satu hal, aku mohon~ hik,hik,hik~ maafkanlah aku, biarkanlah aku pergi dengan membawa maaf kalian, bukan dengan membawa kebencian kalian!" ~
"jadi... kamu beneran Ve?" tanya Sendy pertama kali, Nabilah (Ve) mengangguk pelan. Sendy melebarkan bola matanya dan berbisik "ini gak masuk akal! Bagaimana bisa?".
Karena tidak juga mendapat respon dimaafkan atau tidak di maafkannya, dan waktu memasuki tubuh Nabilah pun hampir habis karena Ve hanya punya waktu 4menit untuk menggunakan tubuh si penolongnya. Nabilah (Ve) pun memutuskan untuk menurunkan badannya dengan menggunakan kaki sebagai tumpuan. Karena ini list terakhir di misinya, Ve jadi berani mengambil tindakan untuk memasuki tubuh Nabilah meski hanya punya waktu sedikit.
"kalau aku bisa hidup lagi, aku akan tunjukan pada kalian semua aku berubah, aku gak mau lagi nyakitin siapapun! Cukup setahun ini aku melakukan kebodohan dengan melukai banyak hati!! Berikan kesempatan itu untuk ku!!!" ucap Ve terdengar begitu penuh sesal, senior-senior yang di dekat pintu mulai merasa iba pada sosok Ve yang ada di tubuh Nabilah tak terkecuali dengan yang berdiri di dekat Nabilah (Ve).
Mereka sadar bukan hanya Ve yang patut mereka benci dalam kasus mereka saat di permalukan atau di kerjai, tapi masih ada Stella, Yona dan juga Dhike yang sahabatnya Ve, yang juga terlibat dalam aksi bully nya Ve. Sampai detik ini tidak ada satupun dari ketiga sahabt Ve itu yang meminta maaf seperti yang di lakukan Ve, yang sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk meminta maaf. Tapi dia mau, dia punya niat untuk meminta maaf meski dalam keadaan terdesak namun mereka yakin Ve melakukan aksi minta maaf karena dia tulus dan benar tidak ingin melukai siapapun. Mereka seperti kembali di sadarkan, akan sosok Ve dulu yang masih berstatus kelas X dan masih berteman dengan Kinal. Saat itu belum ada Ve yang menyebalkan, dan Ve yang tidak di sukai oleh banyak murid di sekolah Putri Jakarta. Dulu justru sosok Ve tidak ada yang begitu mengenal selain yang mereka tahu dia itu adalah anak pemilik yayasan, itupun bukan karena Ve mengumbar tapi karena gosip yang beredar di sekolah dan akhirnya tahulah siapa itu Ve.
Saat dari mereka akan ada yang akan mengucapkan kata 'aku mau maafin kamu' tiba-tiba pintu Aula terbuka dan 3murid yang tak lain adalah Stella, Yona dan Dhike masuk kedalam aula. Mereka berjalan cepat langsung mengarah pada Nabilah yang masih berdiri dengan setengah kaki di lipat. Murid yang ada di Aula melihat kedatangan Stella yang memasang wajah marah nya kearah Nabilah. Tanpa basa-basi Stella langsung menarik tangan Nabilah dan menyeretnya, waktu Ve masuk ke tubuh Nabilah sudah habis, dia keluar meninggalkan tubuh Nabilah.
Ketika Nabilah merasakan tangannya di tarik, dia merasa bingung.
"a-ada apa ini?" dalam cengkraman Stella Nabilah bertanya.
"Stella, itu Ve!" ucap salah satu senior pada Stella, Stella yang sedang meyeret Nabilah pun berhenti ketika mendengar nama Ve. Dia berbalik pada si empunya suara
"apa lu bilang? Dia Ve!" kata Stella sambil menunjuk wajah Nabilah yang ada di genggamannya
"iya, yang lagi kamu tarik itu Ve, dia sahabat kamu kan! Dia lagi minta maaf sama kita!! Kenapa kamu tarik-tarik dia?" Cindy bertanya karena penasaran sekaligus kasihan melihat Nabilah yang meringis dalam cengkraman Stella.
Ve ingin sekali lagi masuk dalam tubuh Nabilah untuk membuat Stella melepaskan Nabilah tapi dia harus memulihkan kondisinya terlebih dulu agar bisa masuk lagi, karena saat tubuh mereka menyatu dan kemudian terpisah lagi maka akan ada rasa sakit baik di Ve ataupun Nabilah.
"lu semua pada ngelantur! Dia ini bukan Ve!! Dia cuma anak yang pengen punya popularitas di sekolah ini dengan memanfaatkan Ve yang lagi koma!!!" Stella bicara begitu tegas, Nabilah yang masih merasakan pusing di tambah bingung dengan keadaan yang sekarang sedang dia hadapi hanya bisa memegang kepalanya.
"apa maksud kamu?" tanya Senior lainnya
"kalian jangan gampang di bohongi sama ni anak! Karena kalian tahu apa, dia itu mengaku sebagai sepupunya Ve! Padahal Ve tidak pernah punya saudara yang satu sekolah!!"
sempat senior-senior itu goyah tapi kemudian Rica bicara
"kita gak ngelantur, apa yang tadi Sinka bilang itu benar! Anak ini tadi itu Ve, ada Ve masuk dalam tubuhnya!! Kita yang ada disini bisa pastikan dari suaranya, iya kan teman-teman!?" kemudian mereka mengangguk menyetujui ucapan Rica.
"alah, udalah Stell gak usah dengerin mereka! Urusan kita kan sama anak ini!" Ujar Dhike, Stella pun melihat ke Dhike dan Yona lalu kembali membawa Nabilah dengan kasarnya.
Senior yang ada di aula tidak bisa berbuat apa-apa untuk Nabilah; Novinta ikut dengan Stella dan teman-temannya; Ayana dan Gaby yang mengikuti dari belakang sedang menyaksikan bagaimana Stella dengan kasarnya menyeret Nabilah. Yang entah akan di bawa kemana
"Nabilah!" Ayana memanggil sahabatnya yang sedang memegangi kepalanya, Nabilah melihat kearah mereka dengan dari raut mukanya terpancar kebingungan.
"kak~ kak~ Nabilah mau kalian bawa kemana?" tanya Gaby memberanikan diri karena merasa kasihan pada Nabilah
"minggir lu, gak usah ikut campur kalau lu gak mau kenapa-kenapa!!" Dhike yang menanggapi
"tapi Nabilah kesakitan kak, kakak terlalu ketat memegang pergelangan tangannya, lihatlah wajahnya Nabilah, dia Pucat!!" Gaby kembali berbicara, Ayana mengikuti Gaby dari belakangnya (Stella masih menyeret Nabilah)
"Nabilah, kamu gak apa-apa?" tanya Ve yang jalan di sebelah Nabilah. Dia begitu terlihat cemas dengan kondisi Nabilah yang tadi dia pakai tubuhnya.
"Nabilah bingung... Kak!" katanya menanggapi dengan suara yang terdengar kecil, dia tidak begitu memperdulikan Stella. "ini ada apa sih kak? Kenapa Nabilah sama...,-" ucapan Nabilah terhenti karena Stella juga berhenti.
"Yona, dan kamu Novinta. Urus mereka, jangan sampai menyela gue!!" perintah Stella sambil menunjuk Ayana dan Gaby "Ikey (panggilan Dhike) lu ikut sama gue!" Dhike mengangguk, Ayana dan Gaby pun di stop dan di tahan oleh Yona dan Novinta sesuai perintah Stella. Sementara Stella dan Dhike membawa Nabilah. Nabilah masih belum bisa melawan karena dia masih mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi dan kenapa dia bisa sampai di seret oleh seseorang yang belum Nabilah kenali siapa orangnya. Ruang aula yang posisinya ada di pojok antara gedung SMP dan SMA, tidak bisa terpantau langsung oleh guru ataupun staff yayasan. Jadi siapa yang mau melancarkan bully an biasanya mereka lakukan di aula atau di belakang aula yang tidak jauh dari taman labirin.
"tadi Nabilah bukannya di aula buat minta maaf, terus kenapa sekarang,- aw, aw, aw~ kepala Nabilah kok sakit ya?!" Nabilah menggumam di belakang Stella.
Ve ingin sekali bisa membantu Nabilah yang sedang di seret Stella, tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk membisikan kata-kata di Hak Istimewanya Ve sudah tidak bisa, dia kehilangan energi nya saat masuk ke tubuh Nabilah. Harusnya Ve tidak menggunakan tubuh Nabilah karena efek yang timbul setelahnya cukup dirasa menganggu.
Stella ternyata membawa Nabilah ke taman labirin sekolah. Mereka masuk agak kedalam agar tidak ada dari pihak sekolah yang tahu, Stella menghempaskan tangan Nabilah dan Nabilah yang masih merasa pusing hanya bisa mengusap kepalanya.
"ini ada apaan sih? Kok Nabilah bisa sama...." Nabilah menilik wajah Stella, "huh? Kak.... Stella!" ucap Nabilah setelah bisa mengenali orang yang membawanya. Ve pernah menunjukan Stella, Dhike, dan juga Yona pada Nabilah. "kenapa Nabilah bisa sama kakak? Tadi kan Nabilah lagi di au,-"
"Ssut BERISIK! bisa diam gak?" potong Stella dengan menekan kata berisik. Nabilah seketika terdiam, dia mencoba berkomunikasi dengan Ve lewat bahasa matanya. Tersirat menanyakan apa yang terjadi?,
Ve bicara "Stella, Dhike, sama Yona tadi ke aula pas kita lagi disana...." ~ "disana (aula) mereka bilang lu lagi minta maaf untuk Ve? dan mereka bilang lu itu Ve?..." ~ "kak Ve gak tahu kenapa Stella dan yang lainnya bisa sampai di aula dan membuat acara permintaan maaf nya gak selesai" ~ "semua udah selesai, kesabaran gue sama lu udah habis~ di biarin ternyata lu malah menjadi dan terus meminta maaf untuk si Ve! Lu masuk terlalu dalam di kehidupan Ve yang lu gak tahu!!" ~ "tadi kakak masuk ke tubuh kamu untuk minta maaf" Nabilah merasa bingung, 2orang bicara secara berbarengan jadi Nabilah tidak bisa menangkap semua yang Stella dan Ve ucapkan. Dhike berdiri di sebelah Stella dan menatap Nabilah dengan tatapan intimidasi.
"aaaduhh~ satu-satu dong ngomongnya! Nabilah kan jadi gak ngerti apa yang kalian ucapkan!" protes Nabilah tanpa sadar. Stella dan Dhike menganga saat mendengar Nabilah setengah berteriak mengucapkan kalimatnya, tapi kemudian mereka bisa menguasai lagi dirinya.
"eh bocah, lu ngomong apa sih!?" kata Dhike menanyakan "dari tadi yang ngomong sama lu itu cuman Stella! Gak ada yang lainnya!! Lu mau main-main sama kita?" lanjut Dhike membuat Nabilah tersadar.
"eh? mm, eng-nggak kak Nabilah gak mau main-main sama kakak! (Nabilah merasa ciut) Maksud Nabilah itu, Nabilah gak ngerti dengan apa yang di katakan kak Stella!!" ~
"sekarang gue tanya, apa maksud lu minta maaf untuk Ve sama murid-murid di sekolah ini?!" Stella tidak menghiraukan pengelakan Nabilah.
Ve merasakan ada yang aneh dari pertanyaan dan juga sikapnya Stella pada Nabilah yang membantu dirinya.
"kenapa diam? Jawab! Terus apa maksud lu bilang ke murid yang ada di aula tadi kalo lu adalah Ve!? Lu sebenernya punya motiv apa sih dengan ngelakuin semua ini!?" Stella kembali bertanya dengan esmosinya. "eeh, malah diem aja! Lu sebenernya siapa sih? Kenapa lu harus mengaku sebagai sepupunya Ve? Dan~ kenapa lu bilang lu minta maaf atas nama Ve agar dia bisa kembali dari komanya!? Emang nya lu siapa? Tuhan? Malaikat?! Jawab!?"
Nabilah yang tadi sempat bingung dengan arah dari pertanyaan Stella sekarang sudah bisa mengerti tentang pertanyaan yang dari tadi di berondongkan padanya. Ve semakin dalam rasa herannya pada Stella yang tahu segitu detail tentang apa yang di lakukan Nabilah.
"jadi ini... tentang kak Ve?" ucap Nabilah, membuat Stella marah "jadi dari tadi gue ngomong, lu gak ngerti!?" Nabilah mengangguk polos. "lu beneran mau main-main sama kita!" Stella bicara begitu tegas dengan wajahnya mulai dia dekatkan ke Nabilah "denger ya Nabilah, kalo sampe si Ve bisa bangun lagi dari komanya dan dia bisa sembuh total! Lu gak bakal bisa hidup tenang!!" dengan nada ancaman yang begitu berat Stella bicara dengan wajahnya hanya terpaut 4cm pada wajah Nabilah
"eh? Maksud kamu aku sama Gaby pengumpul berita? Apaan?!" Nabilah tersenyum menyeringai
"kalian kan suka banget nangkep cerita yang seliweran, terus di kumpulin, lalu di kabarin deh sama aku beritanya! kayak acara pagi di tipi-tipi tuh, yang ngasih berita soal artis-artis tanah air!" Ayana memproses, Gaby berbicara
"hah? itu kan acara gosip! jadi kita... peng gosip dong?! Ngumpulin berita yang berseliweran!"
Nabilah tertawa diiringi anggukan "nah... itu tahu! hahaha~",
Gaby dan Ayana saling mendelik ke arah Nabilah, Ve ikut menertawakan.
"udah-udah gak usah pada kayak gitu ekpresinya, jelek tahu! Masih pagi juga. Huahahaa~" Nabilah masih tertawa. tapi dalam pikirannya tetap memikirkan tentang Stella dan lainnya yang mencari dia, apalagi kata Gaby dan Ayana wajah mereka marah. 'bakal jadi hari yang... hmm~' pikir Nabilah.
Bell masuk bunyi--
Guru PKN ternyata tidak hadir karena sedang sakit, jadi ada waktu kosong selama satu jam untuk kelas VII J. Nabilah tampak berpikir keras dengan daun telinganya dia jejali pakai earphone, Ve tetap stand by di sebelah Nabilah. Tak lama raut Nabilah berubah, dia menyanyi mengikuti apa yang sedang di putar pemutar musik nya, mencoba menikmati lagunya.
(Gaby dan Ayana lagi ke kantin, saat tahu guru PKN nya tidak bisa mengajar mereka berdua bergegas ke kantin untuk membeli cemilan.). Nabilah yang sekarang terlihat lebih kalem dari Nabilah biasanya kalau ada jam pelajaran kosong. Dia, biasanya selalu ngisengin teman-teman sekelas atau main apapun dengan mereka ketika jam pelajaran kosong, atau Nabilah selalu pergi ke kantin sama salah satu dari sahabatnya untuk membeli cemilan sebagai teman ngobrol santai di kelas.
"*No, Nothing Helps. We won't stop right now, we did it on our own nobody else it's because of you i'm standing here with you~*" Nabilah menyanyikan sepenggal lirik lagu milik One Ok rock
"*No Nothing Helps We won't stop right now we did it on our own nobody else it's because of you, we are finally came this far.
Tell me who else?,-*" Nabilah samar-samar bisa mendengar Ve bernyanyi menyanyikan lagu yang sama dengan yang sedang dia nyanyikan, Nabilah lepaskan tangan kanannya yang tadi dia pakai menyangga dagu lalu melanjutkan lagi nyanyinya di temani Ve
"*All What i can do, All what you will want me to, All what you can see me through will someday come the story goes~*" keduanya berhenti lalu menarik nafas panjang secara berbarengan. Nabilah melirik Ve sekilas 'ni arwah tahu juga lagunya One Ok Rock' bisik Nabilah dalam hati, lalu tersenyum di sudut bibirnya. Suasana kelas cukup sepi, hanya ada beberapa murid tersisa. Sementara yang lainnya sedang asik dengan kegiatannya masing-masing di jam kosong.
kembali Nabilah menopang dagunya memikirkan apa yang akan terjadi jika dia tidak bisa membantu Ve menyelesaikan misi 48 jam nya. Ayana dan Gaby datang dari pencarian makanan, mereka duduk dengan mengambil kursi mereka untuk merapat mendekat ke Nabilah. kemudian memulai obrolan--
"eh Gab, kamu kemarin merasa ada yang aneh gak sih?"
"aneh? Aneh gimana, Chan?" Gaby balik bertanya
"ya... ada yang hilang gitu dari aktifitas aku kemarin, mmm~ ada yang ganjal di pikiran aku tapi gak tahu kejadian apa yang hilang itu!" Gaby mencoba mengingat
"hmm~ enggak ah! Biasa aja, kalo kamu Bil?"
"hah? Em~ gak ada yang aneh, semua nya utuh kok! Memory aku kemarin dari pagi sampai ke pagi lagi masih aku ingat dan gak ada yang hilang!" jawab Nabilah.
Ayana tidak bicara lagi karena 2sahabatnya mengatakan tidak ada yang aneh atau apapun yang seperti Ayana rasakan. Sepertinya Ayana berjuang untuk mengingat kejadian kemarin yang hilang, saat Ve membisikan kata-katanya untuk melupakan apa yang mereka dengar plus mereka lihat saat pulang sekolah. Ke3 nya membuka topik baru dalam perbincangan pagi kosong di kelas. Sampai tak terasa waktu pelajaran di jam kedua datang dan guru Matematika pun datang, hening di kelas VII J mendengarkan penjelasan materi yang sedang di berikan.
Tiba waktu istirahat, waktu yang di tunggu-tunggu Nabilah untuk menyelesaikan misi 48jam 48nama nya Ve yang dia wakili. Nabilah menarik nafas kemudian berdiri dari bangkunya dan bersiap pergi meninggalkan kelas untuk menuju aula yang Nabilah jadikan tempat untuk mengumpulkan murid SMA yang kemarin dia kirimi pesan singkat.
"Nabilah, mau kemana?" tanya Gaby saat melihat Nabilah akan pergi
"em~ aku-- aku ada sedikit urusan sama,, um~ sama bu Anggita, aku pergi dulu ya! Dah~" Nabilah lalu pergi tanpa menghiraukan sahabatnya yang akan menanyakan hal lainnya
"ini nih!" tiba-tiba Ayana mengucapkan kata itu.
"apasih Achan!" sahut Gaby melihat tingkah Ayana
"kejadin ini yang aku maksud hilang itu Gab!" Gaby mengerung "kamu lupa apa? kemarin pas istirahat kan kita ngikutin Nabilah terus,-" ~ "terus apa Chan?" ~ "aduhhh~ apalagi ya? aku lupa! Kenapa kita kemarin ngikutin Nabilah ya?!" Ayana memegang kepalanya
"aduh Achan, Gaje banget sih! Udah ahh mending makan!!"
"haaa~ makan! Kemarin kita nawarin Nabilah untuk makan pas istirahat tapi kemudian Nabilah menolak terus nyari makan sendiri ke kantin terus~"
"terus lagi! terusan nya apaan Chan?"
"terus... terus apa lagi ya adegannya kemarin"
pengaruh bisikan Ve memang cukup manjur untuk menghentikan keduanya menanyai ini itu pada Nabilah yang mereka lihat sedang meminta maaf atas nama dirinya. Ve membisikan pada Ayana dan Gaby untuk melupakan apa yang mereka lihat yang berhubungan dengan Nabilah saat jam pulang sekolah di taman labirin, tapi entah kenapa ingatan saat Ayana dan Gaby memutuskan untuk mengikuti Nabilah pun jadi mereka lupakan. *mungkin karena itu bukan perbuatan baik kali ya? Makanya memory nya juga ikut samar-samar dan mungkin juga hilang seperti saat pulang*.
"Hhaah~ udahlah Chan, gak usah aneh-aneh deh!" kata Gaby karena melihat Ayana sepertinya masih mencoba mengingat kejadian kemarin yang menurutnya hilang.
"ish, sakit juga ya ni kepala, mikirin sesuatu yang kayaknya pernah terjadi tapi gak tahu kejadiannya apa!!" kata Ayana, lalu menyuapkan makanannya. Gaby hanya tersenyum melihat tingkah Ayana.
"Chan, Chan~ kak Stella sama teman-temannya tuh!"
"hah? Mana?" Ayana menoleh kebelakang ke arah pintu kelas. Stella, Dhike dan Yona mendekat kearah kelas mereka "apa mereka akan kesini?" tanya Ayana tanpa mengalihkan pandangannya dari arah luar
"gak tahu, tapi kayaknya iya!" sahut Gaby.
"apa kak Stella dan teman-temannya masih nyari Nabilah?" lagi-lagi Ayana membuat pertanyaan
"gak tahu juga! Tapi kayaknya emang iya!!" dan lagi-lagi Gaby hanya menyahut seperti itu. Stella, Dhike dan Yona masuk ke kelas VII J dengan wajah 'menyeramkan' nya.
"mana teman kalian? Dia sekolah kan?" tanya Dhike to the point dengn ekspresi dinginnya, Stella dan Yona berdiri di sebelah Dhike dengan tangan di lipat di depan.
"m-maksud kakak? N-Nabilah!?" Ayana terbata
"iiya, siapa lagi! Udah kalian sampein kan pesan kita sama dia!?" ucap Dhike di hadapan Ayana dan Gaby yang terlihat ketakutan.
Ini untuk kedua kalinya dalam satu hari ini, mereka di datangi geng paling populer dengan bully nya di sekolah, meski kedatangannya bukan untuk mengerjai mereka melainkan mencari Nabilah tapi tetap saja Berhadapan dengan Stella, Dhike dan Yona adalah hal yang cukup membuat adrenalin meningkat dalam ketakutan.
"uu-udah kak! Kita u..dah bilangin sama Nabilah kalau kakak-kakak semua nyariin dia!! Iya kan Gab?" ~ "ha? Ohh~ iya benar, aku sama Ayana udah bil,-"
"terus sekarang mana teman kaliannya?!" Ayana dan Gaby saling menukar pandang tentang jawaban apa yang akan mereka ungkapkan di hadapan Yona sang penanya, yang memotong kalimat nya.
"Nabilah, em~ dia lagi ada urusana sama- sama guru! Itu yang tadi Nabilah katakan pada kita!! Iya kan Chan?" giliran Gaby yang bicara dan mengalihkannya pada Ayana. Ayana hanya mengangguk untuk menanggapi.
"kalian lagi main-main sama kita?" ujar Yona, Ayana dan Gaby yang tidak mengerti dengan apa yang di katakan Yona hanya bisa mengerung kan alis matanya
"tadi pagi kan kita udah titip pesan sama kalian, kalau kita bakal balik lagi kesini buat bicara sama Na..bi..la..h! Teman kalian itu!! Terus sekarang, Nabilah malah ada di ruang guru! Mau ngapain dia? Mau laporin kita yang lagi nyari dia!? Hah, iya?"
Ayana dan Gaby diam terpaku dengan pernyataan dan pertanyaan dari Yona; Stella masih diam dan memperhatikan; teman-teman sekelasnya tidak ada yang berani ikut campur dengan kedatangan senior mereka ke kelas.
"Hoy!! Jawab dong, Malah bengong!!!" Dhike menggebrak meja yang sedang Ayana dan Gaby jadikan tempat menyimpan bekal makanan
"ii-itu~ enggak kak, Nabilah keruang guru bukan untuk melaporkan kakak semua kok! Dia hanya ada sedikit yang harus di konsultasikan sama guru yang mengajar di kelas kami!! itu aja, selebihnya... kita yakin kalau Nabilah tidak akan mungkin membuat laporan tentang kalian pada guru disini!!" Ayana mencoba menjabarkan pada Mereka.
"heh, kalau sampai si Nabilah itu ngelaporin kita ke guru! Bukan cuma dia yang akan kita kerjai, tapi kalian juga akan dapat giliran!!" Dhike menyeringai di sudut bibirnya, Ayana dan Gaby hanya bisa menelan ludahnya sendiri saat mendengar ancaman dari Dhike.
"kak Stella~ kak Stella~ kak Stella~ haaaah"
Novinta berlari berhamburan ke dalam kelas. Stella, Dhike dan juga Yona melihat kearah Novinta. Ayana dan Gaby heran kenapa Novinta bisa kenal sama mereka. (Novinta anggota Osis, itu kenapa Ayana dan Gaby tahu siapa Novinta. tapi mereka tidak pernah tahu kalau Novinta itu adiknya Yona)
"ada apa? Kenapa lari-lari seperti itu?" tanya Yona pada adiknya yang masih mengatur nafas
"haaaah~ itu kak, Nabilah- Nabilah lagi di aula sama murid SMA! Kayaknya dia mau minta maaf lagi untuk kak Ve!!" Novinta bisa menyelesaikan kalimatnya.
"apa? Kamu yakin itu Nabilah!?" Novinta mengangguk atas pertanyaan Stella. Stella langsung mengalihkan tatapannya pada Ayana dan Gaby yang sedang mencerna ucapan Novinta tentang Nabilah meminta maaf pada murid SMA untuk Ve.
"Heh! Tadi kalian bilang si Nabilah ke ruang guru, kalian mau mainin kita?" tanya Stella
"ki-kita juga gak tahu kak, tad..i Nabilah bilang nya mau ke ruang guru kok!" Ayana mengangguk menyetujui ucapan Gaby
"Ah! Denger ya? urusan kita belum selesai! Kalian akan dapat giliran setelah Nabilah!! cabut, kita ke aula." ancam Stella lalu mengajak teman-temannya untuk pergi menghampiri Nabilah.
Saat istirahat, Nabilah berjalan ke aula dengan Ve. Tidak ada obrolan, yang menemani perjalanan mereka ke aula. Sampai di aula ternyata murid-murid yang di tunggu sudah ada semuanya. Nabilah tersenyum senang karena dia tidak perlu menunggu 'manjur juga kata-kata ku di SMS' pikir Nabilah. Ketika Nabilah masuk seketikan semua mata tertuju pada sosoknya yang berseragam SMP.
"apa-apaan nih? Kenapa ada murid SMP juga! Siapa sebenarnya yang mengirim pesan kemarin sore" seorang murid bersuara dan di tanggapi oleh murid lainnya.
'Haaah, ini akan lebih sulit dari kemarin sama senior SMP!' bisik Nabilah dalam hati saat mendengar sahutan mereka yang bertanya siapa si pengirim pesan dan melihat kesinisan di wajah kakak kelasnya saat melihat dia masuk 'belum ngomong apapun, atmosfir udah gak enak!' kembali Nabilah berbicara pada dirinya sendiri.
"um~ anu... yang kirim pesan singkat pada kakak semua itu Nabilah kak!" mendengar ucapan Nabilah yang tiba-tiba, sontak membuat para senior membelalakan matanya.
"Hah? apa? Jadi sebenarnya yang ngirim SMS kemarin sore itu lu? terus, kenapa lu bawa-bawa nama Ve segala dalam pesan singkat lu kemarin sore! Apa maksudnya? Hah!" tanya senior pada Nabilah
"iya, apa maksudnya dengan bilang kalau Ve akan menyatakan permintaan maaf langsung sama kita!? Lu bohongin kita dalam pesan singkat lu kemarin?!" senior lainnya ikut menanggapi
"emm~ Nabilah tahu, apa yang Nabilah tulis di pesan singkat kemarin sore itu salah kak. Tapi.. gak salah-salah banget sih!" Nabilah membuat seniornya bingung, karena dia sendiri bingung "ini memang tentang kak Ve!" lanjut Nabilah.
"haaah, gak jelas! gue gak ada waktu buat dengerin ocehan anak SMP!" katanya dengan mata menatap Nabilah.
"gue juga! Buat apa gue dengerin ucapan lu, kenal juga enggak, mana lu ngebohongin lagi!!"
"lagian... kayaknya gak penting sih kita dengerin ni anak ngomong, iya kan teman-teman?"
"tapi ini beneran tentang kak Ve! Nabilah serius, dan ini penting!! Yaa, Nabilah tahu kemarin itu Nabilah salah gak jelasin secara rinci, itu karena Nabilah bingung harus mengirim pesan singkat kayak gimana?! Kalaupun di telpon, kakak semua pasti gak akan mau kan datang ke sini!!"
murid SMA tidak ada yang begitu menghiraukan Nabilah saat dia menjelaskan, mereka hanya menatapnya
"Nabilah mohon kak, dengerin dulu apa yang mau Nabilah sampein ke kakak semua! Nabilah mohon" Nabilah begitu memohon dengan tulus.
Nabilah memang tidak menjelaskan alasan dia menyuruh murid-murid itu untuk kumpul di aula saat dia mengirimkan pesannya, dia hanya menuliskan rangkaian kata maaf dan menaruh nama Ve di akhir rangkaian maafnya kemudian di akhiri permohonan agar mereka yang menerima pesannya untuk bisa datang dan menyaksikan langsung Ve meminta maaf.
senior nya masih tidak menghiraukan, malah mereka bersiap pergi dari aula untuk meninggalkan Nabilah "aduhh, gimana nih? Kok mereka malah pada mau pergi sih!" gumam Nabilah panik, kemudian dia berlari ke arah depan senior-seniornya dan mengedapankan kedua tangannya untuk menyetop seniornya agar mau mendengarkan dia
"kak~ kak~ Nabilah mohon, bentarrr aja! Dengerin apa yang mau Nabilah bicarakan, karena ini menyangkut hidup matinya kak Ve!! Pleaseeeee" Nabilah kembali memohon dengan sekarang langsung membawa nama Ve
"eh~ denger ya? kita gak perlu Ve di sekolah ini! Biarin aja dia, mau koma ke, mau hidup lagi ke, atau mau mati sekalian... mungkin akan lebih baik buat dia!" ucap salah seorang dari murid itu dengan kasarnya
"itu balasan untuk orang kayak Ve yang suka seenaknya sama murid-murid disini! Mentang-mentang dia anak pemilik yayasan terus kaya, jadi bisa bersikap dan berbuat apa saja sama murid disini!!" tambahnya.
Nabilah merasa sedikit marah akan kata-kata yang di lontarkan seniornya tapi dia tidak mau memperkeruh suasana dan malah ribut dengannya, jadi Nabilah hanya diam mendengar komplenan seniornya; Ve mengerutkan alis matanya dan terlihat sedih mendengar ucapan murid itu, apa yang setahun terakhir Ve lakukan sepertinya memang sangat keterlaluan dan sampai membekas di hati para korbannya. 'sudah sedalam inikah rasa benci mereka terhadap ku?' tanya Ve pada dirinya sendiri.
"minggir lu~" tangan si senior akan menyingkirkan tubuh Nabilah tapi dengan cepat Nabilah kembali memohon
"ok, terserah kakak semua mau bilang apa tentang kak Ve! Tapi... Nabilah mohon sebentar aja dengerin penjelasan Nabilah. setelah itu, terserah kakak semua mau bersikap seperti apapun pada kak Ve! Nabilah minta waktunya 10menit aja kak!" pinta Nabilah dengan telapak tangannya dia satukan untuk memohon
"ada yang mau dengerin anak ini?" tanya senior yang paling senior alias kelas XII, yang lainnya diam tidak ada yang meng iya kan atau meng tidak kan. "denger dan lihat sendiri kan, gak ada yang mau dengerin penjelasan kamu! Jadi... udahlah minggir sana!! Kita masuk kelas" lanjutnya
"8 menit kak!" Nabilah belum menyerah, para senior menatapnya "oook, 6 menit?!" kembali Nabilah meminta sekaligus memotong waktunya tapi kembali dia hanya dapat tatapan *pada keras ye hatinya mereka, kayak gak pernah lakuin kesalahan aja!* "mmm... 4menit kak! Nabilah mohon!!" Nabilah begitu teguh.
"Hah! udahlah, kita dengerin aja apa yang mau dia sampaikan! Dari pada kayak sekarang kita gak bisa keluar dari aula karena dia masih ngotot!" usul salah satu senior yang ada di belakang
"lagian, cuma 4menit kan? Itu gak akan lama, setelah itu terserah masing-masing mau gimana!" yang di sebelahnya ikut menanggapi dan memberi usulan.
"ya udah kalian aja, gue sih enggak mau!" si senior yang di depan tetap tidak mau "yang lainnya? Ada yang mau disini sama Sendy dan Rica buat dengerin si Nabilah!" tanyanya kemudian.
Tak lama dia lalu kembali bergerak diikuti beberapa banyak murid lainnya, yang diam hanya 4murid; Sendy, Rica, Cindy dan Olive.
Ve tidak punya pilihan lain saat melihat adegan itu *sreeeet* dia masuk ke tubuh Nabilah. Belum murid-murid yang pergi meninggalkan aula sampai di depan pintu, Nabilah yang di rasuki Ve bicara dan suaranya... itu suara Ve, jadi senior yang tadi pergi berhenti karena kaget mendengar suara Ve, begitupun dengan senior yang masih ada di dekat Nabilah. Mereka tak kalah kaget karena suara Nabilah jadi suaranya Ve.
"aku minta maaf karena aku sudah salah sama kalian!" mereka berbalik menghadap Nabilah yang menunduk "aku tahu aku salah, dulu aku sering sekali membuat kalian marah bahkan sampai membenciku! Aku sekarang meminta maaf bukan hanya karena aku akan mati kalau aku tidak dapat maaf dari kalian, aku meminta maaf karena aku ingin berubah. Aku minta maaf, aku mohon kasih aku kesempatan~ kasih aku kesempatan untuk bisa merasakan indahnya mendapat maaf dari kalian! Aku siap menerima hukuman apapun dari kalian yang masih menyimpan dendam dan benci padaku~ aku Ve, aku minta maaf~ hik, hik, hik--" Nabilah (Ve) menangis,
senior yang di dekat pintu keluar terdiam mencerna apa yang sedang mereka saksikan dan mereka dengar 'apa ini?' 'apa benar yang sedang bicara ini Ve?' 'apakah ini nyata?' 'apakah ini serius? Anak SMP ini kemasukan roh nya Ve!' 'Ve kan sedang koma, terus anak yang di depan ini?!' banyak pertanyaan muncul di benak mereka tentang apa yang mereka saksikan.
"jika kematianku bisa membuat kalian bahagia, aku akan terima itu! Tapi satu hal, aku mohon~ hik,hik,hik~ maafkanlah aku, biarkanlah aku pergi dengan membawa maaf kalian, bukan dengan membawa kebencian kalian!" ~
"jadi... kamu beneran Ve?" tanya Sendy pertama kali, Nabilah (Ve) mengangguk pelan. Sendy melebarkan bola matanya dan berbisik "ini gak masuk akal! Bagaimana bisa?".
Karena tidak juga mendapat respon dimaafkan atau tidak di maafkannya, dan waktu memasuki tubuh Nabilah pun hampir habis karena Ve hanya punya waktu 4menit untuk menggunakan tubuh si penolongnya. Nabilah (Ve) pun memutuskan untuk menurunkan badannya dengan menggunakan kaki sebagai tumpuan. Karena ini list terakhir di misinya, Ve jadi berani mengambil tindakan untuk memasuki tubuh Nabilah meski hanya punya waktu sedikit.
"kalau aku bisa hidup lagi, aku akan tunjukan pada kalian semua aku berubah, aku gak mau lagi nyakitin siapapun! Cukup setahun ini aku melakukan kebodohan dengan melukai banyak hati!! Berikan kesempatan itu untuk ku!!!" ucap Ve terdengar begitu penuh sesal, senior-senior yang di dekat pintu mulai merasa iba pada sosok Ve yang ada di tubuh Nabilah tak terkecuali dengan yang berdiri di dekat Nabilah (Ve).
Mereka sadar bukan hanya Ve yang patut mereka benci dalam kasus mereka saat di permalukan atau di kerjai, tapi masih ada Stella, Yona dan juga Dhike yang sahabatnya Ve, yang juga terlibat dalam aksi bully nya Ve. Sampai detik ini tidak ada satupun dari ketiga sahabt Ve itu yang meminta maaf seperti yang di lakukan Ve, yang sedang dalam kondisi tidak memungkinkan untuk meminta maaf. Tapi dia mau, dia punya niat untuk meminta maaf meski dalam keadaan terdesak namun mereka yakin Ve melakukan aksi minta maaf karena dia tulus dan benar tidak ingin melukai siapapun. Mereka seperti kembali di sadarkan, akan sosok Ve dulu yang masih berstatus kelas X dan masih berteman dengan Kinal. Saat itu belum ada Ve yang menyebalkan, dan Ve yang tidak di sukai oleh banyak murid di sekolah Putri Jakarta. Dulu justru sosok Ve tidak ada yang begitu mengenal selain yang mereka tahu dia itu adalah anak pemilik yayasan, itupun bukan karena Ve mengumbar tapi karena gosip yang beredar di sekolah dan akhirnya tahulah siapa itu Ve.
Saat dari mereka akan ada yang akan mengucapkan kata 'aku mau maafin kamu' tiba-tiba pintu Aula terbuka dan 3murid yang tak lain adalah Stella, Yona dan Dhike masuk kedalam aula. Mereka berjalan cepat langsung mengarah pada Nabilah yang masih berdiri dengan setengah kaki di lipat. Murid yang ada di Aula melihat kedatangan Stella yang memasang wajah marah nya kearah Nabilah. Tanpa basa-basi Stella langsung menarik tangan Nabilah dan menyeretnya, waktu Ve masuk ke tubuh Nabilah sudah habis, dia keluar meninggalkan tubuh Nabilah.
Ketika Nabilah merasakan tangannya di tarik, dia merasa bingung.
"a-ada apa ini?" dalam cengkraman Stella Nabilah bertanya.
"Stella, itu Ve!" ucap salah satu senior pada Stella, Stella yang sedang meyeret Nabilah pun berhenti ketika mendengar nama Ve. Dia berbalik pada si empunya suara
"apa lu bilang? Dia Ve!" kata Stella sambil menunjuk wajah Nabilah yang ada di genggamannya
"iya, yang lagi kamu tarik itu Ve, dia sahabat kamu kan! Dia lagi minta maaf sama kita!! Kenapa kamu tarik-tarik dia?" Cindy bertanya karena penasaran sekaligus kasihan melihat Nabilah yang meringis dalam cengkraman Stella.
Ve ingin sekali lagi masuk dalam tubuh Nabilah untuk membuat Stella melepaskan Nabilah tapi dia harus memulihkan kondisinya terlebih dulu agar bisa masuk lagi, karena saat tubuh mereka menyatu dan kemudian terpisah lagi maka akan ada rasa sakit baik di Ve ataupun Nabilah.
"lu semua pada ngelantur! Dia ini bukan Ve!! Dia cuma anak yang pengen punya popularitas di sekolah ini dengan memanfaatkan Ve yang lagi koma!!!" Stella bicara begitu tegas, Nabilah yang masih merasakan pusing di tambah bingung dengan keadaan yang sekarang sedang dia hadapi hanya bisa memegang kepalanya.
"apa maksud kamu?" tanya Senior lainnya
"kalian jangan gampang di bohongi sama ni anak! Karena kalian tahu apa, dia itu mengaku sebagai sepupunya Ve! Padahal Ve tidak pernah punya saudara yang satu sekolah!!"
sempat senior-senior itu goyah tapi kemudian Rica bicara
"kita gak ngelantur, apa yang tadi Sinka bilang itu benar! Anak ini tadi itu Ve, ada Ve masuk dalam tubuhnya!! Kita yang ada disini bisa pastikan dari suaranya, iya kan teman-teman!?" kemudian mereka mengangguk menyetujui ucapan Rica.
"alah, udalah Stell gak usah dengerin mereka! Urusan kita kan sama anak ini!" Ujar Dhike, Stella pun melihat ke Dhike dan Yona lalu kembali membawa Nabilah dengan kasarnya.
Senior yang ada di aula tidak bisa berbuat apa-apa untuk Nabilah; Novinta ikut dengan Stella dan teman-temannya; Ayana dan Gaby yang mengikuti dari belakang sedang menyaksikan bagaimana Stella dengan kasarnya menyeret Nabilah. Yang entah akan di bawa kemana
"Nabilah!" Ayana memanggil sahabatnya yang sedang memegangi kepalanya, Nabilah melihat kearah mereka dengan dari raut mukanya terpancar kebingungan.
"kak~ kak~ Nabilah mau kalian bawa kemana?" tanya Gaby memberanikan diri karena merasa kasihan pada Nabilah
"minggir lu, gak usah ikut campur kalau lu gak mau kenapa-kenapa!!" Dhike yang menanggapi
"tapi Nabilah kesakitan kak, kakak terlalu ketat memegang pergelangan tangannya, lihatlah wajahnya Nabilah, dia Pucat!!" Gaby kembali berbicara, Ayana mengikuti Gaby dari belakangnya (Stella masih menyeret Nabilah)
"Nabilah, kamu gak apa-apa?" tanya Ve yang jalan di sebelah Nabilah. Dia begitu terlihat cemas dengan kondisi Nabilah yang tadi dia pakai tubuhnya.
"Nabilah bingung... Kak!" katanya menanggapi dengan suara yang terdengar kecil, dia tidak begitu memperdulikan Stella. "ini ada apa sih kak? Kenapa Nabilah sama...,-" ucapan Nabilah terhenti karena Stella juga berhenti.
"Yona, dan kamu Novinta. Urus mereka, jangan sampai menyela gue!!" perintah Stella sambil menunjuk Ayana dan Gaby "Ikey (panggilan Dhike) lu ikut sama gue!" Dhike mengangguk, Ayana dan Gaby pun di stop dan di tahan oleh Yona dan Novinta sesuai perintah Stella. Sementara Stella dan Dhike membawa Nabilah. Nabilah masih belum bisa melawan karena dia masih mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi dan kenapa dia bisa sampai di seret oleh seseorang yang belum Nabilah kenali siapa orangnya. Ruang aula yang posisinya ada di pojok antara gedung SMP dan SMA, tidak bisa terpantau langsung oleh guru ataupun staff yayasan. Jadi siapa yang mau melancarkan bully an biasanya mereka lakukan di aula atau di belakang aula yang tidak jauh dari taman labirin.
"tadi Nabilah bukannya di aula buat minta maaf, terus kenapa sekarang,- aw, aw, aw~ kepala Nabilah kok sakit ya?!" Nabilah menggumam di belakang Stella.
Ve ingin sekali bisa membantu Nabilah yang sedang di seret Stella, tapi apalah daya dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk membisikan kata-kata di Hak Istimewanya Ve sudah tidak bisa, dia kehilangan energi nya saat masuk ke tubuh Nabilah. Harusnya Ve tidak menggunakan tubuh Nabilah karena efek yang timbul setelahnya cukup dirasa menganggu.
Stella ternyata membawa Nabilah ke taman labirin sekolah. Mereka masuk agak kedalam agar tidak ada dari pihak sekolah yang tahu, Stella menghempaskan tangan Nabilah dan Nabilah yang masih merasa pusing hanya bisa mengusap kepalanya.
"ini ada apaan sih? Kok Nabilah bisa sama...." Nabilah menilik wajah Stella, "huh? Kak.... Stella!" ucap Nabilah setelah bisa mengenali orang yang membawanya. Ve pernah menunjukan Stella, Dhike, dan juga Yona pada Nabilah. "kenapa Nabilah bisa sama kakak? Tadi kan Nabilah lagi di au,-"
"Ssut BERISIK! bisa diam gak?" potong Stella dengan menekan kata berisik. Nabilah seketika terdiam, dia mencoba berkomunikasi dengan Ve lewat bahasa matanya. Tersirat menanyakan apa yang terjadi?,
Ve bicara "Stella, Dhike, sama Yona tadi ke aula pas kita lagi disana...." ~ "disana (aula) mereka bilang lu lagi minta maaf untuk Ve? dan mereka bilang lu itu Ve?..." ~ "kak Ve gak tahu kenapa Stella dan yang lainnya bisa sampai di aula dan membuat acara permintaan maaf nya gak selesai" ~ "semua udah selesai, kesabaran gue sama lu udah habis~ di biarin ternyata lu malah menjadi dan terus meminta maaf untuk si Ve! Lu masuk terlalu dalam di kehidupan Ve yang lu gak tahu!!" ~ "tadi kakak masuk ke tubuh kamu untuk minta maaf" Nabilah merasa bingung, 2orang bicara secara berbarengan jadi Nabilah tidak bisa menangkap semua yang Stella dan Ve ucapkan. Dhike berdiri di sebelah Stella dan menatap Nabilah dengan tatapan intimidasi.
"aaaduhh~ satu-satu dong ngomongnya! Nabilah kan jadi gak ngerti apa yang kalian ucapkan!" protes Nabilah tanpa sadar. Stella dan Dhike menganga saat mendengar Nabilah setengah berteriak mengucapkan kalimatnya, tapi kemudian mereka bisa menguasai lagi dirinya.
"eh bocah, lu ngomong apa sih!?" kata Dhike menanyakan "dari tadi yang ngomong sama lu itu cuman Stella! Gak ada yang lainnya!! Lu mau main-main sama kita?" lanjut Dhike membuat Nabilah tersadar.
"eh? mm, eng-nggak kak Nabilah gak mau main-main sama kakak! (Nabilah merasa ciut) Maksud Nabilah itu, Nabilah gak ngerti dengan apa yang di katakan kak Stella!!" ~
"sekarang gue tanya, apa maksud lu minta maaf untuk Ve sama murid-murid di sekolah ini?!" Stella tidak menghiraukan pengelakan Nabilah.
Ve merasakan ada yang aneh dari pertanyaan dan juga sikapnya Stella pada Nabilah yang membantu dirinya.
"kenapa diam? Jawab! Terus apa maksud lu bilang ke murid yang ada di aula tadi kalo lu adalah Ve!? Lu sebenernya punya motiv apa sih dengan ngelakuin semua ini!?" Stella kembali bertanya dengan esmosinya. "eeh, malah diem aja! Lu sebenernya siapa sih? Kenapa lu harus mengaku sebagai sepupunya Ve? Dan~ kenapa lu bilang lu minta maaf atas nama Ve agar dia bisa kembali dari komanya!? Emang nya lu siapa? Tuhan? Malaikat?! Jawab!?"
Nabilah yang tadi sempat bingung dengan arah dari pertanyaan Stella sekarang sudah bisa mengerti tentang pertanyaan yang dari tadi di berondongkan padanya. Ve semakin dalam rasa herannya pada Stella yang tahu segitu detail tentang apa yang di lakukan Nabilah.
"jadi ini... tentang kak Ve?" ucap Nabilah, membuat Stella marah "jadi dari tadi gue ngomong, lu gak ngerti!?" Nabilah mengangguk polos. "lu beneran mau main-main sama kita!" Stella bicara begitu tegas dengan wajahnya mulai dia dekatkan ke Nabilah "denger ya Nabilah, kalo sampe si Ve bisa bangun lagi dari komanya dan dia bisa sembuh total! Lu gak bakal bisa hidup tenang!!" dengan nada ancaman yang begitu berat Stella bicara dengan wajahnya hanya terpaut 4cm pada wajah Nabilah
“maksud
kakak apa? Kakak ngancem Nabilah? Kenapa kakak kayak gak senang kalau
kak Ve bisa sembuh?” Nabilah dengan keberaniannya bicara pada Stella
“bukankah... kak Ve itu sahabatnya kakak semua?” Nabilah balik
mengajukan pertanyaan
“Hah (senyum sinis) Sahabat? Gue? (sambil nunjuk dirinya sendiri) Sama si Ve? Haha...” Stella tertawa sebelum melanjutkan kata-katanya; Ve memperhatikan tingkah Stella; Nabilah heran dengan kakak kelas yang lagi ada di depannya ini. “lu denger Key? anak ini bilang Gue, lu, Kita sahabat nya si Ve! HAHA~” dengan nada mencibir Stella melanjutkan kata-katanya, Dhike ikut tertawa menemani Stella. “heh! Kata siapa gue sama si Veranda itu sahabatan hah?... Jangan sok tahu kalau jadi anak!” Stella berhenti tertawa dan kembali bicara dengan nada serius penuh amarah.
Ve mengerung saat mendengar ucapan Stella ‘apa maksud ucapan Stella?’ ‘kenapa dia bicara seperti itu?’ bisik Ve yang terdengar jelas oleh Nabilah, Nabilah melirik sekilas pada Ve.
“di sekolah ini... siapa yang gak tahu sama persahabatan kakak, kak Dhike, kak Yona sama kak Ve, yang... suka banget ngerjain murid lain!?” ujar Nabilah (dia kini sudah kembali mempunyai energi dan bisa melawan Stella karena gerah dengan kata-katanya Stella yang bikin greget)
“Haha.. pengaruh Ve, eh-- bukan! Tapi pengaruh bokap dan nyokapnya, di sekolah ini. memang bisa bikin gue, Dhike dan juga Yona tenar! Dan si Ve yang polos, bisa dengan mudah gue manfaatin!!” kata Stella yang belum Nabilah pahami. “lu mau tahu? kisah gue, Dhike, Yona sama Ve? Hmm~ lu pasti mau tahu kan?!” Nabilah hanya bisa merapatkan alis matanya melihat Stella. “gue... sama si Veranda itu gak pernah nganggep dia SAHABAT, gue, Dhike sama Yona, itulah sahabat! Sementara Ve, dia cuma alat buat gue!” Nabilah semakin dalam merapatkan alis matanya dan Ve begitu terkejut saat mendengar hal itu. “dia cuma alat buat gue balas dendam sama bokapnya dia yang udah bikin keluarga gue jatuh! Dan bikin bokap gue di rawat karena kena serangan jantung!!” Stella terdengar marah bercampur sedih. Dia terus menjelaskan pada Nabilah tentang kenapa dia menjadikan Ve alat untuk balas dendam.
Ayah Stella dan Ve, dulu mereka pernah menjalin kerjasama dalam membangun sebuah usaha. Keduanya begitu kental dalam jalinan persahabatan dan membangun suatu usaha sampai akhirnya usaha mereka berkembang pesat, Ve dan Stella berteman juga karena seringnya pertemuan di antara keluarga mereka. keduanya terlihat tidak hanya seperti sahabat tapi juga sudah seperti saudara. Tapi kemudian ketika Ve dan juga Stella masuk ke Sekolah Dasar kelas 4, kedua ayah mereka mulai terlihat renggang sampai terjadi perpecahan karena Ayahnya Ve menendang Ayahnya Stella dalam bisnis mereka dan hanya memberikan 5persen bagian dari dulu saat membangun usaha. Ayah Stella pun membangun usahanya sendiri hingga, ketika Ve dan Stella mulai memasuki bangku Menengah Atas. mereka bertemu dalam sebuah perebutan project, namun ayahnya Stella kalah sampai membuat perusahaannya collapse dan ia sendiri masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. Kini keluarga Stella hidup dalam kesederhanaan yang begitu sederhana, setelah serangan jantung, ayahnya terkena stroke dan ibunya pergi meninggalkan Stella dan juga ayahnya.
Dari sanalah Stella mulai merasakan kebencian pada ayahnya Ve yang tak lain adalah pemilik dari yayasan yang menaungi sekolah yang kini dia tempati untuk menuntut ilmu, sekaligus dalam rencana balas dendamnya. Stella tahu pemiliknya, Stella tahu kisah ayahnya, dan kemudian Stella merencanakan idenya untuk menghancurkan ayahnya Ve dengan melalui Ve sebagai alatnya.
Ia ingin melihat bagaimana hancurnya perasaan ayah Ve ketika anaknya yang akan membuat dia malu, Perlahan tapi pasti Stella merangsak dan mulai masuk di kehidupannya Ve dengan sebelumnya menyingkirkan Kinal, sahabatnya Ve. Dia membuat Ve tahu dunia malam, mabuk-mabukan, pulang pagi, dan Ve yang penurut bisa melawan ayahnya, meski Stella tahu cerita Ve yang tidak pernah mendapat perhatian dari orangtuanya yang super sibuk. sampai Ve di kenal sebagai pembuat onar hingga kepala sekolah sering melaporkan tingkah Ve yang berubah begitu drastis. Tidak jarang Ve terlihat sedang di marahi oleh ayahnya, dan setelah memarahi Ve ayahnya pasti memegangi dadanya. Itu membuat Stella cukup senang, dengan seperti itu Stella pikir ayahnya Ve bisa merasakan rasa sakit yang di alami oleh ayahnya sendiri.
Nabilah begitu dalam masuk di kehidupan Ve sampai dia jadi tahu bagaimana ke fiktipan persahabatan yang di buat oleh Stella meski dulunya mereka adalah teman; Ve begitu terkejut kaget saat mendengar cerita Stella, dia tidak pernah tahu akan kejadian itu, dan lebih ternyata, Stella itu adalah teman main, teman baik, dan…. Orang terdekat yang pernah Ve miliki waktu kecil untuk berbagi apapun. Meski Ve dulu sempat bertanya pada Ayahnya tentang keluarga Stella yang tidak pernah ada datang lagi ke rumah mereka, ayah hanya menjawab mereka punya kesibukan sendiri setelah usaha mereka maju. Ve tidak bisa bertanya apapun lagi hanya bisa menerima pernyataan ayahnya dengan berat hati karena tidak bisa lagi bertemu dengan Stella, papa dan mamanya yang sudah Ve anggap seperti orangtuanya sendiri.
Hingga tiba dia menginjak remaja dan masuk di sekolah yang didirikan ayahnya sendiri SMA Putri Jakarta, lalu Stella masuk dalam kehidupannya menggantikan Kinal dengan cara 'halusnya', Ve sama sekali tidak menyadari kalau itu adalah Stella teman mainnya waktu kecil.
“ja....di ini semua tentang balas dendam? Dan kak Stella, temenan sama kak Ve cuma buat ngerusak kebahagiaan dalam hidupnya kak Ve?! Karena ulah papanya kak Ve yang...,- apa kak Stella tahu? Kenapa dulu papanya kak Ve sama kak Stella jadi renggang dan akhirnya papa kak Stella di keluarkan dari kerjasama itu?”
Nabilah bicara dan bertanya begitu jelas, “dan... kakak semua yang bikin persahabatan antara kak Ve sama kak Kinal jadi berantakan dan berakhir dengan permusuhan yang di deklarasikan oleh kak Ve untuk kak Kinal?”
Stella masih mendiamkan Nabilah menanyainya, sampai akhirnya Nabilah menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan situasi yang sedang dia hadapi. Stella yang merasa hidupnya berantakan karena ulah papanya Ve yang Stella sendiri sebenarnya tidak begitu tahu alasan kenapa sampai papanya di tendang oleh papa Ve dalam kerjasamanya itu, Ve yang hanya korban.. dia mendapatkan banyak hal yang tidak menyenangkan dalam masalah yang dibuat Stella, papa mamanya yang semakin hari semakin jarang memperhatikan dia, teman-teman satu kelas bahkan satu sekolah dan satu yayasan (SMP SMA) membenci dia karena ulahnya yang jadi tidak menyenangkan, kehilangan sahabat baiknya yang sangat dia percaya, dan sekarang dia mungkin akan kehilangan dirinya sendiri dengan kebencian yang mengantarnya, apa yang Stella lakukan untuk balas dendam pada papanya Ve justru malah lebih banyak nyakitin Ve ketimbang papanya Ve sendiri (pikir Nabilah).
“kak Stella kok jahat sihh!” kata Nabilah tanpa ada rasa takut, Stella menatap Nabilah
“gue jahat? kalo gue jahat, gimana dengan papa nya Ve? Dengan Ve sendiri yang suka jahatin murid-murid disini!? Ck~ gak usah sok nilai deh kalau gak tahu!!” jelas Stella dengan tatapan dinginnya, Nabilah mengerung, Ve terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“kak Ve emang jahat, tapi dia jadi kayak gitu kan karena kak Stella sama yang lainnya juga! Bukan karena kemauan sendiri!!”
Stella terlihat geram dengan pernyataan Nabilah yang membela Ve “lagian, kak Stella kan dendam sama papanya, kenapa harus lampiasin nya sama kak Ve!? Dan... kak Ve itu kan teman main kakak waktu kecil, kok kakak tega sih berbuat hal seperti itu?” Stella semakin geram.
“eh denger ya? Lu bisa ngomong kayak gitu, karena lu gak ada di posisi gue! Lu gak tau kan gimana rasanya saat kehidupan lu lagi tenang, tiba-tiba bokap lu jatuh sakit terus nyokap lu ninggalin lu gitu aja!!” Nabilah melihat Stella yang terlihat sedih, Dhike memegang pundak Stella memberikan semangatnya (Dhike itu sahabat Stella dari SMP, dia sangat tahu tentang Stella), Ve bisa merasakan apa yang Stella rasa, dia tidak menyalahkan Stella untuk hal yang membuat dirinya berubah, dia justru merasa bersalah karena tidak tahu akan kejadian antara orang tua mereka.
“lu ataupun Ve bahkan bokapnya Ve, gak akan pernah bisa ngerasain rasa sakit yang ada dalam hati gue! Gue cuma seorang anak, yang akan merasa sakit ketika ayah atau ibunya di sakiti, dan gue cuma mau orang itu (ayahnya Ve) merasakan apa yang gue rasa!” Stella berhenti sejenak "gue.. sakit ngeliat bokap gue sekarang gak berdaya dan gue merasakan sakit saat gue ditinggal sama nyokap gue gitu aja!!, dia pergi ninggalin bokap gue yang stroke dan ninggalin gue yang masih butuh perhatian dia! Apa lu pikir? Tindakan gue itu jahat?” Stella bertanya pada Nabilah yang masih menatapnya
“gue mau dia (papanya Ve) ngerasain gimana sakitnya kehilangan orang yang dia sayangi! Kalau Ve... mati, pasti nyokapnya akan marah terus-- dia pasti akan di tinggalin sama nyokapnya Ve, so.. kita impas, dia kehilangan Ve anak perempuannya yang dia sayangi dan juga istrinya! Sama kan kayak gue?!”
Ve kaget saat mendengar ucapan terakhir Stella, dia merasa sangat bodoh tidak tahu masalahnya lebih awal.
Nabilah merasa bingung, karena dia ada dalam 2keadaan yang ke2 nya sama-sama dalam lingkaran tersakiti. Nabilah tidak mau lagi bicara karena dia merasa ini bukan jalurnya, dia memang sedang menolong Ve tapi saat menghadapi Stella dan mendengar kisahnya... Nabilah tidak tahu harus berkata seperti apa.
“hmm~ hidup itu... keras! Kalau lu lembek dalam ngejalaninnya dan lambat dalam melakukan pergerakan, maka, lu... hidup Tidak untuk mendapat APAPUN, karena lu... cuma pecundang yang bersembunyi dibalik punggung orangtua lu!" Nabilah hanya diam mendengarkan curahan rasa sakit Stella, begitupun dengan Ve. "ketika seseorang mengambil kehidupan lu, lu harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik lu! Ketika seseorang membuat lu merasakan sakitnya menjalani kehidupan, maka lu harus bisa membuat dia yang bikin hidup lu sakit merasakan apa yang lu rasakan!!" Stella bicara begitu jelas tanpa ada keraguan, entah dia bicara apa tapi kata-katanya lebih menyiratkan luka yang dia derita sudah terlalu pedih sampai membuatnya tidak perlu berpikir 2,3,atau 4kali untuk melakukan tindakan 'dia nyuri dari kamu, kamu curi lagi.' balas dendam untuk membuat rasa sakitnya terobati.
"Haaah (Stella mendesah) lu gak seharusnya ada di garis ini Nabilah! Lu gak ada kaitannya dengan semua ini, tapi... saat lu masuk dan membuat pernyataan untuk meminta maaf pada murid-murid disini atas nama kakak SEPUPU lu (Ve), gue gak punya pilihan lain! Gue bakal bikin lu... angkat kaki dari sekolah ini, dan BERHENTI meminta maaf untuk si Ve dengan alasan agar dia bangun dari koma nya! Dia gak perlu lagi bangun dari tidurnya yang sekarang bukan?" Stella berhenti dengan melontarkan pertanyaan, Nabilah melirik sekilas ke arah Ve yang sedang menatap Stella dengan raut sedih, yang sebelumnya terpancar expresi bercampur di wajah kalem nya. Marah, sakit, benci, lalu sedih, setelah mendengar setiap ucapan-ucapan yang terlontar dari Stella.
Kediaman Nabilah membuat Stella kembali bicara dan menanyakan pertanyaan awalnya yang belum sempat di jawab Nabilah.
“kenapa diam? Lu gak mau ngomong lagi? Buat belain si Ve?” Nabilah mengalihkan matanya kearah Stella, masih dalam posisi bibirnya yang dia kunci rapat.; Dhike masih tetap diam.
“emm~ gak ada lagi yang perlu Nabilah omongin kak!”
dengan nada kalem Nabilah menjawab, dia ingin bisa segera pergi dari taman karena merasa kasihan pada Ve yang terlihat sakit.
“lu, masih harus ngomong, bukan untuk belain Ve. Tapi untuk menjawab pertanyaan gue tentang, kenapa lu minta maaf sama murid disini? Atas nama Ve!”
Nabilah bingung dengan pertanyaan Stella, apa harus dia katakan yang sebenarnya? Atau dia kembali tutupi dengan berbohong?. Tapi yang bertanya ini Stella, orang yang cukup tahu tentang Ve meski tidak semuanya. Ditambah lagi tadi Stella menanyakan kenapa dirinya mengaku sebagai Ve saat di aula. Nabilah berpikir (tentang kejadian di aula) begitu dalam untuk menjawab.
“diam lagi! Kenapa? Kenapa gak bisa selancar saat lu berbohong sama murid-murid disini, sebagai sepupunya Ve dan... sebagai Ve saat di aula?! Jawab?!” Stella kembali meneror.
*di aula, Ayana dan Gaby dengan bantuan senior yang tadi di mintai maaf. Melakukan perlawanan pada Yona dan Novinta yang menghalangi jalannya Ayana dan Gaby untuk mengikuti Stella dan Dhike yang menyeret Nabilah. Karena Yona dan Novinta dengan tegas dan beraninya melawan setiap ucapan yang di lontarkan senior lainnya, Ayana dan Gaby masih belum bisa melewati mereka. Sampai akhirnya ada seorang guru yang datang ke aula karena bell masuk istirahat sudah bunyi dari 1jam yang lalu, dan beberapa guru yang mengajar di beberapa kelas (SMP dan SMA) mengeluhkan tentang murid-murid yang di dalam buku absen tadi pagi hadir, tapi setelah istirahat mereka tidak ada masuk kelas. Melihat kedatangan guru itu, mereka yang terlibat adu mulut dan mereka yang dengan diamnya menyaksikan segera mengunci mulut mereka rapat, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan guru ataupun mengadukan Yona dan Novinta yang sedang melindungi Stella dan Dhike yang membawa Nabilah. Si guru terus bertanya ada apa? Kenapa kalian berkumpul di aula? Apa yang sedang kalian lakukan dan ahirnya dengan mengeluarkan ucapan maut nya, si guu berhasil membuka mulut murid-murid yang ada di aula.
“Ok! kalau kalian tidak ada yang mau bicara, dan menjelaskan apa yang sedang kalian lakukan! Maka..” guru itu berhenti sejenak dan melihat murid-muridnya satu-persatu “kalian semua, akan mendapat surat panggilan untuk orang tua kalian! Ibu akan suruh mereka datang ke sekolah dan.,-“ belum si guru menyelesaikan kalimatnya, satu murid berseragam SMA akhirnya buka mulut dan menceritakan semuanya... SEMUANYA dari saat di aula ketika Ve meminta maaf sampai akhirnya cerita Nabilah yang di bawa Stella dan Dhike.
Guru berperawakan tinggi kecil itu sempat kaget ketika mendengar Ve masuk dalam tubuh Nabilah si murid SMP dan meminta maaf, tapi dia bisa mengendalikan ke kagetannya dan tetap memancarkan kharismanya sebagai seorang pengajar.
“baiklah, kalian semua masuk kelas. Kecuali untuk.. Yona dan Novinta! Kalian ikut ibu, tunjukan kemana Stella membawa adik kelas kalian!!” katanya lalu memerintah.
Ayana dan Gaby segera melontarkan pernyataan agar bisa ikut dengan si guru untuk melihat Nabilah.
“bu, kita ikut! Kita juga mau lihat teman kita yang di bawa sama kak Stella!!” kata Ayana
“iya bu, kami mau ikut! Kami khawatir dengan Nabilah, karena tadi..,-“ Gaby terhenti karena tidak sengaja dia melihat tatapan Yona yang mengintimidasi
“tadi apa?.... Gaby!” tanya guru dengan melihat papan nama Gaby, Gaby menekan rasa takutnya dan memberanikan diri untuk melanjutan kata-katanya karena di pikirannya masih jelas wajah Nabilah yang pucat dan kesakitan saat di bawa Stella
“tadi.. kak Stella menyeret Nabilah dengan kasar bu!” katanya sambil menunduk, si guru melebarkan kedua bola matanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, guru dan ke4 muridnya itu pergi dengan Yona sebagai penunjuk jalan ke tempat Stella membawa Nabilah. Yona tahu tempatnya karena sesuai rencana dari Stella, mereka bertiga akan membawa Nabilah dari kelas ke taman labirin untuk mengintrogasi dia.
“Nabilah... Nabilah emang lagi bantuin kak Ve!~” Nabilah mulai bicara untuk menjawab Stella “sebenarnya... Nabilah... bantuin kak Ve karena....” Nabilah melihat dulu kearah Ve, saat dia akan melanjutkan ucapannya dan berniat membuka semua cerita di balik aksi permintan maafnya untuk Ve pada Stella, agar teman kecil Ve itu tahu bagaimana tersiksanya Ve hingga dia harus mengalami hal mengerikan, yaitu ada diambang hidup dan mati. Tiba-tiba kedua matanya melebar, Nabilah merasakan sesuatu masuk dengan paksa kedalam tubuhnya, dia terlihat kesakitan lalu detik berikutnya... dia menunduk sejenak, Stella dan Dhike terkejut dengan adegan yang mereka lihat, lalu mereka menjadi lebih terkejut ketika mendengar suara Nabilah berubah menjadi suara yang tidak asing di telinga mereka.
“dia meminta maaf karena aku meminta bantuannya!” kata Ve melanjutkan ucapan Nabilah.
“V-Vveee..” suara Stella terdengar ketakutan, dan wajah Dhike tak kalah takutnya dengan suara Stella.
“awalnya... aku pikir, semua ini tentang permintaan maaf pada teman-teman disini yang pernah aku sakiti. Tapi ternyata aku salah, aku salah mengartikan apa yang dia bicarakan waktu itu!”
-Flashback On-
“bagaiman rasanya? Ada di dunia dengan keadaan, kamu bisa melihat orang-orang tapi mereka tidak bisa melihat ataupun merasakan adanya kamu?” suara seorang perempuan dengan wajah yang begitu menentramkan dan suara yang lembut penuh kharisma. Ve hanya bisa mengerung, karena tidak mengerti dengn apa yang di ucapkan perempuan yang ada di hadapannya yang sedang melihat kerungan di keningnya.
“kamu tahu? Jessica Veranda. Kamu itu, orang yang paling beruntung karena masih mendapat kesempatan kedua untuk bisa tahu tentang apa yang terjadi di sekitar kamu. Agar kamu bisa kembali menjadi kamu yang seharusnya! Dan kamu... bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi!! Ini semua tentang kamu.” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Ve “kamu... punya waktu 48jam untuk bisa pergi dari dunia ini, 48nama akan menjadi jalan kamu! Gunakanlah baik-baik, kembali pakailah hati kamu saat berhadapan dengan orang lain, Jessica!” ucapan terakhirnya, lalu pergi meninggalkan Ve yang masih bingung..
-FlashBack Off-
“48nama itu... bukan jalan ku untuk pulang, tapi ternyata... jalanku untuk akhirnya tahu sebuah kisah, sebuah cerita dari sahabat kecilku! 48jam itu... waktu ku untuk akhirnya menyadari siapa aku sebenarnya! Ini semua... memang tentang diriku!!”
Nabilah yang kembali di pinjami tubuhnya oleh Ve menatap Stella; Stella balik menatap dia bukan sebagai Nabilah tapi sebagai Ve; Dhike hanya menyimak dengan ketegangan di wajahnya.
“sebuah kepedihan yang aku tidak pernah tahu. Sementara kamu berjuang melawan rasa sedih kamu, aku bisa dengan biasanya menjalani kehidupanku, sebagai gadis remaja yang terus tumbuh dalam semua fasilitas yang papa kasih meski papa dan mama jarang ada di rumah, tapi kamu...” Nabila (Ve) menitikan air matanya “maafkan aku Stella.. maafkan papa ku?” Nabilah (Ve) menunduk “harusnya aku tahu, kenapa dulu kamu, papa kamu dan juga mama kamu tidak pernah datang lagi ke rumah? Harusnya dulu... aku terus mendesak papa untuk memberitahukan ku alasan kalian pindah rumah, alasan Papa, mama kamu membawa kamu pergi tanpa pamit atau apapun! Harusnya aku tahu, dan... saat kita kembali dipertemukan dalam satu kelas, harusnya aku sadar dan tahu kamu itu Stella, Stella yang waktu kecil selalu membelaku dari gangguan teman-teman lainnya ketika kita bermain ditaman, Stella... yang selalu menjagaku, memperhatikanku dan menyayangiku sebagai sahabat, sebagai adik, Stella yang sudah aku anggap sebagai kakak ku!... maafin aku yang gak bisa langsung sadar akan kesakitan yang kamu derita!! maaaf..---- maaaaf“
Stella diam termangu ketika mendengar ucapan dari Ve yang membuat pikirannya kembali bermain di masa lalu.
Nabilah (Ve) kembali mengangkat wajahnya, kini dia berjalan mendekati Stella lalu... Dia memeluk Stella dengan kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang Stella
“Aku tidak tahu, apa aku bisa kembali dari dunia ku yang sekarang (hidup lagi), tapi satu hal yang aku tahu.. Stella tidak pernah berubah untuk ku, kamu tetap Stella yang selalu menyayangiku dan menjagaku, meski dengan cara seperti itu! Aku tidak marah dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan menjadikanku alat untuk balas dendam, karena dengan itu aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi!! Aku minta Maaf------ maafkan aku… maafkan papa ku…" kembali kata maaf menjadi kata terakhir Ve dan... dia pun akhirnya keluar dari tubuh Nabilah karena waktunya sudah habis bahkan lebih sedikit dari yang seharusnya.
Stella yang tidak membalas balik pelukan Nabilah (Ve) karena pikirannya begitu sibuk memutar kenangan dulunya bahkan kenangan saat mereka menghabisan waktu sebagai geng populer dan dikenal sebagai geng bully paling di takuti. Stella memang selalu merasa tersiksa dengan apa yang sedang dia lakukan pada Ve tapi saat mengingat kondisi ayahnya dan ibunya yang entah kemana, dengan cepat Stella menepis rasa sedih dan bersalahnya pada Ve yang juga sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, dan Stella terus melanjutkan rencana balas dendamnya. Stella merasakan tubuh Nabilah akan ambruk dari posisi memeluknya karena tangan Nabilah mengendur, segera Stella mencoba menopang tubuh Nabilah agar tidak langsung jatuh ke tanah dengan kasar. “Ve.. kamu gak apa-apa?” suara Stella keluar setelah tadi dia hanya bisa termangu. Nabilah memegangi kepalanya yang terasa pusing, dan Ve melihat dari sampingnya dengan dia ikut berjongkok untuk melihat kondisi Nabilah
“Nabilah... kamu gak apa-apa?” tanya Ve
“maafin aku Ve” ucap Stella terdengar menyesal
“maafin kak Ve ya Bil..” keduanya meminta maaf pada Nabilah yang masih mencoba untuk membuka matanya. “Bil, Nabilah.. Jawab kak Ve? Kamu gak apa-apa kan?” Ve terdengar sangat khawatir, karena dia kembali memakai tubuh Nabilah dalam kurun waktu yang tidak begitu jauh dan kali ini dia diam di tubuh Nabilah lebih dari waktu yang seharusnya. Nabilah masih meraih tingkat kesadarannya (Nabilah menopang tubuhnya dengan kedua lututnya posisi duduk ala orang japan sambil meremas kepalanya yang pusing; Stella ada di depannya; Ve ada di sebelah Nabilah dan Stella; Dhike masih diam terpaku mencerna apa yang baru saja terjadi dengan wajah cengo).
Nabilah bisa membuka matanya dengan rasa pusing yang mulai berkurang, saat dia melihat ke depan, Nabilah terkejut dan dengan reflek dia jadi tersungkur kebelakang, kini posisinya Nabilah jadi menopang badan dengan kedua tangan sebagai tumpuan kebelakang sebagai penahan agar punggungnya tidak berakhir di tanah "kak-kak Ste..lla!" ucap Nabilah. Stella baru setengah berdiri maksudnya akan membantu Nabilah berdiri. Tapi, belum dia melakukan tindakannya...
“Nabilahhhh” terdengar suara Ayana diikuti Gaby dengan mereka berlari kecil kearah sahabatnya yang terlihat mencemaskan, guru, Novinta dan Yona ikut berlari kecil. Nabilah melihat kearah mereka dengan kerungan di alis matanya untuk mengenali siapa saja yang sedang berlari kearahnya.
Posisi yang sedang Nabilah, Stella dan Dhike perlihatkan sontak memunculkan pemikiran bahwa Nabilah kemunginan di dorong oleh Stella dan pikiran jelek lainnya kalau Stella dan Dhike sedang memperlakukan Nabilah tidak pada tempatnya (dipikir Nabilah sampah!)
“apa-apaan ini... Stella? Dhike? Kalian sedang melakukan apa pada adik kelas kalian ini?!” tanya guru setelah sampai di dekat Nabilah, Stella dan Dhike
“ib-ibuuu.. bu Anggrek? Ke-kenaaapa?,-" Dhike terbata lalu melihat kearah Yona dan Novinta, Stella tidak bicara.
“kenapa? Kenapa ibu bisa tahu kalian disini?” guru yang tak lain adalah wali kelas dari Dhike, Stella dan juga Yona itu menembak Dhike dengan pernyataannya. “kalian itu.. mau sampai kapan seperti ini! Ibu sudah capek dengan tingkah kalian yang seperti anak kecil!!” Stella, Dhike, Yona, Novinta (dan Ve) mendengarkan ucapan guru mereka, dengan Stella terus mencoba melihat kearah Nabilah yang masih dia pikir ada Ve di tubuhnya Nabilah; Ayana dan Gaby sudah di dekat Nabilah dan membantunya untuk berdiri “kamu gak apa-apa, Bil?” bisik Gaby, Nabilah menggeleng menggantikan kerja mulutnya untuk bicara memberitahukan pada sahabtnya kalau dia tidak apa-apa.
“sekarang! Kalian.. ikut ibu ke ruang guru!! Dan kamu.. (menunjuk Novinta) ikut juga, nanti akan ibu serahkan kamu pada wali kelas kamu!!!” bu Guru kemudian mengalihkan pandangannya pada murid SMP lainnya
“kamu tidak apa-apa, nak?” tanya bu Anggrek lembut, Nabilah kembali menggeleng untuk menjawab pertanyaan ‘tidak apa-apa?’, karena Nabilah merasa bingung dengan situasinya seperti saat tadi dari aula. “kalian (Ayana dan Gaby) bisa bantu ibu? untuk bawa teman kalian langsung ke UKS! Nanti biar ibu ijinkan kalian pada wali kelas kalian! Kalian dari kelas berapa?” ucap bu Anggrek karena melihat wajah Nabilah yang pucat. Gaby dan Ayana langsung mengangguk dan menyebutkan kelas serta nama wali kelasnya.
Ve yang masih mencemaskan kondisi tubuh Nabilah, kini juga mencemaskan Stella yang digiring ke ruang guru, meski ini bukan untuk yang pertama kalinya mereka di bawa keruang guru karena urusan bully-membully tapi ini untuk pertama kalinya mereka keruang guru tanpa dirinya yang biasanya menjadi tameng dan akhirnya Stella, Dhike dan Yona bebas dari hukuman. Tapi Ve akhirnya lebih memilih untuk pergi dengan Ayana dan Gaby yang mengantarkan Nabilah ke ruang UKS. Sampai di UKS, Nabilah diperiksa oleh perawat yang ada di ruangan yang kental dengan nuansa warna putih dan bau obat menyelimuti ruangan yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu besar juga. Ayana dan Gaby duduk melihat Nabilah yang sedang diperiksa, beberapa menit lamanya perawat itu pun selesai dan bicara pada Nabilah
“kamu mengalami kelelahan berlebihan, itu yang membuat wajah kamu pucat, ibu akan kasih kamu vitamin setelah itu kamu istirahtkan dulu tubuh kamu disini, masih cukup banyak waktu sebelum bell pulang untuk kamu bisa tidur dan memulihkan kondisi kamu!” lalu berjalan kedekat lemari yang berisi obat-obat dan mengambil satu tablet vitamin, setelah Nabilah meminumnya perawat masih saja bicara “sebaiknya kamu jangan begadang, karena sepertinya itu yang menjadi penyebab utama kamu mengalami kelelahan. kamu itu masih kecil.. kasihan tubuh kamu, kalau kelelahan seperti ini sering terjadi dan intens bisa-bisa kamu kena,---“ ucapan selanjutnya dari perawat tidak lagi bisa Nabilah dengar dengan jelas, karena dia sudah tertidur, bukan hanya karena efek dari obat yang diberikan perawat saja tapi karena Nabilah memang merasakan kelelahan yang amat sangat.
Ayana dan Gaby pun pamit pada perawat untuk balik ke kelas dan menitipkan Nabilah agar dijaga, karena mereka tidak enak takut mengganggu Nabilah, belum lagi mereka masih ada sisa kelas yang harus diikuti.
“makasih, suster... pulang sekolah nanti kita jemput Nabilah, minta tolong jagain teman kami ya suster?!” kata Ayana dengan sopannya, perawat itu tersenyum dan mengangguk.
Ayana dan Gaby pun pergi dari UKS, hanya ada perawat, Nabilah yang terbaring dibangsal dan Ve yang duduk di sebelah bangsal tempat Nabilah istirahat. Ve memperhatikan wajah Nabilah, dia tersenyum melihat Nabilah yang terlihat kelelahan di hari terakhirnya dalam waktu 48jam. Setelah Ve menyadari tentang pesan dari wanita yang waktu itu bicara padanya. Ia sadar, mungkin... 48jam itu tidak akan ada untuknya, mungkin... 48jam dan 48nama itu hanya dorongan untuknya bangkit dari rasa takut karena stuck di satu dunia yang dia sendiri tidak tahu, 48jam 48nama bukan jalan untuknya bisa kembali dari koma dan hidup lagi seperti biasanya (mungkinkah?... pikir Ve).
“kalau akhirnya... kak Ve harus meninggal, kak Ve tidak akan marah sama Tuhan, kak Ve tidak akan marah sama kehidupan, dan kak Ve... tidak akan merasakan penyesalan, karena kakak tahu apa tujuan sebenarnya semua ini terjadi pada kakak!” ucapnya pada Nabilah yang sedang tidur “kak Ve gak akan lupain kamu, Bil. Kamu itu... penolong kakak dan kak Ve (Ve menunduk) kak Ve bahagia dengan semua ini! Makasih ya dek, makasih untuk bantuan kamu buat kakak!!” Ve menyeka tetesan air yang keluar dari kelopak matanya. Kemudian, samar-samar, Ve melihat tubuhnya transparan~ lalu biasa lagi, dan... terlihat transparan lagi~ kemudian biasa lagi.
“Hah (senyum sinis) Sahabat? Gue? (sambil nunjuk dirinya sendiri) Sama si Ve? Haha...” Stella tertawa sebelum melanjutkan kata-katanya; Ve memperhatikan tingkah Stella; Nabilah heran dengan kakak kelas yang lagi ada di depannya ini. “lu denger Key? anak ini bilang Gue, lu, Kita sahabat nya si Ve! HAHA~” dengan nada mencibir Stella melanjutkan kata-katanya, Dhike ikut tertawa menemani Stella. “heh! Kata siapa gue sama si Veranda itu sahabatan hah?... Jangan sok tahu kalau jadi anak!” Stella berhenti tertawa dan kembali bicara dengan nada serius penuh amarah.
Ve mengerung saat mendengar ucapan Stella ‘apa maksud ucapan Stella?’ ‘kenapa dia bicara seperti itu?’ bisik Ve yang terdengar jelas oleh Nabilah, Nabilah melirik sekilas pada Ve.
“di sekolah ini... siapa yang gak tahu sama persahabatan kakak, kak Dhike, kak Yona sama kak Ve, yang... suka banget ngerjain murid lain!?” ujar Nabilah (dia kini sudah kembali mempunyai energi dan bisa melawan Stella karena gerah dengan kata-katanya Stella yang bikin greget)
“Haha.. pengaruh Ve, eh-- bukan! Tapi pengaruh bokap dan nyokapnya, di sekolah ini. memang bisa bikin gue, Dhike dan juga Yona tenar! Dan si Ve yang polos, bisa dengan mudah gue manfaatin!!” kata Stella yang belum Nabilah pahami. “lu mau tahu? kisah gue, Dhike, Yona sama Ve? Hmm~ lu pasti mau tahu kan?!” Nabilah hanya bisa merapatkan alis matanya melihat Stella. “gue... sama si Veranda itu gak pernah nganggep dia SAHABAT, gue, Dhike sama Yona, itulah sahabat! Sementara Ve, dia cuma alat buat gue!” Nabilah semakin dalam merapatkan alis matanya dan Ve begitu terkejut saat mendengar hal itu. “dia cuma alat buat gue balas dendam sama bokapnya dia yang udah bikin keluarga gue jatuh! Dan bikin bokap gue di rawat karena kena serangan jantung!!” Stella terdengar marah bercampur sedih. Dia terus menjelaskan pada Nabilah tentang kenapa dia menjadikan Ve alat untuk balas dendam.
Ayah Stella dan Ve, dulu mereka pernah menjalin kerjasama dalam membangun sebuah usaha. Keduanya begitu kental dalam jalinan persahabatan dan membangun suatu usaha sampai akhirnya usaha mereka berkembang pesat, Ve dan Stella berteman juga karena seringnya pertemuan di antara keluarga mereka. keduanya terlihat tidak hanya seperti sahabat tapi juga sudah seperti saudara. Tapi kemudian ketika Ve dan juga Stella masuk ke Sekolah Dasar kelas 4, kedua ayah mereka mulai terlihat renggang sampai terjadi perpecahan karena Ayahnya Ve menendang Ayahnya Stella dalam bisnis mereka dan hanya memberikan 5persen bagian dari dulu saat membangun usaha. Ayah Stella pun membangun usahanya sendiri hingga, ketika Ve dan Stella mulai memasuki bangku Menengah Atas. mereka bertemu dalam sebuah perebutan project, namun ayahnya Stella kalah sampai membuat perusahaannya collapse dan ia sendiri masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung. Kini keluarga Stella hidup dalam kesederhanaan yang begitu sederhana, setelah serangan jantung, ayahnya terkena stroke dan ibunya pergi meninggalkan Stella dan juga ayahnya.
Dari sanalah Stella mulai merasakan kebencian pada ayahnya Ve yang tak lain adalah pemilik dari yayasan yang menaungi sekolah yang kini dia tempati untuk menuntut ilmu, sekaligus dalam rencana balas dendamnya. Stella tahu pemiliknya, Stella tahu kisah ayahnya, dan kemudian Stella merencanakan idenya untuk menghancurkan ayahnya Ve dengan melalui Ve sebagai alatnya.
Ia ingin melihat bagaimana hancurnya perasaan ayah Ve ketika anaknya yang akan membuat dia malu, Perlahan tapi pasti Stella merangsak dan mulai masuk di kehidupannya Ve dengan sebelumnya menyingkirkan Kinal, sahabatnya Ve. Dia membuat Ve tahu dunia malam, mabuk-mabukan, pulang pagi, dan Ve yang penurut bisa melawan ayahnya, meski Stella tahu cerita Ve yang tidak pernah mendapat perhatian dari orangtuanya yang super sibuk. sampai Ve di kenal sebagai pembuat onar hingga kepala sekolah sering melaporkan tingkah Ve yang berubah begitu drastis. Tidak jarang Ve terlihat sedang di marahi oleh ayahnya, dan setelah memarahi Ve ayahnya pasti memegangi dadanya. Itu membuat Stella cukup senang, dengan seperti itu Stella pikir ayahnya Ve bisa merasakan rasa sakit yang di alami oleh ayahnya sendiri.
Nabilah begitu dalam masuk di kehidupan Ve sampai dia jadi tahu bagaimana ke fiktipan persahabatan yang di buat oleh Stella meski dulunya mereka adalah teman; Ve begitu terkejut kaget saat mendengar cerita Stella, dia tidak pernah tahu akan kejadian itu, dan lebih ternyata, Stella itu adalah teman main, teman baik, dan…. Orang terdekat yang pernah Ve miliki waktu kecil untuk berbagi apapun. Meski Ve dulu sempat bertanya pada Ayahnya tentang keluarga Stella yang tidak pernah ada datang lagi ke rumah mereka, ayah hanya menjawab mereka punya kesibukan sendiri setelah usaha mereka maju. Ve tidak bisa bertanya apapun lagi hanya bisa menerima pernyataan ayahnya dengan berat hati karena tidak bisa lagi bertemu dengan Stella, papa dan mamanya yang sudah Ve anggap seperti orangtuanya sendiri.
Hingga tiba dia menginjak remaja dan masuk di sekolah yang didirikan ayahnya sendiri SMA Putri Jakarta, lalu Stella masuk dalam kehidupannya menggantikan Kinal dengan cara 'halusnya', Ve sama sekali tidak menyadari kalau itu adalah Stella teman mainnya waktu kecil.
“ja....di ini semua tentang balas dendam? Dan kak Stella, temenan sama kak Ve cuma buat ngerusak kebahagiaan dalam hidupnya kak Ve?! Karena ulah papanya kak Ve yang...,- apa kak Stella tahu? Kenapa dulu papanya kak Ve sama kak Stella jadi renggang dan akhirnya papa kak Stella di keluarkan dari kerjasama itu?”
Nabilah bicara dan bertanya begitu jelas, “dan... kakak semua yang bikin persahabatan antara kak Ve sama kak Kinal jadi berantakan dan berakhir dengan permusuhan yang di deklarasikan oleh kak Ve untuk kak Kinal?”
Stella masih mendiamkan Nabilah menanyainya, sampai akhirnya Nabilah menggelengkan kepala tidak habis pikir dengan situasi yang sedang dia hadapi. Stella yang merasa hidupnya berantakan karena ulah papanya Ve yang Stella sendiri sebenarnya tidak begitu tahu alasan kenapa sampai papanya di tendang oleh papa Ve dalam kerjasamanya itu, Ve yang hanya korban.. dia mendapatkan banyak hal yang tidak menyenangkan dalam masalah yang dibuat Stella, papa mamanya yang semakin hari semakin jarang memperhatikan dia, teman-teman satu kelas bahkan satu sekolah dan satu yayasan (SMP SMA) membenci dia karena ulahnya yang jadi tidak menyenangkan, kehilangan sahabat baiknya yang sangat dia percaya, dan sekarang dia mungkin akan kehilangan dirinya sendiri dengan kebencian yang mengantarnya, apa yang Stella lakukan untuk balas dendam pada papanya Ve justru malah lebih banyak nyakitin Ve ketimbang papanya Ve sendiri (pikir Nabilah).
“kak Stella kok jahat sihh!” kata Nabilah tanpa ada rasa takut, Stella menatap Nabilah
“gue jahat? kalo gue jahat, gimana dengan papa nya Ve? Dengan Ve sendiri yang suka jahatin murid-murid disini!? Ck~ gak usah sok nilai deh kalau gak tahu!!” jelas Stella dengan tatapan dinginnya, Nabilah mengerung, Ve terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“kak Ve emang jahat, tapi dia jadi kayak gitu kan karena kak Stella sama yang lainnya juga! Bukan karena kemauan sendiri!!”
Stella terlihat geram dengan pernyataan Nabilah yang membela Ve “lagian, kak Stella kan dendam sama papanya, kenapa harus lampiasin nya sama kak Ve!? Dan... kak Ve itu kan teman main kakak waktu kecil, kok kakak tega sih berbuat hal seperti itu?” Stella semakin geram.
“eh denger ya? Lu bisa ngomong kayak gitu, karena lu gak ada di posisi gue! Lu gak tau kan gimana rasanya saat kehidupan lu lagi tenang, tiba-tiba bokap lu jatuh sakit terus nyokap lu ninggalin lu gitu aja!!” Nabilah melihat Stella yang terlihat sedih, Dhike memegang pundak Stella memberikan semangatnya (Dhike itu sahabat Stella dari SMP, dia sangat tahu tentang Stella), Ve bisa merasakan apa yang Stella rasa, dia tidak menyalahkan Stella untuk hal yang membuat dirinya berubah, dia justru merasa bersalah karena tidak tahu akan kejadian antara orang tua mereka.
“lu ataupun Ve bahkan bokapnya Ve, gak akan pernah bisa ngerasain rasa sakit yang ada dalam hati gue! Gue cuma seorang anak, yang akan merasa sakit ketika ayah atau ibunya di sakiti, dan gue cuma mau orang itu (ayahnya Ve) merasakan apa yang gue rasa!” Stella berhenti sejenak "gue.. sakit ngeliat bokap gue sekarang gak berdaya dan gue merasakan sakit saat gue ditinggal sama nyokap gue gitu aja!!, dia pergi ninggalin bokap gue yang stroke dan ninggalin gue yang masih butuh perhatian dia! Apa lu pikir? Tindakan gue itu jahat?” Stella bertanya pada Nabilah yang masih menatapnya
“gue mau dia (papanya Ve) ngerasain gimana sakitnya kehilangan orang yang dia sayangi! Kalau Ve... mati, pasti nyokapnya akan marah terus-- dia pasti akan di tinggalin sama nyokapnya Ve, so.. kita impas, dia kehilangan Ve anak perempuannya yang dia sayangi dan juga istrinya! Sama kan kayak gue?!”
Ve kaget saat mendengar ucapan terakhir Stella, dia merasa sangat bodoh tidak tahu masalahnya lebih awal.
Nabilah merasa bingung, karena dia ada dalam 2keadaan yang ke2 nya sama-sama dalam lingkaran tersakiti. Nabilah tidak mau lagi bicara karena dia merasa ini bukan jalurnya, dia memang sedang menolong Ve tapi saat menghadapi Stella dan mendengar kisahnya... Nabilah tidak tahu harus berkata seperti apa.
“hmm~ hidup itu... keras! Kalau lu lembek dalam ngejalaninnya dan lambat dalam melakukan pergerakan, maka, lu... hidup Tidak untuk mendapat APAPUN, karena lu... cuma pecundang yang bersembunyi dibalik punggung orangtua lu!" Nabilah hanya diam mendengarkan curahan rasa sakit Stella, begitupun dengan Ve. "ketika seseorang mengambil kehidupan lu, lu harus ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik lu! Ketika seseorang membuat lu merasakan sakitnya menjalani kehidupan, maka lu harus bisa membuat dia yang bikin hidup lu sakit merasakan apa yang lu rasakan!!" Stella bicara begitu jelas tanpa ada keraguan, entah dia bicara apa tapi kata-katanya lebih menyiratkan luka yang dia derita sudah terlalu pedih sampai membuatnya tidak perlu berpikir 2,3,atau 4kali untuk melakukan tindakan 'dia nyuri dari kamu, kamu curi lagi.' balas dendam untuk membuat rasa sakitnya terobati.
"Haaah (Stella mendesah) lu gak seharusnya ada di garis ini Nabilah! Lu gak ada kaitannya dengan semua ini, tapi... saat lu masuk dan membuat pernyataan untuk meminta maaf pada murid-murid disini atas nama kakak SEPUPU lu (Ve), gue gak punya pilihan lain! Gue bakal bikin lu... angkat kaki dari sekolah ini, dan BERHENTI meminta maaf untuk si Ve dengan alasan agar dia bangun dari koma nya! Dia gak perlu lagi bangun dari tidurnya yang sekarang bukan?" Stella berhenti dengan melontarkan pertanyaan, Nabilah melirik sekilas ke arah Ve yang sedang menatap Stella dengan raut sedih, yang sebelumnya terpancar expresi bercampur di wajah kalem nya. Marah, sakit, benci, lalu sedih, setelah mendengar setiap ucapan-ucapan yang terlontar dari Stella.
Kediaman Nabilah membuat Stella kembali bicara dan menanyakan pertanyaan awalnya yang belum sempat di jawab Nabilah.
“kenapa diam? Lu gak mau ngomong lagi? Buat belain si Ve?” Nabilah mengalihkan matanya kearah Stella, masih dalam posisi bibirnya yang dia kunci rapat.; Dhike masih tetap diam.
“emm~ gak ada lagi yang perlu Nabilah omongin kak!”
dengan nada kalem Nabilah menjawab, dia ingin bisa segera pergi dari taman karena merasa kasihan pada Ve yang terlihat sakit.
“lu, masih harus ngomong, bukan untuk belain Ve. Tapi untuk menjawab pertanyaan gue tentang, kenapa lu minta maaf sama murid disini? Atas nama Ve!”
Nabilah bingung dengan pertanyaan Stella, apa harus dia katakan yang sebenarnya? Atau dia kembali tutupi dengan berbohong?. Tapi yang bertanya ini Stella, orang yang cukup tahu tentang Ve meski tidak semuanya. Ditambah lagi tadi Stella menanyakan kenapa dirinya mengaku sebagai Ve saat di aula. Nabilah berpikir (tentang kejadian di aula) begitu dalam untuk menjawab.
“diam lagi! Kenapa? Kenapa gak bisa selancar saat lu berbohong sama murid-murid disini, sebagai sepupunya Ve dan... sebagai Ve saat di aula?! Jawab?!” Stella kembali meneror.
*di aula, Ayana dan Gaby dengan bantuan senior yang tadi di mintai maaf. Melakukan perlawanan pada Yona dan Novinta yang menghalangi jalannya Ayana dan Gaby untuk mengikuti Stella dan Dhike yang menyeret Nabilah. Karena Yona dan Novinta dengan tegas dan beraninya melawan setiap ucapan yang di lontarkan senior lainnya, Ayana dan Gaby masih belum bisa melewati mereka. Sampai akhirnya ada seorang guru yang datang ke aula karena bell masuk istirahat sudah bunyi dari 1jam yang lalu, dan beberapa guru yang mengajar di beberapa kelas (SMP dan SMA) mengeluhkan tentang murid-murid yang di dalam buku absen tadi pagi hadir, tapi setelah istirahat mereka tidak ada masuk kelas. Melihat kedatangan guru itu, mereka yang terlibat adu mulut dan mereka yang dengan diamnya menyaksikan segera mengunci mulut mereka rapat, tidak ada yang berani menjawab pertanyaan guru ataupun mengadukan Yona dan Novinta yang sedang melindungi Stella dan Dhike yang membawa Nabilah. Si guru terus bertanya ada apa? Kenapa kalian berkumpul di aula? Apa yang sedang kalian lakukan dan ahirnya dengan mengeluarkan ucapan maut nya, si guu berhasil membuka mulut murid-murid yang ada di aula.
“Ok! kalau kalian tidak ada yang mau bicara, dan menjelaskan apa yang sedang kalian lakukan! Maka..” guru itu berhenti sejenak dan melihat murid-muridnya satu-persatu “kalian semua, akan mendapat surat panggilan untuk orang tua kalian! Ibu akan suruh mereka datang ke sekolah dan.,-“ belum si guru menyelesaikan kalimatnya, satu murid berseragam SMA akhirnya buka mulut dan menceritakan semuanya... SEMUANYA dari saat di aula ketika Ve meminta maaf sampai akhirnya cerita Nabilah yang di bawa Stella dan Dhike.
Guru berperawakan tinggi kecil itu sempat kaget ketika mendengar Ve masuk dalam tubuh Nabilah si murid SMP dan meminta maaf, tapi dia bisa mengendalikan ke kagetannya dan tetap memancarkan kharismanya sebagai seorang pengajar.
“baiklah, kalian semua masuk kelas. Kecuali untuk.. Yona dan Novinta! Kalian ikut ibu, tunjukan kemana Stella membawa adik kelas kalian!!” katanya lalu memerintah.
Ayana dan Gaby segera melontarkan pernyataan agar bisa ikut dengan si guru untuk melihat Nabilah.
“bu, kita ikut! Kita juga mau lihat teman kita yang di bawa sama kak Stella!!” kata Ayana
“iya bu, kami mau ikut! Kami khawatir dengan Nabilah, karena tadi..,-“ Gaby terhenti karena tidak sengaja dia melihat tatapan Yona yang mengintimidasi
“tadi apa?.... Gaby!” tanya guru dengan melihat papan nama Gaby, Gaby menekan rasa takutnya dan memberanikan diri untuk melanjutan kata-katanya karena di pikirannya masih jelas wajah Nabilah yang pucat dan kesakitan saat di bawa Stella
“tadi.. kak Stella menyeret Nabilah dengan kasar bu!” katanya sambil menunduk, si guru melebarkan kedua bola matanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, guru dan ke4 muridnya itu pergi dengan Yona sebagai penunjuk jalan ke tempat Stella membawa Nabilah. Yona tahu tempatnya karena sesuai rencana dari Stella, mereka bertiga akan membawa Nabilah dari kelas ke taman labirin untuk mengintrogasi dia.
“Nabilah... Nabilah emang lagi bantuin kak Ve!~” Nabilah mulai bicara untuk menjawab Stella “sebenarnya... Nabilah... bantuin kak Ve karena....” Nabilah melihat dulu kearah Ve, saat dia akan melanjutkan ucapannya dan berniat membuka semua cerita di balik aksi permintan maafnya untuk Ve pada Stella, agar teman kecil Ve itu tahu bagaimana tersiksanya Ve hingga dia harus mengalami hal mengerikan, yaitu ada diambang hidup dan mati. Tiba-tiba kedua matanya melebar, Nabilah merasakan sesuatu masuk dengan paksa kedalam tubuhnya, dia terlihat kesakitan lalu detik berikutnya... dia menunduk sejenak, Stella dan Dhike terkejut dengan adegan yang mereka lihat, lalu mereka menjadi lebih terkejut ketika mendengar suara Nabilah berubah menjadi suara yang tidak asing di telinga mereka.
“dia meminta maaf karena aku meminta bantuannya!” kata Ve melanjutkan ucapan Nabilah.
“V-Vveee..” suara Stella terdengar ketakutan, dan wajah Dhike tak kalah takutnya dengan suara Stella.
“awalnya... aku pikir, semua ini tentang permintaan maaf pada teman-teman disini yang pernah aku sakiti. Tapi ternyata aku salah, aku salah mengartikan apa yang dia bicarakan waktu itu!”
-Flashback On-
“bagaiman rasanya? Ada di dunia dengan keadaan, kamu bisa melihat orang-orang tapi mereka tidak bisa melihat ataupun merasakan adanya kamu?” suara seorang perempuan dengan wajah yang begitu menentramkan dan suara yang lembut penuh kharisma. Ve hanya bisa mengerung, karena tidak mengerti dengn apa yang di ucapkan perempuan yang ada di hadapannya yang sedang melihat kerungan di keningnya.
“kamu tahu? Jessica Veranda. Kamu itu, orang yang paling beruntung karena masih mendapat kesempatan kedua untuk bisa tahu tentang apa yang terjadi di sekitar kamu. Agar kamu bisa kembali menjadi kamu yang seharusnya! Dan kamu... bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya terjadi!! Ini semua tentang kamu.” katanya tanpa mengalihkan pandangan dari Ve “kamu... punya waktu 48jam untuk bisa pergi dari dunia ini, 48nama akan menjadi jalan kamu! Gunakanlah baik-baik, kembali pakailah hati kamu saat berhadapan dengan orang lain, Jessica!” ucapan terakhirnya, lalu pergi meninggalkan Ve yang masih bingung..
-FlashBack Off-
“48nama itu... bukan jalan ku untuk pulang, tapi ternyata... jalanku untuk akhirnya tahu sebuah kisah, sebuah cerita dari sahabat kecilku! 48jam itu... waktu ku untuk akhirnya menyadari siapa aku sebenarnya! Ini semua... memang tentang diriku!!”
Nabilah yang kembali di pinjami tubuhnya oleh Ve menatap Stella; Stella balik menatap dia bukan sebagai Nabilah tapi sebagai Ve; Dhike hanya menyimak dengan ketegangan di wajahnya.
“sebuah kepedihan yang aku tidak pernah tahu. Sementara kamu berjuang melawan rasa sedih kamu, aku bisa dengan biasanya menjalani kehidupanku, sebagai gadis remaja yang terus tumbuh dalam semua fasilitas yang papa kasih meski papa dan mama jarang ada di rumah, tapi kamu...” Nabila (Ve) menitikan air matanya “maafkan aku Stella.. maafkan papa ku?” Nabilah (Ve) menunduk “harusnya aku tahu, kenapa dulu kamu, papa kamu dan juga mama kamu tidak pernah datang lagi ke rumah? Harusnya dulu... aku terus mendesak papa untuk memberitahukan ku alasan kalian pindah rumah, alasan Papa, mama kamu membawa kamu pergi tanpa pamit atau apapun! Harusnya aku tahu, dan... saat kita kembali dipertemukan dalam satu kelas, harusnya aku sadar dan tahu kamu itu Stella, Stella yang waktu kecil selalu membelaku dari gangguan teman-teman lainnya ketika kita bermain ditaman, Stella... yang selalu menjagaku, memperhatikanku dan menyayangiku sebagai sahabat, sebagai adik, Stella yang sudah aku anggap sebagai kakak ku!... maafin aku yang gak bisa langsung sadar akan kesakitan yang kamu derita!! maaaf..---- maaaaf“
Stella diam termangu ketika mendengar ucapan dari Ve yang membuat pikirannya kembali bermain di masa lalu.
Nabilah (Ve) kembali mengangkat wajahnya, kini dia berjalan mendekati Stella lalu... Dia memeluk Stella dengan kedua tangannya dia lingkarkan di pinggang Stella
“Aku tidak tahu, apa aku bisa kembali dari dunia ku yang sekarang (hidup lagi), tapi satu hal yang aku tahu.. Stella tidak pernah berubah untuk ku, kamu tetap Stella yang selalu menyayangiku dan menjagaku, meski dengan cara seperti itu! Aku tidak marah dengan apa yang sudah kamu lakukan dengan menjadikanku alat untuk balas dendam, karena dengan itu aku jadi tahu apa yang sebenarnya terjadi!! Aku minta Maaf------ maafkan aku… maafkan papa ku…" kembali kata maaf menjadi kata terakhir Ve dan... dia pun akhirnya keluar dari tubuh Nabilah karena waktunya sudah habis bahkan lebih sedikit dari yang seharusnya.
Stella yang tidak membalas balik pelukan Nabilah (Ve) karena pikirannya begitu sibuk memutar kenangan dulunya bahkan kenangan saat mereka menghabisan waktu sebagai geng populer dan dikenal sebagai geng bully paling di takuti. Stella memang selalu merasa tersiksa dengan apa yang sedang dia lakukan pada Ve tapi saat mengingat kondisi ayahnya dan ibunya yang entah kemana, dengan cepat Stella menepis rasa sedih dan bersalahnya pada Ve yang juga sudah dia anggap seperti adiknya sendiri, dan Stella terus melanjutkan rencana balas dendamnya. Stella merasakan tubuh Nabilah akan ambruk dari posisi memeluknya karena tangan Nabilah mengendur, segera Stella mencoba menopang tubuh Nabilah agar tidak langsung jatuh ke tanah dengan kasar. “Ve.. kamu gak apa-apa?” suara Stella keluar setelah tadi dia hanya bisa termangu. Nabilah memegangi kepalanya yang terasa pusing, dan Ve melihat dari sampingnya dengan dia ikut berjongkok untuk melihat kondisi Nabilah
“Nabilah... kamu gak apa-apa?” tanya Ve
“maafin aku Ve” ucap Stella terdengar menyesal
“maafin kak Ve ya Bil..” keduanya meminta maaf pada Nabilah yang masih mencoba untuk membuka matanya. “Bil, Nabilah.. Jawab kak Ve? Kamu gak apa-apa kan?” Ve terdengar sangat khawatir, karena dia kembali memakai tubuh Nabilah dalam kurun waktu yang tidak begitu jauh dan kali ini dia diam di tubuh Nabilah lebih dari waktu yang seharusnya. Nabilah masih meraih tingkat kesadarannya (Nabilah menopang tubuhnya dengan kedua lututnya posisi duduk ala orang japan sambil meremas kepalanya yang pusing; Stella ada di depannya; Ve ada di sebelah Nabilah dan Stella; Dhike masih diam terpaku mencerna apa yang baru saja terjadi dengan wajah cengo).
Nabilah bisa membuka matanya dengan rasa pusing yang mulai berkurang, saat dia melihat ke depan, Nabilah terkejut dan dengan reflek dia jadi tersungkur kebelakang, kini posisinya Nabilah jadi menopang badan dengan kedua tangan sebagai tumpuan kebelakang sebagai penahan agar punggungnya tidak berakhir di tanah "kak-kak Ste..lla!" ucap Nabilah. Stella baru setengah berdiri maksudnya akan membantu Nabilah berdiri. Tapi, belum dia melakukan tindakannya...
“Nabilahhhh” terdengar suara Ayana diikuti Gaby dengan mereka berlari kecil kearah sahabatnya yang terlihat mencemaskan, guru, Novinta dan Yona ikut berlari kecil. Nabilah melihat kearah mereka dengan kerungan di alis matanya untuk mengenali siapa saja yang sedang berlari kearahnya.
Posisi yang sedang Nabilah, Stella dan Dhike perlihatkan sontak memunculkan pemikiran bahwa Nabilah kemunginan di dorong oleh Stella dan pikiran jelek lainnya kalau Stella dan Dhike sedang memperlakukan Nabilah tidak pada tempatnya (dipikir Nabilah sampah!)
“apa-apaan ini... Stella? Dhike? Kalian sedang melakukan apa pada adik kelas kalian ini?!” tanya guru setelah sampai di dekat Nabilah, Stella dan Dhike
“ib-ibuuu.. bu Anggrek? Ke-kenaaapa?,-" Dhike terbata lalu melihat kearah Yona dan Novinta, Stella tidak bicara.
“kenapa? Kenapa ibu bisa tahu kalian disini?” guru yang tak lain adalah wali kelas dari Dhike, Stella dan juga Yona itu menembak Dhike dengan pernyataannya. “kalian itu.. mau sampai kapan seperti ini! Ibu sudah capek dengan tingkah kalian yang seperti anak kecil!!” Stella, Dhike, Yona, Novinta (dan Ve) mendengarkan ucapan guru mereka, dengan Stella terus mencoba melihat kearah Nabilah yang masih dia pikir ada Ve di tubuhnya Nabilah; Ayana dan Gaby sudah di dekat Nabilah dan membantunya untuk berdiri “kamu gak apa-apa, Bil?” bisik Gaby, Nabilah menggeleng menggantikan kerja mulutnya untuk bicara memberitahukan pada sahabtnya kalau dia tidak apa-apa.
“sekarang! Kalian.. ikut ibu ke ruang guru!! Dan kamu.. (menunjuk Novinta) ikut juga, nanti akan ibu serahkan kamu pada wali kelas kamu!!!” bu Guru kemudian mengalihkan pandangannya pada murid SMP lainnya
“kamu tidak apa-apa, nak?” tanya bu Anggrek lembut, Nabilah kembali menggeleng untuk menjawab pertanyaan ‘tidak apa-apa?’, karena Nabilah merasa bingung dengan situasinya seperti saat tadi dari aula. “kalian (Ayana dan Gaby) bisa bantu ibu? untuk bawa teman kalian langsung ke UKS! Nanti biar ibu ijinkan kalian pada wali kelas kalian! Kalian dari kelas berapa?” ucap bu Anggrek karena melihat wajah Nabilah yang pucat. Gaby dan Ayana langsung mengangguk dan menyebutkan kelas serta nama wali kelasnya.
Ve yang masih mencemaskan kondisi tubuh Nabilah, kini juga mencemaskan Stella yang digiring ke ruang guru, meski ini bukan untuk yang pertama kalinya mereka di bawa keruang guru karena urusan bully-membully tapi ini untuk pertama kalinya mereka keruang guru tanpa dirinya yang biasanya menjadi tameng dan akhirnya Stella, Dhike dan Yona bebas dari hukuman. Tapi Ve akhirnya lebih memilih untuk pergi dengan Ayana dan Gaby yang mengantarkan Nabilah ke ruang UKS. Sampai di UKS, Nabilah diperiksa oleh perawat yang ada di ruangan yang kental dengan nuansa warna putih dan bau obat menyelimuti ruangan yang tidak terlalu kecil tapi tidak terlalu besar juga. Ayana dan Gaby duduk melihat Nabilah yang sedang diperiksa, beberapa menit lamanya perawat itu pun selesai dan bicara pada Nabilah
“kamu mengalami kelelahan berlebihan, itu yang membuat wajah kamu pucat, ibu akan kasih kamu vitamin setelah itu kamu istirahtkan dulu tubuh kamu disini, masih cukup banyak waktu sebelum bell pulang untuk kamu bisa tidur dan memulihkan kondisi kamu!” lalu berjalan kedekat lemari yang berisi obat-obat dan mengambil satu tablet vitamin, setelah Nabilah meminumnya perawat masih saja bicara “sebaiknya kamu jangan begadang, karena sepertinya itu yang menjadi penyebab utama kamu mengalami kelelahan. kamu itu masih kecil.. kasihan tubuh kamu, kalau kelelahan seperti ini sering terjadi dan intens bisa-bisa kamu kena,---“ ucapan selanjutnya dari perawat tidak lagi bisa Nabilah dengar dengan jelas, karena dia sudah tertidur, bukan hanya karena efek dari obat yang diberikan perawat saja tapi karena Nabilah memang merasakan kelelahan yang amat sangat.
Ayana dan Gaby pun pamit pada perawat untuk balik ke kelas dan menitipkan Nabilah agar dijaga, karena mereka tidak enak takut mengganggu Nabilah, belum lagi mereka masih ada sisa kelas yang harus diikuti.
“makasih, suster... pulang sekolah nanti kita jemput Nabilah, minta tolong jagain teman kami ya suster?!” kata Ayana dengan sopannya, perawat itu tersenyum dan mengangguk.
Ayana dan Gaby pun pergi dari UKS, hanya ada perawat, Nabilah yang terbaring dibangsal dan Ve yang duduk di sebelah bangsal tempat Nabilah istirahat. Ve memperhatikan wajah Nabilah, dia tersenyum melihat Nabilah yang terlihat kelelahan di hari terakhirnya dalam waktu 48jam. Setelah Ve menyadari tentang pesan dari wanita yang waktu itu bicara padanya. Ia sadar, mungkin... 48jam itu tidak akan ada untuknya, mungkin... 48jam dan 48nama itu hanya dorongan untuknya bangkit dari rasa takut karena stuck di satu dunia yang dia sendiri tidak tahu, 48jam 48nama bukan jalan untuknya bisa kembali dari koma dan hidup lagi seperti biasanya (mungkinkah?... pikir Ve).
“kalau akhirnya... kak Ve harus meninggal, kak Ve tidak akan marah sama Tuhan, kak Ve tidak akan marah sama kehidupan, dan kak Ve... tidak akan merasakan penyesalan, karena kakak tahu apa tujuan sebenarnya semua ini terjadi pada kakak!” ucapnya pada Nabilah yang sedang tidur “kak Ve gak akan lupain kamu, Bil. Kamu itu... penolong kakak dan kak Ve (Ve menunduk) kak Ve bahagia dengan semua ini! Makasih ya dek, makasih untuk bantuan kamu buat kakak!!” Ve menyeka tetesan air yang keluar dari kelopak matanya. Kemudian, samar-samar, Ve melihat tubuhnya transparan~ lalu biasa lagi, dan... terlihat transparan lagi~ kemudian biasa lagi.
Suara
bell yang menyerukan murid-murid untuk pulang, membuat Nabilah
terbangun dari tidurnya. Dia mengedip-ngedipkan bola matanya yang manis,
lalu mengitarkannya untuk mengenali ruangan itu, dan... Nabilah baru
ingat kalau tadi dia di antar oleh Gaby dan Ayana ke UKS dari taman
labirin, saat Nabilah mengingat taman labirin... diasegera bangun dari bangsalnya dan memainkan kedua matanya untuk mencari sosok Ve yang tadi di taman ada bersama nya
"kak Ve...!" Nabilah memanggil Ve sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, karena Nabilah terlalu tiba-tiba mempekerjakan pikiran dan tubuhnya saat mengingat Ve dan kejadian di taman labirin bersama Stella dan Dhike. "Kak~ Kak Ve,, kakak dimana?" Nabilah kembali mencoba memanggil sambil memainkan matanya, diruangan itu dia tidak melihat seorangpun. Tidak Ve yang sedang dia cari, dan tidak juga perawat yang tadi memeriksanya.
"Nabilah.." suara Ve terdengar dari sebelah kiri, saat Nabilah sedang melihat ke sebalah kanan.
"kak Ve..." sahut Nabilah sambil melihat kearah Ve "kakak dari mana?" tanya Nabilah merasa cemas,
Ve tersenyum lalu menjawab
"gak dari mana-mana! Eh, ya.. gimana? Udah enakan? Maafin kak Ve yah!" Nabilah mengerung mendengar ucapan Ve,
"maaf? Maaf untuk apa kak?" Nabilah melihat Ve
"untuk semuanya... kakak udah nyusahin kamu, dan bahkan sekarang... kamu sampai jadi kaya gini, karena kakak!"
Ve tidak terlihat seperti biasanya setelah kejadian ditaman labirin.
Nabilah hanya tersenyum untuk menjawab pernyataan Ve, lalu dia melontarkan pertanyaan, Nabilah sudah merasa sedikit enakan.
"eh kak, mm~ Nabilah masih bingung dan... lupa sama kejadian tadi di taman labirin saat Nabilah mau bicara jujur sama kak Stella, terus tiba-tiba Nabilah ngerasain sakit karena ada yang masuk ke tubuh Nabilah, dan kejadiannya persis kayak waktu di aula pas istirahat tadi. Apa yang Nabilah alamin di aula sama di taman labirin itu sama! Kakak tahu gak? Kenapa Nabilah bisa gitu? terus.. apa yang terjadi di 2tempat itu kak? Gimana kakak-kakak yang di aula? Gimana dengan kak Stella sama yang lainnya?"
Belum Ve menjawab berondongan pertanyaan Nabilah, pintu ruang UKS terbuka dan masuklah si mata sayu (Ayana) yang dibelakangnya mengikuti sambil menutup kembali pintu ruangan si mudah ketawa (Gaby). Mereka segera menghampiri Nabilah yang sedari tadi sudah dalam posisi duduk
"Nabilahhhhhh, aku kangen sama kamu..." ucap Ayana lalu memeluk Nabilah
"apaan si Chan? Lebehhh banget! Nabilah geli tuh dipeluk-peluk sama kamu, iya kan Bil?" kata Gaby lalu melihat Nabilah yang tersenyum lebar.
"apa sih Gab, aku kan emang kangen sama Nabilah! Emang kamu enggak? 3 pelajaran Nabilah skip, dan kita cuma berdua di kelas!" ucap Ayana sudah melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat Nabilah, Gaby meringis mendengar ucapan Ayana, Nabilah hanya bisa tersenyum belum bisa mengeluarkan suaranya.
Dia sebenarnya rada sebel juga sama kedatangan Ayana dan Gaby saat dia sedang bertanya pada Ve dan belum mendapat jawaban. Tapi kemudian rasa sebel nya berubah menjadi rasa senang karena melihat perhatian kedua sahabatnya itu untuk dirinya.
"eh~ eh~ Bil, gimana? Kamu udah enakan? Masih pusing gak?" tanya Gaby kemudian setelah meledek Ayana.
"aku udah gak apa-apa kok! Udah segeran, ketimbang tadi.. hehe~" jawab Nabilah pasti.
"kamu sebenarnya lagi ngapain sih Bil? Di Aula, terus di bawa kak Stella ke taman?! Terus kata Novinta kamu lagi minta,-" lidah Ayana mengeluarkan ejaan lain saat sedang bertanya pada Nabilah karena Gaby menginjak kaki kirinya "Auuwww, hssss~ GaByyy, apaan sih? Kenapa kamu nginjak-nginjak kaki aku sih!" protes Ayana, Nabilah mengerung saat melihat ekspresi Ayana tapi kemudian tersenyum
"kamu itu.. gak liat apa? Nabilah kan masih di UKS, dan mungkin badannya masih gak enak! Kamu malah nanya ini~ itu~... Entar dulu napa? Tunggu sampai Nabilah keluar dari UKS dan dia udah baikan!!" jelas Gaby sambil melihat Ayana
"yee, kirain apaan kamu nginjek-nginjek kaki aku! Tadi kan Nabilah bilang dia udag segeran, artinya Nabilah udah lebih baik dari yang tadi... iya kan Bil?" Ayana membuat pembelaan lalu mengalihkan pandangannya pada Nabilah. Ve tersenyum melihat tingkah Ayana dan Gaby.
"udah, udah~ gak apa-apa Gab, aku emang udah enakan kok! Dan Ayana... aku akan ngejawab semua pertanyaan dari kebingungan kamu... dan kamu juga (ke Gaby), tapi.." Nabilah berhenti sejenak, dan melihat ke arah depan dimana Ve sedang berdiri. "gak sekarang dan gak disini!" Ayana dan Gaby mengerung heran
"terus? Kapan? Dimana?" Ayana terdengar antusias
"besok, di rumah aku! Kalian besok main ya ke rumah aku?" jawab Nabilah, mengingat besok itu hari minggu.
"hmm~ ya udah kalo gitu, kita besok main ke rumah kamu deh.."
"um, gimana kalo main ke rumah kamunya pagi? Biar sekalian kita sepedahan!" usul Ayana setelah Gaby selesai bicara.
"aaah~ boleh tuh, usulan kamu ok juga, udah lama kan kita gak olahraga pagi bareng-bareng! Tapi, gimana Nabilah? Dia kan lagi sakit, Chan?"
"iya, ya~ maaf, maaf aku lupa!" kata Ayana dengan entengnya. Nabilah tersenyum lalu menjawab
"gak apa-apa, usulan Achan emang ok tuh, dan apa yang kamu bilang bener Gab, kita udah lama gak olahraga pagi bareng-bareng!"
"jadi? Kamu ok Bil?" tanya Gaby, Nabilah mengangguk.
Gaby dan Ayana tersenyum senang mendengar pernyataan Nabilah.
"ya sudah, sekarang... kita pulangggg.. biar kamu bisa istirahat di rumah, Bil!" Ayana berucap begitu senang.
"emm~ aku... aku gak bareng kamu ya Chan pulangnya!"
"loh, kenapa? Kamu kan baru enakan, biar aku anterin kamu pulangnya!!" Gaby mengangguk-angguk menyetujui Ayana
"aku ada sedikit urusan dulu yang harus di beresin, jadi... biar besok aku bisa total cerita semua sama kalian!" kata Nabilah memastikan, Ayana dan Gaby saling menukar pandang lalu mengangguk pelan karena mereka memang penasaran dengan cerita dari Nabilah jadi ya... meng iya kan saja apa yang diinginkan Nabilah. Ve heran dengan apa yang sedang di pikirkan Nabilah, badannya dia masih tidak enak, bukannya langsung pulang bareng Ayana biar bisa istirahat malah mau nyelesaian urusan yang entah urusan apa yang Yang dimaksud.
Mereka bertiga, ehh berempat lupa Ve nya , keluar dari UKS (perawatnya lagi ke Toilet) Ayana bercerita-ria pada Nabilah tentang dia yang di bantu senior-senior saat di aula untuk bisa mengikuti dirinya yang sedang di bawa Stella, Nabilah menyimak dengan memunculkan pertanyaan heran 'kenapa bisa senior2 nya yang di aula itu mau membantu Ayana sama Gaby?'. Terus Ayana melanjutkan ceritanya sampai guru datang dan akhirnya mereka bisa pergi untuk mencari Nabilah... cerita~cerita~cerita~ sampailah di depan gerbang. Jemputan Ayana dan Gaby sudah nangkring di depan (murid-murid sudah pada keluar jadi di depan gerbang hanya tinggal sisa sedikit murid yang masih berseliweran)
"yakin nih Bil, gak mau aku anterin ke rumah? Kamu kan,-"
"udah... gak apa-apa! Aku kan udah baik-baik aja!!" Nabilah memotong ucapan Ayana. Ayana menghela nafas dan menyerah pada sahabat cadelnya yang kukuh pendirian tidak ingin diantarkan pulang.
"ya udah lah, Chan. Nabilah pasti ada sesuatu yang sangat amat penting yang emang harus di selesain.. jadi ya kita tunggu aja hasilnya besok pagi! Iya kan Bil?" Nabilah mengangguk pada Gaby. Ayana dan Gaby pun pulang meninggalkan Nabilah yang di sebelahnya masih berdiri Ve yang kembali mulai terlihat transparan~ dan biasa lagi~ dan lagi transparan~ dan lagi biasa lagi~ Ve melihat tubuhnya sendiri karena dia merasakan aneh, saat melihat kedua tangannya dia kembali menyadari tentang tubuhnya yang kedap-kedip transparan-biasa~biasa-transpa ran lagi.. "pertanda apa ini?" ucap Ve dalam hati.
Sebelum Nabilah mengalihkan pandangan padanya dan bisa menangkap scene dimana tubuhnya berkedap-kedip, Ve mendahului untuk melihat Nabilah, dan sebagai pengalih perhatian, Ve membuka topik pembicaraan dengan pertanyaan
"kenapa kamu gak pulang? Kamu kan masih sakit!" tanya Ve
"karena ada yang harus Nabilah tahu, sebelum 48jam yang tinggal tersisa 4jam kurang lebih itu benar-benar berakhir!!" kata Nabilah dengan melihat jam di tangannya, Ve mengerung melihat wajah anak SMP yang ada di depannya sedang memasang tampang begitu serius.
"dan... tentang apa?" Ve, lalu bertanya pada Nabilah.
"tentang pertanyaan Nabilah yang di ruang UKS tadi! Nabilah masih belum bisa mengingat kejadian yang terpotong saat di Aula, saat bersama kak Stella yang...." Nabilah melihat Ve dengan rasa iba terpancar di wajahnya, karena Nabilah ingat betul ketika Stella dengan gamblangnya menceritakan kisah mereka. "kak Ve mau kan? Ceritakan apa yang Nabilah lewatkan tadi?" Nabilah meminta, Ve tersenyum tenang pada Nabilah. Dia merasa Nabilah memang berhak tahu tentang yang terjadi tadi, dan tentang dirinya yang menggunakan tubuh Nabilah untuk meminta maaf pada senior yang di aula dan pada Stella di taman labirin.
Ve mulai bercerita untuk menjawab rasa penasaran Nabilah, dengan perlahan bergerak meninggalkan sekolah, dan Nabilah mengikuti langkah si arwah dengan memasang telinga nya untuk mendengar cerita Ve.
"jadi? Kakak... bisa masuk ke tubuh Nabilah?" Ve mengangguk
"maafin kakak ya, karena udah bikin kamu sakit saat kakak masuk dan meninggalkan tubuh kamu!" Nabilah tidak merespon, dia masih membayangkan bagaimana ketika sosok Ve ada di dalam tubuhnya dan dia bicara pada senior-senior untuk minta maaf, dan juga pada Stella. Beberapa menit lamanya, Nabilah sadar dari lamunan dan kembali bertanya
"terus kak, reaksi mereka saat kakak ada di tubuh Nabilah, gimana?"
"Kaget, gak percaya kalo itu kak Ve!" jawab Ve.
"dan... kak Stella? Dia gimana kak?"
"Stella...." Ve kembali memutar kejadian di taman "dia kaget, tapi... ketika kak Ve bicara dan minta maaf, raut wajahnya berubah Bil!" Nabilah merapatkan alis matanya "dia kayak yang sedih... menyesal, dan pas kakak keluar dari tubuh kamu lalu dia lihat kamu akan ambruk, dia segera memberikan pertolongan agar kamu tidak jatuh ketanah!"
Nabilah ingat, saat dia kaget melihat Stella yang ada di depannya
"bukan nolong Nabilah... tapi nolong kakak! Itu yang di lakuin kak Stella!!" kata Nabilah membuat kesimpulan sendiri. giliran Ve yang merapatkan alis mata "um~ Nabilah boleh dengar cerita kakak sama kak Stella dulu gimana gak kak? Kan kalo sama kak Kinal, Nabilah udah tahu! Kalo sama kak Stella... kan belum tahu begitu jelas!" Nabilah kembali meminta agar si arwah bercerita.
Ve tidak mungkin dan tidak bisa menolak permintaan Nabilah, diapun mulai bercerita tentang kehidupan waktu kecilnya bersama Stella yang sudah dia anggap kakak, dan perlakuan balik Stella padanya yang bukan hanya sebagi seorang sahabat tapi juga sebagai adik. "ohh, jadi gitu.. pantesan aja, tadi pas liat ekspresi kak Stella saat lagi cerita tentang papanya kak Ve, papanya dia, tentang kak Ve dan lainnya.. kayak ada yang lain yang kak Stella sembunyiin kak!"
"maksud kamu?" Ve merasa heran dengan analisa Nabilah
"... Nabilah ngerasa, kak Stella gak terlalu senang dengan apa yang sudah ia lakukan pada kakak. Tapi... mungkin karena rasa sakit yang dialami sudah terlalu sakit jadinya ya, kak Stella mengenyampingkan rasa itu!" jelas Nabilah singkat, disambut senyum Ve
"kamu itu.. masih kecil tapi pemikirannya udah melebihi batas umur kamu!"
"eh? Maksud kakak? Nabilah lebih tua dari yang keliatannya gitu!"
"bukan-bukan, bukan itu. Maksud kak Ve... kamu bisa berpikir sejauh itu untuk menanggapi suatu masalah, padahal kalo diliat justru kayak gak akan kesampaian kamu bisa berpikir seperti itu..,-"
"nah ini, apa lagi maksudnya? Nabilah lemot gitu! Atau,-"
"bukan dek, dengerin dulu makanya. Kak Ve kan belum selesai bicaranya! Kamu itu anaknya unik..." Nabilah mengerung "kalo soal fisik gak usah diragukan, kamu cantik, lucu, perfect lah.." Nabilah tersipu "dan soal kepribadian, hmm~ kamu nyeleneh, nyablak kalo bicara, jahil (Nabilah menekuk bibirnya) tapi.. ada sisi lain dari kamu yang kakak suka, kamu itu.. pandai menempatkan diri saat menghadapi sebuah situasi! Dan kamu kadang bisa berpikir lebih dewasa dari orang yang memang sudah pada dewasa!!" tutup Ve dengan melihat Nabilah
"hahaha~ kak Ve itu.. bisa aja, bikin Nabilah jadi malu..."
Ve tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Nabilah bertingkah seperti itu.
Moment itu... kembali lagi, tubuh Ve kembali kedap-kedip dan kali ini Nabilah bisa dengan jelas melihat Scene itu
"kak... tubuh kakak kenapa?" dengan terus menatap tubuh Ve, Nabilah mengajukan pertanyaan. Ve melihat Nabilah tanpa mengucapkan apapun, lalu melihat kedua tangannya dan melirik tubuhnya sendiri yang semakin lama, semakin terlihat ketransparanannya (jam 4sore kurang dikit).
"kak! Kakak kenapa? Tubuh kakak, kenapa kayak gitu?" karena tidak mendapat jawaban dari Ve, Nabilah kembali dan terus bertanya dengan rasa cemasnya "kak Ve~ kak Ve~ kakaakaaaaakkk!!" teriakan Nabilah membuat Ve berhenti melihat dirinya sendiri, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Nabilah sambil bicara
"..... kakak gak apa-apa dek! ini cuma..." Ve berhenti karena dia tidak tahu harus menjelaskan apa, karena memang kenyataannya dia gak tahu apa yang sedang terjadi.
"cuma apa kak? Atau... apa jangan-jangan ini..." Nabilah melihat jam di tangan kirinya "ini~ itu~ cara kakak bakal balik lagi ke tubuh kakak yang ada di rumah sakit dan kakak akan kembali sembuh!" jelas Nabilah mencoba membuat tebakan.
Dia bicara seperti itu karena seringnya menonton anime sama dorama yang kebetulan ada adegan seperti yang sekarang sedang terjadi pada Ve.
"mm~ mungkin! Entahlah, Bil!" jawab Ve tidak begitu semangat.
"kok ngejawabnya gitu sih kak! Emang kakak gak mau apa bisa sembuh lagi!?" Ve melakukan kontak mata dengan Nabilah "bukankah ini yang kita tunggu kak? Moment ini yang kita harapkan setelah 48jam kemarin yang cukup menguras tenaga sama pikiran!" Ve hanya bisa diam mendengarkan ucapan-ucapan Nabilah "iya kan kak? Terus... gimana kelanjutan kisah kakak? Semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kak Ve bilang ke Nabilah kan? kakak bakal kembali dari komanya kakak, kakak bakal sembuh dan jalanin aktifitas kakak kayak dulu, iya kan kak? Itu kan yang kakak dulu bilang!" Ve melihat Nabilah dengan rasa bahagia "dan kalau kakak tidak berhasil menyelesaikan 48jam ini, kakak bakal berakhir! Tapi... misinya kan selesai, dan kak Ve udah dapat maaf dari 48nama itu! Bahkan dari kak Stella~ sepertinya!! Terus kenapa kakak masih disini? Harusnya kakak udah mulai siap-siap buat bal,-" Ve membekap Nabilah dengan mengeluarkan pernyataannya
"kakak gak tahu, dan... kakak juga gak mau terlalu tahu soal itu Bil! Biarlah Tuhan memperlihatkan semuanya sesuai dengan waktu dan rencana yang sudah Dia siapkan untuk kakak!!" Nabilah heran
"kok gitu sih bicaranya kak, kak Ve kan bilang.. kakak mau kembali lagi, kenapa sekarang bicaranya kayak gitu!?" ucap Nabilah dengan raut di tekuk
"sudahlah, kakak gak apa-apa kok, Dek! Kakak siap menerima apapun yang akan datang sama kakak, termasuk kalau akhirnya kakak harus benar-benar meninggalkan dunia ini, kak Ve udah puas dengan pengalaman yang diberikan dari 48jam 48nama itu... kesempatan kedua itu, udah kakak dapetin Bil! kakak udah tenang sekarang!!"
Ve berhenti berjalan, dia mencoba melakukan kontak fisik dengan Nabilah lewat tangannya yang akan dia gunakan untuk memegang bahu Nabilah, meski dia ragu akan apa yang dia lakukan, tapi Ve tetap mencobanya dan... Nabilah terbelalak kaget karena tangan Ve bisa ada diatas bahunya, Nabilah melihat lekat wajah Ve yang sedang menatap tangannya sendiri karena merasa tidak percaya kalau tangannya bisa menyentuh anggota tubuh Nabilah
"kk-kkaak Ve, kakak bisa..." Nabilah ikut melihat tangan Ve yang kemudian terlihat transparan. Ve mengenyampingkan rasa herannya lalu bicara pada Nabilah
"kakak mau ngucapin makasih sama kamu! Kamu udah jadi penolong kakak, kamu udah jadi teman kakak dan mau dengerin keluhan kakak meski kakak hanya arwah" Nabilah mendengarkan dengan rautnya terlihat sedih, dia heran dengan apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk arwah yang masih ada di depannya itu. "Jika hari esok datang, dan kak Ve masih di kasih kesempatan sama Tuhan untuk bisa melihat indahnya dunia, menghirup segarnya udara! Kakak mau kamu... jadi adiknya kak Ve, kakak mau punya adik yang bisa diajak bercanda berbagi tawa, saling mencurahkan air mata kesusahan, melengkapi dalam kekosongan, meramaikan dalam kebahagiaan! Kakak mau... kamu nganggep kak Ve sebagai kakak kamu. Kamu mau kan, Bil? Kamu gak keberatan kan dengan usulan kakak?" Nabilah tidak menjawab, dia hanya menatap Ve tanpa tahu apa yang harus diucapkan karena Nabilah merasakan ada yang aneh akan muncul setelah kalimat yang diucapkan Ve, ditambah lagi dengan tubuh Ve yang semakin intens memperlihatkan ke transparanannya.
Nabilah hanya bisa menatap Ve dengan rasa sedih didadanya, mengingat ini menit-menit akan berakhirnya 48jam waktu yang Ve bilang dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ve. Nabilah merasa dia memiliki ikatan ketika dengan Ve, mungkin karena seringnya, bahkan setiap saat ia dan juga Ve bertemu dan menghabiskan waktu untuk mendengarkan ceritanya Ve, atau sebaliknya Ve yang mendengar Nabilah bercerita.
"Kakak, pasti bisa kembali ke tubuh kakak dan kakak pasti bisa sembuh dari sakitnya kakak sekarang:( , kak Ve harus percaya dan yakin akan hal itu!" Ve tersenyum pada Nabilah...
"kamu belum mau pulang?" tanya Ve kemudian untuk memecah keheningan diarea mereka saat ini, Nabilah menggeleng "emm~ kamu mau gak temenin kak Ve ke suatu tempat!"
"kemana kak?"
"ikut kakak~" Ve menuntun Nabilah ketempat favoritnya.
Hanya beberapa menit berjalan, Ve dan Nabilah sampai di tempat itu. Tempat biasa Ve merenung jika merasakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Pinggir sungai yang ditumbuhi rumput liar hijau yang cukup tebal, yang kini diatas langitnya terlihat hamparan langit biru yang sedang memulai percampuran warna dan nantinya akan menghasilkan warna jingga yang begitu megah dengan matahari menyemburkan warna orange yang menyengat tapi tidak akan membuat kulit kepanasan, hanya akan membuat bumi terlihat indah di waktu yang hampir mendekati senja ini (04.30 sore). Aliran sungai yang tenang, dan belaian angin sore sepoi-sepoi yang menemani Ve dan Nabilah.
"disini kak Ve biasanya nangis!" Nabilah melihat Ve "disini tempat biasanya kakak bercerita pada rumput dan aliran sungai tentang apa yang kak Ve rasakan.. dan disini, tempat ini.. tempat yang kak Ve temukan saat dulu pertama kali pulang bareng sama kak Kinal, saat kita masih baru kenal pas waktu ospek. Dan tempat ini... ternyata tempat biasanya kak Stella mengajak kak Ve, waktu kita masih kecil dulu, sekedar untuk duduk, atau.. kita bikin origami perahu yang sebelumnya kita kasih coretan berupa tulisan atau gambar, lalu kita hanyutkan!"
Ve mengenang kembali tempat yang memberikannya banyak kenangan indah yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Saat Ve bercerita nostalgia dan Nabilah mendengarkan dengan seksama dengan matanya menikmati setiap suguhan yang Tuhan berikan ditempat itu, tiba-tiba Nabilah mengerung ketika melihat kebelakang Ve. Dia merapatkan alis matanya lekat, untuk melihat dan mengenali dengan benar sosok yang sedang tertangkap oleh penglihatannya, semakin mengerung dan semakin jelas sampai Nabilah mengucapkan sebuah nama dengan setengah berbisik
"kak Kiinal.." ucapnya, Ve yang belum ngeh masih saja bercerita. Tapi saat dia melihat Nabilah yang sedang meneliti arah belakangnya, dan mendapati Nabilah tidak merespon panggilannya, Ve membelokan wajahnya agar bisa melihat kebelakang. Ve kaget melihat sosok Kinal yang sedang merapihkan seragamnya, sepertinya dia habis tiduran di atas rumput itu.
"Kiinal.." ucap Ve kemudian, Nabilah yang mendengar ucapan pelan si arwah segera melihat ke arah Ve, lalu dia bergerak kearah depan melewati Ve yang masih menatap Kinal.
"Na-aaabilah...~ mau kemana?" tanya Ve saat melihat Nabilah melintasinya, Nabilah melanjutkan perjalanannya untuk mendatangi Kinal "Bil, Nabilah!~ kamu mau ngapain? Bilah, Nabilah!! Kamu denger kak Ve gak si,-" ucapan Ve terhenti karena Nabilah sudah berhenti tepat di depan Kinal. Kinal menatap Nabilah, lalu bicara setelah ingat dengan wajah yang ada di depannya
"kamuuu lagi!~" kata Kinal
"ini waktunya kak!" ucap Nabilah, maksudnya pada Ve.
"huh?" Kinal mengerung tidak mengerti
"maksud kamu apa? Kamu sebenarnya mau ngapain nyamperin Kinal!?" Ve bertanya
"kakak kan pernah bilang, kalau besok datang dan waktu kakak sudah habis tanpa ada hasil pasti, kakak ingin bisa mengucapkan maaf pada beberapa orang yang berharga dalam kehidupan kakak! Yang sekarang didepan Nabilah... adalah salah satunya, dan.. dia yang terakhir yang belum sempat bicara dengan kakak, iya kan?" Nabilah tidak memperdulikan keheranan Kinal yang sedang menyaksikan dirinya bicara sendiri, Ve menatap Nabilah. "ayo kak, masuk ke Nabilah~ waktunya tidak lama lagi!"
Kinal semakin heran dengan tingkah bocah berseragam SMP yang dulu sempat adu argument dengannya di depan perpustakaan.
"Nabilah.. itu gak mungkin! Kakak akan nyakitin kamu!!" balas Ve menjawab permintaan Nabilah
"masuklah kak, ini kesempatan terakhir kakak! Kalau yang sekarang dilewatin, apa kakak yakin masih punya waktu lainnya? Atau moment lainnya?" kata Nabilah untuk mendorong Ve agar mau memasuki tubuhnya untuk meminta maaf pada Kinal. Meski sebenarnya Nabilah tidak ingin mengatakan 'apa kakak yakin masih punya waktu lainnya?' tapi Nabilah harus melakukannya untuk meyakinkan Ve.
"kamu ngomong apa sih? Gak Jelas!" Kinal yang merasa aneh dengan tingkah Nabilah kembali bertanya
"kak Ayoo dong!" Nabilah masih fokus pada Ve
"argh! Kenapa juga aku harus diam ngeliatin kamu!!" ucap Kinal sambil bersiap pergi meninggalkan Nabilah yang menurutnya aneh.
"bentar-bentar kak! Ada yang mau bicara sama kakak!!" kata Nabilah memotong langkah Kinal "kak Ve mau bicara sama kakak!" Kinal terbelalak ketika mendengar Nabilah menyebutkan nama Ve
"eh! Maksud kamu apa sih!? Dari waktu di perpust terus sekarang, kamu selalu bawa-bawa Ve! Maksudnya apa?"
"iya maksudnya... kak Ve yang sahabatnya kakak itu~ mau bicara sama kakak!" ucap Nabilah lalu beralih pada Ve "kak, ayo dong masuk! Sebelum kak Kinal benar-benar pergi karena nganggep Nabilah gila!!"
"enggak, kak Ve udah bilang kakak gak akan masuk ke tubuh kamu lagi! Kakak udah gak punya hak lagi, dan kalo kakak lakuin itu, kakak bisa-bisa bikin kamu kenapa-kenapa!!"
"pck~ kak Ve kebanyakan mikir! Udah pokoknya cepet masuk, dan... bicaralah sama kak Kinal!!" Nabilah masih kekeh, dengan kemudian mengalihkan matanya pada Kinal.
Kinal yang semula tidak percaya dan ingin meninggalkan Nabilah, malah jadi diam dan memperhatikan Nabilah dengan pikiran apa benar Nabilah sedang bicara dengan Ve? dan apa benar Ve ingin bicara dengan dirinya? tapi bagaimana mungkin semua hal mustahil itu bisa terjadi!.
"kak Ve, apa kakak gak lihat kebingungan di wajahnya kak Kinal yang menantikan apa yang tadi Nabilah ucapkan! Please kak, masuklah.. kakak sama kak Kinal memang perlu bicara bukan?!" Ve melihat Kinal lalu melihat Nabilah "kakak gak perlu menghawatirkan Nabilah. Nabilah akan baik-baik saja, ini kesempatan kakak, masuk dan bicaralah seperti pada senior-senior di aula, seperti sama kak Stella! Masuklah..."
"tapi, Bil, kak Ve gak bi,-" "kakak bisa! Masuklah~ sekarang! Sekarang kak!!" Ve sekali lagi melihat Kinal yang dari rautnya terlihat bingung dengan tingkah Nabilah, kemudian pada Nabilah dan dengan menatap Nabilah diikuti kata maaf dan makasih. Akhirnya Ve masuk dalam tubuh Nabilah "maafin kakak, dek!" Nabilah mengangguk "makasih untuk semuanya... kakak sayang sama kamu! makasih~" Nabilah kembali mengangguk.
Ve melangkah semakin dekat dan.... kontak Fisik diantara mereka kembali terjalin. Tubuh Nabilah bergerak-gerak dengan gimik muka seperti kesakitan, dia seperti sedang melawan sesuatu yang akan memasuki tubuhnya agar tidak masuk (karena hak istimewa Ve sudah habis, jadi Nabilah dan Ve mengandalkan Bingo dalam melakukan tindakan nya ini); Kinal terkejut melihat adegan itu, beberapa detik matanya tidak berkedip demi untuk menyaksikan Nabilah yang sedang melakukan jalinan dengan Ve, kemudian beberapa menit kemudian... Nabilah sudah bisa biasa lagi, dia bisa berdiri tegap dengan Ve sudah ada di dalam tubuhnya.
Nabilah tahu apa yang dilakukannya mungkin memang akan mendatangkan resiko cukup berat untuknya, tapi ketika melihat Ve yang kisahnya sudah dia tahu, dia menjauhkan rasa takut akan resiko apapun yang dia terima nantinya, dengan membuat keputusan membantu Ve untuk yang terakhir di beberapa menit menuju jam 5sore, tepat saat 48jam itu akan berakhir. Yaitu meminjamkan tubuhnya dengan sukarela pada Ve yang sudah kehabisan hak istimewa.
"Na-b.- Nabilah?" ucap Kinal menyebutkan nama Nabilah yang kini masih menunduk
"Kinal.." Nabilah yang tubuhnya sudah diambil alih oleh Ve memanggil nama Kinal, Kinal yang mendengar suara dari Nabilah terkejut karena itu jelas bukan suaranya Nabilah melainkan suara dari sahabatnya yang sudah setahun ini tidak pernah saling bertegur-sapa, malah seperti musuh jika mereka tidak sengaja bertemu.
"Veee~..." Kinal menyebutkan nama Ve, setelah selama ini hanya bisa diam melihat tingkah Ve yang berubah drastis.
"Kinal... waktuku tidak banyak, aku minta tolong sama Nabilah untuk membantuku, aku- aku mau minta maaf sama kamu!"
Kinal hanya bisa diam memperhatikan wajah Nabilah yang dalam penglihatannya berubah menjadi wajah Ve. "aku minta maaf karena tidak tahu kalau sebenarnya dulu kamu ngucapin kata-kata itu karena keterpaksaan~ aku... aku bukan sahabat yang baik buat kamu!" Nabilah (Ve) mulai menitikan air mata.
Kinal dan juga Ve main ke memory dulu saat Kinal dengan begitu jelasnya bilang pada Stella, Yona dan Dhike kalau dia tidak mau lagi berteman dengan Ve. Dan Kinal masih ingat dengan ancaman dari Stella...
-FalshBack On-
Waktu istirahat, Ve sedang keruang guru dan Kinal diam di kelas. Stella dan Dhike menjemput Kinal sementara Yona dengan taktiknya yang sudah dia buat bersama Dhike dan Stella, menuntun Ve dari ruang guru ketaman.
"Kinal! Ada yang mau gue omongin! Lu ikut gue sekarang!!" kata Stella tanpa basa-basi, Kinal yang tidak bisa menebak tentang apa yang akan dibicarakan Stella hanya bisa mengerung lalu diapun beranjak dari kursinya dan mengikuti Stella juga Dhike. Mereka sampai ditaman labirin.
"jadi... ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Kinal pada Stella, yang adalah geng no.1 yang menguasai kelas X-4.
"hmm~ make it simple and fast!" Kinal mengerung "gue... mau lu... ngejauhin Veranda!" kerungan Kinal kini diikuti pertanyaan
"maksdunya?"
"hss~ gue udah bilang MAKE IT SIMPLE AND FAST! Apa yang gue bilang simple dan cepat bukan? Masa lu gak ngerti dengan kata GUE MAU LU JAUHIN VERANDA! which mean, gue mau LU gak usah lagi ada di dekat dia!!" jelas Stella menekan setiap ucapannya menahan esmosi.
"permintaan konyol! Kenapa juga aku harus nurut dengan apa yang kamu mau?!" kata Kinal membuat Stella memperlihatkan gesture amarah terpendam
"gue bilang sekali lagi, dan gue pastiin kalau sekarang lu harus mau jawab 'Ok, gue mau jauhin Ve!' karena kalau tidak, jangan salahin gue dengan apa yang akan menimpa lu kedepannya!" dengan nada ancaman Stella menekan Kinal "G..ue mau, lu... jauhin si Veranda... Titik!" lanjut Stella
"enggak! Aku gak mau jauhin Ve, dia sahabat aku! Kenapa aku harus jauhin dia? Hanya karena permintaan kamu?"
"keras kepala! karena lu gak mau juga jawab Ok dan malah nantang gue, gue kasih tahu lu sesuatu yang menyenangkan!" Stella jalan mendekat kearah Kinal, wajah mereka hanya terpaut beberapa inchi hingga Stella melangkah lebbbih dekat dan... berbisik di telinga kirinya Kinal "gue tahu, apa yang lu lakuin tiap malam!" Kinal terbelalak "kalau... pihak sekolah tahu, maka... lu akan tahu juga konsekuensinya, dan yang paling parah! Nyokaplu, gak akan lagi bisa dapat obat!!" Kinal menahan emosi ketika mendengar bisikan Stella.
Setelah ucapan terakhirnya Stella menarik diri dan melakukan kontak mata dengan Kinal
"masih mau nolak permintaan simple gue!?" tanya Stella diiringi senyum sinis
"darimana kamu tahu soal itu? Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? Aku gak pernah ngusik kamu atau teman-teman kamu lainnya!" tanya Kinal
"Kinal~ Kinal~ Kinal~ hemmm~ masa gue harus cerita semuanya sama lu, darimana gue tahu, kenapa gue tahu, apa tujuan gue, kenapa gue ngelauin ini sama lu yang gak pernah ada masalah sama gue atau teman-teman gue!" Stella diam sejenak "ini bukan tentang lu... Ki..nal! Tapi ini tentang sahabat lu!! So~ kalau lu tetap gak mau jauhin Ve, bukan cuma rahasia lu yang bakal gue blow, tapi.. gue juga bakal langsung nyakitin Ve dengan secara kasar!! Biar lu ngerasin kehilangan sekolah, kehilangan nyokaplu, dan.. kehilangan sahabat lu itu..." Stella menutup ucapan yang dia keluarkan dengan nada datarnya, Kinal terdiam sejenak memikirkan apa yang akan terjadi kalau dia menuruti atau dia tidak menuruti keinginan Stella. Sampai akhirnya Kinal menyerah pada Stella dan bilang
"kalau itu... bisa bikin ibu sama sahabat aku gak kenapa-kenapa, aku akan turuti permintaan aneh kamu!" Kinal mengucapkannya bukan tanpa strategi, dia berpikir... tidak masalah untuknya menjauhi Ve, dia bisa menjelaskan semua pada Ve dan mereka tetap bisa berkomunikasi meski tidak bisa bertegur-sapa ketika di sekolah, tapi tetap akrab saat diluar sekolah. Tapi sayang, pemikiran Kinal sepertinya sudah bisa terbaca oleh Stella.
"bagus, kamu bisa lunak juga ternyata! emm~ ok untuk memastikan kamu jauh dari si veranda, kita bikin cepat.. sini key!" Stella meminta sesuatu pada Dhike, dan Dhike memberikannya. "baca ini.. ucapkan dengan nada marah, kesal!" Stella memberikan selembar kertas kecil pada Kinal, Kinal mengerung dan membaca terlebih dulu dalam hati
"huh? Ap-apa-apaan ni! Gak, aku gak mau ngucapin ini!!"
"ayolah Kinal.. cuma baca apa susahnya sih! Biar semua cepat selesai dan gue gak perlu menempel photo sama kelakuan lu saat diluar sana, ketika waktu menuju tengah malam!! Atau... lu mau lihat nyokaplu mati karena obatnya telat lu beli!? Lu mau lihat gue ngasih tahu rahasia lu ini sama sahabat lu yang pendiam itu? Atau lu mau lihat gue bikin dia ngera,-" ~ "Ok, Stop! Aku lakuin apa yang kamu mau!!" Kinal menutup kedua matanya lalu dengan nada keras dan marah dia membaca tulisan yang diberikan Stella "Gue... Gue... sebenarnya mau temenan sama Ve, cuma karena... karena dia itu anak pemilik yayasan, dan gue cuma manfaatin kekayaan dia! Gue sebenarnya muak bersahabat dengan Ve yang manja dan selalu banyak mengeluh tentang orang tuanya!! Gue sebenarnya benci sama dia, karena dia terlahir sebagai anak orang kayak sementara gue cuma terlahir sebagai anak orang misk,-" ~ "Kii...nal..." ucapan Kinal terhenti saat mendengar suara Ve, dia kaget bukan main. Stella dengan cepat mengambil kertas itu dari tangannya Kinal tanpa Ve bisa melihatnya
"apa maksud ucapan kamu?"
"..... Ve, aku... ini~" Kinal bingung, terlebih saat melihat ditangannya kertas kecil tadi sudah lenyap, Kinal gelagapan melihat kearah Stella, Dhike dan Yona. "kamu tega! Kenapa kamu bicara seperti itu? Atau.. apa memang itu sebenarnya isi hati kamu?! Jadi selama ini... kamu mau temenan sama aku hanya karena aku ini anak pemilik yayasan yang manja dan suka ngeluh!!"
"enggak~ bu-bukan itu, ini semua..." Kinal melihat Stella yang menatapnya dengan ekspresi biasa tapi terpancar jelas ancaman dari kedua matanya "Argghh~ iya! Apa yang tadi aku ucapkan, itulah kenyataannya! Aku muak temenan sama anak manja yang suka ngeluh! Aku capek temenan sama anak orang kaya yang tanpa beban bisa meminta apapun pada orang tuanya!! Aku... aku gak mu lagi sahabatan sama kamu,, PUAS!?"
saat mengucapkan kata 'puas' Kinal tidak hanya melihat kearah Ve tapi dia juga melihat Stella, lalu.. Kinal pergi dengan berlari kecil untuk menjauh dari taman labirin. Ve hanya bisa terdiam dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sosok Kinal yang sudah sangat dia percaya sebagai seorang sahabat.
Setelah kejadian itu... Ve berusaha untuk menanyakan pada Kinal tentang apa maksud dia bicara seperti itu? Kenapa ia harus bicara seperti itu pada Stella dan Dhike? Apa yang sebenarnya terjadi?! Sampai akhirnya, Ve diam dengan sendirinya karena Kinal tidak hanya TIDAK pernah memberikan penjelasan dari apa yang sudah terjadi, tapi Kinal juga mendiamkan dan menjauhi Ve TOTAL. bBhkan saat Ve main kerumahnya untuk menanyakan dan mencari jawaban dari ketidaktahuannya. Kinal dengan kasarnya mengusir Ve dengan bilang "lihatkan? Kita gak sepadan! Kamu... anak orang kaya, sementara aku... hanya anak orang miskin yang tidak memiliki apapun bahkan harga diri!!".
Satu minggu~ Dua minggu~ Tiga minggu~ 4minggu 8hari... akhirnya Ve menyerah pada semua tingkah Kinal yang berubah 180 derajat tanpa ada peringat terlebih dahulu, dan... masuklah Stella dalam kehidupannya, menggantikan Kinal!
-FlashBack Off-
"maaf, karena aku tidak peka dan akhirnya... aku jadi membenci kamu dalam ketidak tahuanku! aku minta maaf karena tidak pernah bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu.. Kinal!!"
Kinal terlihat sedih saat mendengar ucapan Ve, dia merasa ini semua bukan salah nya Ve. "bodohnya aku yang selalu menyesali kehidupanku sendiri, yang tidak bisa menyingkirkan ketakutanku akan kurangnya perhatian papa sama mama, membuatku kehilangan sahabat-sahabat terbaikku! Kamu, Stella, kalian..." ~ "hari ini... aku tidak akan pernah menyesali apapun yang telah dan akan Tuhan kasih untukku! Jika esok datang, aku tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan, aku hanya ingin papa sama mama akhirnya sadar dengan keberadaanku yang semakin mereka tenggelamkan dalam kesibukan, aku ingin kamu dan juga Stella mau memaafkanku.. aku ingin semua hati yang pernah kusakiti memafkanku... dan aku, akan pergi dengan tenang.. jika itu memang yang Tuhan kehendaki dariku!"
Ve menangis di menit terakhirnya (16.48), dia mulai kehilangan waktu untuk mendiami tubuh Nabilah..
"Veee... Aku, aku yang harusnya minta maaf~ ini semua... salahku!"
"dan aku juga!" suara Stella muncul dari arah belakang Ve, Kinal dan Ve melihat kedatangannya yang diantar oleh Dhike dan Yona namun mereka hanya melihat dari kejauhan "ini semua... SEMUA aku yang salah! Bukan kamu (melihat Nabilah (Ve)) apalagi kamu (berpaling pada Kinal)! Aku yang harusnya minta maaf, aku yang harusnya ada di posisi Ve saat ini!" Kinal dan Ve hanya bisa mendengarkan tanpa memberi komentar "aku yang salah, akulah yang menjadi biang dari semua kekacauan ini! Hanya karena dendam, aku rela menghancurkan bahkan mencelakakan sahabat ku sendiri, hanya karena dendam yang sebenarnya akupun tidak begitu tahu apa masalah sebenarnya, aku bisa se tega itu membuat semua ini terjadi! Maafkan aku, minta maaf Ve.. aku minta maaf Kinal!" Stella menundukan kepalanya dengan tangisan deras mengikuti penyesalannya.
Kinal bisa mengerti dengan apa yang disampaikan Stella atas dirinya, tapi dia tidak mengerti dengan ucapan Stella untuk Ve. 'aku yang seharusnya ada di posisi Ve'
"kamu gak salah Stell, aku gak pernah nyalahin kamu untuk semua yang sudah terjadi! Justru aku... mau ngucapin makasih karena kamu sudah membuka semuanya untukku!!" Stella menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa dia tidak pantas mendapat ucapan terima kasih dari Ve, yang sudah dengan sengajanya dia bikin celaka hingga Ve ada di posisinya sekarang. "sebentar lagi.. waktuku akan benar-benar habis! Dan kalian tahu? Aku merasa sangat bahagia hari ini, kebahagiaan yang rasanya baru kali ini aku dapatkan! rasanya... tidak bisa lagi melihat matahari esok pun tidak apa, karena aku sudah bisa melihat sinarnya dari kalian di senja ini. Makasih untuk semuanya, makasih untuk persahabatan kalian untuk ku.. makasih~ maka....sihh~" tubuh Nabilah roboh, Kinal dan Stella berhamburan menghampiri Nabilah yang dalam posisi menahan tubuhnya dengan lututnya yang belum sempat ambruk ke tanah
"Ve.." Kinal memanggil Ve sambil memegang Nabilah
"Vee.." Stella ikut memanggil dengan mengguncang pelan tubuh Nabilah. Sementara Nabilah sendiri, sedang berusaha menyadarkan dirinya untuk melihat apa yang terjadi
"... (tadinya Kinal akan kembali memanggil nama Ve, tapi dia ingat kalau Ve hanya meminjam tubuh Nabilah sebagai perantara) Na-Nabilah.. bangun~ kamu gak apa-apa?" Kinal menanyakan keadaan Nabilah karena dia yakin Ve sudah tidak lagi bersama Nabilah "Nabilah.." kembali Kinal memanggil, posisi Nabilah sudah berbaring dengan kepalanya ada dipangkuan Kinal dan Stella ada di sebelahnya, dia ikut mencoba untuk menyadarkan Nabilah.
"Nabilahhh.. bangun, lihatlah? Apa Ve masih ada disini? Apa makud Ve waktunya sudah habis?! Nabilahh~" Stella bertanya dan saat dia menyebutkan nama Ve, Nabilah perlahan membuka matanya.. dia melihat sosok Ve ada didepannya sedang melihat dan mencemaskan dirinya
"Nabilah.. bangun... kamu gak apa-apa kan? Nabilah, kak Ve harus pergi!" ~ "Kk-kak Ve.." suara Nabilah terdengar lemah, dengan matanya hanya bisa melihat Ve samar-samar. Stella dan Kinal yang mendengar segera melihat kearah Nabilah melihat
"Makasih untuk semuanya, dek! Maafin kak Ve... makasih~ Nabilah... makas...ihhhh~ selamat ti,----" kata terakhir dari Ve tidak bisa Nabilah dengar, dia keburu pingsan duluan karena merasakan tubuhnya lelah bahkan lebih dari itu, dia merasa tidak punya sedikitpun tenaga sekalipun hanya untuk bernafas... Stella dan Kinal memanggil dan mengguncang tubuh Nabilah yang sudah tidak sadarkan diri.
"kak Ve...!" Nabilah memanggil Ve sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, karena Nabilah terlalu tiba-tiba mempekerjakan pikiran dan tubuhnya saat mengingat Ve dan kejadian di taman labirin bersama Stella dan Dhike. "Kak~ Kak Ve,, kakak dimana?" Nabilah kembali mencoba memanggil sambil memainkan matanya, diruangan itu dia tidak melihat seorangpun. Tidak Ve yang sedang dia cari, dan tidak juga perawat yang tadi memeriksanya.
"Nabilah.." suara Ve terdengar dari sebelah kiri, saat Nabilah sedang melihat ke sebalah kanan.
"kak Ve..." sahut Nabilah sambil melihat kearah Ve "kakak dari mana?" tanya Nabilah merasa cemas,
Ve tersenyum lalu menjawab
"gak dari mana-mana! Eh, ya.. gimana? Udah enakan? Maafin kak Ve yah!" Nabilah mengerung mendengar ucapan Ve,
"maaf? Maaf untuk apa kak?" Nabilah melihat Ve
"untuk semuanya... kakak udah nyusahin kamu, dan bahkan sekarang... kamu sampai jadi kaya gini, karena kakak!"
Ve tidak terlihat seperti biasanya setelah kejadian ditaman labirin.
Nabilah hanya tersenyum untuk menjawab pernyataan Ve, lalu dia melontarkan pertanyaan, Nabilah sudah merasa sedikit enakan.
"eh kak, mm~ Nabilah masih bingung dan... lupa sama kejadian tadi di taman labirin saat Nabilah mau bicara jujur sama kak Stella, terus tiba-tiba Nabilah ngerasain sakit karena ada yang masuk ke tubuh Nabilah, dan kejadiannya persis kayak waktu di aula pas istirahat tadi. Apa yang Nabilah alamin di aula sama di taman labirin itu sama! Kakak tahu gak? Kenapa Nabilah bisa gitu? terus.. apa yang terjadi di 2tempat itu kak? Gimana kakak-kakak yang di aula? Gimana dengan kak Stella sama yang lainnya?"
Belum Ve menjawab berondongan pertanyaan Nabilah, pintu ruang UKS terbuka dan masuklah si mata sayu (Ayana) yang dibelakangnya mengikuti sambil menutup kembali pintu ruangan si mudah ketawa (Gaby). Mereka segera menghampiri Nabilah yang sedari tadi sudah dalam posisi duduk
"Nabilahhhhhh, aku kangen sama kamu..." ucap Ayana lalu memeluk Nabilah
"apaan si Chan? Lebehhh banget! Nabilah geli tuh dipeluk-peluk sama kamu, iya kan Bil?" kata Gaby lalu melihat Nabilah yang tersenyum lebar.
"apa sih Gab, aku kan emang kangen sama Nabilah! Emang kamu enggak? 3 pelajaran Nabilah skip, dan kita cuma berdua di kelas!" ucap Ayana sudah melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat Nabilah, Gaby meringis mendengar ucapan Ayana, Nabilah hanya bisa tersenyum belum bisa mengeluarkan suaranya.
Dia sebenarnya rada sebel juga sama kedatangan Ayana dan Gaby saat dia sedang bertanya pada Ve dan belum mendapat jawaban. Tapi kemudian rasa sebel nya berubah menjadi rasa senang karena melihat perhatian kedua sahabatnya itu untuk dirinya.
"eh~ eh~ Bil, gimana? Kamu udah enakan? Masih pusing gak?" tanya Gaby kemudian setelah meledek Ayana.
"aku udah gak apa-apa kok! Udah segeran, ketimbang tadi.. hehe~" jawab Nabilah pasti.
"kamu sebenarnya lagi ngapain sih Bil? Di Aula, terus di bawa kak Stella ke taman?! Terus kata Novinta kamu lagi minta,-" lidah Ayana mengeluarkan ejaan lain saat sedang bertanya pada Nabilah karena Gaby menginjak kaki kirinya "Auuwww, hssss~ GaByyy, apaan sih? Kenapa kamu nginjak-nginjak kaki aku sih!" protes Ayana, Nabilah mengerung saat melihat ekspresi Ayana tapi kemudian tersenyum
"kamu itu.. gak liat apa? Nabilah kan masih di UKS, dan mungkin badannya masih gak enak! Kamu malah nanya ini~ itu~... Entar dulu napa? Tunggu sampai Nabilah keluar dari UKS dan dia udah baikan!!" jelas Gaby sambil melihat Ayana
"yee, kirain apaan kamu nginjek-nginjek kaki aku! Tadi kan Nabilah bilang dia udag segeran, artinya Nabilah udah lebih baik dari yang tadi... iya kan Bil?" Ayana membuat pembelaan lalu mengalihkan pandangannya pada Nabilah. Ve tersenyum melihat tingkah Ayana dan Gaby.
"udah, udah~ gak apa-apa Gab, aku emang udah enakan kok! Dan Ayana... aku akan ngejawab semua pertanyaan dari kebingungan kamu... dan kamu juga (ke Gaby), tapi.." Nabilah berhenti sejenak, dan melihat ke arah depan dimana Ve sedang berdiri. "gak sekarang dan gak disini!" Ayana dan Gaby mengerung heran
"terus? Kapan? Dimana?" Ayana terdengar antusias
"besok, di rumah aku! Kalian besok main ya ke rumah aku?" jawab Nabilah, mengingat besok itu hari minggu.
"hmm~ ya udah kalo gitu, kita besok main ke rumah kamu deh.."
"um, gimana kalo main ke rumah kamunya pagi? Biar sekalian kita sepedahan!" usul Ayana setelah Gaby selesai bicara.
"aaah~ boleh tuh, usulan kamu ok juga, udah lama kan kita gak olahraga pagi bareng-bareng! Tapi, gimana Nabilah? Dia kan lagi sakit, Chan?"
"iya, ya~ maaf, maaf aku lupa!" kata Ayana dengan entengnya. Nabilah tersenyum lalu menjawab
"gak apa-apa, usulan Achan emang ok tuh, dan apa yang kamu bilang bener Gab, kita udah lama gak olahraga pagi bareng-bareng!"
"jadi? Kamu ok Bil?" tanya Gaby, Nabilah mengangguk.
Gaby dan Ayana tersenyum senang mendengar pernyataan Nabilah.
"ya sudah, sekarang... kita pulangggg.. biar kamu bisa istirahat di rumah, Bil!" Ayana berucap begitu senang.
"emm~ aku... aku gak bareng kamu ya Chan pulangnya!"
"loh, kenapa? Kamu kan baru enakan, biar aku anterin kamu pulangnya!!" Gaby mengangguk-angguk menyetujui Ayana
"aku ada sedikit urusan dulu yang harus di beresin, jadi... biar besok aku bisa total cerita semua sama kalian!" kata Nabilah memastikan, Ayana dan Gaby saling menukar pandang lalu mengangguk pelan karena mereka memang penasaran dengan cerita dari Nabilah jadi ya... meng iya kan saja apa yang diinginkan Nabilah. Ve heran dengan apa yang sedang di pikirkan Nabilah, badannya dia masih tidak enak, bukannya langsung pulang bareng Ayana biar bisa istirahat malah mau nyelesaian urusan yang entah urusan apa yang Yang dimaksud.
Mereka bertiga, ehh berempat lupa Ve nya , keluar dari UKS (perawatnya lagi ke Toilet) Ayana bercerita-ria pada Nabilah tentang dia yang di bantu senior-senior saat di aula untuk bisa mengikuti dirinya yang sedang di bawa Stella, Nabilah menyimak dengan memunculkan pertanyaan heran 'kenapa bisa senior2 nya yang di aula itu mau membantu Ayana sama Gaby?'. Terus Ayana melanjutkan ceritanya sampai guru datang dan akhirnya mereka bisa pergi untuk mencari Nabilah... cerita~cerita~cerita~ sampailah di depan gerbang. Jemputan Ayana dan Gaby sudah nangkring di depan (murid-murid sudah pada keluar jadi di depan gerbang hanya tinggal sisa sedikit murid yang masih berseliweran)
"yakin nih Bil, gak mau aku anterin ke rumah? Kamu kan,-"
"udah... gak apa-apa! Aku kan udah baik-baik aja!!" Nabilah memotong ucapan Ayana. Ayana menghela nafas dan menyerah pada sahabat cadelnya yang kukuh pendirian tidak ingin diantarkan pulang.
"ya udah lah, Chan. Nabilah pasti ada sesuatu yang sangat amat penting yang emang harus di selesain.. jadi ya kita tunggu aja hasilnya besok pagi! Iya kan Bil?" Nabilah mengangguk pada Gaby. Ayana dan Gaby pun pulang meninggalkan Nabilah yang di sebelahnya masih berdiri Ve yang kembali mulai terlihat transparan~ dan biasa lagi~ dan lagi transparan~ dan lagi biasa lagi~ Ve melihat tubuhnya sendiri karena dia merasakan aneh, saat melihat kedua tangannya dia kembali menyadari tentang tubuhnya yang kedap-kedip transparan-biasa~biasa-transpa
Sebelum Nabilah mengalihkan pandangan padanya dan bisa menangkap scene dimana tubuhnya berkedap-kedip, Ve mendahului untuk melihat Nabilah, dan sebagai pengalih perhatian, Ve membuka topik pembicaraan dengan pertanyaan
"kenapa kamu gak pulang? Kamu kan masih sakit!" tanya Ve
"karena ada yang harus Nabilah tahu, sebelum 48jam yang tinggal tersisa 4jam kurang lebih itu benar-benar berakhir!!" kata Nabilah dengan melihat jam di tangannya, Ve mengerung melihat wajah anak SMP yang ada di depannya sedang memasang tampang begitu serius.
"dan... tentang apa?" Ve, lalu bertanya pada Nabilah.
"tentang pertanyaan Nabilah yang di ruang UKS tadi! Nabilah masih belum bisa mengingat kejadian yang terpotong saat di Aula, saat bersama kak Stella yang...." Nabilah melihat Ve dengan rasa iba terpancar di wajahnya, karena Nabilah ingat betul ketika Stella dengan gamblangnya menceritakan kisah mereka. "kak Ve mau kan? Ceritakan apa yang Nabilah lewatkan tadi?" Nabilah meminta, Ve tersenyum tenang pada Nabilah. Dia merasa Nabilah memang berhak tahu tentang yang terjadi tadi, dan tentang dirinya yang menggunakan tubuh Nabilah untuk meminta maaf pada senior yang di aula dan pada Stella di taman labirin.
Ve mulai bercerita untuk menjawab rasa penasaran Nabilah, dengan perlahan bergerak meninggalkan sekolah, dan Nabilah mengikuti langkah si arwah dengan memasang telinga nya untuk mendengar cerita Ve.
"jadi? Kakak... bisa masuk ke tubuh Nabilah?" Ve mengangguk
"maafin kakak ya, karena udah bikin kamu sakit saat kakak masuk dan meninggalkan tubuh kamu!" Nabilah tidak merespon, dia masih membayangkan bagaimana ketika sosok Ve ada di dalam tubuhnya dan dia bicara pada senior-senior untuk minta maaf, dan juga pada Stella. Beberapa menit lamanya, Nabilah sadar dari lamunan dan kembali bertanya
"terus kak, reaksi mereka saat kakak ada di tubuh Nabilah, gimana?"
"Kaget, gak percaya kalo itu kak Ve!" jawab Ve.
"dan... kak Stella? Dia gimana kak?"
"Stella...." Ve kembali memutar kejadian di taman "dia kaget, tapi... ketika kak Ve bicara dan minta maaf, raut wajahnya berubah Bil!" Nabilah merapatkan alis matanya "dia kayak yang sedih... menyesal, dan pas kakak keluar dari tubuh kamu lalu dia lihat kamu akan ambruk, dia segera memberikan pertolongan agar kamu tidak jatuh ketanah!"
Nabilah ingat, saat dia kaget melihat Stella yang ada di depannya
"bukan nolong Nabilah... tapi nolong kakak! Itu yang di lakuin kak Stella!!" kata Nabilah membuat kesimpulan sendiri. giliran Ve yang merapatkan alis mata "um~ Nabilah boleh dengar cerita kakak sama kak Stella dulu gimana gak kak? Kan kalo sama kak Kinal, Nabilah udah tahu! Kalo sama kak Stella... kan belum tahu begitu jelas!" Nabilah kembali meminta agar si arwah bercerita.
Ve tidak mungkin dan tidak bisa menolak permintaan Nabilah, diapun mulai bercerita tentang kehidupan waktu kecilnya bersama Stella yang sudah dia anggap kakak, dan perlakuan balik Stella padanya yang bukan hanya sebagi seorang sahabat tapi juga sebagai adik. "ohh, jadi gitu.. pantesan aja, tadi pas liat ekspresi kak Stella saat lagi cerita tentang papanya kak Ve, papanya dia, tentang kak Ve dan lainnya.. kayak ada yang lain yang kak Stella sembunyiin kak!"
"maksud kamu?" Ve merasa heran dengan analisa Nabilah
"... Nabilah ngerasa, kak Stella gak terlalu senang dengan apa yang sudah ia lakukan pada kakak. Tapi... mungkin karena rasa sakit yang dialami sudah terlalu sakit jadinya ya, kak Stella mengenyampingkan rasa itu!" jelas Nabilah singkat, disambut senyum Ve
"kamu itu.. masih kecil tapi pemikirannya udah melebihi batas umur kamu!"
"eh? Maksud kakak? Nabilah lebih tua dari yang keliatannya gitu!"
"bukan-bukan, bukan itu. Maksud kak Ve... kamu bisa berpikir sejauh itu untuk menanggapi suatu masalah, padahal kalo diliat justru kayak gak akan kesampaian kamu bisa berpikir seperti itu..,-"
"nah ini, apa lagi maksudnya? Nabilah lemot gitu! Atau,-"
"bukan dek, dengerin dulu makanya. Kak Ve kan belum selesai bicaranya! Kamu itu anaknya unik..." Nabilah mengerung "kalo soal fisik gak usah diragukan, kamu cantik, lucu, perfect lah.." Nabilah tersipu "dan soal kepribadian, hmm~ kamu nyeleneh, nyablak kalo bicara, jahil (Nabilah menekuk bibirnya) tapi.. ada sisi lain dari kamu yang kakak suka, kamu itu.. pandai menempatkan diri saat menghadapi sebuah situasi! Dan kamu kadang bisa berpikir lebih dewasa dari orang yang memang sudah pada dewasa!!" tutup Ve dengan melihat Nabilah
"hahaha~ kak Ve itu.. bisa aja, bikin Nabilah jadi malu..."
Ve tidak bisa menahan senyumnya saat melihat Nabilah bertingkah seperti itu.
Moment itu... kembali lagi, tubuh Ve kembali kedap-kedip dan kali ini Nabilah bisa dengan jelas melihat Scene itu
"kak... tubuh kakak kenapa?" dengan terus menatap tubuh Ve, Nabilah mengajukan pertanyaan. Ve melihat Nabilah tanpa mengucapkan apapun, lalu melihat kedua tangannya dan melirik tubuhnya sendiri yang semakin lama, semakin terlihat ketransparanannya (jam 4sore kurang dikit).
"kak! Kakak kenapa? Tubuh kakak, kenapa kayak gitu?" karena tidak mendapat jawaban dari Ve, Nabilah kembali dan terus bertanya dengan rasa cemasnya "kak Ve~ kak Ve~ kakaakaaaaakkk!!" teriakan Nabilah membuat Ve berhenti melihat dirinya sendiri, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Nabilah sambil bicara
"..... kakak gak apa-apa dek! ini cuma..." Ve berhenti karena dia tidak tahu harus menjelaskan apa, karena memang kenyataannya dia gak tahu apa yang sedang terjadi.
"cuma apa kak? Atau... apa jangan-jangan ini..." Nabilah melihat jam di tangan kirinya "ini~ itu~ cara kakak bakal balik lagi ke tubuh kakak yang ada di rumah sakit dan kakak akan kembali sembuh!" jelas Nabilah mencoba membuat tebakan.
Dia bicara seperti itu karena seringnya menonton anime sama dorama yang kebetulan ada adegan seperti yang sekarang sedang terjadi pada Ve.
"mm~ mungkin! Entahlah, Bil!" jawab Ve tidak begitu semangat.
"kok ngejawabnya gitu sih kak! Emang kakak gak mau apa bisa sembuh lagi!?" Ve melakukan kontak mata dengan Nabilah "bukankah ini yang kita tunggu kak? Moment ini yang kita harapkan setelah 48jam kemarin yang cukup menguras tenaga sama pikiran!" Ve hanya bisa diam mendengarkan ucapan-ucapan Nabilah "iya kan kak? Terus... gimana kelanjutan kisah kakak? Semuanya akan berjalan sesuai dengan yang kak Ve bilang ke Nabilah kan? kakak bakal kembali dari komanya kakak, kakak bakal sembuh dan jalanin aktifitas kakak kayak dulu, iya kan kak? Itu kan yang kakak dulu bilang!" Ve melihat Nabilah dengan rasa bahagia "dan kalau kakak tidak berhasil menyelesaikan 48jam ini, kakak bakal berakhir! Tapi... misinya kan selesai, dan kak Ve udah dapat maaf dari 48nama itu! Bahkan dari kak Stella~ sepertinya!! Terus kenapa kakak masih disini? Harusnya kakak udah mulai siap-siap buat bal,-" Ve membekap Nabilah dengan mengeluarkan pernyataannya
"kakak gak tahu, dan... kakak juga gak mau terlalu tahu soal itu Bil! Biarlah Tuhan memperlihatkan semuanya sesuai dengan waktu dan rencana yang sudah Dia siapkan untuk kakak!!" Nabilah heran
"kok gitu sih bicaranya kak, kak Ve kan bilang.. kakak mau kembali lagi, kenapa sekarang bicaranya kayak gitu!?" ucap Nabilah dengan raut di tekuk
"sudahlah, kakak gak apa-apa kok, Dek! Kakak siap menerima apapun yang akan datang sama kakak, termasuk kalau akhirnya kakak harus benar-benar meninggalkan dunia ini, kak Ve udah puas dengan pengalaman yang diberikan dari 48jam 48nama itu... kesempatan kedua itu, udah kakak dapetin Bil! kakak udah tenang sekarang!!"
Ve berhenti berjalan, dia mencoba melakukan kontak fisik dengan Nabilah lewat tangannya yang akan dia gunakan untuk memegang bahu Nabilah, meski dia ragu akan apa yang dia lakukan, tapi Ve tetap mencobanya dan... Nabilah terbelalak kaget karena tangan Ve bisa ada diatas bahunya, Nabilah melihat lekat wajah Ve yang sedang menatap tangannya sendiri karena merasa tidak percaya kalau tangannya bisa menyentuh anggota tubuh Nabilah
"kk-kkaak Ve, kakak bisa..." Nabilah ikut melihat tangan Ve yang kemudian terlihat transparan. Ve mengenyampingkan rasa herannya lalu bicara pada Nabilah
"kakak mau ngucapin makasih sama kamu! Kamu udah jadi penolong kakak, kamu udah jadi teman kakak dan mau dengerin keluhan kakak meski kakak hanya arwah" Nabilah mendengarkan dengan rautnya terlihat sedih, dia heran dengan apa yang sedang Tuhan rencanakan untuk arwah yang masih ada di depannya itu. "Jika hari esok datang, dan kak Ve masih di kasih kesempatan sama Tuhan untuk bisa melihat indahnya dunia, menghirup segarnya udara! Kakak mau kamu... jadi adiknya kak Ve, kakak mau punya adik yang bisa diajak bercanda berbagi tawa, saling mencurahkan air mata kesusahan, melengkapi dalam kekosongan, meramaikan dalam kebahagiaan! Kakak mau... kamu nganggep kak Ve sebagai kakak kamu. Kamu mau kan, Bil? Kamu gak keberatan kan dengan usulan kakak?" Nabilah tidak menjawab, dia hanya menatap Ve tanpa tahu apa yang harus diucapkan karena Nabilah merasakan ada yang aneh akan muncul setelah kalimat yang diucapkan Ve, ditambah lagi dengan tubuh Ve yang semakin intens memperlihatkan ke transparanannya.
Nabilah hanya bisa menatap Ve dengan rasa sedih didadanya, mengingat ini menit-menit akan berakhirnya 48jam waktu yang Ve bilang dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ve. Nabilah merasa dia memiliki ikatan ketika dengan Ve, mungkin karena seringnya, bahkan setiap saat ia dan juga Ve bertemu dan menghabiskan waktu untuk mendengarkan ceritanya Ve, atau sebaliknya Ve yang mendengar Nabilah bercerita.
"Kakak, pasti bisa kembali ke tubuh kakak dan kakak pasti bisa sembuh dari sakitnya kakak sekarang:( , kak Ve harus percaya dan yakin akan hal itu!" Ve tersenyum pada Nabilah...
"kamu belum mau pulang?" tanya Ve kemudian untuk memecah keheningan diarea mereka saat ini, Nabilah menggeleng "emm~ kamu mau gak temenin kak Ve ke suatu tempat!"
"kemana kak?"
"ikut kakak~" Ve menuntun Nabilah ketempat favoritnya.
Hanya beberapa menit berjalan, Ve dan Nabilah sampai di tempat itu. Tempat biasa Ve merenung jika merasakan sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Pinggir sungai yang ditumbuhi rumput liar hijau yang cukup tebal, yang kini diatas langitnya terlihat hamparan langit biru yang sedang memulai percampuran warna dan nantinya akan menghasilkan warna jingga yang begitu megah dengan matahari menyemburkan warna orange yang menyengat tapi tidak akan membuat kulit kepanasan, hanya akan membuat bumi terlihat indah di waktu yang hampir mendekati senja ini (04.30 sore). Aliran sungai yang tenang, dan belaian angin sore sepoi-sepoi yang menemani Ve dan Nabilah.
"disini kak Ve biasanya nangis!" Nabilah melihat Ve "disini tempat biasanya kakak bercerita pada rumput dan aliran sungai tentang apa yang kak Ve rasakan.. dan disini, tempat ini.. tempat yang kak Ve temukan saat dulu pertama kali pulang bareng sama kak Kinal, saat kita masih baru kenal pas waktu ospek. Dan tempat ini... ternyata tempat biasanya kak Stella mengajak kak Ve, waktu kita masih kecil dulu, sekedar untuk duduk, atau.. kita bikin origami perahu yang sebelumnya kita kasih coretan berupa tulisan atau gambar, lalu kita hanyutkan!"
Ve mengenang kembali tempat yang memberikannya banyak kenangan indah yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Saat Ve bercerita nostalgia dan Nabilah mendengarkan dengan seksama dengan matanya menikmati setiap suguhan yang Tuhan berikan ditempat itu, tiba-tiba Nabilah mengerung ketika melihat kebelakang Ve. Dia merapatkan alis matanya lekat, untuk melihat dan mengenali dengan benar sosok yang sedang tertangkap oleh penglihatannya, semakin mengerung dan semakin jelas sampai Nabilah mengucapkan sebuah nama dengan setengah berbisik
"kak Kiinal.." ucapnya, Ve yang belum ngeh masih saja bercerita. Tapi saat dia melihat Nabilah yang sedang meneliti arah belakangnya, dan mendapati Nabilah tidak merespon panggilannya, Ve membelokan wajahnya agar bisa melihat kebelakang. Ve kaget melihat sosok Kinal yang sedang merapihkan seragamnya, sepertinya dia habis tiduran di atas rumput itu.
"Kiinal.." ucap Ve kemudian, Nabilah yang mendengar ucapan pelan si arwah segera melihat ke arah Ve, lalu dia bergerak kearah depan melewati Ve yang masih menatap Kinal.
"Na-aaabilah...~ mau kemana?" tanya Ve saat melihat Nabilah melintasinya, Nabilah melanjutkan perjalanannya untuk mendatangi Kinal "Bil, Nabilah!~ kamu mau ngapain? Bilah, Nabilah!! Kamu denger kak Ve gak si,-" ucapan Ve terhenti karena Nabilah sudah berhenti tepat di depan Kinal. Kinal menatap Nabilah, lalu bicara setelah ingat dengan wajah yang ada di depannya
"kamuuu lagi!~" kata Kinal
"ini waktunya kak!" ucap Nabilah, maksudnya pada Ve.
"huh?" Kinal mengerung tidak mengerti
"maksud kamu apa? Kamu sebenarnya mau ngapain nyamperin Kinal!?" Ve bertanya
"kakak kan pernah bilang, kalau besok datang dan waktu kakak sudah habis tanpa ada hasil pasti, kakak ingin bisa mengucapkan maaf pada beberapa orang yang berharga dalam kehidupan kakak! Yang sekarang didepan Nabilah... adalah salah satunya, dan.. dia yang terakhir yang belum sempat bicara dengan kakak, iya kan?" Nabilah tidak memperdulikan keheranan Kinal yang sedang menyaksikan dirinya bicara sendiri, Ve menatap Nabilah. "ayo kak, masuk ke Nabilah~ waktunya tidak lama lagi!"
Kinal semakin heran dengan tingkah bocah berseragam SMP yang dulu sempat adu argument dengannya di depan perpustakaan.
"Nabilah.. itu gak mungkin! Kakak akan nyakitin kamu!!" balas Ve menjawab permintaan Nabilah
"masuklah kak, ini kesempatan terakhir kakak! Kalau yang sekarang dilewatin, apa kakak yakin masih punya waktu lainnya? Atau moment lainnya?" kata Nabilah untuk mendorong Ve agar mau memasuki tubuhnya untuk meminta maaf pada Kinal. Meski sebenarnya Nabilah tidak ingin mengatakan 'apa kakak yakin masih punya waktu lainnya?' tapi Nabilah harus melakukannya untuk meyakinkan Ve.
"kamu ngomong apa sih? Gak Jelas!" Kinal yang merasa aneh dengan tingkah Nabilah kembali bertanya
"kak Ayoo dong!" Nabilah masih fokus pada Ve
"argh! Kenapa juga aku harus diam ngeliatin kamu!!" ucap Kinal sambil bersiap pergi meninggalkan Nabilah yang menurutnya aneh.
"bentar-bentar kak! Ada yang mau bicara sama kakak!!" kata Nabilah memotong langkah Kinal "kak Ve mau bicara sama kakak!" Kinal terbelalak ketika mendengar Nabilah menyebutkan nama Ve
"eh! Maksud kamu apa sih!? Dari waktu di perpust terus sekarang, kamu selalu bawa-bawa Ve! Maksudnya apa?"
"iya maksudnya... kak Ve yang sahabatnya kakak itu~ mau bicara sama kakak!" ucap Nabilah lalu beralih pada Ve "kak, ayo dong masuk! Sebelum kak Kinal benar-benar pergi karena nganggep Nabilah gila!!"
"enggak, kak Ve udah bilang kakak gak akan masuk ke tubuh kamu lagi! Kakak udah gak punya hak lagi, dan kalo kakak lakuin itu, kakak bisa-bisa bikin kamu kenapa-kenapa!!"
"pck~ kak Ve kebanyakan mikir! Udah pokoknya cepet masuk, dan... bicaralah sama kak Kinal!!" Nabilah masih kekeh, dengan kemudian mengalihkan matanya pada Kinal.
Kinal yang semula tidak percaya dan ingin meninggalkan Nabilah, malah jadi diam dan memperhatikan Nabilah dengan pikiran apa benar Nabilah sedang bicara dengan Ve? dan apa benar Ve ingin bicara dengan dirinya? tapi bagaimana mungkin semua hal mustahil itu bisa terjadi!.
"kak Ve, apa kakak gak lihat kebingungan di wajahnya kak Kinal yang menantikan apa yang tadi Nabilah ucapkan! Please kak, masuklah.. kakak sama kak Kinal memang perlu bicara bukan?!" Ve melihat Kinal lalu melihat Nabilah "kakak gak perlu menghawatirkan Nabilah. Nabilah akan baik-baik saja, ini kesempatan kakak, masuk dan bicaralah seperti pada senior-senior di aula, seperti sama kak Stella! Masuklah..."
"tapi, Bil, kak Ve gak bi,-" "kakak bisa! Masuklah~ sekarang! Sekarang kak!!" Ve sekali lagi melihat Kinal yang dari rautnya terlihat bingung dengan tingkah Nabilah, kemudian pada Nabilah dan dengan menatap Nabilah diikuti kata maaf dan makasih. Akhirnya Ve masuk dalam tubuh Nabilah "maafin kakak, dek!" Nabilah mengangguk "makasih untuk semuanya... kakak sayang sama kamu! makasih~" Nabilah kembali mengangguk.
Ve melangkah semakin dekat dan.... kontak Fisik diantara mereka kembali terjalin. Tubuh Nabilah bergerak-gerak dengan gimik muka seperti kesakitan, dia seperti sedang melawan sesuatu yang akan memasuki tubuhnya agar tidak masuk (karena hak istimewa Ve sudah habis, jadi Nabilah dan Ve mengandalkan Bingo dalam melakukan tindakan nya ini); Kinal terkejut melihat adegan itu, beberapa detik matanya tidak berkedip demi untuk menyaksikan Nabilah yang sedang melakukan jalinan dengan Ve, kemudian beberapa menit kemudian... Nabilah sudah bisa biasa lagi, dia bisa berdiri tegap dengan Ve sudah ada di dalam tubuhnya.
Nabilah tahu apa yang dilakukannya mungkin memang akan mendatangkan resiko cukup berat untuknya, tapi ketika melihat Ve yang kisahnya sudah dia tahu, dia menjauhkan rasa takut akan resiko apapun yang dia terima nantinya, dengan membuat keputusan membantu Ve untuk yang terakhir di beberapa menit menuju jam 5sore, tepat saat 48jam itu akan berakhir. Yaitu meminjamkan tubuhnya dengan sukarela pada Ve yang sudah kehabisan hak istimewa.
"Na-b.- Nabilah?" ucap Kinal menyebutkan nama Nabilah yang kini masih menunduk
"Kinal.." Nabilah yang tubuhnya sudah diambil alih oleh Ve memanggil nama Kinal, Kinal yang mendengar suara dari Nabilah terkejut karena itu jelas bukan suaranya Nabilah melainkan suara dari sahabatnya yang sudah setahun ini tidak pernah saling bertegur-sapa, malah seperti musuh jika mereka tidak sengaja bertemu.
"Veee~..." Kinal menyebutkan nama Ve, setelah selama ini hanya bisa diam melihat tingkah Ve yang berubah drastis.
"Kinal... waktuku tidak banyak, aku minta tolong sama Nabilah untuk membantuku, aku- aku mau minta maaf sama kamu!"
Kinal hanya bisa diam memperhatikan wajah Nabilah yang dalam penglihatannya berubah menjadi wajah Ve. "aku minta maaf karena tidak tahu kalau sebenarnya dulu kamu ngucapin kata-kata itu karena keterpaksaan~ aku... aku bukan sahabat yang baik buat kamu!" Nabilah (Ve) mulai menitikan air mata.
Kinal dan juga Ve main ke memory dulu saat Kinal dengan begitu jelasnya bilang pada Stella, Yona dan Dhike kalau dia tidak mau lagi berteman dengan Ve. Dan Kinal masih ingat dengan ancaman dari Stella...
-FalshBack On-
Waktu istirahat, Ve sedang keruang guru dan Kinal diam di kelas. Stella dan Dhike menjemput Kinal sementara Yona dengan taktiknya yang sudah dia buat bersama Dhike dan Stella, menuntun Ve dari ruang guru ketaman.
"Kinal! Ada yang mau gue omongin! Lu ikut gue sekarang!!" kata Stella tanpa basa-basi, Kinal yang tidak bisa menebak tentang apa yang akan dibicarakan Stella hanya bisa mengerung lalu diapun beranjak dari kursinya dan mengikuti Stella juga Dhike. Mereka sampai ditaman labirin.
"jadi... ada apa? Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Kinal pada Stella, yang adalah geng no.1 yang menguasai kelas X-4.
"hmm~ make it simple and fast!" Kinal mengerung "gue... mau lu... ngejauhin Veranda!" kerungan Kinal kini diikuti pertanyaan
"maksdunya?"
"hss~ gue udah bilang MAKE IT SIMPLE AND FAST! Apa yang gue bilang simple dan cepat bukan? Masa lu gak ngerti dengan kata GUE MAU LU JAUHIN VERANDA! which mean, gue mau LU gak usah lagi ada di dekat dia!!" jelas Stella menekan setiap ucapannya menahan esmosi.
"permintaan konyol! Kenapa juga aku harus nurut dengan apa yang kamu mau?!" kata Kinal membuat Stella memperlihatkan gesture amarah terpendam
"gue bilang sekali lagi, dan gue pastiin kalau sekarang lu harus mau jawab 'Ok, gue mau jauhin Ve!' karena kalau tidak, jangan salahin gue dengan apa yang akan menimpa lu kedepannya!" dengan nada ancaman Stella menekan Kinal "G..ue mau, lu... jauhin si Veranda... Titik!" lanjut Stella
"enggak! Aku gak mau jauhin Ve, dia sahabat aku! Kenapa aku harus jauhin dia? Hanya karena permintaan kamu?"
"keras kepala! karena lu gak mau juga jawab Ok dan malah nantang gue, gue kasih tahu lu sesuatu yang menyenangkan!" Stella jalan mendekat kearah Kinal, wajah mereka hanya terpaut beberapa inchi hingga Stella melangkah lebbbih dekat dan... berbisik di telinga kirinya Kinal "gue tahu, apa yang lu lakuin tiap malam!" Kinal terbelalak "kalau... pihak sekolah tahu, maka... lu akan tahu juga konsekuensinya, dan yang paling parah! Nyokaplu, gak akan lagi bisa dapat obat!!" Kinal menahan emosi ketika mendengar bisikan Stella.
Setelah ucapan terakhirnya Stella menarik diri dan melakukan kontak mata dengan Kinal
"masih mau nolak permintaan simple gue!?" tanya Stella diiringi senyum sinis
"darimana kamu tahu soal itu? Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? Aku gak pernah ngusik kamu atau teman-teman kamu lainnya!" tanya Kinal
"Kinal~ Kinal~ Kinal~ hemmm~ masa gue harus cerita semuanya sama lu, darimana gue tahu, kenapa gue tahu, apa tujuan gue, kenapa gue ngelauin ini sama lu yang gak pernah ada masalah sama gue atau teman-teman gue!" Stella diam sejenak "ini bukan tentang lu... Ki..nal! Tapi ini tentang sahabat lu!! So~ kalau lu tetap gak mau jauhin Ve, bukan cuma rahasia lu yang bakal gue blow, tapi.. gue juga bakal langsung nyakitin Ve dengan secara kasar!! Biar lu ngerasin kehilangan sekolah, kehilangan nyokaplu, dan.. kehilangan sahabat lu itu..." Stella menutup ucapan yang dia keluarkan dengan nada datarnya, Kinal terdiam sejenak memikirkan apa yang akan terjadi kalau dia menuruti atau dia tidak menuruti keinginan Stella. Sampai akhirnya Kinal menyerah pada Stella dan bilang
"kalau itu... bisa bikin ibu sama sahabat aku gak kenapa-kenapa, aku akan turuti permintaan aneh kamu!" Kinal mengucapkannya bukan tanpa strategi, dia berpikir... tidak masalah untuknya menjauhi Ve, dia bisa menjelaskan semua pada Ve dan mereka tetap bisa berkomunikasi meski tidak bisa bertegur-sapa ketika di sekolah, tapi tetap akrab saat diluar sekolah. Tapi sayang, pemikiran Kinal sepertinya sudah bisa terbaca oleh Stella.
"bagus, kamu bisa lunak juga ternyata! emm~ ok untuk memastikan kamu jauh dari si veranda, kita bikin cepat.. sini key!" Stella meminta sesuatu pada Dhike, dan Dhike memberikannya. "baca ini.. ucapkan dengan nada marah, kesal!" Stella memberikan selembar kertas kecil pada Kinal, Kinal mengerung dan membaca terlebih dulu dalam hati
"huh? Ap-apa-apaan ni! Gak, aku gak mau ngucapin ini!!"
"ayolah Kinal.. cuma baca apa susahnya sih! Biar semua cepat selesai dan gue gak perlu menempel photo sama kelakuan lu saat diluar sana, ketika waktu menuju tengah malam!! Atau... lu mau lihat nyokaplu mati karena obatnya telat lu beli!? Lu mau lihat gue ngasih tahu rahasia lu ini sama sahabat lu yang pendiam itu? Atau lu mau lihat gue bikin dia ngera,-" ~ "Ok, Stop! Aku lakuin apa yang kamu mau!!" Kinal menutup kedua matanya lalu dengan nada keras dan marah dia membaca tulisan yang diberikan Stella "Gue... Gue... sebenarnya mau temenan sama Ve, cuma karena... karena dia itu anak pemilik yayasan, dan gue cuma manfaatin kekayaan dia! Gue sebenarnya muak bersahabat dengan Ve yang manja dan selalu banyak mengeluh tentang orang tuanya!! Gue sebenarnya benci sama dia, karena dia terlahir sebagai anak orang kayak sementara gue cuma terlahir sebagai anak orang misk,-" ~ "Kii...nal..." ucapan Kinal terhenti saat mendengar suara Ve, dia kaget bukan main. Stella dengan cepat mengambil kertas itu dari tangannya Kinal tanpa Ve bisa melihatnya
"apa maksud ucapan kamu?"
"..... Ve, aku... ini~" Kinal bingung, terlebih saat melihat ditangannya kertas kecil tadi sudah lenyap, Kinal gelagapan melihat kearah Stella, Dhike dan Yona. "kamu tega! Kenapa kamu bicara seperti itu? Atau.. apa memang itu sebenarnya isi hati kamu?! Jadi selama ini... kamu mau temenan sama aku hanya karena aku ini anak pemilik yayasan yang manja dan suka ngeluh!!"
"enggak~ bu-bukan itu, ini semua..." Kinal melihat Stella yang menatapnya dengan ekspresi biasa tapi terpancar jelas ancaman dari kedua matanya "Argghh~ iya! Apa yang tadi aku ucapkan, itulah kenyataannya! Aku muak temenan sama anak manja yang suka ngeluh! Aku capek temenan sama anak orang kaya yang tanpa beban bisa meminta apapun pada orang tuanya!! Aku... aku gak mu lagi sahabatan sama kamu,, PUAS!?"
saat mengucapkan kata 'puas' Kinal tidak hanya melihat kearah Ve tapi dia juga melihat Stella, lalu.. Kinal pergi dengan berlari kecil untuk menjauh dari taman labirin. Ve hanya bisa terdiam dengan rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sosok Kinal yang sudah sangat dia percaya sebagai seorang sahabat.
Setelah kejadian itu... Ve berusaha untuk menanyakan pada Kinal tentang apa maksud dia bicara seperti itu? Kenapa ia harus bicara seperti itu pada Stella dan Dhike? Apa yang sebenarnya terjadi?! Sampai akhirnya, Ve diam dengan sendirinya karena Kinal tidak hanya TIDAK pernah memberikan penjelasan dari apa yang sudah terjadi, tapi Kinal juga mendiamkan dan menjauhi Ve TOTAL. bBhkan saat Ve main kerumahnya untuk menanyakan dan mencari jawaban dari ketidaktahuannya. Kinal dengan kasarnya mengusir Ve dengan bilang "lihatkan? Kita gak sepadan! Kamu... anak orang kaya, sementara aku... hanya anak orang miskin yang tidak memiliki apapun bahkan harga diri!!".
Satu minggu~ Dua minggu~ Tiga minggu~ 4minggu 8hari... akhirnya Ve menyerah pada semua tingkah Kinal yang berubah 180 derajat tanpa ada peringat terlebih dahulu, dan... masuklah Stella dalam kehidupannya, menggantikan Kinal!
-FlashBack Off-
"maaf, karena aku tidak peka dan akhirnya... aku jadi membenci kamu dalam ketidak tahuanku! aku minta maaf karena tidak pernah bisa jadi sahabat yang baik untuk kamu.. Kinal!!"
Kinal terlihat sedih saat mendengar ucapan Ve, dia merasa ini semua bukan salah nya Ve. "bodohnya aku yang selalu menyesali kehidupanku sendiri, yang tidak bisa menyingkirkan ketakutanku akan kurangnya perhatian papa sama mama, membuatku kehilangan sahabat-sahabat terbaikku! Kamu, Stella, kalian..." ~ "hari ini... aku tidak akan pernah menyesali apapun yang telah dan akan Tuhan kasih untukku! Jika esok datang, aku tidak mengharapkan sesuatu yang berlebihan, aku hanya ingin papa sama mama akhirnya sadar dengan keberadaanku yang semakin mereka tenggelamkan dalam kesibukan, aku ingin kamu dan juga Stella mau memaafkanku.. aku ingin semua hati yang pernah kusakiti memafkanku... dan aku, akan pergi dengan tenang.. jika itu memang yang Tuhan kehendaki dariku!"
Ve menangis di menit terakhirnya (16.48), dia mulai kehilangan waktu untuk mendiami tubuh Nabilah..
"Veee... Aku, aku yang harusnya minta maaf~ ini semua... salahku!"
"dan aku juga!" suara Stella muncul dari arah belakang Ve, Kinal dan Ve melihat kedatangannya yang diantar oleh Dhike dan Yona namun mereka hanya melihat dari kejauhan "ini semua... SEMUA aku yang salah! Bukan kamu (melihat Nabilah (Ve)) apalagi kamu (berpaling pada Kinal)! Aku yang harusnya minta maaf, aku yang harusnya ada di posisi Ve saat ini!" Kinal dan Ve hanya bisa mendengarkan tanpa memberi komentar "aku yang salah, akulah yang menjadi biang dari semua kekacauan ini! Hanya karena dendam, aku rela menghancurkan bahkan mencelakakan sahabat ku sendiri, hanya karena dendam yang sebenarnya akupun tidak begitu tahu apa masalah sebenarnya, aku bisa se tega itu membuat semua ini terjadi! Maafkan aku, minta maaf Ve.. aku minta maaf Kinal!" Stella menundukan kepalanya dengan tangisan deras mengikuti penyesalannya.
Kinal bisa mengerti dengan apa yang disampaikan Stella atas dirinya, tapi dia tidak mengerti dengan ucapan Stella untuk Ve. 'aku yang seharusnya ada di posisi Ve'
"kamu gak salah Stell, aku gak pernah nyalahin kamu untuk semua yang sudah terjadi! Justru aku... mau ngucapin makasih karena kamu sudah membuka semuanya untukku!!" Stella menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa dia tidak pantas mendapat ucapan terima kasih dari Ve, yang sudah dengan sengajanya dia bikin celaka hingga Ve ada di posisinya sekarang. "sebentar lagi.. waktuku akan benar-benar habis! Dan kalian tahu? Aku merasa sangat bahagia hari ini, kebahagiaan yang rasanya baru kali ini aku dapatkan! rasanya... tidak bisa lagi melihat matahari esok pun tidak apa, karena aku sudah bisa melihat sinarnya dari kalian di senja ini. Makasih untuk semuanya, makasih untuk persahabatan kalian untuk ku.. makasih~ maka....sihh~" tubuh Nabilah roboh, Kinal dan Stella berhamburan menghampiri Nabilah yang dalam posisi menahan tubuhnya dengan lututnya yang belum sempat ambruk ke tanah
"Ve.." Kinal memanggil Ve sambil memegang Nabilah
"Vee.." Stella ikut memanggil dengan mengguncang pelan tubuh Nabilah. Sementara Nabilah sendiri, sedang berusaha menyadarkan dirinya untuk melihat apa yang terjadi
"... (tadinya Kinal akan kembali memanggil nama Ve, tapi dia ingat kalau Ve hanya meminjam tubuh Nabilah sebagai perantara) Na-Nabilah.. bangun~ kamu gak apa-apa?" Kinal menanyakan keadaan Nabilah karena dia yakin Ve sudah tidak lagi bersama Nabilah "Nabilah.." kembali Kinal memanggil, posisi Nabilah sudah berbaring dengan kepalanya ada dipangkuan Kinal dan Stella ada di sebelahnya, dia ikut mencoba untuk menyadarkan Nabilah.
"Nabilahhh.. bangun, lihatlah? Apa Ve masih ada disini? Apa makud Ve waktunya sudah habis?! Nabilahh~" Stella bertanya dan saat dia menyebutkan nama Ve, Nabilah perlahan membuka matanya.. dia melihat sosok Ve ada didepannya sedang melihat dan mencemaskan dirinya
"Nabilah.. bangun... kamu gak apa-apa kan? Nabilah, kak Ve harus pergi!" ~ "Kk-kak Ve.." suara Nabilah terdengar lemah, dengan matanya hanya bisa melihat Ve samar-samar. Stella dan Kinal yang mendengar segera melihat kearah Nabilah melihat
"Makasih untuk semuanya, dek! Maafin kak Ve... makasih~ Nabilah... makas...ihhhh~ selamat ti,----" kata terakhir dari Ve tidak bisa Nabilah dengar, dia keburu pingsan duluan karena merasakan tubuhnya lelah bahkan lebih dari itu, dia merasa tidak punya sedikitpun tenaga sekalipun hanya untuk bernafas... Stella dan Kinal memanggil dan mengguncang tubuh Nabilah yang sudah tidak sadarkan diri.
~Selesai~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar